Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI TERBUKA
Setelah drama kelahiran di kelas, perut Salsa lapar setengah mati, ia mengajak Devita dan Rindu ke kantin, dan diikuti anak lain untuk bubar juga. Ita sudah ditangani tim kesehatan dan diantar ke rumah sakit untuk perawatan lanjutan, ditemani oleh adik kosnya yang sudah dihubungi Bu Dosen. Sehingga teman kelas bubar, dan akan menjenguk setelah makan dan sholat dhuhur.
Salsa sendiri memilih bakso komplit, ditambah kripik, es jeruk, dan juga tiga gorengan. Devita dan Rindu melongo melihat menu yang berada di hadapan Salsa, seperti orang tidak makan berhari-hari coba. "Sumpah, tenaga gue habis banget. Drop, watt tubuhku 0%," jujur Salsa mulai memakan bakso.
"Padahal tadi Mbak Ita kayaknya gak ngeden!" ujar Devita, maksudnya ibu lahiran biasanya butuh pegangan sangat mengejan, nah kalau gitu mereka percaya kalau tenaga Salsa habis, karena menjadi pegangan Ita. Tapi kenyataannya, Ita melahirkan tadi seperti orang bersin langsung lahir, tanpa kesakitan berlebihan.
"Apa mungkin hamil di luar nikah begitu ya, tak ada rasa sakit seperti ibu hamil dalam pernikahan," ucap Rindu, dan diangguki oleh Devita. Sesuai nasehat ibu Devita, kalau sampai hamil di luar nikah akan merugikan masa depan si perempuan dan anaknya. Si ibu selama hamil tak menerima pahala dari Allah, segala macam kenikmatan orang hamil dicabut oleh Allah, sampai perut tak membesar, melahirkan gampang, ya itu karena keistimewaan pahala ibu hamil sudah dicabut.
Belum lagi hak anak hilang begitu saja, wali diikutkan pada sang ibu, tak bisa mendapat hak waris, ayah biologis tak bisa menjadi wali nikah, dan tak ada kewajiban bagi ayah biologis untuk memberi nafkah.
Sebanyak itu ruginya, jadi Devita diperingatkan sang ibu untuk jaga pergaulan saat merantau. Mereka juga melarang Devita pacaran, ingat pacaran pun belum tentu jadi suami.
"Ih benar banget, mamaku juga bilang begitu," sahut Salsa sembari mengunyah. Aturan no pacaran berlaku untuk Salsa dan sang kakak, sekali ketahuan pacaran berarti sudah bisa hidup sendiri tanpa uang saku dari mama dan papa, dan siap dinikahkan.
Kedua orang tua Salsa memberi aturan tersebut bukan karena menghilangkan kebebasan kedua anak mereka, tapi mereka menjaga kehormatan Salsa dan sang kakak. Kalau mereka mengizinkan Salsa atau kakaknya pacaran, berarti kedua orang tua Salsa siap menerima siksa dari Allah nanti. Oleh sebab itu, mereka sangat memberi aturan tentang lawan jenis.
"Tapi memang benar sih, gue yang udah bosan pacaran saja kalau dipikir ngapain ya pacaran, gak guna banget!" lanjut Rindu yang memang terlihat seperti play girl, mungkin sudah tobat juga. Terlihat dia jomblo sekarang.
"Pacaran sampai bosen?" tanya Salsa yang sampai saat ini belum pernah ditembak atau pacaran sama cowok.
"Iya, gue pacaran mulai dari SMP," jelas Rindu membuat Devita dan Salsa terkikik geli. Bayangan kedua gadis ini, SMP masih mbeler, eh Rindu sudah pacaran.
"Sama teman kelas, kita kencan cuma sekedar ke mall makan bakso di kantin, begitu aja. Tapi saat SMA, wah jangan salah, gue hampir saja melakukan!" ucap Rindu penuh semangat saat menceritakan masa remajanya.
"Kok sampai begitu, kamu kok bisa sampai menjurus ke situ?" tanya Devita yang memang masa remajanya dihabiskan di pondok pesantren.
