NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Goyah

BUG

Rama memukul dinding kamar mandi karena kesal. Dia masih belum tahu siapa yang selalu membongkar informasi tentang kondisi keluarga nya pada Amel.

Suara notif pesan masuk ke ponselnya. Alya mengirim nomor rekening, tanpa kalimat lain. Jelas ia menuntut, dan Rama tak punya waktu untuk mencari tahu benar Amel akan pulang lebih awal atau tidak.

Dengan hati yang masih jengah, ia mengirim lima puluh juta ke rekening Alya.

^^^[Tepati janjimu, katakan padanya beristirahat lebih lama di sana. Aku akan menghubunginya nanti. ]^^^

Rama menarik nafas panjang. Baru saja ia berbagi ciuman dengan Aya, suasana hatinya seketika kacau karena telpon Alya. Entah bagaimana perasaan Aya jika tahu ia mendapat ancaman seperti tadi.

'Tidak. Aya tidak boleh tahu aku mengiriminya uang lagi. Ini akan membuat Aya kesal dan tak percaya padaku, ' batin Rama.

Rama memperbaiki pakaiannya, menarik nafas sekali lagi lalu membuka pintu kamar mandi.

CEKLEK

Aya bersandar di ujung kasur. Ekspresinya dingin menatap Rama, curiga. Rama kikuk, jelas dia jadi tak nyaman karena melepas cumbuan mereka untuk menjawab telpon.

"Maaf. "

Aya menghela nafas, lalu mengangguk. Ia beranjak berganti pakaian. Rama duduk di sisi ranjang. Mengusak kasar wajahnya.

Aya menghampirinya dengan tatapan lembut setelah keluar dari kamar mandi berganti pakaian.

"Mau cerita? " tanya Aya penuh perhatian.

Rama mendongak, menarik tangan Aya dan memeluk perutnya. Aya mengelus kepala Rama dalam pelukannya.

"Amel akhirnya tahu resepsi kita. Kata Alya dia berencana pulang lebih awal untuk mengacaukannya. Tenang saja, aku sudah atasi. Aku hanya..."

Hening.

"Apa Amel mengamuk atau semacamnya? "

Rama mengangguk.

Rasa bersalah muncul lagi di hatinya. Rasa bersalah tak memperjuangkan Amel supaya di terima keluarganya. Rasa bersalah karena akhirnya memilih menikahi Aya.

"Apa sekarang abang ragu dengan semuanya? abang menyesal? "

Rama melepas pelukannya, menarik Aya untuk duduk di sampingnya.

"Abang nggak ragu atau menyesal. Cuma ...merasa bersalah."

"Terus, kenapa waktu itu abang putus dengannya?"

"Ada yang mengirim foto dia berciuman dan tidur dengan pria lain disana. Tapi kata Alya, itu rekayasa. Abang akhirnya merasa bersalah karena sudah percaya sebelum memeriksanya."

Aya menghela nafas.

"Aku berharap abang nggak goyah, tapi kalau akhirnya abang memutuskan kembali dengannya.. Ceraikan saja aku. Sampaikan pada papa dan mama. Aku tak mau jadi duri untuk kalian, dan bertahan sendiri itu.. melelahkan."

Rama menarik Aya dalam pelukannya. Ia merasa sakit mendengar perkataan Aya barusan, tapi tangisan Amel di telpon tadi terus terngiang dikepalanya.

"Bantu abang ya, Sayang. Abang nggak bisa sendiri."

Aya memeluk Rama lebih erat. Mengelus punggungnya lembut. Airmata menumpuk di pelupuk, memburamkan penglihatannya, lalu luruh perlahan.

***

Robi tersandar lemas ke kursi. Kenyataan yang dialami Raka benar-benar tak bisa diterima akal sehatnya.

" Kok bisa sih, Ka? Mereka pacaran sebelumnya? " tanya Robi masih tak percaya

Raka menggeleng. "Mereka dijodohkan. Sayangnya, aku tak tau kalau ada wacana itu. Kalau tau sejak awal aku yang menawarkan diri ke papa mama."

"Dijodohkan atas apa? "

"Almarhum Aba nya Aya yang tolong adikku Sarah. Sebelum meninggal, titip keluarganya ke Papa."

"Terus Aya mau gitu aja? "

"Kata bang Rama, awalnya dia juga nolak. Tapi, karena mama minta bang Rama untuk segera menikahi Aya sebelum mama pingsan setelah kecelakaan itu akhirnya bang Rama juga terpaksa menikahi Aya. Aya juga akhirnya setuju."

Robi mengangguk mengerti.

" Terus, kamu gimana? "

"Gimana apanya? Ya jelas lah harus merelakan."

Raka menghela nafas panjang.

"Lagian, masa iya kamu nggak tertarik cewek lain selama kuliah? Hampir tujuh tahun ini loh, Ka."

"Nggak ada yang setulus, Aya. Dia bener-bener jaga dirinya selama ini. Itu yang juga bikin aku susah pindah ke lain hati."

