NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

satu sekola heboh

Jam menunjukkan pukul 06.30 WIB. Satu per satu murid kelas 11-A mulai berdatangan dengan wajah mengantuk dan langkah gontai. Namun, begitu mereka melewati pintu kelas, mata mereka mendadak melek sempurna seolah habis disiram air es.

Di barisan tengah, Selena sudah duduk manis. Bukunya terbuka, pulpennya menari-nari di atas kertas, dan dia sesekali bersenandung kecil. Padahal biasanya, Selena adalah tipe siswi yang baru muncul 5 menit sebelum bel bunyi dengan napas tersengal-sengal habis lari dari gerbang.

"Sel... ini beneran lo?" tanya salah satu teman sekelasnya sambil menyentuh bahu Selena hati-hati.

"Iya, kenapa? Gue kelihatan kayak robot ya?" jawab Selena tanpa menoleh.

"Enggak, lo kelihatan kayak... lagi kerasukan penunggu perpustakaan yang rajin. Seumur hidup gue sekolah di sini, baru kali ini gue liat lo udah duduk jam segini tanpa ada razia rambut," sahut teman lainnya dengan wajah ngeri.

Sementara itu, di rumah Selena, kondisi jauh lebih kacau. Rora baru saja keluar dari kamar selena dengan rambut singa dan mata merem-melek. Dia langsung menuju dapur karena mencium bau nasi goreng buatan Mamah Selena.

"Mah... eh, Tante... Selena mana? Masih di kamar mandi ya? Tumben lama banget, biasanya mandi bebek cuma tiga menit," tanya Rora sambil menguap lebar.

Mamah Selena yang lagi nuang kecap (kecap mahal pilihan Zeus) menoleh. "Loh? Selena kan udah berangkat dari jam 5 tadi, Ror."

NYUT.

Rora langsung tersedak ludahnya sendiri. Kantuknya hilang seketika. "Hah?! Jam 5?! Selena?!"

"Iya, katanya mau cari udara segar. Tante juga bingung, biasanya harus pake toa masjid buat bangunin dia," ucap Mamah Selena heran.

Rora langsung lari ke jendela, melihat jalanan yang sudah ramai. "Gila... Selena pasti lagi sakit jiwa. Atau jangan-jangan dia diculik lagi terus diganti sama kloningan robot?!" Rora buru-buru ke atau ganti baju ke seragam lalu kebawah menyambar tasnya ya Karena rora sering nginep jadi dia nyinpen seragam cadangan, berpamitan pada Bibi Lastri yang baru bangun, dan lari menuju sekolah dengan kecepatan penuh.

Sesampainya di kelas, Rora melihat Selena yang masih anteng menulis. Rora berjalan mendekat dengan langkah waspada, dia mengambil botol air mineral dan bersiap menyiram wajah Selena.

"Selena! Keluar lo setan penunggu sekolah! Balikin temen gue!" teriak Rora histeris.

Selena kaget dan hampir menjatuhkan pulpennya. "RORA! Apaan sih lo?! Berisik tau!"

"Lo beneran Selena?" Rora memegang kening Selena. "Nggak panas. Tapi kenapa lo berangkat pagi banget? Lo habis ketemu pesugihan di jalan ya?"

"Gue cuma pengen rajin aja, Ror. Dapet uang jajan dari Bibi kan harus dibayar dengan prestasi," ucap Selena bohong, padahal ada alasan lain... yah, pertemuan aneh sama Lucas tadi pagi masih membekas di kepalanya.

Anak-anak sekelas mulai berbisik-bisik di belakang.

"Fix, Selena kerasukan."

"Mungkin dia kena guna-guna geng Thunder."

"Apa jangan-jangan dia mau pindah sekolah jadi rajin gitu?"

Selena hanya menghela napas. Dia tidak peduli dianggap kerasukan. Pikirannya masih melayang pada Lucas yg dia anggap Bencana, cowok yang menabraknya tadi. Tatapannya yang tajam itu... seolah-olah dia tahu sesuatu tentang Selena yang bahkan Selena sendiri tidak tahu.

Tiba-tiba, dari arah pintu, sosok Zeus muncul dengan aura dinginnya yang biasa. Dia berhenti di depan meja Selena, menatap gadis itu yang sudah rapi sejak pagi.

