NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Tidak Berlutut

Keheningan jatuh tepat setelah nama Zhao Heng disebut.

Udara di aula sederhana Sekte Langit Abadi terasa mengeras. Cahaya sore menembus celah papan kayu, memantul pada debu yang menggantung tanpa bergerak. Xu Tian berdiri di depan, punggungnya lurus, kedua kaki menjejak lantai tanah yang dipadatkan sendiri oleh murid-muridnya.

Utusan Sekte Awan Giok tidak segera berbicara. Ketiganya menunggu. Tekanan aura tidak dilepaskan, namun juga tidak ditarik. Ujian itu dibiarkan menggantung.

Xu Tian membuka mulut lebih dulu.

“Sekte Langit Abadi tidak akan dibubarkan.”

Kalimat itu pendek. Tidak ada penekanan. Tidak ada nada tinggi. Suara Xu Tian terdengar jelas di aula yang sempit.

Chen Yu berdiri satu langkah di belakang Xu Tian. Bahunya menegang sesaat, lalu kembali stabil. Telapak tangannya mengepal, namun kakinya tidak bergeser.

Utusan pertama menatap Xu Tian tanpa berkedip. “Kau mendengar nama yang disebut.”

Xu Tian mengangguk. “Aku mendengar.”

Utusan kedua melangkah maju setengah langkah. Jubahnya berdesir. Aura dari tubuhnya menguat dan menyebar ke dinding aula. Papan kayu bergetar, beberapa paku bergeser keluar setengah ruas.

“Perintah itu datang dari orang yang sama,” kata utusan kedua. “Orang yang menentukan nasibmu sebelumnya.”

Xu Tian menatap utusan kedua. Tatapannya datar. “Nasibku sekarang tidak ditentukan di sana.”

Utusan ketiga menyipitkan mata. “Kau menolak berlutut.”

Xu Tian mengangguk sekali. “Aku tidak berlutut.”

Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada alasan yang dipaparkan.

Tekanan aura melonjak.

Udara di aula bergetar. Tanah di lantai retak halus dan memanjang ke arah pintu. Beberapa murid di sisi aula terdorong mundur satu langkah. Satu orang hampir jatuh, lalu bertahan dengan menahan dinding.

Chen Yu menggertakkan gigi. Napasnya tertahan. Lututnya bergetar, namun tetap terkunci.

Xu Tian melangkah satu langkah ke depan.

Gerakan itu sederhana. Telapak kaki Xu Tian menyentuh tanah dengan mantap. Retakan berhenti melebar tepat di bawah kakinya.

Tekanan aura dari utusan pertama bertemu dengan qi wilayah sekte. Tidak ada benturan keras. Tidak ada suara ledakan. Dua tekanan itu saling menekan dan menahan.

Aula berguncang sekali, lalu stabil.

Utusan pertama menaikkan dagu. “Kau berdiri sebagai apa?”

Xu Tian menjawab tanpa ragu. “Pendiri Sekte Langit Abadi.”

Utusan kedua tertawa pendek. “Pendiri sekte kecil yang belum diakui.”

Xu Tian tidak menoleh. “Pengakuan tidak mengubah pijakan kakiku.”

Utusan ketiga mengangkat tangan. Aura dari tubuhnya menyatu dengan dua utusan lain. Tekanan menjadi lebih tajam dan terarah. Udara terasa dingin, seperti bilah tipis yang menyentuh kulit.

Beberapa murid mengerang tertahan. Keringat mengalir di pelipis mereka. Tidak ada yang mundur.

Chen Yu melangkah setengah langkah ke depan tanpa diperintah. Posisi tubuhnya condong, namun kakinya tertanam. Retakan kecil muncul di tanah di bawahnya, lalu berhenti.

Xu Tian mengangkat satu tangan ke samping.

Chen Yu berhenti.

“Tekanan seperti ini,” kata Xu Tian, “pernah kuterima dari dalam gerbang yang sama.”

Utusan pertama menyipitkan mata. “Dan kau bertahan.”

Xu Tian mengangguk. “Aku berdiri.”

Tekanan aura kembali meningkat satu tingkat.

Papan kayu di langit-langit aula patah dan jatuh. Debu beterbangan. Murid-murid menutup wajah dengan lengan. Tidak ada yang berteriak.

Xu Tian tidak bergerak.

Qi wilayah sekte berdenyut pelan, lalu mengalir menyebar. Tekanan dari luar tidak dipantulkan. Tekanan itu diserap dan dialihkan ke tanah di luar aula.

Di halaman, batu-batu kecil retak dan tenggelam setengah jari ke tanah.

Utusan kedua menatap lantai yang retak. “Fondasi sekte ini tidak kosong.”

Xu Tian menjawab singkat. “Tidak.”

Utusan pertama menarik napas panjang. Nada bicaranya berubah. “Kau sadar apa yang kau lakukan.”

Xu Tian mengangguk. “Aku sadar.”

“Kau menantang tatanan,” lanjut utusan pertama.

