Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 Wajah dari Kesalahan Itu
Nama itu akhirnya muncul.
Bukan di rapat. Bukan di email resmi. Tapi di lorong parkir basement yang terlalu sunyi untuk kebetulan.
Aruna baru saja menekan tombol kunci mobil ketika suara langkah cepat mendekat. Ia menoleh refleks. Seorang pria berdiri beberapa meter darinya—wajah lelah, mata merah kurang tidur, kemeja kusut seolah dipakai terlalu lama.
Aruna mengenalnya.
Raka Pradipta.
Nama yang dijadikan penanggung jawab proyek Eastbay.
Dadanya langsung menegang.
“Bu Aruna,” katanya, suaranya serak. “Saya cuma mau bicara sebentar.”
Insting profesional Aruna menyuruhnya menjaga jarak. Tapi rasa bersalah yang sudah ia tekan sejak rapat pertama membuat kakinya tetap diam.
“Ini bukan tempat yang tepat,” katanya hati-hati.
“Tidak ada tempat yang tepat buat saya lagi,” balas Raka getir. “Semua pintu sudah ditutup.”
Kalimat itu jatuh berat.
Aruna menghela napas pelan. “Apa yang ingin Anda katakan?”
Raka tertawa pendek, pahit. “Saya kehilangan pekerjaan. Reputasi saya habis. Dan yang paling lucu? Saya bahkan tidak tahu kesalahan apa yang sebenarnya saya lakukan.”
Tatapannya menusuk, bukan menuduh—lebih seperti seseorang yang kelelahan mencari jawaban.
Aruna merasakan tenggorokannya mengering.
“Saya tahu laporan itu dimanipulasi,” lanjut Raka. “Saya bukan orang bodoh. Tapi semua bukti mengarah ke saya. Dan di rapat… Anda diam.”
Kata terakhir itu seperti jarum.
Aruna tidak membela diri. Tidak ada kalimat yang cukup kuat untuk menghapus fakta itu.
“Saya tidak bisa langsung bicara,” katanya pelan. “Ada hal yang—”
“Yang lebih penting dari hidup orang lain?” potong Raka.
Sunyi menekan di antara mereka.
Aruna menahan napas. “Kalau saya bicara waktu itu tanpa bukti kuat, saya juga jatuh. Dan kalau saya jatuh, tidak ada lagi yang bisa membuka kasus ini dari dalam.”
Raka menatapnya lama, mencoba membaca apakah itu alasan… atau pembenaran.
“Anda yakin masih bisa membukanya?” tanyanya akhirnya.
Pertanyaan itu jujur. Tidak ada kemarahan tersisa. Hanya harapan yang terlalu rapuh.
Aruna menjawab tanpa ragu, meski dadanya bergetar. “Saya akan coba.”
Raka mengangguk pelan. Bahunya turun sedikit, seolah beban yang ia pikul menemukan tempat untuk dibagi.
“Saya tidak minta dibersihkan namanya sekarang,” katanya. “Saya cuma ingin kebenaran… ada di pihak yang benar.”
Aruna menelan keras. “Saya mengerti.”
Langkah kaki terdengar dari arah lift. Raka langsung mundur satu langkah.
“Saya tidak pernah datang,” katanya cepat. “Kalau ada yang tahu saya bicara dengan Anda, keadaan bisa lebih buruk.”
Sebelum Aruna sempat merespons, pria itu sudah berjalan pergi, bayangannya ditelan cahaya redup basement.
Aruna berdiri sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak rapat itu, konsekuensi dari diamnya memiliki wajah. Memiliki suara. Memiliki kehidupan yang hancur bukan sebagai angka di laporan, tapi sebagai manusia nyata.
Ponselnya bergetar.
Calvin Aryasatya:
Audit memperluas penyelidikan. Kita perlu bicara.
Kata kita terasa berbeda sekarang.
Aruna mengetik balasan singkat:
Saya juga.
Ia masuk ke mobil tanpa benar-benar melihat sekeliling. Tangannya bergetar halus di setir. Di kepalanya, percakapan dengan Raka berulang—setiap kata menekan seperti pengingat bahwa netralitas tidak pernah benar-benar netral.
Ia sadar satu hal dengan sangat jelas:
Diamnya dulu adalah strategi.
Diamnya sekarang… adalah pilihan yang tidak bisa dipertahankan lama.
Mesin mobil menyala.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Aruna tidak berpikir tentang keamanan posisinya.
Ia berpikir tentang kebenaran—dan harga yang harus dibayar untuk mengungkapnya.
