Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Makan Siang Bersama Mahendra
Di lantai atas Grand Indonesia, sebuah restoran Sate Khas Senayan yang cukup ramai namun tetap memberikan privasi di sudut-sudutnya menjadi tempat pertemuan tidak terduga antara Nadinta dan Mahendra.
Mahendra memilih meja di sudut yang agak tertutup oleh partisi kayu berukir, memberikan jarak dari keramaian pengunjung lain. Pelayan dengan cepat datang membawakan buku menu, tersenyum ramah.
"Silakan, Nadinta. Pesan apa saja yang kamu suka," ujar Mahendra sambil membuka buku menunya sendiri. "Anggap ini makan siang kerja yang sedikit lebih santai."
Nadinta tersenyum tipis, membuka buku menu. "Terima kasih, Pak."
Nadinta memindai daftar menu, matanya berhenti pada Tahu Telur. "Saya pesan Tahu Telur dan Es Jeruk saja, Mbak," ucapnya pada pelayan.
Mahendra mengangkat alisnya sedikit. "Hanya itu? Tidak mau sate atau menu utama lainnya?"
"Sedang tidak terlalu lapar, Pak. Tadi pagi sarapannya agak berat," bohong Nadinta. Sebenarnya, perutnya keroncongan karena belum makan siang dan energi terkuras menghadapi drama Arga tadi, tapi dia tidak ingin terlihat rakus atau membebani Mahendra.
Mahendra mengangguk, lalu memesan Sate Ayam, Lontong Cap Go Meh, dan beberapa camilan pembuka seperti perkedel jagung dan risoles untuk dibagi. "Baiklah. Tolong segera disiapkan ya," ujarnya pada pelayan.
Setelah pelayan pergi, keheningan sejenak menyelimuti meja mereka. Nadinta merasa sedikit canggung duduk berhadapan langsung dengan Direktur Operasional di luar jam kantor, tanpa sekat meja kerja atau laptop. Namun, Mahendra tampak tenang, aura dominannya sedikit melunak digantikan oleh sikap santai yang elegan. Dia meletakkan serbet di pangkuannya dengan gerakan yang terukur.
"Jadi," Mahendra membuka percakapan, menatap Nadinta dengan sorot mata yang tajam namun tidak mengintimidasi. "Bagaimana perkembangan tim pemasaran di bawah kendalimu sejauh ini? Saya lihat laporannya rapi dan angka-angkanya menjanjikan, tapi saya ingin dengar dari sisimu langsung. Laporan tertulis kadang tidak menceritakan semuanya."
Mata Nadinta langsung berbinar. Bicara soal pekerjaan adalah zona nyamannya, tempat di mana dia merasa paling percaya diri dan berdaya.
"Cukup menantang, Pak. Tapi progresnya sangat positif," jawab Nadinta antusias, tubuhnya condong sedikit ke depan. "Saya sedang merombak sistem database pelanggan yang selama ini berantakan dan tidak terintegrasi. Dulu, kita terlalu fokus pada hard selling ke sembarang orang tanpa melihat profil mereka. Sekarang, saya arahkan tim untuk melakukan profiling data dulu sebelum menghubungi calon pembeli. Kita fokus pada kualitas prospek, bukan hanya kuantitas panggilan."
Nadinta mengambil jeda sejenak, lalu melanjutkan, "Hasilnya, efisiensi tim naik 20% dalam minggu pertama. Tingkat konversi juga meningkat karena penawaran kita lebih relevan dengan kebutuhan calon pembeli."
Mahendra menyimak dengan seksama. Dia menatap wajah Nadinta yang hidup saat berbicara tentang strategi. Tidak ada kegugupan, tidak ada keraguan. Wanita ini benar-benar menguasai bidangnya, dan gairahnya terhadap pekerjaan terlihat jelas.
"Lalu soal budaya kerja?" tanya Mahendra. "Saya dengar kamu menerapkan disiplin ketat. Ada resistensi dari tim lama?"
"Pasti ada, Pak. Terutama dari staf senior yang terbiasa santai di era Pak Rudi," Nadinta tersenyum tipis, mengingat wajah masam beberapa staf senior. "Tapi saya percaya, budaya kerja yang buruk itu seperti kanker. Harus dipotong sebelum menyebar dan merusak organ yang sehat. Saya tidak keberatan dianggap 'galak' atau 'kaku' asalkan target perusahaan tercapai dan tim bekerja dengan standar yang benar."
Mahendra tersenyum miring, terkesan. "Saya suka analogi itu. Kamu punya nyali, Nadinta. Jarang ada manajer baru yang berani mengambil risiko tidak disukai anak buahnya demi performa. Kebanyakan lebih memilih cari aman."
"Saya di sini untuk bekerja, Pak. Bukan untuk ikut kontes popularitas," balas Nadinta lugas. "Lagipula, rasa hormat yang didapat dari kompetensi akan lebih tahan lama daripada rasa suka yang didapat dari kelonggaran."