Xu Tian menatap lurus. “Aku berdiri di dalamnya.”

Keheningan kembali turun. Tekanan aura tidak bertambah, namun juga tidak berkurang.

Utusan ketiga melangkah mundur setengah langkah. “Ini bukan penolakan emosional.”

Xu Tian tidak menjawab.

Utusan ketiga melanjutkan, “Ini keputusan.”

Xu Tian mengangguk sekali.

Utusan pertama menggerakkan lengan bajunya. Aura perlahan ditarik setengah tingkat. Udara terasa sedikit lebih longgar. Murid-murid menarik napas lebih dalam.

“Baik,” kata utusan pertama. “Kami mencatat sikapmu.”

Xu Tian tetap berdiri. Tatapannya tidak berubah.

Utusan kedua menatap Chen Yu. “Muridmu tahu apa yang ia ikuti.”

Chen Yu menjawab lebih dulu. “Saya berdiri di sini.”

Suaranya serak, namun jelas.

Utusan kedua tersenyum tipis. “Bagus.”

Utusan pertama kembali menatap Xu Tian. “Masalah ini belum berakhir.”

Xu Tian mengangguk. “Aku tahu.”

Tekanan aura ditarik sepenuhnya. Aula terasa kosong sejenak, seperti setelah badai berhenti. Debu jatuh ke tanah.

Xu Tian menurunkan tangannya.

Chen Yu menghembuskan napas panjang. Punggungnya basah oleh keringat. Namun kakinya masih berdiri di tempat semula.

Xu Tian menoleh sedikit ke belakang. “Periksa murid.”

Chen Yu mengangguk dan segera bergerak. Beberapa murid lain saling membantu berdiri dan membersihkan puing kayu.

Utusan Sekte Awan Giok tetap berdiri di depan Xu Tian. Jarak mereka tidak berubah.

“Sikap ini,” kata utusan pertama, “akan memicu langkah berikutnya.”

Xu Tian menatapnya. “Aku menunggu.”

Utusan pertama berbalik. Dua utusan lain mengikuti. Langkah mereka terukur dan tidak tergesa.

Saat mereka keluar dari aula, cahaya sore masuk lebih lebar. Bayangan jubah mereka memanjang di tanah.

Xu Tian tetap berdiri sampai langkah terakhir menghilang dari ambang pintu.

Aula Sekte Langit Abadi dipenuhi retakan, puing, dan napas berat. Namun tidak ada yang berlutut.

...

Langkah utusan Sekte Awan Giok berhenti di halaman luar.

Utusan pertama berbalik menghadap aula. Cahaya senja menyentuh sisi wajahnya. “Keputusan Xu Tian telah dicatat.”

Xu Tian melangkah keluar aula. Tanah halaman masih menyisakan retakan tipis. Debu belum sepenuhnya mengendap.

Utusan pertama melanjutkan, “Sekte Awan Giok adalah sekte menengah. Penolakan perintah resmi dianggap pembangkangan.”

Chen Yu berdiri di sisi kanan Xu Tian. Chen Yu menggeser kaki ke depan setengah langkah dan berhenti.

Xu Tian menatap utusan pertama. “Lanjutkan.”

Utusan kedua membuka gulungan tipis bersegel giok. Segel itu berkilat singkat. “Konsekuensi telah ditetapkan.”

Utusan ketiga membaca isi gulungan. “Wilayah Sekte Langit Abadi akan dibekukan. Jalur dagang ditutup. Perekrutan murid akan dilarang.”

Beberapa murid di halaman menegang. Dua orang menoleh ke gerbang kayu yang sudah retak.

Xu Tian tidak memotong.

Utusan ketiga melanjutkan, “Jika sekte tetap berdiri, pasukan penindakan akan dikirim.”

Utusan pertama menambahkan, “Bangunan akan diratakan. Murid akan diusir. Pemimpin akan ditangkap.”

Xu Tian mengangguk. “Catat.”

Utusan kedua menaikkan alis. “Tidak ada bantahan?”

Xu Tian menjawab singkat. “Tidak.”

Chen Yu menarik napas dan membuka mulut. Chen Yu menutupnya kembali tanpa suara.

Utusan pertama menatap Chen Yu. “Murid pertama.”

Chen Yu menjawab tegas. “Saya murid Sekte Langit Abadi.”

Utusan pertama tersenyum tipis. “Baik.”

Utusan pertama kembali menghadap Xu Tian. “Tenggat waktu ditetapkan.”

Utusan kedua menggulung kembali gulungan. “Tujuh hari.”

Suara itu jatuh jelas di halaman. Burung di atap terbang meninggalkan dahan.

Xu Tian mengangguk sekali. “Aku mendengar.”

Utusan ketiga menurunkan tangan. Tekanan aura dilepaskan singkat, lalu menghilang. Rumput di halaman kembali tegak.

Utusan pertama berbalik. “Sampai tenggat berakhir.”