"Ulang tahun teman SMA, terus aku diajak menginap eh gak tahunya dia juga mengajak teman kita laki-laki menginap, ya niat barbeque an lah di belakang rumahnya, dan aku mojok sama salah satu crushku, kita ciuman grebeh-grebehan, terus kita tidur satu kamar, aku bantu dia keluar pakai tangan coba!" ujar Rindu tanpa rem. Salsa melongo, sedangkan Devita menggelengkan kepala, begini kah kehidupan remaja sekarang. Sampai dibilang, menjadi gadis sebelum menikah itu pilihan kuno.
"Rindu! Kok bisa sejauh itu," Salsa masih tak habis pikir, perasaan saat SMA dulu, dia malah fokus mengejar prestasi, karena ingin kuliah di luar negeri, cuma mama yang gak setuju.
"Bikin nagih ciuman itu, Sal!" ujar Rindu tanpa tahu malu. "Cuma lama-lama teman dekatku banyak yang hamil, akhirnya aku gak mau pacaran lagi."
"Ratu pacaran tobat!" sahut Devita. Karin mendengar percakapan tiga gadis ini dan setuju dengan pernyataan Rindu, sehingga penyesalan di akhir sampai ada keputusan pacaran tuh merugikan.
Sebagian besar makanan Salsa sudah habis, Karin kembali membuat ulah. "Sal, cowok yang lurus dengan kamu, pakai kemeja biru itu bisa dimintai tolong buat bertemu Mas Amar," ujar Karin, Salsa langsung melihat.
Ada memang laki-laki yang dibilang Karin, tapi Salsa tak tahu siapa, toh yang makan di kantin ini belum tentu anak MIPA. "Dev, Ndu, kalian pernah dengar dosen bernama Pak Amar gak?" tanya Salsa tiba-tiba, mendengar nama itu Rindu tersedak seketika.
"Kenapa lo tiba-tiba tanya dosen itu?" tanya Rindu balik. Salsa bingung kenapa respon Rindu begini.
"Emang ada ya dosen kita yang bernama Pak Amar?" tanya Devita, namun Rindu menggeleng.
"Bukan dosen di jurusan kita, tapi di jurusan lain, tapi satu fakultas dengan kita," jelas Rindu. Kadang punya teman agak gesrek begini ada untungnya, karena koneksi Rindu pasti lebih banyak ketimbang Devita dan Salsa yang menobatkan diri sebagai mahasiswa kupu-kupu, alias kuliah pulang kuliah pulang.
"Kamu kenal?" tanya Salsa lagi, Karin pun ingin tahu juga apakah Amar yang dimaksud sama dengan Amar yang Karin cari.
"Enggak lah, cuma temanku di jurusan itu pernah cerita. Beliau sangat disiplin, jarang mahasiswa yang dapat nilai A, kebanyakan C. Tapi cakepnya masyaAllah," ujar Rindu yang pernah ditunjukkan foto beliau.
"Kamu pernah ketemu?" tanya Salsa lagi. Rindu menggeleng, dan hanya berdasarkan foto yang ia dapatkan dari temannya saja.
"Kenapa sih?" tanya Rindu lagi.
"Aku sedang menjalankan misi, Pak Amar punya hutang sama seseorang, dan orang itu memintaku untuk mengubungkan dengan Pak Amar," ujar Salsa.
"Seseorang itu apakah perempuan?" tanya Rindu, spontan Salsa mengangguk. Namun Karin memberi kode agar tak terlalu oversharing.
"Hamil?" tanya Rindu lagi, dan Salsa mengangguk.
"Gawat sih, Sal." Sepertinya Rindu tahu sesuatu, kalau dia tahu tentang Amar kenapa juga Karin tak menampakkan diri ke Rindu saja, malah ke Salsa yang cupu abis.
"Kenapa?" tanya Devita dan Salsa kompak, mana Rindu toleh kanan toleh kiri lagi, seolah ada rahasia yang tak boleh sembarangan orang dengar.
"Beliau sering main sama mahasiswa kalau mau dapat nilai bagus, tapi beliau menawarkannya tak sembarang pilih juga," ujar Rindu yang sempat mendengar kabar itu dari temannya. Masih rumor, belum pasti, karena setahu Rindu tidak ada siswa yang dapat nilai A juga, paling banter B-. Sadis gak.
"Kalau kamu penasaran sama beliau main saja ke jurusan itu," ucap Rindu seperti detektif handal.