NovelToon NovelToon
Putra Rahasia Sang Aktor

Putra Rahasia Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:57.3k
Nilai: 5
Nama Author: Quenni Lisa

Menikahi Pria terpopuler dan Pewaris DW Entertainment adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah terjadi di hidupnya. Hanya karena sebuah pertolongan yang memang hampir merenggut nyawanya yang tak berharga ini.

Namun kesalahpahaman terus terjadi di antara mereka, sehingga seminggu setelah pernikahannya, Annalia Selvana di ceraikan oleh Suaminya yang ia sangat cintai, Lucian Elscant Dewata. Bukan hanya di benci Lucian, ia bahkan di tuduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap kekasih masa lalunya oleh keluarga Dewata yang membenci dirinya.

Ia pikir penderitaannya sudah cukup sampai disitu, namun takdir berkata lain. Saat dirinya berada diambang keputusasaan, sebuah janin hadir di dalam perutnya.

Cedric Luciano, Putranya dari lelaki yang ia cintai sekaligus lelaki yang menorehkan luka yang mendalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quenni Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Pesanan Kue yang Mencurigakan

INFO : Bakalan update double kalau banyak ANTUSIAS, entah LIKE atau KOMENTAR, jangan jadi pembaca gelap ya🫶🤧

LIKE

SUBSCRIBE

KOMENTAR

.....

Brak!

Juan terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun. Ia hanya bisa menatap tanpa berani ikut campur. Bagaimanapun, Juan tahu betul. Bagaimana jika Lucian emosi.

Karena Juan baru saja memberikan laporan terbaru. Yaitu tentang Anna. Dan itu, pasti akan membuat emosi Lucian dua kali lipat lebih besar dari biasanya. Lucian akhir-akhir menjadi sabar sensitif karena Anna.

Beberapa saat yang lalu.

Tok!

Tok!

"Masuk!" ujarnya. Tanpa menoleh sedikitpun. Lucian mengerjakan semua laporan yang sempat ia tinggalkan karena mencari keberadaan Anna. Ia tak bisa melepaskan tanggung jawabnya sebagai Pimpinan.

"Tuan, saya ingin melaporkan tugas," ujar Juan, sembari membungkuk hormat. Ia melirik Lucian, lelaki itu tengah berkutat dengan dokumen-dokumen sepanjang hari tanpa istirahat.

"Hmmm ...." Lucian hanya berdehem, tanpa mengalihkan pandangannya pada Juan.

"Ini tentang Nona Anna," lanjut Juan, sontak membuat Lucian menoleh padanya. Dengan tatapan penuh harap.

'Anna ....'

Juan meringis, melihat ekspresi Bos-nya itu. Ia menggeleng pelan. "Maaf, Tuan. Kami tak bisa menemukan jejaknya. Entah internet, orang sekitar ataupun semua tempat. Apa lagi ...." Juan menjeda kalimatnya karena ragu. "Nona Anna adalah seorang yatim piatu, jadi semakin sulit untuk menyelidikinya, karena tidak memiliki keluarga atau tempat untuk singgah ataupun sekedar bercerita," jelas Juan, jujur saja ia merasa kasihan terhadap Anna. Bahkan dulunya, ia bersyukur karena gadis itu melarikan diri dari Lucian yang tak mencintainya, bahkan membencinya.

Namun, setelah melihat seberapa terpuruknya Lucian. Juan merasa tak tega. Baru kali ini, ia melihat ekspresi itu di wajah Lucian. Karena selama ini, Juan hanya dapat melihat tatapan dingin tak tersentuh.

Kembali ke beberapa saat setelahnya.

Juan menunggu saat emosi Tuannya itu mereda.

Lucian nampak menghela nafas. Ia merasa sangat menyesal. Ia harusnya menyadari bahwa gadis itu sendirian di dunia ini. Bahkan ia dengan teganya menceraikan Anna setelah satu Minggu pernikahan mereka.

'Bahkan aku menuduhnya,' batin Lucian.

Terlintas di pikirannya, bagaimana jika gadis itu merasa putus asa dan mengakhiri hidupnya. Jantung Lucian seolah berhenti berdetak, nafasnya jadi tak beraturan.

"Ba-bagaimana jika dia ... bu-bunuh diri?" gumam Lucian, terbata-bata, seolah tak menginginkan kalimat itu terucap di bibirnya.

Juan yang melihat itu langsung mendekati Lucian. "Tenang, Tuan! Tidak mungkin, Nona tidak mungkin bunuh diri. Jika dia bunuh diri, maka lebih mudah untuk mencarinya di berita. Saya juga sudah memeriksa keseluruhan, apapun yang akan menjadi petunjuk. Tidak ada kejadian bunuh diri di kota kita pada tanggal Nona meninggalkan rumah, maupun satu Minggu kemudian," jelas Juan panjang lebar.

