Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lamunan pendekar tua
Dornus tetap berdiri di bawah bayang pepohonan setelah keempat murid itu benar-benar menghilang di balik tikungan koridor selatan akademi. Lapangan pelatihan telah kembali sunyi. Angin sore menyapu rerumputan, menggeser debu tipis dan dedaunan kering. Suara gesekannya membuat alis Dornus sedikit berkerut.
Sifat nekat dan keras kepala itu...
Ia menghembuskan napas pelan, kemudian duduk bersandar pada batang pohon.
Hah...dia benar-benar mirip dengan mu, sialan....
Pandangannya menerawang, ingatannya kembali pada seseorang.
Sudah berapa tahun sejak hari itu? 15?...
Bau tanah dan desir rerumputan lapangan perlahan berubah di benaknya. Menjadi bau embun pagi dan sorak kemarahan yang terdengar jelas.
****************
15 tahun lalu, 70 kilometer utara paxvar.
Semburat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memecah kegelapan Pegunungan Anarkhon. Di antara tebing-tebing curam, dua pria bertopeng dengan pakaian serba gelap bergerak gesit. Napas mereka memburu, menciptakan uap tipis di udara pagi yang dingin.
Di kejauhan, kepulan debu membubung tinggi. Gerombolan penunggang kuda dengan persenjataan lengkap mulai terlihat mengecilkan jarak.
"Kejar! Jangan sampai mereka lolos!" teriak salah satu pengejar, suaranya parau memecah gemuruh derap langkah kuda.
Kedua pria itu tak menoleh. Mereka melompat dengan gesit di antara bongkahan batu besar, memanfaatkan medan yang sulit untuk menghambat lawan.
"Mereka mengejar," ujar salah satu pria berbaju hitam sambil terus melesat tanpa mengurangi kecepatan.
"Perlu aku gunakan mantra Tembok Batu, Topan?" tanya rekannya yang berlari di sampingnya.
"Tidak perlu, Bara. Fokus saja!" sahut seseorang yang dipanggil Topan itu tegas. "Begitu kita sampai di gua transit, segera aktifkan rune teleportasimu. Kau sudah menyiapkannya, kan?"
"Siap, sudah siap." jawab Bara singkat.
Keduanya memacu sisa tenaga, melompati celah-celah lembah yang sempit dengan ketangkasan yang luar biasa. Namun, derap langkah kaki kuda di belakang mereka terdengar semakin nyaring, tak lama lagi segera menyusul. Dari kejauhan, mulut goa sudah nampak.
Tiba-tiba -
DZZIIINGG!!
Satu tembakan kilatan cahaya menyambar dari arah pengejar. Serangan itu meleset, namun udara panas yang tertinggal sanggup membuat kulit kedua pria itu bergidik.
"Sial! Ayo, lebih cepat!" seru salah satunya.
Keduanya memacu tungkai lebih liar, melesat masuk ke dalam gelapnya mulut goa. Di dalam sana, suara napas mereka yang memburu bergema, saling bersahutan.
"Segera aktifkan rune teleportasimu, Bara!" perintah Topan. Ia berdiri di ambang pintu goa, matanya menyipit waspada memperhatikan musuh yang semakin dekat, debu-debu beterbangan di bawah derap kaki kuda mereka.
Bara mengangguk cepat. Ia berlari lebih dalam ke dalam gua, pandangannya berkeliaran seolah mencari sesuatu di batuan lantai goa. Namun mendadak tubuhnya menegang, napasnya tercekat. "Topan!"
CTAKK!, sebuah anak panah melesat dari luar, menancap didinding batu tepat di samping lengan Topan. Meski berhasil menghindar, ujung mata panah yang tajam sempat menggores bahunya. Darah segar mulai mengalir tipis, menciptakan rasa perih yang panas. "Ada apa?!" tanya Topan tanpa menoleh, tangannya sudah bersiap merapal mantra.
“Runenya rusak!!” teriak Bara dengan suara parau.
"Sial! Cepat perbaiki! Akan kutahan mereka di sini!" seru Topan.
Bara mengangguk tanpa membuang waktu. Ia segera berlutut, jemarinya bercahaya kemerahan saat ia mulai merapal mantra perbaikan. Di bawah kakinya, ukiran rune yang tadinya retak dan berantakan di dasar batu goa mulai bergetar, bergerak perlahan menyusun kembali garis-garis magisnya sedikit demi sedikit.
Sementara itu, Topan melangkah mantap keluar dari mulut goa. Ia berdiri tegak menghadapi kepulan debu musuh, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Udara di sekitarnya mendadak hening. Ia mulai melantunkan mantra.
"Angin purba, bangkit dari tidur panjangmu.
