Laura yang ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya mengambil keputusan besar untuk kabur dari suami dan ibu kandungnya..
Namun keputusan itu membawa dirinya bertemu dengan seorang mafia yang penuh dengan obsesi.
Bagaimana kah kelanjutan kehidupan Laura setelah bertemu dengan sang mafia? Akankah hidupnya lebih atau malah semakin terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Miami
Aaron yang belum sempat berganti pakaian langsung menelpon Fred untuk segera melanjutkan menyelidikan mereka. Mencari siapa penculik Dante, apa benar itu sindikat penculikan anak yang sedang marak di Miami atau bahkan lebih dari itu.
Fred juga segera menjalankan tugasnya yang sempat tertunda. Dia membuka laptopnya dan mengotak-atik mencari informasi mengenai Alexander Diego yang merupakan direktur rumah sakit itu. Fred tau, Alexander Diego adalah seorang mafia kelas kakap yang selalu membuat onar di pasar gelap dan gila lobang.
Alexander di kenal dengan pria hyper, bisnisnya memang sukses dimana-mana, hampir menyamai bisnis Aaron. Namun sampai saat ini Aaron dan Alex tak pernah bekerjasama dalam bidang apapun. Karena Aaron sudah keburu jijik mendengar perilaku Alex yang di luar nalar.
Malam ini, Fred mencoba meretas akun bank dan akun email Alex. Dia ingin tau apa saja yang di kerjakan oleh pria paruh baya itu akhir-akhir ini. Dengan begitu dia bisa melanjutkan penyelidikannya lebih mendetail.
Sedangkan Aaron memutuskan untuk kembali ke apartemen Sansa. Dia merasa tak sanggup meninggalkan Laura sendirian disana. Apalagi itu adalah bekas apartemen Sansa yang di belikan oleh Alex. Pasti Alex mempunyai akses untuk masuk ke apartemen itu. Aaron takut terjadi sesuatu pada Laura.
Sesampainya di apartemen itu, Aaron segera mengetuk pintu berulang kali. Seakan harus memastikan keadaan Laura detik itu juga. Namun sudah berulang kali Aaron mengetuk tapi tidak kunjung ada jawaban.
Hatinya mulai gelisah. Pikirannya mulai buruk. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Laura di dalam sana. Tangannya juga tak berhenti mengetuk pintu dan memencet bell.
Hingga dia merasa tak sanggup lagi menunggu. Dia segera kembali ke lift dan turun ke lantai bawah untuk meminta kunci pada staf keamanan. Meskipun harus sedikit berdebat dan mengeluarkan sedikit banyak uang, akhirnya Aaron mendapatkan kunci gandanya lagi.
Dia langsung kembali ke lantai 5, apartemen Sansa. Dia membuka pintu apartemen itu dengan cepat dan masuk ke dalam sana. Matanya segera menyapu ruangan. Membuka kamar utama, kamar Sansa. Namun tak ada orang.
Lalu Aaron keluar dan membuka pintu kamar kedua. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Laura sedang telanjang karena berganti pakaian. Matanya langsung membulat sempurna. Terhipnotis seketika saat melihat tubuh seksi Laura yang terekspos bebas tanpa balutan busana sedikitpun. Aaron menelan salivanya meski terasa tercekat.
Di sisi lain, Laura juga tak kalah terkejutnya. Dia sampai terperanjat hingga hampir terjatuh. Tangannya dengan tangkas menarik handuk putih yang dia letakkan di atas tempat tidur. Membalut tubuhnya dengan handuk itu.
"Aaron, bagaimana kau bisa masuk?" Tanya Laura.
Aaron hanya memperhatikan Laura yang gelagapan. Memperhatikan Laura dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jika di perbolehkan, Aaron ingin melihat Laura telanj*ng lagi. Karena hal itu sudah membuat miliknya bereaksi.
Laura yang di perhatikan seperti itu hanya bisa mematung di tempatnya sambil memegang handuk itu sekuat tenaga.
Perlahan Aaron melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu tanpa berpaling sedikitpun dari mata Laura. Dia juga bisa merasakan miliknya sesak di bawah sana. Ini akan mulai menyakiti dirinya lagi.
Sedangkan Laura membelalakkan kedua matanya saat melihat Aaron mendekati dirinya. "Aaron, apa yang kau lakukan?" Ucap Laura.