Aruna duduk di kursi mobil, tangan masih menggenggam setir lebih kuat dari yang ia sadari. Bayangan Raka masih menempel di matanya—mata lelah itu, suara yang hampir putus asa, dan cara ia menatapnya seperti meminta keadilan yang tak bisa diberikannya dengan mudah.
Ia menutup mata sesaat, menahan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Diamnya di rapat itu… kini terasa seperti pedang bermata dua. Menyelamatkan dirinya sendiri, tapi menumpulkan hidup seseorang. Ia merasakan sakit yang tajam di dada—perasaan bersalah yang tidak bisa dihapus hanya dengan kata “strategi.”
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, notifikasi Calvin lebih mendesak. Aruna menatap layar, membaca pesan singkat yang membuatnya menarik napas lebih panjang:
Audit memperluas penyelidikan. Kita perlu bicara—sekarang.
Kata “kita” menggetarkan sesuatu di dalam dirinya. Ini bukan lagi tentang dirinya sendiri. Ini tentang tim, tentang strategi, tentang bagaimana mereka menghadapi orang-orang yang terlalu percaya diri dan salah menilai siapa yang diam berarti lemah.
Mesin mobil tetap menyala, lampu dashboard memantulkan garis wajahnya yang tegang. Aruna menyalakan AC, tetapi dinginnya udara tidak cukup untuk menenangkan kepalanya yang penuh dengan skema, kemungkinan, dan risiko. Ia menatap jalan lurus di depannya, bayangan basement masih menghantuinya.
Setelah beberapa detik, ia menyalakan mobil dan mulai berjalan perlahan ke kantor pusat. Setiap langkah terasa seperti persiapan menuju medan perang yang tak terlihat. Aruna menelusuri kembali percakapan dengan Raka: setiap kata, setiap jeda, setiap nada suara yang membuatnya sadar bahwa diamnya tidak hanya menyakiti orang lain, tapi juga membentuk garis batas moral yang sulit ia langkahi tanpa konsekuensi.
Di jalan, pikirannya mulai menganalisis kemungkinan. Siapa yang bisa menguntungkan dari manipulasi ini? Apa motif sebenarnya? Dan yang paling penting, bagaimana langkah berikutnya bisa menegakkan keadilan tanpa membuat dirinya jatuh atau membahayakan orang lain?
Ia menepikan mobil di dekat gedung, menarik napas dalam, dan menatap gedung kantor dari luar. Bayangan Calvin muncul di benaknya—tenang, tepat, selalu satu langkah di depan. Ia sadar, meskipun Calvin bisa menenangkan ketegangan, strategi yang mereka jalankan tetap harus dijalankan dengan hati-hati. Tidak ada ruang untuk ceroboh. Tidak ada tempat untuk emosi yang tak terkendali.
Aruna menutup pintu mobil dan berjalan menuju lobi gedung. Setiap langkahnya kini lebih mantap, tetapi rasa bersalah dan tanggung jawab tetap menempel seperti beban yang tak terlihat. Ia menyadari sesuatu: jika Raka adalah wajah dari kesalahan itu, maka ia sendiri adalah saksi hidup dari garis yang telah dilintasi. Setiap keputusan kecilnya membentuk konsekuensi besar—bukan hanya di kantor, tapi dalam kehidupan nyata orang lain.
Ia melangkah masuk ke lift, menekan tombol lantai dua puluh. Tangannya masih gemetar sedikit, bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang menumpuk. Ini bukan lagi soal dokumen atau audit; ini soal manusia, tentang hidup dan reputasi yang tergantung pada pilihan-pilihan yang dibuatnya.
Lift bergerak perlahan. Aruna menatap pantulan dirinya di pintu logam yang berkilau. Mata yang tenang di permukaan, tetapi di dalam ada badai—badai antara rasa bersalah, tanggung jawab, dan keinginan untuk melakukan yang benar. Ia menyadari satu hal dengan sangat jelas: diam dulu adalah strategi, diam sekarang bukan lagi pilihan yang aman.
Ketika pintu lift terbuka, Calvin sudah menunggunya di lorong. Tatapannya tetap dingin, tapi ada intensitas yang berbeda kali ini. Aruna tahu, ini saatnya mereka berbicara, merencanakan, dan bergerak. Strategi selanjutnya harus jelas, setiap langkah dihitung, dan setiap keputusan bisa menjadi garis yang tidak bisa dihapus.
Aruna menatap Calvin, lalu menarik napas dalam. Ia siap. Tidak lagi untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi untuk mengungkap kebenaran—dan menghadapi harga yang harus dibayar.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/