"Sekarang, ya mau nggak mau deh.. Masa iya aku jadi pebinor abangku sendiri."

"Mau aku kenalin nggak, biar cepat move on," tawar Robi sambil menepuk bahu Raka.

"Nanti aja deh, aku juga nggak mau buru-buru. Biar aku siapkan diri dulu. Baru dua puluh tiga tahun ini. "

"Iya juga, nikmatin masa lajang mu aja dulu bro. Puas-puasin sebelum jadi suami takut istri. Hahahahahaha."

Raka ikut tertawa getir, mencoba menata kembali hatinya.

Setelah lanjut mengobrol soal perusahaan karet tempat Robi bekerja, mereka lanjut ke rumah sakit membesuk kedua orang tua Raka.

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Assalamu'alaikum, Pa.. Ma.. "

Raka masuk, Robi berjalan mengiringinya dibelakang.

"Assalamu'alaikum, Om.. tante... " sapa Robi.

"Wa'alaikumsalam.Waah, Robi kan ya? lama nggak ketemu, " ujar Harum menyambut tangan Robi bersalaman.

"Iya tante. Kondisi tante gimana? "

"Alhamdulillah, lebih baik. Habis reuni ya? "

"Ketemu berdua aja, Ma. Kebetulan Robi kerja di perusahaan karet tempat Raka magang nanti.

"Kabarmu gimana Robi? Om baru tahu kamu kerja disana, WAHANA JAYA kan? "

"Betul Om."

"Bagian apa? "

"Saya cuma pekerja kasar aja Om. Maklum cuma lulusan SMA.

"Oh itu juga penting, semua pekerjaan punya peran masing-masing. Yang penting halal, ya kan."

" Nanti hadir ya di acara pernikahan abangnya Raka, nggak apa-apa kan nggak pakai undangan? " tanya Harum.

"Wah, nggak apa tante senang bisa di undang. Lama juga nggak ketemu bang Rama. "

Mereka lanjut mengobrol soal magang dan perusahaan tempat Robi bekerja, dan yang lain. Tapi mereka bersepakat tak membahas soal Aya yang satu kelas dengan mereka saat SMA, untuk menjaga perasaan Raka dan menghindari kesalahpahaman.

"Jangan lupa ya besok sore, jemput Papa Mama. Pak Heru nemenin Rama keluar kota besok."

"Iya, Pa. Bang Rama sudah bilang tadi, nanti Raka jemputin."

"Aya gimana? "

"Tenang aja, Ma. Aya sudah dibelikan abang. motor jadi pergi pulang kerjanya bawa motor sendiri."

"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. "

Mereka berdua pamit.

"Beneran mau pulang sekarang? Bukannya jadi obat nyamuk dirumah? " ejek Robi.

"Iya sih. Aku juga di kamar terus beberapa hari kemarin. Ayok lah kita kemana, coba hubungi yang lain siapa tahu bisa nongkrong."

"Oke, aku coba ya. Moga aja ada yang free waktunya. "

Raka menghela nafas panjang. Wacananya pendekatan serius pada Aya saat kembali akhirnya gagal total. Ia hanya bisa pasrah merelakannya dengan abangnya sendiri.

***

Sudah dua jam berlalu mereka berkeliling ke lokasi wisata sambil berfoto dan membeli aksesoris di wilayah Praha.

Mereka benar-benar menikmati hasil perasannya pada Rama. Alya mengirim separuh jatah Amel ke rekeningnya dan mereka berfoya-foya hingga sore.

Sebelum kembali ke hotel mereka mampir makan malam di kafe pinggir jalan. Onesip Coffee, kafe mungil yang berlokasi di dekat Old Town.

"Sekarang kamu nikmatin dulu aja, Mel. Nanti sampe rumah aku bantu kamu hubungi Rama lagi. Dia sendiri yang janji bakal nemuin kamu untuk bicarain soal foto itu. Aku yakin ada orang suruhan Papanya."

"Iya, aku juga mikir begitu. Rama itu selalu nggak percaya omongan Papanya, tapi kali ini aku nggak nyangka dia terpengaruh makanya aku syok."

"Saranku, kamu tetap datengin istrinya ke kantornya. Biar Rama tahu kamu nggak main-main. Kamu sudah di kabari Alex? "

"Sudah, cewek kampung itu kerja di perusahaan yang dipegang sepupunya."

"Bagus, coba mainkan. Menikah dengan anak bos itu sebenarnya lebih aman di rumah aja nggak usah kerja lagi. Tapi, cewek itu tetap kerja. Ya sudah, dia kasih peluang buat jadi omongan."

"Aku yakin, bakal banyak yang nggak mau dekatin dia. Nggak bisa salah-salah bergaul sama keluarga pemilik perusahaan, pasti bakal jaga jarak."

Alya mengangguk setuju. Amel menyeringai sambil menikmati potongan steik di mulutnya

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!