"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kebenaran?
"Tuan Kalendra, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."
Rio datang ke ruangan Kalendra. Menyampaikan pesan yang diterima dari pihak hrd.
"Siapa?" tanya Kalendra tanpa berniat menatap sang lawan bicara. Laki-laki itu terlalu fokus dengan pekerjaannya, seakan ingin cepat pulang.
"Dokter Pram."
Tangan Kalendra yang sedang mendatangani berkas, menghentikan pergerakannya. Diam-diam, satu sudut bibir laki-laki itu menaik, seolah memang sudah menduga momen ini akan terjadi.
"Suruh dia ke ruanganku." titah suami Kanaya itu. Ahh, Kalendra tidak sabar untuk segera bermain-main.
"Sesuai perintah anda, Tuan." Rio menunduk sopan. Lantas, sekretaris itu pamit undur diri kembali ke kursinya. Mengabari pihak hrd jika bos mereka menyetujui kunjungan mendadak ini.
Kalendra meninggalkan berkas-berkasnya yang menumpuk. Ada sesuatu yang lebih menarik menantinya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, ia mainkan bolpoin di sela-sela jarinya dengan gerakan memutar.
Tak membutuhkan waktu lama, lima menit kemudian pintu ruangan Kalendra terketuk, setelah sang empu menyuruh masuk, barulah laki-laki berkemeja merah maroon tampak memasuki ruangan.
Mainan yang sudah Kalendra tunggu kedatangannya.
"Apa kabar dokter Pramudya Abraham. Ada kepentingan apa sehingga kau mau berkunjung ke kantorku, tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu?"
"Berhenti berpura-pura!" sentak Pram.
Berbanding terbalik dengan Kalendra yang tampak tenang, dokter itu terlihat tengah menahan amarahnya. Terlihat dari rahangnya yang mengetat hingga urat-urat lehernya terlihat. Kedua telapak tangannya mengepal erat, seolah siap memukul laki-laki di hadapannya.
"Aku sungguh tidak tahu apa yang kau maksud." ujar Kalendra membuat ekspresi bingung yang dibuat-buat.
"Kau yang sudah menyebarkan foto-foto skandal itu, benar?! Kau dalang dari hancurnya reputasiku!"
Kalendra terkekeh mendengarnya. Tetap tenang tanpa terpengaruh oleh emosi Pram yang meledak-ledak.
"Kau bercanda?" tanyanya cenderung mengejek.
"Reputasimu hancur, itu karena ulahmu sendiri." Kalendra menatap lawan bicaranya remeh, sebelum kembali berujar. "Jika tidak siap terbaksar, maka jangan berani bermain api." sambungnya dengan dengusan geli.
"Bajingan." desis Pram.
Lantas, laki-laki itu maju. Menarik kerah kemeja Kalendra dengan wajahnya yang memerah marah. Menahan diri agar tidak melayangkan tinjuan di kandang lawan.
"Aku tidak pernah mengusikmu lagi sejak hari itu. Aku menuruti kata-katamu untuk menjauhinya. Lalu kenapa kau masih saja tidak puas dengan semua itu?! Sebenarnya apa maumu, hah?!"
Kalendra tetap diam, sebelum akhirnya sebuah bogeman dia layangkan tepat di sudut bibir Pram. Membuat dokter itu terpental dengan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Kurang puas, Kalendra maju. Mendorong Pram hingga jatuh tersungkur. Setelah itu, suami Kanaya itu kembali melayangkan bogemannya bertubi-tubi.
"Kau pikir aku tidak tahu, heh?"
Bugh.
"Lancang sekali kau mendatangi istriku dan menceritakan dongeng masa lalu."
Bugh.
"Lancang sekali kau mengatakan pada istriku jika aku yang menjebakmu hari itu."
Bugh.
"Kau-- sudah melanggar janjimu, Pramudya Abraham. Sudah sewajarnya aku memberimu peringatan."
Bugh.
"Uhuk...uhuk..." Pram terbatuk darah. Wajah lebamnya terasa nyeri bukan main, Kalendra sama sekali tidak membiarkan dirinya untuk membalas.
