perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah
Raka dan Anggun mulai menjadi buah bibir di kalangan persilatan sebagai pasangan pendekar muda yang tangguh. Mereka melanjutkan perjalanan melintasi lembah dan sungai, menyusuri jejak Hantu Berkabut.
Namun, takdir seringkali memiliki rencana yang berbeda bagi dua jiwa yang baru saja dipersatukan kembali oleh keadaan
Saat mereka melewati sebuah padang rumput yang luas di perbatasan Kotaraja, mereka berdua berenti karena mencium Harum bunga melati yang sangat kuat tiba-tiba memenuhi udara, di sertai kabut putih yang turun
Wuush"
Dari balik kabut putih yang turun mendadak, muncul sesosok wanita paruh baya namun tetap memancarkan kecantikan alami. Ia mengenakan jubah putih bersih dengan selendang sutra yang melambai tertiup angin.
Anggun seketika pucat, lalu dengan tergesa ia turun dari kudanya dan berlutut dengan khidmat. "Guru..." ucapnya sambil memberi penghormatan, Arya ikut memberi hormat, karena ternyata Dewi Mayang, pemimpin perguruan Lembah Bunga Suci sekaligus guru yang telah menyelamatkan dan membesarkan Anggun saat Pendekar Bunga ayahnya tewas di tangan Hantu Berkabut, ia juga guru dari Pendekar Bunga. Matanya yang tajam menatap Anggun dengan kasih sayang yang bercampur dengan ketegasan yang tak terbantahkan.
"Anggun, " suara Dewi Mayang terdengar seperti denting kecapi yang merdu namun berwibawa. "Tugasmu di luar sana sudah cukup. Kekacauan di dunia persilatan sedang memuncak, dan perguruan membutuhkanmu. Ada rahasia dari Jurus Bunga yang hanya bisa kuberikan jika kau kembali ke pusat perguruan sekarang juga."
Anggun menoleh ke arah Raka dengan pandangan yang penuh kebimbangan. Di satu sisi, ia baru saja menemukan kembali sahabat masa kecilnya, namun di sisi lain, perintah guru adalah perintah suci yang tak mungkin ia langgar.
Raka, yang memahami situasi itu, mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Anggun. "Pergilah, Kak Anggun. Gurumu benar. Kau harus menjadi lebih kuat demi perjuangan kita nanti. Aku akan melanjutkan petualangan ini sendiri, sambil mencari jejak Hantu Berkabut" ucap Raka
Dengan berat hati dan air mata yang menggenang, Anggun akhirnya mengikuti gurunya menghilang di balik kabut. Kini, Raka kembali menjadi pengembara tunggal di rimba persilatan yang luas dan kejam.
Beberapa minggu setelah perpisahannya dengan Anggun, Raka tiba di perbatasan sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan jati yang sangat lebat. Desa itu bernama Desa Jati Luhur. Namun, ada sesuatu yang sangat janggal di sini. Meskipun matahari masih menggantung tinggi di langit, suasana desa itu sesunyi kuburan.
Raka menuntun kudanya perlahan masuk ke jalanan utama desa. Ia melihat pintu-pintu rumah tertutup rapat dan digrendel dari dalam. Jendela-jendela ditutup dengan papan kayu seolah-olah warga sedang bersiap menghadapi badai besar yang akan menghancurkan segalanya.
Ia melihat seorang anak kecil yang tak sengaja keluar rumah untuk mengambil mainannya. Wajah anak itu pucat pasi, matanya liar ketakutan. Saat anak itu melihat Raka yang memanggul pedang, ia menjerit tertahan dan segera lari masuk ke dalam rumah.
"Permisi... apakah ada orang di sini?" tanya Raka dengan nada lembut, mencoba tidak menakuti siapa pun.
Tiba-tiba, sebuah jendela kecil di sebuah kedai arak tua terbuka sedikit. Seorang pria tua dengan tangan gemetar memberikan isyarat agar Raka segera masuk. "Anak muda! Masuklah ke dalam jika kau masih sayang nyawamu! Jangan berdiri di tengah jalan!"
Raka yang penasaran segera mengikat kudanya di bawah pohon jati dan masuk ke dalam kedai tersebut. Di dalam, suasana gelap hanya diterangi satu lilin kecil. Ada sekitar lima orang pria dewasa yang duduk berkumpul dengan wajah yang sangat tegang.
"Ada apa sebenarnya di desa ini, Paman? Kenapa semua orang ketakutan seperti melihat malaikat maut?" tanya Raka sambil meletakkan pedangnya di atas meja.
