NovelToon NovelToon
Keturunan Pendekar

Keturunan Pendekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Anak Yatim Piatu / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpisah

Raka dan Anggun mulai menjadi buah bibir di kalangan persilatan sebagai pasangan pendekar muda yang tangguh. Mereka melanjutkan perjalanan melintasi lembah dan sungai, menyusuri jejak  Hantu Berkabut.

Namun, takdir seringkali memiliki rencana yang berbeda bagi dua jiwa yang baru saja dipersatukan kembali oleh keadaan

Saat mereka melewati sebuah padang rumput yang luas di perbatasan Kotaraja, mereka berdua berenti karena mencium Harum bunga melati yang sangat kuat tiba-tiba memenuhi udara, di sertai kabut putih yang turun

Wuush"

Dari balik kabut putih yang turun mendadak, muncul sesosok wanita paruh baya namun tetap memancarkan kecantikan alami. Ia mengenakan jubah putih bersih dengan selendang sutra yang melambai tertiup angin.

Anggun seketika pucat, lalu dengan tergesa ia turun dari kudanya dan berlutut dengan khidmat. "Guru..." ucapnya sambil memberi penghormatan, Arya ikut memberi hormat, karena ternyata  Dewi Mayang, pemimpin perguruan Lembah Bunga Suci sekaligus guru yang telah menyelamatkan dan membesarkan Anggun saat Pendekar Bunga ayahnya tewas di tangan Hantu Berkabut, ia juga guru dari Pendekar Bunga. Matanya yang tajam menatap Anggun dengan kasih sayang yang bercampur dengan ketegasan yang tak terbantahkan.

"Anggun, " suara Dewi Mayang terdengar seperti denting kecapi yang merdu namun berwibawa. "Tugasmu di luar sana sudah cukup. Kekacauan di dunia persilatan sedang memuncak, dan perguruan membutuhkanmu. Ada rahasia dari Jurus Bunga yang hanya bisa kuberikan jika kau kembali ke pusat perguruan sekarang juga."

Anggun menoleh ke arah Raka dengan pandangan yang penuh kebimbangan. Di satu sisi, ia baru saja menemukan kembali sahabat masa kecilnya, namun di sisi lain, perintah guru adalah perintah suci yang tak mungkin ia langgar.

Raka, yang memahami situasi itu, mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Anggun. "Pergilah, Kak Anggun. Gurumu benar. Kau harus menjadi lebih kuat demi perjuangan kita nanti. Aku akan melanjutkan petualangan ini sendiri, sambil mencari jejak Hantu Berkabut" ucap Raka

Dengan berat hati dan air mata yang menggenang, Anggun akhirnya mengikuti gurunya menghilang di balik kabut. Kini, Raka kembali menjadi pengembara tunggal di rimba persilatan yang luas dan kejam.

Beberapa minggu setelah perpisahannya dengan Anggun, Raka tiba di perbatasan sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan jati yang sangat lebat. Desa itu bernama Desa Jati Luhur. Namun, ada sesuatu yang sangat janggal di sini. Meskipun matahari masih menggantung tinggi di langit, suasana desa itu sesunyi kuburan.

Raka menuntun kudanya perlahan masuk ke jalanan utama desa. Ia melihat pintu-pintu rumah tertutup rapat dan digrendel dari dalam. Jendela-jendela ditutup dengan papan kayu seolah-olah warga sedang bersiap menghadapi badai besar yang akan menghancurkan segalanya.

Ia melihat seorang anak kecil yang tak sengaja keluar rumah untuk mengambil mainannya. Wajah anak itu pucat pasi, matanya liar ketakutan. Saat anak itu melihat Raka yang memanggul pedang, ia menjerit tertahan dan segera lari masuk ke dalam rumah.

"Permisi... apakah ada orang di sini?" tanya Raka dengan nada lembut, mencoba tidak menakuti siapa pun.

Tiba-tiba, sebuah jendela kecil di sebuah kedai arak tua terbuka sedikit. Seorang pria tua dengan tangan gemetar memberikan isyarat agar Raka segera masuk. "Anak muda! Masuklah ke dalam jika kau masih sayang nyawamu! Jangan berdiri di tengah jalan!"

Raka yang penasaran segera mengikat kudanya di bawah pohon jati dan masuk ke dalam kedai tersebut. Di dalam, suasana gelap hanya diterangi satu lilin kecil. Ada sekitar lima orang pria dewasa yang duduk berkumpul dengan wajah yang sangat tegang.

"Ada apa sebenarnya di desa ini, Paman? Kenapa semua orang ketakutan seperti melihat malaikat maut?" tanya Raka sambil meletakkan pedangnya di atas meja.