Namun Aaron tak menghiraukan pertanyaan Laura. Dia terus melangkah mendekat. Mengikis jarak di antara mereka berdua. Hingga kurang satu langkah lagi, tapi Aaron malah meneruskan langkahnya ke belakang Laura. Melewati wanita itu yang sedang mematung panik.
Aaron berjalan ke arah jendela besar di belakang Laura. Menarik selambunya dengan keras dan menutupnya dengan rapat. Membuat Laura kembali terkejut. Dia menoleh ke belakang, menatap punggung Aaron yang membeku di depan jendela yang tertutup.
"Jangan lupa tutup jendelanya! Aku tidak mau orang-orang melihat mu seperti itu!" Ucap Aaron dengan tegas lalu dia berlalu keluar begitu sana.
Laura tercengang dengan sikap Aaron. Dia sudah salah paham pada pria itu. Dia pikir, Aaron akan melecehkannya sekarang. Karena dia sudah punya kesempatan yang pas. Di apartemen ini hanya ada mereka berdua. Laura tak mungkin bisa melawan kekuatan Aaron sendirian. Apalagi kondisinya sudah telanj*ng bulat seperti ini
Namun, pria itu masih bisa mengendalikan hawa nafsunya. Meskipun dia sudah di vonis gejala priapism, pastinya miliknya sudah menegang sekarang dan akan membutuhkan waktu lama untuk kembali tidur.
"Pakai pakaian mu, setelah itu temui aku!" Titah Aaron dengan suara yang tertahan. Dia nampaknya juga gugup.
Setelah kepergian Aaron dan pria itu juga tak lupa menutup pintu kamar kembali. Laura segera memakai pakaiannya dengan terburu-buru, takut Aaron berubah pikiran seketika.
Tapi Laura merasa ragu saat akan keluar dari kamar untuk menemui Aaron di luar sana. Dia juga merasa malu karena pria itu sudah melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
"Harusnya aku ganti pakaian di kamar mandi!" Gumam Laura pada dirinya sendiri.
"Tapi kenapa pula dia tiba-tiba masuk kesini?"
Aaron itu adalah pria yang penuh kejutan bagi Laura. Dia bisa melakukan apa saja dan dimana saja. Kini dia terjebak dengan isi pikirannya sendiri. Hingga suara Aaron kembali terdengar di luar sana. Mengetuk pintu dan memanggil namanya.
"Laura? Kau baik-baik saja?" Tanya Aaron di balik pintu.
"Oh iya, aku baik-baik saja, tunggu di luar!" Jawab Laura spontan karena tak ingin Aaron kembali masuk ke dalam kamar.
Dia pun harus keluar saat ini juga, meski masih merasa gugup, namun Laura akhirnya keluar dan berhadapan dengan Aaron yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Kenapa kau berdiri disini?" Laura berusaha mencairkan suasana sambil berjalan ke arah ruang tengah. Duduk di sofa panjang itu sambil mengatur nafas.
Aaron membuntuti Laura, duduk di sebelah Laura yang nampak tak nyaman dengan kondisi ini.
"Kita harus kembali ke Miami!" Ucap Aaron memulai percakapan.
"Kenapa?" Tanya Laura.
"Fred menemukan beberapa transaksi yang mencurigakan di akun bank Alex, dia juga menemukan jika banyak sekali uang yang masuk dengan jumlah yang besar berulang kali." Jelas Aaron.
Sedangkan Laura mendengarkannya dengan cermat.
"Alex juga melakukan transaksi di pelabuhan beberapa hari lalu, tepat beberapa jam setelah Dante di culik. Fred juga menemukan ada dua anak kecil yang menerima donor mata dan jantung." Sambung Aaron.
"Benarkah?" Laura nampak terkejut.
"Kita harus kembali ke Miami sekarang, Laura. Kita harus mengecek beberapa hal disana." Ucap Aaron.
"Baiklah." Jawab Laura seketika.
Dan saat itu juga, Laura dan Aaron segera bergegas pergi bandara untuk kembali ke Miami. Hati Laura sebenarnya kembali hancur saat mendengar kenyataan itu, namun dia harus kembali menguatkan diri untuk mengungkap siapa pelakunya.
Bersambung..
.