"Tumben," ucap Zeus singkat. Matanya menatap Selena dengan selidik. "Lo nggak apa-apa?"

"Aman, Bos PLN! Listrik di otak gue lagi stabil makanya berangkat pagi," balas Selena sambil nyengir.

Zeus hanya mendengus, tapi dalam hati dia curiga. Dia tahu Selena tidak mungkin tiba-tiba rajin tanpa alasan. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi di jalanan pagi ini.

Zeus hanya menatap Selena selama beberapa detik, seolah sedang mencari tanda-tanda apakah gadis di depannya ini benar-benar Selena atau penyamaran anggota Red Snake. Setelah merasa Selena baik-baik saja (meski agak miring sedikit otaknya), Zeus berbalik dan pergi menuju kelasnya sendiri dengan langkah angkuh yang biasa.

Namun, kehebohan sebenarnya baru dimulai saat bel masuk berbunyi.

Langkah kaki terdengar dari koridor. Bu Ratna, guru Matematika sekaligus guru BK yang paling senior dan terkenal galak, masuk ke kelas 11-A. Beliau sudah memegang penggaris kayu panjang dan daftar absen, siap memberikan ceramah pagi untuk murid-murid yang biasanya telat—terutama Selena.

Bu Ratna memakai kacamatanya, lalu melirik ke barisan tengah. Beliau mendadak berhenti bernapas sebentar.

"Astagfirullah!" seru Bu Ratna sampai mengelus dada.

"Kenapa, Bu? Ada kecoa?" tanya Selena dengan wajah tanpa dosa.

"Selena? Kamu... kamu sudah duduk di sana? Jam segini?" Bu Ratna mendekat ke meja Selena, memastikan kalau itu bukan papan kardus yang dipotong menyerupai Selena. "Ibu tidak salah lihat kan? Mata Ibu belum katarak?"

"Ibu sehat walafiat kok," jawab Selena sambil tersenyum manis. "Selena sudah tobat, Bu. Ingin menjemput masa depan yang lebih cerah secerah lampu neon."

Rora di sebelahnya cuma bisa menutup muka pake buku saku saking malunya. Teman-teman sekelas yang lain kembali berbisik, "Tuh kan, Bu Ratna aja kaget. Fix ini mah bukan Selena asli."

"Kamu tidak sakit kan, Sel?" Bu Ratna sampai menaruh punggung tangannya di dahi Selena. "Atau kamu habis salah minum obat?"

"Enggak Bu, cuma habis kena tegangan tinggi dari PLN aja tadi," celetuk Selena pelan, yang tentu saja tidak dimengerti oleh Bu Ratna.

Di sisi lain, Zeus yang sudah berada di kelasnya sendiri tidak bisa fokus. Dia duduk di barisan belakang dengan tatapan kosong ke arah papan tulis. Pikirannya melayang pada Selena yang berangkat jam 5 pagi.

"Yon," panggil Zeus pelan kepada Leon yang duduk di sampingnya.

"Kenapa? Masih kepikiran soal 'Dirut'?" balas Leon tanpa ekspresi.

"Cek CCTV jalanan arah rumah Selena jam 5 pagi tadi. Gue ngerasa ada yang nggak beres," perintah Zeus.

Leon segera mengeluarkan laptop tipisnya dari tas. Sebagai otak teknis di Thunder, meretas CCTV jalanan adalah hal sepele bagi Leon. Hanya butuh waktu dua menit sampai Leon menemukan rekaman yang dimaksud.

"Bos, liat ini," bisik Leon sambil memutar layar laptop ke arah Zeus.

Mata Zeus menyipit. Di layar yang agak buram itu, terlihat Selena sedang beradu mulut dengan seorang cowok jangkung berjaket ular merah. Lucas.

"Dia ketemu Lucas?" gumam Zeus. Rahangnya mengeras sampai urat-urat di tangannya menonjol. "Dan Lucas nggak nyentuh dia sama sekali?"

"Anehnya gitu, Bos," tambah Leon. "Lucas cuma diem, terus pergi. Tapi tatapannya... kayak orang yang lagi nemu barang antik."

Zeus langsung berdiri dari kursinya di tengah jam pelajaran, membuat guru yang sedang mengajar di kelasnya ikut kaget.

"Zeus! Mau ke mana kamu?!" teriak guru itu.

"Izin ke belakang, Pak. Ada urusan mendadak" jawab Zeus asal sambil melenggang keluar kelas.