Makanan mereka datang. Percakapan terhenti sejenak saat pelayan menata piring-piring di meja. Aroma sate ayam yang menggugah selera menguar.
"Silakan," Mahendra mempersilakan.
Mereka mulai makan. Mahendra mengunyah satenya perlahan, namun pikirannya tidak sepenuhnya pada makanan. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Nadinta.
Dia melihat cara Nadinta makan yang rapi dan anggun. Dia melihat bagaimana wanita itu menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Dan mau tidak mau, dia teringat kembali data karyawan yang dia baca malam itu di kantornya.
Nadinta Putri Permatasari. Lulusan Terbaik. Cerdas. Ambisius.
Status: Bertunangan dengan Arga.
Nama itu muncul lagi di kepalanya. Arga. Pria yang tadi dia lihat sekilas di lobi bawah, yang terlihat panik dan tidak kompeten.
Mahendra meletakkan sendoknya, mengambil gelas air mineral. Dia menatap Nadinta yang sedang memotong tahu telurnya.
Ada pertanyaan yang mengganjal di ujung lidah Mahendra. Pertanyaan yang sangat pribadi, yang melanggar batas profesionalitas antara atasan dan bawahan. Pertanyaan yang didorong oleh rasa penasaran dan kepedulian yang tidak pada tempatnya.
Dia ingin bertanya: "Kenapa?"
Kenapa wanita secerdas kamu mau bersama laki-laki yang kualitasnya jauh di bawahmu?
Kenapa kamu membiarkan dirimu berjalan sendirian di mal sementara tunanganmu entah ada di mana?
Kenapa kamu terlihat begitu mandiri seolah tidak punya sandaran?
Mahendra membuka mulutnya sedikit, hendak menyuarakan rasa penasarannya.
"Nadinta, soal... kehidupan pribadimu," mulai Mahendra hati-hati.
Nadinta mendongak, garpunya terhenti di udara. Tatapannya berubah waspada, meski tetap sopan. Senyumnya sedikit memudar. "Ya, Pak?"
Mahendra menatap mata cokelat itu. Dia melihat kilatan defensif yang halus di sana. Nadinta seolah memasang tembok tak kasat mata begitu pembicaraan menyentuh ranah personal. Tembok yang tinggi dan kokoh.
Mahendra terdiam. Dia teringat prinsipnya sendiri untuk tidak mencampuri urusan staf. Dan lebih dari itu, dia takut jika dia bertanya sekarang, Nadinta akan menarik diri dan kenyamanan yang baru terbangun ini akan hancur. Dia tidak ingin merusak dinamika yang sedang berjalan baik ini.
Belum waktunya.
Mahendra mengurungkan niatnya. Dia menarik napas pelan dan mengubah arah pembicaraan di detik terakhir dengan mulus.
"...apakah kehidupan pribadimu terganggu dengan beban kerja baru ini? Maksud saya, work-life balance kamu. Saya tidak ingin manajer terbaik saya burnout di bulan pertama karena terlalu forsir tenaga."
Bahu Nadinta yang tadinya sedikit tegang, kembali rileks. Dia tersenyum, kali ini lebih tulus dan lega.
"Oh, itu. Bapak tidak perlu khawatir," jawab Nadinta. "Saya tipe orang yang justru mendapat energi dari pekerjaan. Bagi saya, menyelesaikan masalah di kantor itu... healing tersendiri. Produktivitas membuat saya merasa hidup."
"Healing?" Mahendra menaikkan alis. "Unik sekali definisinya. Biasanya orang healing dengan liburan ke Bali atau belanja."
"Iya, Pak. Setidaknya di kantor, masalahnya jelas: angka dan strategi. Solusinya logis dan terukur," Nadinta menerawang sebentar, suaranya sedikit merendah, matanya menatap gelas es jeruknya. "Beda dengan masalah di luar sana yang kadang... tidak masuk akal dan tidak punya solusi pasti."
Kalimat itu mengandung makna ganda yang dalam. Mahendra menangkapnya. Dia tahu Nadinta sedang menyiratkan sesuatu tentang kehidupan pribadinya yang rumit, mungkin tentang Arga, atau hal lain yang sedang dia hadapi.
Mahendra mengangguk pelan, memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Dia menghargai batasan yang dibuat Nadinta.
"Baiklah. Selama kamu happy dan performa terjaga, saya dukung," ucap Mahendra. "Tapi ingat, kalau butuh istirahat, bilang. Jangan dipaksakan. Kesehatanmu adalah aset perusahaan juga."
"Siap, Pak." Nadinta menanggapi kalimat itu dengan senyuman.
Sejenak, Nadinta melupakan segala hal tentang Arga yang sebelumnya mengusik pikirannya. Meninggalkan dia yang kebingungan bersama Maya.