Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sari berkunjung
"Assalamualaikum" sapa Sari, berdiri di teras rumah Syamsul. Kedua tangan menenteng paperbag.
"Wa'alaikum salam. Eh, Sari. Masuk Nak. Kenapa dah petang baru kesini?" tanya Mariah, mempersilahkan masuk.
Sari masuk, menuju ruang tamu, lalu duduk di sofa "Baru sempat Mak Cik. Ini Sari bawakan oleh-oleh dari Singapur" Di taruhnya beberapa paperbag keatas meja.
"Hem alah, terima kasih. Jadi susah payah seperti ini." Mariah ikut duduk.
"Eh ada kak Sari rupanya. Bila balik kampung kak?" timpal Daria ramah, mendudukkan tubuhnya ke sofa.
"Baru dua hari lalu Ri. Oh iya, mana anak Norma tadi? Ini aku juga bawa oleh-oleh untuk nya". ucap Sari celingak-celinguk.
"Di kamarnya, mengurung diri. Kasihan gadis malang itu, pasti masih shock mengetahui sikap durjana Ibu nya. Anak yang tidak berdosa jadi kena imbas, hanya karena nafsu Norma ingin jadi wanita kaya" lirih Mariah, sedih di buat-buat.
"Iya, kasihan betul keponakan ku itu kak. Pasti tertekan batinnya. Norma tu memang tidak ada hati nurani. Tega betul jadi induk, sudah hidup enak di hunian mewah, anak malah di tinggal" timpal Daria.
Sari hanya tersenyum simpul.
"Hem.. Sebetulnya kakak ada keperluan denganmu Ri" ujar Sari rius, menatap Daria.
"Apa tu kak? Jika bisa pasti akan aku bantu" jawab Daria mantap serius.
"Besok bisa tidak temani kakak mencari ruko?" ucap Sari.
"Ruko? Untuk?'' Daria penasaran.
"Kakak mau kontrak ruko untuk buka usaha" balasnya tersenyum.
"Wah... Mantap betul kak Sari ni. Pulang dari luar negeri malah mau buka usaha pula" Daria berdecak kagum.
Sari tersenyum senang di puji "Biasa lah Ri. Tak mungkin kakak akan kerja di luar negeri terus menerus. Jadi lebih baik uang hasil kerja lima tahun kakak gunakan untuk buka usaha kecil-kecilan" ucapnya merendahkan diri.
"Nah begini ni. Seharusnya perempuan seperti Sari ini layak di jadikan contoh. Bukannya jadi simpanan pria kaya, suami anak di tinggalkan!" sela Mariah julid.
"Andai saja Mak Cik masih ada anak lelaki, pasti Mak Cik jodohkan dengan mu. Beruntung memilik menantu seperti Nak Sari ini" ucapnya lagi dengan senyum lembut.
"Mak Cik Ni, ada-ada saja bergurau nya" Sati terkekeh malu.
"Mak Cik serius, lagi pula tak mungkin hendak di jodohkan dengan Syamsul yang tak lama lagi menyandang status duda." lirihnya.
"Eh jangan salah Bu, duda sekarang semakin di depan" timpal Daria.
"Aduh, sampai lupa buatkan minum untuk kak Sari" Daria menepuk dahi.
"Tidak perlu Ri, kakak sudah lama mengurangi minuman manis" Sari merogoh tas, mengeluarkan dompet, mengambil beberapa lembar uang merah. "Ini, untuk belanja bakso dan makanan kesukaan Nuri" ucapnya mengulurkan lembaran uang merah sebanyak sepuluh lembar.
"Alhamdulillah rezeki anak Sholeha" sambut Daria tanpa sungkan.
"Kau ni, kalau duit saja laju kalo!" Mariah menepuk bahu putrinya, lalu menatap Sari dengah hati senang, kagum.
"Seharusnya Nak Sari tidak perlu susah payah seperti ini, tadi kan sudah memberi oleh-oleh" Mariah pura-pura sungkan.
"Tak apa-apa Mak Cik" Sari tersenyum manis.