Lucian menatap Juan, seolah bertanya apakah benar pernyataan itu. Juan mengangguk pasti. Nafas Lucian kembali teratur. Walau begitu, ia merasa sangat bersalah. Dengan kesalahannya, yang sebesar ini. Apakah mungkin baginya untuk mendapatkan Anna kembali ke pelukannya. Menjadi istrinya kembali. Bermimpi pun, rasanya tak akan pernah mungkin.

"Namun, Tuan. Bagaimana jika ... jika ...." Juan nampak ragu mengatakannya. Rasanya ia akan di telan hidup-hidup oleh Lucian, setiap kali ia membahas hal ini. Namun, ini adalah harapan Lucian, mungkin kali ini saja. Lucian mau membahasnya, bahkan meminta tolong padanya.

Lucian menatap tajam Juan. "Katakan!" titah Lucian.

"Emm ... begini, Tuan. Pada kejadian kebakaran 11 tahun yang lalu. Pada saat itu, kan. Nona Mona ingin menjebak Nona Anna dan ... Tu-Tuan Raven. Karena mereka terlihat dekat, apa lagi saat itu Tuan Raven yang menyelamatkan Nona. Saya yakin, pasti dia mengetahui sesuatu tentang Nona ... ja-jadi ...." Juan menatap Lucian berharap lelaki itu dapat mengerti kalimat selanjutnya tanpa harus ia katakan, jantungnya berdegup kencang, seolah-olah berlari puluhan kilometer.

'Jadi ... kemungkinan Raven tahu dimana Anna?' batin Lucian seolah tak terima. Namun itu tidak menutup kemungkinan. Apa lagi keduanya memang dekat.

Lucian mengernyit. Walaupun jelas wajahnya menampakkan raut tak suka. Lucian juga menyadari bahwa perkataan Juan ada benarnya. "Sudahlah. Bicarakan itu nanti. Aku akan berpikir," jelas Lucian, tak ingin membahas lebih lanjut.

"Oh, ya Tuan. Apakah Tuan ingat, kita pernah ke pinggiran kota kecil itu? Bertemu anak yang sangat mirip dengan anda," jelas Juan dengan senang.

Lucian mengernyit, apa lagi maksud sekretarisnya itu, membahas Cedric disini. "Ya, ada apa dengannya?" tanya Lucian. Tentu saja ia ingat, bahkan setelah itu ia mencari bocah itu di kota itu. Hanya saja tanpa sepengetahuan Juan.

"Begini, kita akan syuting di daerah pinggiran kota itu, tepatnya di Desa Kembang. Dengan lawan main anda, Erina Evalia. Akan segera di mulai."

"Dan, di sutradarai oleh Tuan Mahendra. Tuan sangat menginginkan Film yang di Sutradarai olehnya, bukan?" tanya Juan, sembari menyerahkan naskah pada Lucian. Ia sangat takut, lelaki itu akan menolak kembali syuting.

Juan heran dengan Tuannya. Semua orang mati-matian menghindari syuting yang di Sutradarai Mahendra karena terkenal sangat tempramen, teliti dan banyak aturan. Namun, Tuannya malah menginginkan Film yang disutradarai olehnya.

'Dia memang lain daripada yang lain ....'

Ia sudah sangat lelah, membatalkan kontrak syuting iklan Lucian. Walau semua di bayar dengan uang, namun tetap saja pada akhirnya ia yang akan menerima amukan.

Lucian memegang kepalanya yang berdenyut. Rasanya ia ingin beristirahat. Namun, rasanya tak ada kesempatan untuk dirinya beristirahat. "Baiklah. Kau urus saja. Kapan kita akan berangkat?" tanya Lucian. Ia tak mungkin terus-terusan membatalkan syutingnya, bagaimanapun ia sudah lama tak syuting.

"Lima hari lagi, Tuan," jawab Juan. "Saya akan mempersiapkan barang-barang." Lalu Juan melangkah pergi meninggalkan Lucian.

"Hah, sudahlah. Lagipula, aku bisa bertemu dengan bocah itu. Syukurlah, setidaknya aku masih memiliki mainan disana," gumam Lucian tersenyum. Kepalanya penuh akan raut wajah marah, kesal dan jengkel yang di berikan Cedric padanya. Entah apa yang membuat bocah itu begitu membencinya sejak pertama mereka bertemu.

Namun satu hal yang Lucian tak sadari, ia sangat antusias menunggu pertemuannya dengan bocah itu, daripada pekerjaannya.

...****************...

Dua hari kemudian.