Si pria tua, yang ternyata adalah kepala desa tersebut, menghela napas panjang. "Kau pendatang baru, nak. kau pasti belum tahu Tiga Iblis Gunung Kunyit sedang merajalela" sahut Kepala desa itu
" Tiga Iblis Gunung Kunyit?" Gumam Raka heran
" selama dua bulan ini desa kami di datangi oleh perampok , mereka di pimpin oleh tiga lelaki sakti yang mengaku dari gunung kunyit, jadi kami menamakannya Tiga Iblis gunung Kunyit karena mereka juga sangat kejam" tutur kepala desa itu
" Ternyata perampok" gumam Raka dalam hati
" Anak Muda kau dari mana dan mau kemana?" tanya Kepala desa itu sambil memperhatikan Raka dengan seksama
" aku hanya perantau yang lewat paman" sahut Raka
" kalau begitu kamu istirahat saja di sini, jangan dulu keluar, besok pagi baru lanjutkan perjalananmu, biasanya sebentar lagi mereka akan lewat " ucap kepala desa itu
" Baiklah paman, terima kasih" ucap Raka.
baru saja kepala desa itu berhenti berbicara, dari kejauhan tiba tiba terdengar derap langkah kaki kuda, keheningan desa membuat derap langkah kaki kuda itu terdengar menggema ke seluruh penjuru desa
Kepala desa menjadi tegang dan ketakutan, saat langkah kaki kuda itu semakin dekat
" tenang paman, ada aku di sini" ucap Raka agar ketakutan kepala desa berkurang
Ia mengintip dari bilik bambu yang bolong, kini ia bisa melihat dengan jelas
rombongan itu berjumlah kurang lebih dua puluh orang, dengan satu pemimpin di depan , memakai jubah hitam , dan dua di sisi kiri kanannya memakai jubah kuning dan Biru
dari penampilan orang itu Raka bisa mengetahui siapa saja mereka
yang berjubah Hitam bernama Badra, berusia sekitar lima puluh tahunan, tenaga dalamnya sangat tinggi itu terlihat dari sorot matanya yang mencorong tajam, tangannya yang sebelah merah dan sebelah hitam menandakan tangan itu sangat beracun, ia juga di kenal dengan Iblis Tangan Maut, karena siapa yang terkena pukulannya pasti hangus karena racun miliknya
Sedangkan yang berjubah kuning, bernama Ludira berusia tiga puluh tahunan, bertubuh tinggi besar dengan otot otot yang menonjol, di tangannya sebuah cambuk berwarna merah tergenggam, di dunia persilatan ia di juluki Iblis Cambuk api
sedangkan yang berbaju biru bernama Sunar. wajahnya tampan jika saja tak ada luka melintang di pipi kanannya , di dunia persilatan ia di kenal dengan Iblis Golok terbang
" mereka berjalan pelan kearah kedai di mana Raka sedang mengintip, raka melihat Ludira mendekat ke arah pintu dan mengayunkan tinjunya, ia dengan cepat duduk di bangku yang tak jauh dari sana
" wuuut"
" Braaaak'
Kepala desa ketakutan tetapi langsung berlari keluar tergopoh gopoh menyambut mereka
" Tuan tuan ada keperluan apakah gerangan datamg kemari?" tanya nya pelan, dari gurat wajahnya terbayang kecemasan
" Hm..."
Badra mendengus
" kau kepala desa di sini?" tanya nya dingin
" be...benar, saya ki Aji, kepala desa di sini" jawab kepala desa itu tersendat
" aku ingin bertanya, dan jawab yang jujur, kalau tidak aku akan memusnahkan desa ini!" ancam Badra
" apa kau melihat sepasang pendekar melewati sini?" tanyanya
" Maaf tuan aku tidak melihatnya" jawab Ki Aji pelan
" Kau mengatakan yang sebenarnya" ucap Badra dingin matanya menatap tajam pada ki Aji
" Benar Tuan aku benar benar tak melihatnya" jawab Ki Aji sena
Badra melirik ke arah Ludira
" Katamu mereka mengarah kesini!"
" Benar kakang, anak buahku jellas jelas melihat mereka berdua mengarah kemari" jawab Ludira cepat
" apa dia belum sampai?" tanya Badra pelan
" seharusnya sudah, tetapi tak tahu jika mereka memadu kasih dulu dan belum sampai di sini" jawab Ludira
" Kau habisi pembohong ini!" seru Badra memerintah anak buahnya yang berkepala gundul
Kepala gundul tanpa menunggu di perintah kedua kalinya langsung meloncat turun dari kudanya
Lalu di sertai gerengan keras ia menerjang maju ke arah Ki Sena