NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Setelah kecelakaan yang terjadi di gedung rumah sakit, Kenan segera dilarikan ke puskesmas terdekat.

“Bagaimana keadaan pasien, Dok?” tanya Joe dengan cemas.

“Pasien mengalami luka serius di punggung dan bahu akibat tertimpa rangka besi scaffolding,” jelas dokter. “Kami memberikan pertolongan pertama, tapi fasilitas kami terbatas. Untuk perawatan lanjutan, sebaiknya pasien dipindahkan ke Wiratama Hospitals, karena paling dekat dengan lokasi dan memiliki peralatan lengkap.”

“Perjalanan ke sana memakan waktu dua jam kan, Dok?” tanya Aru.

“Benar bu, kita harus segera berangkat agar kondisi pasien tidak memburuk,” jawab dokter.

Aru dan Joe saling menatap, menahan rasa cemas.

“Baik, tolong berikan perawatan terbaik selama di perjalanan,” perintah Joe.

Dokter segera menyiapkan ambulance. Bersamaan dengan itu Malik datang menghampiri mereka.

“Orang rumah sudah lo beri tahu, Lik?” tanya Joe.

“Sudah, Mas. Ibu Amara sudah saya hubungi, beliau akan menunggu di rumah sakit,” jawab Malik.

Joe mengangguk,kemudian ia menoleh pada Aru yang nampak termenung dari tadi. Joe menyentuh bahu Aru.

"Lo oke kan,Ru? "Tanya Joe.

"Iya, lo tenang aja." Jawab Aru yang berusaha tenang,walapun di dalam hatinya ia sangat mencemaskan kondisi Kenan.

"Kalau gitu gue mau nelfon Phi Bisma sama bang Alvaro dulu ya, supaya nanti waktu kita sampai sudah ada dokter yang  stand by di sana"ucap Aru.

"Oke"

Aru pun segera menghubungi Bisma dan Alvaro, Aru menceritakan semua yang terjadi pada Kenan dengan suara yang bergetar menahan tangis nya. Di sebrang sana Bisma dan Alvaro berusaha menenangkan sang adik agar tetep tenang dan tidak panik dan Bisma sudah mempersiapkan tim untuk menunggu kedatangan Aru dan rombongan.

Setelah Aru menelfon Bisma dan Alvaro, bertepatan dengan keluar nya dokter dari UGD tempat Kenan berada.

“Semua sudah siap. Kita harus berangkat sekarang,” kata dokter.

Joe dan Aru masuk ke ambulance, mendampingi Kenan yang masih tidak sadarkan diri. Aru menggenggam tangan Kenan erat.

“Aru… darah…” lirih Kenan dengan suara parau.

“Tenang mas… jangan lihat itu, fokus sama aku aja. Pegang tangan aku terus ya,” bisik Aru sambil mengelus tangannya. Kenan menggenggam tangan Aru pelan.

...****************...

Sementara itu di rumah Kenan,Mami Amara sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Dari arah tangga, ia mendengar suara tangisan Kai. Dengan cepat Amara menghampiri Kai yang sedang menangis di ujung tangga.

“Hikss… Hikss… Papa!” isak Kai, memanggil sang papa.

“Papaaa… Kai mau papa!” teriak Kai kecil yang lain sambil tersedu-sedu.

“Cucu Nekna kenapa, hmm?” tanya Mami Amara, sambil menunduk dan menatap Kai yang memeluknya erat.

Kai langsung memeluk Amara, menangis di pelukannya. Amara heran, karena Kai tiba-tiba menangis tanpa alasan seperti ini. Apakah ini karena ikatan batin mereka dengan Papa Kenan?

"Daddy… hikss… Kai takut, Daddy…!” rengek salah Kai.

Wajah Kai sudah basah oleh air mata. Melihat itu, Mami Amara menenangkan Kai.

“Iya sayang… Nekna telepon dulu Daddy ya?” ucap Amara sambil mengelus kepala Kai. Balita itu mengangguk dan sedikit melepaskan pelukan nya.

Mami Amara segera membawa Kai ke ruang keluarga dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Kenan, namun panggilan tidak diangkat.

“Kok nggak diangkat ya… mungkin Joe yang pegang ponsel,” gumam Mami Amara.

Ia pun mencoba menelpon Joe, tapi hasilnya tetap nihil.

“Ke mana dua bocah ini! Kok nggak ada satu pun yang angkat telepon?” Mami Amara sedikit panik.

Ia kemudian menenangkan Kai yang masih menangis di sofa.

“Mana Daddy nya, Nekna… hikss…!” tanya Kai sambil memeluk Amara lagi.

“Sabar sayang… Nekna coba telepon om Malik dulu ya,” ucap Amara sambil menyiapkan ponsel.

Beberapa detik kemudian, panggilan diangkat.

“Halo Lik, kamu lagi di mana? Tolong kasih ponselnya ke Kenan ya! Bilang kalau Kai nangis memanggil Daddy,” ucap Mami Amara tegas.

“…....... "

“Lalu kalian sekarang di mana?” tanya Amara, cemas.

“…........ "

“Ya ampun… aku langsung ke sana sekarang!”

Amara segera mematikan telepon dan menghubungi keluarga lain untuk memberitahukan kondisi Kenan. Kai masih menangis memanggil papa.

“Daddy… hikss… Kai mau Daddy!”