'Cih, orang seperti kalian itu memang silau akan duit merah. Jangan kira aku tak tau' batinnya.
Mariah dan Daria terlalu terbuai akan kebaikan dari Sari. Mereka tidak mengetahui jika uang yang di berikan adalah uang pemberian Syamsul juga, uang kontak rahim Norma.
*
**
"Nuri, Nek Iyah bersama Ante Daria ke warung dulu ya. Jangan nakal di rumah! Ada Tante Sari yang menemani. Nanti Ante bawa ayam Kentucky ya" pesan Daria. Wanita itu telah berpakaian rapi.
"Iya Nte" Nuri mengangguk.
Setelahnya Ibu dan anak mata duitan itu meninggalkan rumah, pergi ke warung bakso.
.
***
Syamsul baru pulang dari memberi makan sapi. Saat masuk rumah dirinya terkejut karena ada tamu yang sangat di cintai nya.
"Sari? Kenapa tak cakap mau kesini?" tanyanya mendekati sang kekasih, tapi Sari buru-buru mundur.
"Mandi dulu, Abang bau busuk" Sari menutup hidung dan mulutnya.
"Ih teganya lah. Katanya sayang" Syamsul cemberut, berlalu menuju kamar mandi.
.
.
Selesai berpakaian, Syamsul menuju kamar putrinya.
"Nuri, ini ada oleh-oleh dari Tante Sari. Nuri di kamar saja ya. Ni ponsel ayah" Syamsul menaruh jajanan di meja belajar, ponsel di sambut putrinya.
"Ingat! Jangan keluar." peringatnya lembut.
Gadis itu hanya mengangguk, lalu membuka ponsel ayahnya.
.
"Mana ibuk dan Daria?" tanyanya melihat ke arah kamar ibu dan adiknya.
"Mereka keluar, mungkin berbelanja." balas Sari.
"Bila Abang menikahi Sari? Janji saja terus. Jangan cakap sabar-sabar lagi sudah habis stok kesabaran ku" ucapnya cemberut.
Syamsul duduk, mendekati sang kekasih, memeluk erat dari samping.
"Sayang, kita sudah membicarakan ini kemarin. Jika kita terlalu cepat menikah, yang ada orang-orang akan berbalik menyerang kita. Masa baru pisah langsung nikah lagi_" ucapnya, lalu berbaring di pangkuan sang kekasih.
"Dirimu kan tahu sendiri bagaimana mulut orang kampung. Untuk saat ini kita berhubungan diam-diam dulu, biar para orang kampung itu menghina Norma. Nanti setelah suasana aman, baru kita naik pelaminan" ucapnya lagi, tangan sebelah menyusup ke dalam baju, meremas benda kenyal milik Sari.
"Ahhhh.. Tapi janji ya, bulan depan kita menikah!" ujar Sari dengan suara terdengar mendayu.
"Iya sayang, Abang janji" giliran kepala Syamsul masuk ke baju, membuka bra, menyesap pucuk Sari, membuatnya mendesah pelan.
"Ayo" Tanpa aba-aba Syamsul membopong tubuh Sari membawanya ke kamar Daria. Tak lama terdengar suara lenguhan dari dalam.
Terlalu asik olah raga mengeluarkan keringat, Syamsul dan Sari tak menyadari sepasang mata sedang mengintip mereka di balik hordeng pintu kamar Daria.
.
***
.
Dawiyah, wanita itu telah mendengar dan melihat rekaman Norma di labrak, pun tentang kontrak rahim. Sebagai sahabat tentu saja dirinya terkejut, tapi dirinya tak percaya. Untuk memastikan, dirinya menuju rumah mertua Norma. Rumahnya masih satu gang dengan Syamsul, untuk menghemat waktu, dirinya mengambil jalan pintas. Melalui kebun milik warga yang begitu dekat dengan rumah Syamsul.
"Alamak, siapa pula main tabrak masuk lembah di petang hari ni? Apa pasangan tua Mariah dan Darman?!" ucapnya di luar memasang telinga, mendengar sayup-sayup desahan. Aura kepo nya menyala.
.
Like dan komentarnya 🙏