Si pria tua, yang ternyata adalah kepala desa tersebut, menghela napas panjang. "Kau pendatang baru, nak. kau pasti belum tahu Tiga Iblis Gunung Kunyit sedang merajalela" sahut Kepala desa itu

" Tiga Iblis Gunung Kunyit?" Gumam Raka heran

" selama dua bulan ini desa kami di datangi oleh perampok , mereka di pimpin oleh tiga lelaki sakti yang mengaku dari gunung kunyit, jadi kami menamakannya Tiga Iblis gunung Kunyit karena mereka juga sangat kejam" tutur kepala desa itu

" Ternyata perampok" gumam Raka dalam hati

"  Anak Muda kau dari mana dan mau kemana?" tanya Kepala desa itu sambil memperhatikan Raka dengan seksama

" aku hanya perantau yang lewat paman" sahut Raka

" kalau begitu kamu istirahat saja di sini, jangan dulu keluar, besok pagi baru lanjutkan perjalananmu, biasanya sebentar lagi mereka akan lewat " ucap kepala desa itu

" Baiklah paman, terima kasih" ucap Raka.

baru saja kepala desa itu berhenti berbicara, dari kejauhan tiba tiba terdengar derap langkah kaki kuda, keheningan desa membuat derap langkah kaki kuda itu terdengar menggema ke seluruh penjuru desa

Kepala desa menjadi tegang dan ketakutan, saat langkah kaki kuda itu semakin dekat

" tenang paman, ada aku di sini" ucap Raka agar ketakutan kepala desa berkurang

Ia mengintip dari bilik bambu yang bolong, kini ia bisa melihat dengan jelas

rombongan itu berjumlah kurang lebih dua puluh orang, dengan satu pemimpin di depan , memakai jubah hitam , dan dua di sisi kiri kanannya memakai jubah kuning dan Biru

dari penampilan orang itu Raka bisa mengetahui siapa saja mereka

yang berjubah Hitam bernama Badra, berusia sekitar lima puluh tahunan, tenaga dalamnya sangat tinggi itu terlihat dari sorot matanya yang mencorong tajam, tangannya yang sebelah merah dan sebelah hitam menandakan tangan itu sangat beracun, ia juga di kenal dengan Iblis Tangan Maut, karena siapa yang terkena pukulannya pasti hangus karena racun miliknya

Sedangkan yang berjubah kuning, bernama Ludira berusia tiga puluh tahunan, bertubuh tinggi besar dengan otot otot yang menonjol, di tangannya sebuah cambuk berwarna merah tergenggam, di dunia persilatan ia di juluki Iblis Cambuk api

sedangkan yang berbaju biru bernama Sunar. wajahnya tampan jika saja tak ada luka melintang di pipi kanannya , di dunia persilatan ia di kenal dengan Iblis Golok terbang

" mereka berjalan pelan kearah kedai di mana Raka sedang mengintip, raka melihat  Ludira mendekat ke arah pintu dan mengayunkan tinjunya, ia dengan cepat duduk di bangku yang tak jauh dari sana

" wuuut"

" Braaaak'

Kepala desa ketakutan tetapi langsung  berlari keluar tergopoh gopoh menyambut mereka

" Tuan tuan ada keperluan apakah gerangan datamg kemari?" tanya nya pelan, dari gurat wajahnya terbayang kecemasan

" Hm..."

Badra mendengus

" kau kepala desa di sini?" tanya nya dingin

" be...benar, saya ki Aji, kepala desa di sini" jawab kepala desa itu tersendat

" aku ingin bertanya, dan jawab yang jujur, kalau tidak aku akan memusnahkan desa ini!" ancam Badra

" apa kau melihat sepasang pendekar melewati sini?" tanyanya

" Maaf tuan aku tidak melihatnya" jawab Ki Aji pelan

" Kau mengatakan yang sebenarnya" ucap Badra dingin matanya menatap tajam pada ki Aji

" Benar Tuan aku benar benar tak melihatnya" jawab Ki Aji sena

Badra melirik ke arah Ludira

" Katamu mereka mengarah kesini!"

" Benar kakang, anak buahku jellas jelas melihat  mereka berdua mengarah kemari" jawab Ludira cepat

" apa dia belum sampai?" tanya Badra pelan

" seharusnya sudah, tetapi tak tahu jika mereka memadu kasih dulu dan belum sampai di sini" jawab Ludira

" Kau habisi pembohong ini!" seru Badra memerintah anak buahnya yang berkepala gundul

Kepala gundul tanpa menunggu di perintah kedua kalinya langsung meloncat turun dari kudanya

Lalu di sertai gerengan keras ia menerjang maju ke arah Ki Sena

1
Was pray
baru aja muncul si raka tokan sama saka repe udah tenggelam.... 🤣🤣
angin kelana
untuk kesaktian ajian,jurus,pusaka agar di berinama agar menjiwai novel silat indonesia.
angin kelana
lanjuuuutt
angin kelana
awal yg menarik lanjuuuuttt..
Redy Ryan Little
Bagus
Hendra Yana
ditunggu up selanjutnya
Was pray
kasihan di Raka, isoh ngambang Ra isoh nyuling, isoh nyawang Ra lisoh nyanding.. sengsara membawa luka
Hendra Yana
lanjut
Hendra Yana
semangat
Dewi kunti
smg tidak terpecah belah
Was pray
wah saka dikasih hati minta jantung, Raka nasibnya gak pernah mujur, ibarat berakit-raki ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu sengsara kemudian, 😄😄
Blue Angel: ha ha ha
total 1 replies
Hendra Yana
di tunggu up selanjutnya
Blue Angel
kembali ke jaman dulu
Blue Angel: inbok aja
total 2 replies
Dewi kunti
hadeeeeehhh tegang bacanya
Batsa Pamungkas Surya
👍🙏lanjutkan💪
Dewi kunti
kayak kurang tepat ya kalimatnya "berguru di pada Ki geni"
Blue Angel: ha ha ha, untung sunar nya udah di bikin koit yah
total 6 replies
Hendra Yana
lanjut
Batsa Pamungkas Surya
mantaaaap
Hendra Yana
up lagi dong
anggita
ikut dukung like👍 iklan👆👆, untuk novel laga lokal. moga lancar novelnya.
Blue Angel: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!