NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Kejujuran Kalendra

"Apa selama ini kurang? Kau selalu mengendalikan hidupku. Memerintah sesuka hati tanpa bertanya apakah aku suka atau tidak. Namun, aku tidak pernah menolak. Aku selalu patuh meskipun itu membuatku tak nyaman."

"Dulu, kau memintaku untuk mendekati putri dari keluarga Wilson, padahal jelas-jelas kau tahu, aku menyukai seseorang saat itu."

"Tapi, kau tidak peduli. Kau tetap ngotot memintaku mendekatinya. Menjadikannya kekasih dan mengambil keuntungan bisnis lewat gadis itu."

"Aku mematuhimu, meskipun aku harus rela meninggalkan gadis yang kusukai."

Kanaya mematikan rekaman video setelah mendengar keseluruhannya. Di sampingnnya, Kalendra menyentuh pipi sang istri, membuat sang empun terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Kalendra.

"Aku tidak ingin ada rahasia lagi di antara kita."

Kalendra tatap netra Kanaya dalam. Agak berat mengutarakan kejujuran ini. Tapi, dia juga tidak mau, jika rahasia ini akan menjadi boomerang untuk hubungan mereka di masa depan.

"Dulu, memang aku yang menjebak Pram agar dia melakukan tindakan tidak senonoh di gudang olahraga."

Tidak ada respon dari Kanaya. Seolah perempuan itu menantikan Kalendra melanjutkan penjelasannya.

"Maaf, tapi waktu itu pikiranku hanya tertuju bagaimana cara memisahkanmu dengan dia."

"Waktu aku mengutarakan perasaanku padamu di depan banyak siswa, aku pikir kau akan menerimaku. Tapi ternyata sebaliknya, kau menolakku dengan dalih kau sudah memiliki kekasih."

"Dari sana, aku merencanakan jebakan untuk dia. Membayar adik kelas, memerintahkannya menggoda dia yang terpengaruh oleh...afrodisiak.

Pramudya Abraham--- cepat atau lambat dia akan kembali datang dan mempengaruhi Kanaya. Jadi, sebelum itu terjadi, Kalendra harus bisa membangun kepercayaan Kanaya pada dirinya. Menyakinkan perempuan itu jika dirinya menyesal, meskipun harus dengan cara mengungkapkan kejujuran kecil.

Kanaya--- dia tidak tahu dan tidak boleh sampai tahu seberapa banyak rahasia gelap yang Kalendra sembunyikan, agar laki-laki itu bisa memilikinya.

"Kau--- kau marah padaku, Kanaya?"

Kanaya menghembuskan nafas panjang. Menyingkirkan tangan Kalendra yang sedari tadi bertengger pada pipinya.

"Jadi, laki-laki itu tidak berbohong? Kandasnya hubungan kami ada campur tanganmu?"

Ragu, Kalendra mengangguk kaku.

"Benar."

"Aku-- saat itu aku kalut. Selain sakit hati karena penolakanmu, aku juga tidak suka kau dan dia selalu bersama."

"Kanaya, percaya padaku." Kalendra meraih tangan istrinya untuk digenggam. "Aku-- aku benar-benar menyesal. Tapi aku juga tidak mau jika harus melepaskanmu untuk kembali padanya."

"Sudahlah." Kanaya menarik tangannya.

"Lagipula, dari rekaman video yang aku lihat, dari awal hubungan kami sudah tidak sehat. Dia mendekatiku karena ingin mencari keuntungan."

Meskipun Kanaya sudah tidak memiliki rasa pada Pram, tetap saja hatinya merasa sakit. Atau lebih tepatnya--- dia kecewa. Kanaya merasa dibohongi.

"Tapi Kalendra, tindakanmu di masa lalu juga tidak bisa dibenarkan." ujar Kanaya.

"Aku tahu. Maka dari itu, aku ingin minta maaf."

"Selain hal ini, ada lagi yang kau sembunyikan dariku?"

Ada jeda untuk beberapa saat. Sampai kemudian, Kalendra menarik tubuh kecil Kanaya. Membawa perempuan itu agar duduk di pangkuannya.

"Tidak ada." jawabnya sembari tangan nakalnya bermain pada area punggung sang istri yang terbalut piyama satin.

Kanaya membalas gerakan menggoda Kalendra. Ia tangkup rahang suaminya itu, mengelusnya menggunakan jemarinya yang lentik.

"Aku tidak ingin ada kebohongan lagi. Jika suatu hari---" Kanaya tumpukan dagunya pada bahu Kalendra yang kokoh.

"Aku menemukan kebohongan baru darimu, aku tidak bisa menjamin apakah...aku bisa mentolerirnya lagi atau tidak." bisik Kanaya. Lembut dan menggoda namun, sarat akan ancaman.

Kalendra menarik leher belakang Kanaya. Tidak keras, namun cukup untuk membuat Kanaya kembali menatapnya.

"Aku bisa menjaminnya. Selamanya, kau tidak akan pernah punya niatan pergi dariku. Apapun alasannya." tekan Kalendra dengan suara rendahnya.

Setelah itu, ia memajukan wajahnya. Ingin membungkam bibir mungil yang sudah menjadi candunya. Hanya saja, kalimat yang Kanaya ucapkan berhasil membuat rahangnya mengetat.

"Aku ingin ke rumah sakit. Menemui laki-laki yang sudah kau hajar."

"Untuk apa? Ingin kembali padanya, hah?" lirih Kalendra mengintimidasi.