Dalam kesakitannya itu, sang dokter masih sempat tersenyum culas. Mencoba bangkit, dia tatap Kalendra dengan kedua matanya yang bengkak itu.
"Bagaimana ya, jika Kanaya....melihat sisi-mu yang ini. Apa dia masih mau bersamamu?" kekehnya.
"Bagaimana jika Kanaya tahu kebenarannya, jika memang kaulah yang menjebakku waktu itu. Apa dia masih tetap mau menjadi istrimu?"
"Tutup mulutmu sebelum aku membunuhmu." desis Kalendra sarat akan ancaman.
"Kenapa?" Pram mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
"Bukankah yang aku katakan adalah sebuah kebenaran? Memang kau yang menjebakku demi merusak hubunganku dengan Kanaya. Laki-laki gila yang begitu terobsesi dengan kekasih orang."
Kalendra memejamkan matanya sejenak untuk menguasai emosinya yang kembali akan meledak. Tidak. Dia tidak boleh terpancing lagi. Merasa lebih tenang, suami Kanaya itu kembali membuka matanya. Membalas tatapan Pram sama rendah.
"Sayangnya, istriku tidak percaya dengan semua yang kau adukan, benar?" ujarnya tenang
"Dan-- jika aku tidak salah dengar, dia juga mengatakan, tidak peduli ceritamu benar atau tidak, sekarang semua itu tidak ada gunanya. Istriku tidak suka barang bekas seperti dirimu." sambung laki-laki itu dengan senyum penuh kemenangan.
"Memang benar, aku yang menjebakmu waktu itu." Kalendra menyeringai.
"Yahh, akulah pelakunya. Tapi sekarang apa gunanya kebenaran itu? Kanaya sudah menjadi milikku, selamanya akan begitu. Benalu kecil seperti dirimu, aku bisa menyingkirkannya semudah menjentikkan jari."
Gigi-gigi Pram bergemelatuk. Pandangannya tajam seakan ingin membunuh. "Kalendra Wijaya, aku bersumpah akan memisahkanmu dengan Kanaya. Aku akan membuat Kanaya membencimu, sampai dia menyesal pernah mengenal orang seperti dirimu."
"Akan kubongkar semua kebusukanmu pada Kanaya. Lihat saja, hari itu pasti akan tiba." Pram tampak tidak main-main dengan ucapannya.
Kalendra menelengkan kepalanya. Menyunggingkan seringai mengejek, laki-laki itu membalas, "Buktikan. Itupun...jika kau mampu."
Pram tersenyum miring. "Biarkan waktu yang menjawab."
Setelah itu, Kanaya pergi meninggalkan ruangan Kalendra. Tidak menghiraukan para karyawan yang menatapnya penasaran.
Sampai pada mobilnya, Pram mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Bibir yang terluka itu, menyunggingkan seringainya tatkala jari telunjuknya menekan simpan pada aplikasi perekam suara.
Pram yakin, kemenangan akan ia dapatkan sebentar lagi.
.
.
•Flashback•
"Aku mau kita putus."
Bak tersambar petir di siang bolong, Pram begitu terkejut dengan keputusan Kanaya yang terkesan tiba-tiba.
Bukankah sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja. Kenapa Kanaya tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan.
"Putus? Kenapa tiba-tiba? Kau bercanda kan, sayang?"
Melihat Kanaya yang menatapnya dingin, Pram sadar, jika gadis itu tidak sedang berpura-pura.
Tapi apa salahnya?
"Aku serius. Aku ingin mengakhiri hubungan kita."
"Tapi, apa salahku?" ujar Pram tidak serta merta menerima.
"Salahmu?" Kanaya tersenyum culas.
"Seharusnya kau tanya pada dirimu sendiri, apa salahmu sehingga aku memintanya putus darimu."
"Kanaya, aku benar-benar tidak mengerti!" erang Pram.
"Baiklah, aku akan memberikan dirimu, clue." Kanaya bersedekap dada. Menatap pemuda di hadapannya dengan ekpresi jijik.
"Apa yang kau lakukan di gudang olahraga kemarin sore?"