Dari celah bumi hingga puncak langit kelabu.
Putar arah, patahkan hukum yang membelenggu.
Satukan hembus, jadikan pusaran yang menderu.
Atas namaku.
Turunlah, storm vortex!!!"
dalam sekejap mata, tekanan udara berubah drastis. Angin menderu kencang, melilit menjadi satu titik, lalu meledak menjadi pusaran raksasa yang mengangkat bebatuan besar seolah-olah hanya kerikil ringan.
WHHORRR!!!!!
Sebuah pusaran angin raksasa menjulang di hadapan gua. Para pengejar yang hanya berjarak beberapa puluh meter terpaksa menarik tali kekang dengan kasar, kuda-kuda mereka meringkik dan berhenti mendadak.
“Berhenti!” perintah seorang pemuda dengan penutup mata di mata kirinya. Ia turun dari punggung kudanya, mantel gelapnya berkibar tertarik pusaran. Ia menatap amukan badai di depannya dengan tatapan dingin.
"Brengsek... kau kira bisa lolos begitu saja, hah?" gumamnya rendah. Ia kemudian menoleh ke arah pasukannya. "Kalian semua mundur, kecuali pengguna elemen cahaya!"
"Siap, Chief Muda Zilgroad!" sahut mereka. Para pengejar itu segera menarik diri, menyisakan dua orang penyihir di sisi Zilgroad.
Zilgroad berdiri kokoh beberapa belas meter dari pusat badai. "Serang tanpa henti. Hancurkan stabilitas anginnya!"
Kedua bawahannya mengangguk mantap. Mereka mulai merapal energi, menghujani pusaran angin itu dengan rentetan tembakan cahaya yang menyilaukan secara bertubi-tubi.
Dari mulut goa, Topan memicingkan mata, seluruh ototnya menegang saat ia memfokuskan sisa mananya untuk mempertahankan Storm Vortex.
DZING!! DZING!!
Beberapa tembakan energi cahaya mulai menembus kepadatan pusaran udara, menghantam dinding dalam goa hingga hancur berkeping-keping. Meski sebagian besar serangan masih terhalau, daya rusak yang lolos mulai membahayakan struktur goa.
"Masih lama, Bara?! Manaku hampir habis!" teriak Topan dengan suara serak, keringatnya mulai bercucuran.
"Sedikit lagi!" balas Bara tanpa menoleh. Jemarinya terus memancarkan cahaya kemerahan di atas rune, meski langit-langit goa mulai retak dan berguguran di sekitarnya.
DZING!! DZING!! DZING!!
Intensitas serangan cahaya itu semakin menggila. Satu per satu tembakan berhasil menembus dinding angin, memicu ledakan kecil yang membuat goa bergetar. Tempat persembunyian mereka kini berada di ambang keruntuhan.
"Terus! Robohkan goanya!" perintah Zilgroad. Ia ikut mengacungkan tangan, melepaskan kilatan cahaya yang jauh lebih besar dari bawahannya.
Di bawah tekanan bertubi-tubi itu, pusaran udara raksasa di depan mulut goa perlahan meredup dan melemah. Dinding udara padat yang tadinya kokoh kini terkoyak, tak lagi mampu menahan gempuran cahaya yang membabi buta.
BRUUGGG!!!
Dengan satu dentuman terakhir, langit-langit goa itu menyerah. Bebatuan raksasa runtuh menimbun jalan masuk, diikuti debu pekat yang membubung tinggi ke langit pagi. Bersamaan dengan itu, Storm Vortex milik Topan lenyap sepenuhnya.
Zilgroad melangkah perlahan mendekati gundukan reruntuhan yang masih berasap. Ia memeriksa sekeliling dengan teliti, mencari tanda-tanda kehidupan atau sisa jasad di balik celah batu. Namun, ia tidak menemukan apa pun. Hampa.
"Brengsek... tikus-tikus penyusup keparat!" umpatnya kesal, menyadari bahwa kedua penyusup itu telah berhasil meloloskan diri di detik terakhir.
Namun, ekspresi gusar di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh senyum miring yang ganjil. "Ah, setidaknya aku sudah mendapatkan salah satunya. Lagipula, mereka membuatku tidak perlu menunggu terlalu lama..."
Zilgroad berbalik menuju pasukannya, lalu melompat ke atas punggung kuda dengan gerakan tangkas. "Kita kembali! Persiapkan upacara pelantikan Chief baru!"
Para pengejar mengangguk serempak. Mereka kemudian memacu kuda masing-masing, meninggalkan lembah sunyi yang kini hanya menyisakan reruntuhan goa dan jejak sihir yang mulai memudar.