Kanaya mendecakkan lidah. "Jangan salah paham." ujarnya, kedua lengannya melingkar indah pada leher Kalendra.

"Aku ingin mengakhiri semuanya."

"Apalagi yang perlu diakhiri. Aku sudah mengaku, apa itu belum cukup?" protes suami Kanaya itu bernada tak suka.

"Ya. Belum cukup. Aku...hanya ingin meluruskan pada dia. Aku tidak ingin ada dendam. Selain itu, bagaimanapun juga--- dia orang yang baik. Dia berhak bahagia."

Kanaya menghembuskan nafas panjang. "Aku mohon, ijinkan aku bertemu dengannya besok. Kau bisa mengutus orang untuk mengawalku jika aku berani macam-macam."

"Boleh?"

Kalendra berdecih. Sesaat kemudian, ia lanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Membungkam bibir mungil Kanaya menggunakan bibirnya. Memangutnya terburu-buru seakan dia sedang kehausan.

Kanaya membalasnya. Mencoba mengimbangi permainan Kalendra yang tergesa-gesa. Sampai, tubuhnya terasa melayang, kemudian terbanting pada ranjang yang empuk.

Kalendra menggigit hidung Kanaya gemas. Lantas, mata berkabut gairah miliknya menatap lekat netra sayu sang istri.

"Ijin dariku, tergantung bagaimana kau memuaskanku malam ini."

.

.

"Dokter Pram!!"

Lengkingan khas anak kecil itu berhasil menarik Pram dari lamunannya. Menoleh pada sumber suara, seorang anak laki-laki datang berkunjung ke ruangannya dengan digendong oleh seorang laki-laki yang seumuran dengan dirinya.

"Heii, kau datang berkunjung?" sapa Pram sembari tersenyum manis. Membiarkan anak laki-laki itu duduk di bangkarnya.

Panca--- anak itu mengangguk antusias. "Padahal kita baru kenal tadi sore. Tapi entah kenapa aku sudah merasa dekaaaat sekali dengan dokter."

"Wahh, benarkah? Berarti kita sama. Dokter juga merindukan jagoan kecil yang paling lucu ini." balas Pram mencubit pipi panca gemas.

Panca dan Pram bertemu tadi sore di taman rumah sakit. Saat Pram berniat mencari udara segar, bola panca tidak sengaja terlempar ke arahnya. Lalu, semuanya mengalir begitu saja. Mereka banyak mengobrol dan menjadi dekat.

"Dokter sangat tampan. Andaikan aku punya ayah setampan dokter Pram." keluh panca tiba-tiba. Membuat Pram tak kuasa menahan tawa renyahnya.

Panca berhasil membuat suasana hatinya membaik. Sejenak, Pram melupakan masalah yang melanda hidupnya.

"Jangan bicara seperti itu. Jika ayahmu mendengarnya, dia bisa cemburu." ujar Pram setelah meredakan tawanya.

Bukannya ikut tertawa, raut Panca berubah murung. "Aku tidak punya ayah." ujarnya yang membuat Pram tertegun.

"A--ahh, maafkan aku." Mendadak Pram menjadi merasa bersalah. Ia elus puncak kepala Panca lembut.

"Percayalah, di atas sana ayahmu pasti bangga punya anak selucu dan setampan dirimu. Jangan sedih, hm?"

"Di atas? Atas apa?" tanya Panca bingung.

"Tentu saja surga."

Panca mendecakkan lidahnya. "Ayahku belum meninggal."

Ehhh?? Kenapa Pram jadi serba salah seperti ini.

"Ta--tapi katamu tadi---

"Aku tidak punya ayah. Kata nenek, dia pergi meninggalkan ibu waktu aku masih di dalam kandungan."

Pram mengedipkan matanya dua kali. Otaknya mencoba mencerna apa yang Panca katakan padanya.

"Kata nenek, ayah adalah laki-laki brengsek. Lepas dari tanggung jawab setelah menghancurkan masa depan ibu. Bahkan sekarang--- ibu jatuh sakit karena laki-laki brengsek itu."

Pram meringis mendengarnya. Kenapa anak sekecil Panca sudah diajari kata-kata kotor seperti itu.

"Dokter, aku berjanji jika suatu hari nanti aku bertemu dengan ayahku, aku akan memotong burung ayahku. Biar dia tidak bisa co-- co apa ya?" anak itu menggaruk kepalanya lupa.

Sedangkan Pram, laki-laki itu tengah menutupi sesuatu di bawah pusarnya reflek. Merasa ngeri dengan kkalimat yang dilontarkan anak sekecil Panca. Bagaimana jika laki-laki itu adalah dirinya?

"Kau--- siapa yang mengajarimu kata-kata seperti itu?" tanya Pram tak habis pikir.

"Tanteku. Dia yang paling benci dengan ayah brengsek." balas Panca tanpa beban.

"Panca, dengar. Kau tidak boleh berkata ka---

"AHHH, YA! CO-LI!!"

"Aku akan potong burung ayah menggunakan gergaji mesin agar dia tidak bisa co-li!!"

Siapapun tantenya Panca, jika Pram bertemu denganya akan dia jewer telinganya sampai panas. Bisa-bisanya mengajari anak sepolos Panca kata-kata yang tidak pantas.

1
Sulati Cus
bener tahta tertinggi dlm mencintai, melepaskan dia berbahagia walaupun bkn dg kita🤣
mbuh
kok KY pernah baca plot ini ya
lupa dmn
Ahrarara17
Lanjut kak, lanjut
Ahrarara17
Kalendra dilawan 😌😌
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!