NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelabuhan Sunyi

Bau karat, garam laut, dan solar yang menyengat menyambut mereka saat pintu mobil box dibuka. Pelabuhan Sunda Kelapa di jam empat pagi adalah labirin raksasa yang terdiri dari tumpukan peti kemas dan kapal-kapal kayu pinisi yang bersandar dalam kegelapan. Suara air laut yang menghantam lambung kapal terdengar seperti bisikan misterius yang tak henti-hentinya memperingatkan mereka akan bahaya.

Reno memandu mereka dengan sigap, menghindari lampu-lampu sorot dari pos penjagaan gerbang utama. Mereka berhenti di depan sebuah kapal kargo tua bermesin diesel yang tampak tidak terawat. Di lambungnya tertulis nama “Arunika Jaya”.

“Ini kapal milik paman jauhku. Dia berhutang nyawa padaku saat aku membantu menghapus catatan pajaknya yang bermasalah dua tahun lalu,” bisik Reno sambil memberikan kode lampu senter ke arah dek kapal.

Seorang pria tua dengan wajah penuh kerutan muncul dan menurunkan tangga monyet. Baskara naik lebih dulu, memastikan keadaan aman sebelum membantu Alea yang tampak lemas. Gadis itu bergerak seperti robot; wajahnya pucat pasi, dan matanya terlihat kosong seolah jiwanya masih tertinggal di kamar mewah Sarah yang baru saja mereka tinggalkan.

Mereka dibawa menuju sebuah ruang mesin cadangan yang telah diubah menjadi kamar darurat di bagian bawah dek. Ruangan itu sempit, pengap, dan berisik oleh dengung generator, tapi setidaknya di sini tidak ada jendela yang bisa ditembus oleh mata-mata atau lensa kamera pengawas.

“Kalian aman di sini untuk dua belas jam ke depan. Setelah itu, kapal ini harus berangkat menuju Makassar. Jika kalian ingin ikut, kalian harus tetap di bawah,” ujar si pemilik kapal sebelum meninggalkan mereka dengan satu jeriken air bersih dan beberapa bungkus roti.

Baskara meletakkan tasnya di atas meja besi yang berkarat. Ia segera mengeluarkan kunci perak yang berhasil ia rebut dari leher Sarah. Benda itu kini tampak begitu kecil di tengah ruangan yang keras ini, namun bobot rahasia yang dikandungnya terasa seberat gunung.

“Reno, siapkan peralatanmu. Aku ingin tahu apa yang ada di dalam silinder ini sekarang juga,” perintah Baskara. Suaranya mencoba tetap tegas, namun matanya tak bisa berhenti melirik Alea yang kini duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya sendiri di atas kasur tipis yang apak.

“Bas, beri aku waktu. Enkripsi mekanis seperti ini jarang ditemukan di zaman sekarang. Ini teknologi lama yang sangat sulit ditembus tanpa merusak komponen dalamnya,” Reno mulai membongkar tas teknisnya, mengeluarkan mikroskop digital dan satu set obeng presisi.

Baskara mengangguk, lalu ia berjalan mendekati Alea. Ia berlutut di depan gadis itu, mencoba menyetarakan tinggi badannya. “Alea, kau perlu makan sesuatu. Kita tidak tahu kapan kita bisa mendapatkan makanan layak lagi.”

Alea tidak menjawab. Ia hanya menatap dinding besi yang lembap. “Dia ingin aku mati, Bas,” bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Semua kenangan tentang dia membacakan buku sebelum tidur, dia yang membelaku saat aku nakal di sekolah... apakah itu semua hanya investasi? Agar suatu saat aku bisa dibuang tanpa rasa bersalah?”

Baskara merasakan dadanya sesak. Ia teringat ibunya—wanita yang selalu tersenyum namun menyimpan kesedihan karena pengkhianatan ayahnya. “Sarah Mahardika tidak memiliki hati, Alea. Dia hanya memiliki kalkulator di dalam kepalanya. Baginya, manusia hanyalah angka. Jika angkanya tidak lagi menguntungkan, dia akan menghapusnya.”

“Lalu aku apa bagimu?” Alea tiba-tiba menoleh, menatap langsung ke mata Baskara. Sorot matanya menuntut kejujuran yang telanjang. “Apakah aku juga hanya angka dalam rencanamu untuk merebut Mahardika Group? Apakah kau menyelamatkanku hanya karena aku adalah pemegang kunci terakhir menuju brankas itu?”

