SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. CURIGA
Langkah kaki Lucy terdengar cepat dan tegang di lorong lantai dua Morelli Corporation. Tangannya menggenggam erat pergelangan Celina, bukan dengan kasar, melainkan dengan kepanikan yang tertahan.
Celina berjalan tertunduk di sampingnya, satu tangan menekan pipi kirinya yang masih terasa panas karena tamparan tadi.
Lucy mendorong pintu ruang kesehatan perusahaan dengan bahunya, membiarkan pintu itu terbuka lebar sebelum menuntun Celina masuk.
"Duduklah," perintah Lucy singkat, namun suaranya penuh kelembutan.
Celina menurut. Ia duduk di ranjang pemeriksaan kecil dengan kaki menggantung, tubuhnya kaku seperti boneka yang talinya ditarik terlalu keras.
"Ya Tuhan," Lucy bergumam lirih saat akhirnya benar-benar melihat kondisi Celina.
Pipi kiri gadis itu memerah. Bukan sekadar merah, tapi membara, bekas telapak tangan yang masih bisa terlihat samar, seakan kulitnya baru saja dicap oleh kemarahan seseorang.
Lucy membuka lemari kecil di sudut ruangan, mengambil kantong kompres dingin, lalu membungkusnya dengan kain tipis.
"Pegang ini," kata Lucy sambil menyerahkan kompres itu.
Celina menerimanya dengan tangan gemetar. Begitu dinginnya menempel di kulit, matanya refleks terpejam. Bibirnya bergetar, bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam.
Lucy menarik kursi, duduk tepat di depan Celina.
"Sekarang," ucap Lucy pelan, namun tegas, "ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi sampai bisa sejauh ini?"
Celina terdiam. Ia menatap lantai putih di bawah kakinya, berpikir apa yang harus ia katakan agar tidak salah kaprah lagi.
"Aku ... aku hanya bekerja seperti biasa," kata Celina akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.
Lucy tidak menyela. Ia membiarkan Celina melanjutkan dengan ritmenya sendiri.
"Tadi aku membersihkan ruang arsip kecil dekat divisi keuangan. Tempat sampahnya ... terlalu penuh. Dan saat aku ingin menggantinya, aku melihat ada map-map di dalamnya. Masih rapi. Tidak seperti sampah," kata Celina jujur.
Lucy mengernyit. "Berkas?"
Celina mengangguk pelan.
"Aku pikir mungkin ada yang salah buang. Jadi aku buka sedikit." Ia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali. "Dan aku lihat ada cap perusahaan. Cap rahasia."
Lucy bersandar ke belakang, ekspresinya berubah serius. "Lalu?"
"Belum sempat aku melakukan apa-apa, asisten keuangan itu datang. Dia marah. Langsung menuduh aku ... macam-macam. Dia bilang aku sengaja membuang berkas penting. Bilang aku cari perhatian. Bilang ... bilang office girl sepertiku mana tahu urusan kerjaan mereka yang penting dan tidaknya," lanjut Celina.
Lucy mengepalkan tangannya.
"Dan dia menamparmu karena kesalahan yang jelas bukan milikmu?" konfirmasi Lucy pelan, namun ada bara api di matanya.
Celina tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.
Ruangan itu sunyi beberapa detik. Sunyi yang berat.
Lucy berdiri tiba-tiba, mondar-mandir satu langkah, lalu berhenti.
"Dengar aku," Lucy kembali duduk, kini lebih dekat. "Aku tidak peduli siapa dia. Jabatan apa. Seberapa penting dia merasa dirinya. Tidak ada satu pun orang di perusahaan ini yang berhak melakukan kekerasan kepada karyawan lain. Tidak ada."
Celina mendongak. Matanya yang besar terlihat terkejut di balik kacamata hitam besar yang ia kenakan.
Lucy melanjutkan, suaranya mantap.
"Aku akan memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi. Tidak ada kekerasan. Tidak ada penghinaan. Di Morelli Corporation, setiap orang itu penting." Ia menatap Celina lurus. "Termasuk office girl sekalipun."
Kata-kata itu menembus sesuatu di dada Celina. Tidak menyangka kalau keluarga Morelli rupanya memiliki attitude yang baik terhadap orang lain.
Tangan Celina yang memegang kompres sedikit mengendur.
Lucy perlahan mengulurkan tangan, menyentuh pipi Celina dengan ujung jarinya, hati-hati, seolah takut menyakitinya lebih jauh.
Namun begitu jari Lucy mengusap area merah itu, ia membeku.
Bukan karena panas.
Bukan karena luka.
Melainkan karena sesuatu yang ... menghilang.
Lucy mengerjap. Jarinya kembali mengusap pipi itu sekali lagi, lebih jelas kali ini.
Freckles.
Bintik-bintik kecil yang sejak awal ia lihat di wajah Celina, yang membuat gadis itu tampak biasa, bahkan cenderung culun ... kini menghilang di bawah sentuhannya.
Lucy menarik tangannya perlahan, jantungnya berdetak lebih cepat.
Make up?
Ia menatap wajah Celina dengan lebih saksama. Kacamata hitam besar itu. Rambut yang dibiarkan menutupi sebagian wajah. Postur tubuh yang selalu sedikit membungkuk, seolah ingin mengecilkan diri.