Zeus berjalan menuju kelas Selena. Dia tidak masuk, hanya berdiri di depan pintu kaca yang tertutup sambil menatap Selena yang sedang asyik pura-pura belajar di dalam.

Selena yang merasakan ada aura dingin di luar menoleh ke jendela. Dia melihat Zeus yang sedang menatapnya dengan pandangan 'Kita-perlu-bicara'. Selena langsung memberikan kode dengan tangan: Rooftop. Habis ini.

Selena tahu, kalau Bos Kulkas sudah pasang muka seperti itu, berarti rahasia pertemuannya dengan "Ular Kadut" tadi pagi sudah terbakar.

Suasana di kelas 11-A benar-benar sudah seperti sirkus. Bu Ratna masih memegangi dadanya, sementara murid-murid lain mulai mengeluarkan ponsel untuk memotret Selena yang "langka" ini.

Tiba-tiba, pintu kelas digedor dengan keras.

BRAKK!

Pak Satpam sekolah, Pak Kumis (kata murid-musid sih gitu), masuk dengan napas terengah-engah. Di tangannya ada buku laporan absensi gerbang. Ia langsung menghampiri meja Bu Ratna tanpa melihat ke arah bangku murid.

"Bu Ratna! Maaf mengganggu pelajarannya sebentar!" seru Pak Kumis sambil mengelap keringat. "Ini saya mau lapor, tadi saya cek data masuk gerbang dan CCTV, anak yang namanya Selena belum ada lapor masuk. Biasanya kan dia langganan telat, tapi ini tadi pas saya cek di pos, dia nggak lewat. Saya takut dia bolos atau... kena musibah di jalan!"

Bu Ratna hanya terdiam, lalu tangannya perlahan menunjuk ke arah barisan tengah.

Pak Kumis menoleh. Matanya yang sipit langsung melotot lebar sampai kacamata yang nangkring di hidungnya hampir jatuh.

"LHO?!" Pak Kumis lari mendekat ke meja Selena. "Ini... ini Selena beneran? Kamu masuk lewat mana tadi? Lewat lubang tikus? Atau panjat pagar belakang?!"

"Lewat gerbang depan lah, Pak Kumis!" balas Selena sambil memutar bola matanya. "Bapaknya aja yang tadi lagi asyik ngopi sambil dengerin radio, makanya nggak liat saya lewat."

Pak Kumis mengucek matanya berkali-kali. "Nggak mungkin! Jam berapa kamu datang?!"

"Jam lima lewat dikit, Pak," jawab Selena santai.

Pak Kumis langsung lemas, dia bersandar di tembok kelas dengan wajah syok berat. "Gila... rekor sejarah sekolah ini runtuh. Matahari pasti besok terbit dari arah Monas. Selena masuk jam lima pagi... saya harus lapor ke Kepala Sekolah, ini keajaiban dunia ke-delapan!"

Rora yang duduk di samping Selena cuma bisa geleng-geleng kepala. "Tuh kan, Sel. Bukan cuma satu sekolah, Satpam yang tugasnya jaga nyawa kita aja sampe kena mental liat lo rajin."

Di luar kelas, Zeus yang tadi berniat memanggil Selena ke rooftop terpaksa berhenti di balik pilar karena melihat kehebohan Pak Satpam. Ia melihat Selena dari kejauhan—gadis itu tampak tertawa puas karena berhasil mengerjai semua orang dengan kehadirannya yang terlalu pagi.

Namun, di saku celana Zeus, ponselnya bergetar hebat.

Unknown Number: "Kelemahan lo lucu juga kalau lagi kaget. Ternyata dia lebih berani dari yang gue kira. Mata gue masih utuh kok, belum dicolok sama dia."

Rahang Zeus mengeras. Dia tahu itu pesan dari Lucas. Berarti benar, Lucas tidak hanya sekadar menabrak Selena, tapi dia sedang mengawasi Selena setiap detik.

Zeus langsung memutar badan dan berjalan cepat menuju arah parkiran belakang markas sekolah. Dia tidak bisa membiarkan Selena sendirian, tapi dia juga harus memberi "pelajaran" pada Lucas karena sudah berani mengirim pesan sampah padanya.

"Selena..." gumam Zeus. "Lo emang pembawa bencana buat jantung gue."

Bersambung...

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!