Baskara terpaku. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di bagian yang paling ia hindari. Selama bertahun-tahun, ia telah melatih dirinya untuk menjadi manipulator yang sempurna. Alea memang seharusnya hanya menjadi angka. Namun, saat ia melihat goresan luka di tangan Alea akibat pelarian tadi, ada rasa sakit yang berdenyut di nadinya sendiri.

“Awalnya, iya,” jawab Baskara jujur, suaranya sedikit parau. “Kau adalah bidak catur yang sangat berharga. Tapi malam ini... saat aku melihatmu berdiri di depan Sarah, aku menyadari bahwa menghancurkannya tidak akan terasa manis jika aku harus kehilangan dirimu dalam prosesnya.”

Alea terdiam, mencari kebohongan di mata Baskara, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang sama dengan yang ia rasakan. Secara perlahan, Alea mengulurkan tangannya, menyentuh luka gores di pipi Baskara yang didapatnya saat menerjang pengawal Sarah.

“Kita berdua adalah yatim piatu yang diciptakan oleh tangan wanita yang sama,” gumam Alea.

Momen itu pecah ketika Reno tiba-tiba berteriak kecil. “Ketemu! Bas, lihat ini!”

Baskara segera berdiri dan menghampiri Reno. Di layar laptop, terlihat pemindaian tiga dimensi dari bagian dalam kunci perak tersebut. Ternyata, di dalam silinder kecil itu terdapat gulungan mikrofilm mikroskopis dan sebuah microchip kuno yang hanya bisa dibaca oleh perangkat tertentu.

“Mikrofilm? Itulah kenapa dia tidak menyimpannya secara digital. Dia tahu data digital bisa diretas, tapi film fisik butuh akses langsung,” ujar Baskara kagum sekaligus ngeri. “Bisa kau tampilkan isinya?”

“Aku butuh alat pemindai optik khusus. Aku harus memodifikasi lensa kamera laptop ini agar bisa menangkap citranya. Beri aku satu jam lagi,” sahut Reno dengan dahi berkerut penuh konsentrasi.

Baskara kembali menoleh pada Alea. Gadis itu kini berdiri, mendekati meja kerja Reno. Rasa ingin tahunya mulai mengalahkan rasa takutnya. Inilah awal dari transformasi Alea—dari seorang putri yang dilindungi menjadi seorang penyintas yang mulai mencari kebenaran.

“Bas,” panggil Reno lagi, kali ini suaranya lebih rendah. “Aku baru saja memindai bagian luar microchip-nya. Ada label manufaktur di sana. 'Proyek Erase - Subyek 02'.”

“Siapa Subyek 01?” tanya Alea dengan nada menuntut.

Baskara menatap layar, lalu menatap Alea. Sebuah firasat buruk mulai merayap di punggungnya. “Jika Proyek Erase adalah tentang penghapusan aset dan identitas... Subyek 01 kemungkinan besar adalah orang yang memulai segalanya. Orang yang dianggap paling berbahaya bagi keberlangsungan Mahardika Group tiga puluh tahun lalu.”

“Ibumu,” bisik Alea.

Baskara mengepalkan tangannya. Keheningan di ruang mesin itu menjadi sangat menyesakkan. Suara mesin kapal yang mulai dipanaskan di atas dek terasa seperti genderang perang yang mulai ditabuh. Mereka baru saja membuka kotak pandora yang lebih besar dari yang mereka bayangkan.

“Reno, kerjakan secepat mungkin,” ujar Baskara dengan nada yang tidak bisa dibantah. “Setelah kita tahu apa yang ada di film itu, kita tidak akan hanya sekadar bersembunyi. Kita akan memberikan Sarah Mahardika alasan untuk benar-benar takut pada bayangannya sendiri.”

Baskara menatap Alea, lalu secara spontan ia menggenggam tangan gadis itu. Kali ini, Alea tidak menarik tangannya. Di bawah lampu neon yang berkedip-kedip di perut kapal kargo, dua jiwa yang hancur itu mulai menyusun serpihan-serpihan diri mereka menjadi satu kekuatan yang baru.

Mereka tahu, perjalanan menuju kebenaran ini baru saja dimulai, dan bab-bab berikutnya akan dipenuhi dengan lebih banyak darah, air mata, dan pengkhianatan yang mungkin akan mengguncang pondasi terakhir kepercayaan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!