Namun kini, saat Celina duduk tegak karena nyeri di pipinya, Lucy melihatnya dengan jelas.
Bahu yang seimbang. Leher yang jenjang. Postur yang ... nyaris sempurna.
Dia tidak biasa. Kenapa gadis ini bersusah payah membuat dirinya tampak tidak menarik? Pikir Lucy.
Freckles palsu. Kacamata besar. Persona gadis culun.
Lucy ingin bertanya. Ia benar-benar ingin.
Namun sebelum satu kata pun keluar ...
BRAK!
Pintu ruang kesehatan terbuka.
Lucy dan Celina sama-sama terkejut.
Sosok tinggi dengan aura dingin berdiri di ambang pintu.
Theodore Morelli.
Ruangan seakan langsung kehilangan udara.
Tatapan hitam Theo menyapu ruangan, berhenti sejenak pada pipi Celina yang merah, lalu beralih ke Lucy.
"Lucy. Kembali ke ruanganku. Sekarang," perintah Theo.
Lucy berdiri refleks.
"Tapi-"
"Aku hanya ingin bertanya tentang yang terjadi. Kau bisa kembali bersama Leo ke ruanganku," ucap Theo lembut kepada sang adik.
Lucy menatap Celina sekilas, ragu. Tapi Lucy mengangguk. Memilih mengikuti perintah sang kakak karena ini bagaimana pun juga adalah urusan perusahaan.
Pintu menutup kembali ketika Lucy pergi.
Dan kini, hanya ada Theo dan Celina.
Celina menelan ludah.
Theo melangkah maju, langkahnya tenang namun berat. Ia berhenti tepat di depan Celina, berdiri seperti bayangan yang menjulang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Theo.
Nada suaranya tidak meninggi. Justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengintimidasi.
Celina menarik napas, lalu menceritakan ulang kejadian tadi. Setiap kata keluar dengan hati-hati. Ia tidak menambahkan emosi, tidak pula mengurangi fakta.
Theo mendengarkan tanpa ekspresi.
Namun begitu Celina selesai, ia langsung bertanya ....
"Bagaimana kau tahu berkas itu penting dan memiliki cap rahasia? Kau tahu mana yang berkas rahasia dan bukan sepertinya," tanya Theo dengan nad penuh kecurigaan.
Pertanyaan itu menghantam Celina lebih keras daripada tamparan tadi.
Ia tersentak.
"A-aku ...." Celina gelagapan.
Theo menyilangkan tangan.
"Kau mengatakan hal itu pada asisten keuangan juga tadi." Tatapannya tajam. "Dari mana kamu tahu?"
Celina menggigit bibir.
Ia tahu satu hal dengan pasti sekarang; ia tidak bisa berbohong pada pria ini.
"Karena ...." Celina mengangkat wajahnya. "Aku sering disuruh mengantarkan berkas ke divisi lain."
Theo sedikit mengangkat alis.
"Mereka bilang itu berkas penting dan rahasia. Jangan diberitahukan ke siapa pun." Celina menelan ludah. "Dan setiap berkas seperti itu selalu punya cap perusahaan. Logonya berbeda."
Theo terdiam.
"Jadi saat aku melihat map itu di tempat sampah ... aku tahu itu bukan berkas biasa. Karena jika itu berkas rahasia dan harus dibuang, maka biasanya dihancurkan terlebih dahulu agar tidak disalah gunakan," jelas Celina jujur.
Hening.
Theo melangkah lebih dekat.
Ia mengulurkan tangan, memegang dagu Celina, memaksanya menatap ke atas.
Jantung Celina berdegup liar.
Tatapan mereka bertemu.
"Aku akan menyelidiki ini," ucap Theo akhirnya.
Theo melepas dagu Celina, lalu menyentuh pipi merah itu, sentuhannya singkat, dingin, namun mengejutkan.
"Hari ini, kau sudah membuat keributan dua kali," ujar Theo mengingatkan.
Celina menunduk.
"Jika sekali lagi namamu terdengar," suara Theo mengeras, "aku sendiri yang akan memberikan hukuman."
"Baik," jawab Celina.
Namun ketika Celina mengangkat kepala, ia mendapati Theo masih menatapnya, tatapan yang tidak biasa. Seolah pria itu sedang melihat sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
Tiba-tiba-
BRAK!
Pintu kembali terbuka dengan keras.
Seorang pria berambut cokelat dengan wajah panik berdiri di ambang pintu.
"Apa Celina Dawson ada di sini?" serunya tanpa basa-basi.
Aiden.
Napasnya terengah, matanya liar.
"Ada laporan lagi tentang Celina!" lanjut Aiden. tergesa. "Katanya dia ...."
Theo menoleh perlahan melihat Celina. Masalah baru lagi?
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
up lagi
up lagi
kok aku ngelag yaa🤭
mang ada runtutan nya.
karena kalau normalnya, walaupun punya ingatan fotografi
tapi ga sedetail dan sekuat itu
othorrt,akh padamu da ah
q bacanya saja bikin OTAK panas...apalagi season LUCAS FAMILY ?