Ketiga utusan berjalan pergi. Gerbang luar berderit saat tertutup.

Keheningan tersisa di halaman.

Chen Yu menoleh ke Xu Tian. Chen Yu menunggu perintah.

Xu Tian mengangkat tangan. “Kumpulkan semua murid di aula.”

Chen Yu bergerak cepat. Chen Yu memberi isyarat ke dua murid lain. Ketiganya menyebar ke bangunan sisi.

Beberapa menit kemudian, murid-murid berkumpul. Jumlah mereka tidak berubah. Tidak ada yang absen.

Xu Tian berdiri di depan. “Tujuh hari.”

Xu Tian menunjuk bangunan barat yang retak. “Perbaiki malam ini.”

Dua murid mengangguk dan langsung bergerak membawa balok kayu.

Xu Tian menunjuk halaman latihan. “Latihan dipindah ke pagi dan malam.”

Seorang murid mencatat di papan kayu.

Xu Tian menoleh ke Chen Yu. “Atur regu jaga.”

Chen Yu menjawab, “Siap, Guru.”

Chen Yu membagi murid menjadi tiga regu. Setiap regu menempati pos berbeda. Obor dinyalakan.

Sistem Pembangunan Sekte muncul singkat di penglihatan Xu Tian.

[Notifikasi: Tekanan eksternal terdeteksi. Opsi: Perkuat pertahanan wilayah.]

Xu Tian memilih opsi tanpa suara.

Tanah halaman bergetar pelan. Retakan menutup sebagian. Pilar kayu di sudut halaman menancap lebih dalam.

Murid-murid merasakan perubahan. Beberapa menguji pijakan dan mengangguk.

Xu Tian melanjutkan, “Persediaan dihitung ulang.”

Seorang murid gudang melapor, “Air cukup. Beras untuk lima hari.”

Xu Tian menunjuk dua murid. “Cari pasokan tambahan malam ini.”

Keduanya menjawab serempak dan pergi melalui pintu samping.

Chen Yu melangkah maju. “Guru, gerbang timur rusak.”

Xu Tian menoleh. “Perkuat dengan batu.”

Tiga murid membawa batu dari lereng. Gerbang diperbaiki sementara.

Malam turun cepat.

Obor menyala di setiap sudut. Regu jaga berjalan bergantian. Tidak ada suara asing.

Xu Tian berdiri di tepi halaman. Xu Tian memandang batas wilayah yang samar.

Chen Yu mendekat. “Guru.”

Xu Tian menoleh. “Laporkan.”

Chen Yu menyerahkan catatan kayu. “Jumlah murid tetap. Tidak ada yang pergi.”

Xu Tian mengangguk. “Baik.”

Di kejauhan, cahaya dari desa terdekat tampak redup. Jalur dagang mulai sepi.

Keesokan pagi, dua murid kembali dengan karung setengah penuh. Wajah mereka kotor oleh debu.

“Mereka menolak menjual,” lapor salah satu murid. “Nama sekte disebut.”

Xu Tian menerima laporan. “Simpan.”

Xu Tian mengubah jadwal. Latihan difokuskan pada formasi dasar. Murid bergerak dalam kelompok kecil.

Sistem Pembangunan Sekte muncul singkat.

[Evaluasi: Disiplin meningkat. Pertahanan wilayah stabil.]

Xu Tian menutup notifikasi.

Hari kedua berlalu tanpa gangguan. Bangunan barat berdiri kembali dengan kayu baru. Atap diperkuat.

Hari ketiga, dua orang asing terlihat di luar batas wilayah. Regu jaga melapor.

Xu Tian memerintahkan Chen Yu mengamati dari jarak aman. Orang asing pergi setelah melihat obor.

Hari keempat, papan pengumuman di desa terdekat dipasang segel Sekte Awan Giok. Murid pembawa kabar kembali dengan napas berat.

Xu Tian mengangguk. “Teruskan latihan.”

Hari kelima, satu murid terluka ringan saat latihan malam. Luka dibersihkan. Jadwal disesuaikan.

Hari keenam, angin membawa bau logam dari arah utara. Regu jaga meningkatkan kewaspadaan.

Malam itu, Xu Tian berdiri di gerbang. Chen Yu berdiri di samping kiri.

Chen Yu berkata, “Besok.”

Xu Tian menjawab, “Ya.”

Pagi hari ketujuh, langit kelabu.

Utusan Sekte Awan Giok belum terlihat. Wilayah sekte tetap sunyi.

Xu Tian memandang seluruh wilayah. Murid-murid berada di pos masing-masing. Bangunan berdiri rapi meski sederhana.

Xu Tian menjejakkan kaki lebih kuat. “Apapun yang datang, tetap di posisi.”

Chen Yu mengangguk. “Siap, Guru.”

Di kejauhan, debu tipis mulai terangkat. Arah utara menunjukkan pergerakan.

Xu Tian tidak bergerak. Tatapan Xu Tian tetap lurus ke depan.

Waktu tujuh hari berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!