Amara mencoba menenangkan cucunya. “Iya sayang… nanti kita ke tempat Daddy ya.”

...****************...

Dua jam kemudian, ambulance tiba di Sanjaya Hospitals. Di depan pintu UGD, Bisma bersama timnya sudah menunggu. Amara dan Bas juga sudah hadir, bersama Ayah Dika dan Mama Yasmin.

“Mereka datang, Mi,” ucap papi Bas sambil menatap ambulance.

“Iya, Pi,” jawab Amara sambil merangkul Bas.

Tim medis segera mengangkat Kenan dan membawanya ke ruangan yang telah disiapkan. Joe yang keluar dari ambulance langsung memeluk Amara sambil menangis.

“Aunty… hikss… Kenan…!” isak Joe di pelukan Amara.

“Iya nak… tenang dulu…” ucap Amara, menepuk punggung Joe.

Aru hanya diam di sisi ambulance, menahan perasaan cemasnya. Ayah Dika dan Mama Yasmin mendekati Aru.

“Aru, sayang,” ucap Ayah Dika lembut.

“Iya, Ayah,” jawab Aru.

“Kamu oke kan?” tanya Mama Yasmin.

“Iya, Ma. Aku baik-baik aja,” jawab Aru, mencoba terlihat tenang.

Setelah merasa sedikit lega, mereka masuk ke ruangan UGD untuk menunggu proses penanganan Kenan. Semua duduk di kursi yang disediakan, berdoa dalam hati masing-masing.

Sekitar satu jam menunggu, akhirnya Alvaro keluar dari ruang UGD. Semua yang menunggu sontak berdiri di hadapan Alvaro.

“Bagaimana keadaan Mas Kenan, Bang?” tanya Aru, suaranya cemas dan tak sabar.

“Dia sudah stabil. Luka pada punggung dan bahu sudah dibersihkan dan dijahit,” jawab Alvaro menatap semua orang dengan serius.

“Tapi mas Kenan kenapa kelihatan sangat pucat, Bang?” ucap Aru.

“Itu karena dia syok, Aru. Darah yang banyak keluar membuatnya panik, ditambah lagi kata Phi Bisma bang Kenan memang punya trauma dengan darah, makanya sampai pucat seperti itu,” ucap Alvaro menenangkan.

Mereka pun akhirnya bisa menarik napas lega, sedikit menenangkan ketakutan dan kecemasan beberapa saat yang lalu.

“Boleh kami masuk, Bang? Aku ingin menjenguk mas Kenan,” tanya Aru sambil menatap Alvaro penuh harap.

“Boleh, tapi nanti setelah Bang Kenan dipindahkan ke kamar rawat ya,” jawab Alvaro.

“Terima kasih, Bang,” ucap Aru sambil tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, Bisma muncul dari ruang UGD, membawa dokumen medis dan peralatan pendukung. Wajahnya serius namun tenang.

“Aru, Joe, kalian di sini ya. Kenan sudah dipindahkan ke kamar rawat,” ujar Alvaro sambil menepuk bahu Aru.

Aru dan Joe mengangguk. Mereka mengikuti Bisma ke kamar rawat, sementara Alvaro harus menangani pasien darurat lain.

Di ruang tunggu, mamimara menatap Joe.

“Sebaiknya kamu pulang dulu, Joe. Bersihkan badan dan ganti baju, nanti kesini lagi sama Kai. Dari tadi mereka terus nangis memanggil Papa.”

“Benar kata Aunty kamu, Joe. Bajumu… sudah kotor semua kena darah,” tambah papi Bas sambil menepuk pundak Joe.

Joe menatap bajunya yang acak-acakan, bercak darah masih menempel di beberapa bagian. “Iya, ,” jawab Joe pelan, akhirnya menyetujui ucapan kedua orang tuanya.

Pandangan mami Amara kemudian tertuju pada Aru yang duduk termenung, menyenderkan kepalanya di bahu Ayah Dika.

“Aru,” panggil Amara lembut.

“Iya, Tante,” jawab Aru sambil mengangkat kepalanya.

“Aru, kamu juga pulang dulu ya sayang. Nanti kesini lagi. Kamu harus ganti baju juga, lihat bajumu kena darah semua,” ucap mamiAmara menekankan.

Aru menatap kedua orang tuanya, masih ragu. “Tapi… Tan—”

“Benar kata Tante Amara, sayang. Pulang dulu. Nanti setelah Magrib kita ke sini lagi,” ujar Ayah Dika menenangkan. Aru akhirnya pasrah dan mengangguk.

Aru, Ayah Dika, dan Mama Yasmine berdiri dan berpamitan untuk pulang.

“Kalau begitu kami pamit dulu, Bas, Amara,” ucap Ayah Dika mewakili keluarga.

“Iya, hati-hati di jalan,” jawab papi Bas dan mami Amara serempak.

Tak lama setelah itu, Joe berpamitan pulang setelah mendapat izin dari mami Amara dan papi Bas. Ia pergi bersama Malik yang sudah menunggu di luar rumah sakit.

Kini, hanya mami Amara dan papi Bas yang menunggu Kenan dipindahkan ke kamar rawat. Mereka duduk berdampingan, menatap ke arah kamar rawat, sedikit lega setelah mendengar kabar bahwa Kenan stabil, sambil menunggu Bisma memulai pemeriksaan lanjutan.

Bersambung...................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!