Hari ini, rasanya sangat melelahkan baginya. Pesanan kuenya tak henti-hentinya berdatangan. Dan, tiba-tiba saja ada pesanan kue dalam jumlah besar yang akan diantarkan ke Taman Bermain Ceria.

Anna merasa heran. Sebab, ia memiliki perasaan tak enak, karena tatapan pemesan yang datang kemarin itu. Apa lagi, saat itu ia melihat Adnan yang mengantarkannya ke Toko Kue Anna.

Kemarin.

"Selamat datang..." Anna mengernyit, melihat Adnan berada di belakang pelanggannya.

"Mbak Anna, bukan?" tanya pria berstelan jas itu.

Anna mengangguk, walau sedikit bingung. Bukannya menanyakan kue, malah menanyakan namanya.

"Saya Ferdian, saya Bosnya Adnan. Saya akan memesan kue anda sebanyak 100 buah, perharinya. Karena akan ada pembangunan di Taman Bermain Ceria," jelasnya dengan tersenyum ramah.

'Entah kenapa ... Rasanya dia seperti sedang menjilat,' batin Anna, curiga. Namun apa yang harus di ambil darinya.

"Ba-baiklah. Seratus perhari. Terimakasih banyak, sudah mempercayakan Toko Kue saya," jelas Anna tersenyum. Rezeki tak mungkin di tolak.

"Baiklah."

Set!

Anna menarik Adnan. "Kamu yang kasih tahu? Makasih, Na! Berkatmu aku dapat penghasilan lebih setiap hari, setidaknya sampai bulan depan," jelas Anna, dengan senang. Ia melupakan rasa curiganya.

Adnan menghela nafas. "Bukan aku, Na. Aku juga enggak tahu. Tiba-tiba saja, kemarin saat kerja. Bos memanggilku dan menanyakan tentangmu yang memiliki Toko Kue dan mau memesan disini untuk proyek baru," jelas Adnan, ia pun juga merasa heran. Masa iya, Bosnya melihat ia bersama Anna kemarin.

"Hah? Bukan? Tapi dia tahu darimana kamu kenal sama aku, Nan?" tanya Anna, rasa curiganya mulai kembali.

"Entahlah, Na. Anggap saja itu memang rezekimu, jangan terlalu di pikirkan. Nanti aku tanyakan lagi pada Bos jika ada kesempatan. Ya sudah, aku balik kerja dulu ya," pamit Adnan, sambil melambaikan tangannya.

Anna hanya bisa pasrah, tanpa berniat mencegah Adnan untuk menanyakan kepastian. Yang paling penting ia merasa sangat bahagia mendapatkan begitu banyak pesanan setiap harinya.

Dengan begini ia dapat menabung uang lebih untuk Cedric.

.....

MENURUT KALIAN, JUDUL BAB INI APA YAHHH... KOMEN DONGGG...

JANGAN LUPA LIKE ~~~~

LIKE ~~~~

TERIMAKASIH, SUDAH LIKE🫶

NANTI DOUBLE, KALO AUTHOR LIHAT PADA ANTUSIAS 🥳

1
Sun Rise
ayooook 💪 thooor up lagi
evi carolin
knp akhir akhir ini novel yg aq baca pemeran cowoknya bs jatoh pingsan i
ya ...🤔 ...ga kuat perasaanya ya krn merasa bersalah amat sangat /Whimper/
Linda Liddia
Kenapa udh lama gak up kk
NP
memanfaatkan
NP
mengharap-harapkan
NP
Anna
NP
menjadi sabar sensitif, maksudnya gimana ya
NP
tampak
NP
memanfaatkan
NP
pria
NP
berbohong
NP
gimana ini kalimat nya 😄😄
NP
tuntut
NP
memperhatikan
NP
tadi katanya uang mahar nya 1m
alyssa bunga: labil lupaa maaf yakk🤧
total 1 replies
NP
mencekam
Sunaryati
Yang jalang itu kamu Rianti, jika ibunya Lucian jalang seharusnya anak kamu lebih tua darimu🙏
Sunaryati
Sudah ada ingatan walaupun sedikit
Amazing Grace
si anna babi ini menye menye kali, Lucian lagi hilang ingatan bodo bukan berarti ia masih suka sama Mona
kok lalap dikit dikit meleyot, apakah selama hidup dengan Cedric ga bisa bikin si anna ini lebih kuat lebih tegas dan lebih realistis, ini kesan nya kayak protagonis pick me dan naif banget
alyssa bunga: maaf ya kak, mungkin ini ak ny yang masih naif, jadi ke bawa ke karakter Anna....
total 1 replies
Amazing Grace
ayolah anna kau terlalu menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!