Deg. Pram mematung terkejut. Sekujur tubuhnya tiba-tiba seperti tersengat listrik. Apakah Kanaya mengetahui tragedi itu? Tetapi dari siapa.
"Sudah mengingatnya?" tanya Kanaya mengejek.
"Kanaya aku---
"Cukup. Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Semuanya sudah jelas. Dan sekarang aku mau putus." ucap Kanaya mutlak.
"Jangan mengejarku, atau aku akan semakin membencimu."
Kemudian, dia pergi meninggalkan Pram yang meneriaki namanya. Meminta kesempatan untuk menjelaskan.
Pram hancur, akan tetapi, kakinya seakan tidak memiliki tenaga untuk mengejar Kanaya. Lalu, pada akhirnya dia berbalik. Melangkah meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu berakhirnya hubungannya dengan gadis yang dicinta.
Melewati lorong sekolah, tak sengaja dia melihat gadis yang tak asing. Gadis yang melakukan hubungan yang tak seharusnya dengannya. Penyebab hancurnya jalinan kekasih antara dia dan Kanaya.
Pram ingin mendekat, tetapi kedatangan seorang siswa laki-laki membuat langkahnya menjadi terhenti.
Bersembunyi dibalik tembok, Pram menguping pembicaraan mereka.
"Bagus. Tidak sia-sia aku menyewa-mu."
Kalendra-- siswa laki-laki itu adalah Kalendra. Tampak dia menyerahkan segepok uang kepada adik kelas perempuan itu.
"Terimakasih." adik kelas perempuan itu menerima uang dari Kalendra
"Sekarang, pergi. Dan ingat, jangan sampai rahasia ini bocor, bahwa aku yang memerintahkanku menggoda bajingan itu agar hubungannya dengan Kanaya hancur. Jangan sampai ada yang tahu, jika minuman yang diminum oleh banjingan itu sudah ditambahkan afrodisiak."
"Aman. Selama bayarannya setimpal, semuanya akan terkendali."
Di tempatnya, Pram mengepalkan tangannya kuat. Sudah dia duga ada yang tidak beres. Tubuhnya yang mendadak panas dan bergairah waktu itu bukanlah efek dari hormon pertumbuhan remaja biasa.
Saat adik kelas itu sudah pergi, Pram keluar dari persembunyiannya. Menerjang Kalendra dan memukulinya bak orang kesetanan.
"Sialan kau! Banjingan!"
Dengan cekatan, Kalendra menahan pukulan Pram, lalu membalikkan badannya hingga kini, dialah yang memegang kendali.
"Hei, kenapa kau memukulku. Apa salahku?"
"Berhenti berpura-pura!" seru Pram mencoba melepaskan diri.
"Aku tahu kaulah yang menjebakku. Kaulah yang membuat aku dan Kanaya berpisah!"
Mendengarnya Kalendra berdecak. Ia semakin menekan lengan Pram hingga empunya meringis tertahan.
"Secepat itu? Ck, menyebalkan."
"Brengsek! Apa maumu sebenernya, hah?!"
Kalendra terkekeh. Pertanyaan bodoh macam apa itu. "Tentu saja aku ingin Kanaya membencimu."
"Kau itu penghalang antara aku dan Kanaya. Sudah seharusnya disingkirkan."
Pram menggeram. Ingin sekali menghabisi Kalendra detik itu juga.
"Lihat saja, aku akan mengatakan ini pada Kanaya! Bukannya membenciku, Kanaya justru akan membencimu!"
"Lakukan jika kau berani." Kalendra mendekat. Membisikkan kalimat yang semakin membuat Pram menggeram marah.
"Jika sampai Kanaya tahu rahasia ini, aku akan membuatmu hancur lebih dari ini. Meminta ayahku untuk memecat ayahmu yang bekerja di cabang perusahaan, sepertinya akan menarik. Kau akan hidup miskin setelah ini. Dan--- dibenci ayahmu sendiri tentunya."
"Jadi--- jangan macam-macam. Lebih baik jauhi Kanaya sejauh-jauhnya dan hiduplah dengan tenang."