[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 (3)
"Lo nasehatin Devan dong, Fa. Jangan deketin gue lagi. Gak kuat gue ngeliat dia melas terus. Kasian sama Devannya ...," pinta Vallen. Tak hanya bibirnya yang bicara, tapi matanya juga mengungkap banyak hal saat Rafa membalas tatapannya.
Tanpa pikir panjang, Rafa seketika menjawab, "Susah."
Ya ... Vallen tahu, susah kok, memang. Salah mereka juga karena terlanjur menyayangi. Sekalinya dipisahkan oleh takdir, mereka jadi kelabakan sendiri. Vallen pun menunduk dan merenung lagi, bahkan ia tidak menghiraukan suara Devan yang memanggil namanya di luar sana.
Rafa, cowok itu bingung harus bertindak seperti apa. Karena kejadian di masa lalu, Rafa jadi segan bertindak kepada makhluk bernama perempuan. Ia memiliki trauma, trauma tidak dihargai, trauma tidak dinilai, trauma tidak dianggap dengan apa yang sudah ia lakukan. Rafa mencoba melakukan yang terbaik, tapi balasan dari orang lain seperti sebuah obat pahit yang harus Rafa telan sendiri. Pikirannya pun beralih tentang Vallen, sekarang cewek di depannya ini adalah istrinya. Tak mungkin Rafa terus-terusan menganggapnya seperti orang lain. Sejujurnya ia selalu berpikir tentang kapan traumanya hilang, dan kapan ia bisa mencintai Vallen. Menjalani kehidupan yang hangat suatu saat nanti, Rafa ingin, tapi selalu dilingkupi oleh rasa ragu. Apalagi Vallen terlihat sangat cinta kepada sahabatnya sendiri. Peluang Rafa untuk sakit jika seandainya dia jatuh cinta terlebih dahulu pada Vallen yang masih belum bisa move on cukup besar.
Di sisi lain, lebih tepatnya di diri Vallen. Hatinya terus berkecamuk. Ia merasa semua ini terlalu berat. Entah dengan cara dan perumpamaan seperti apa untuk gadis itu mengungkap bahwa ia amat menyayangi Devan. Sayangnya sudah tinggi melambung jauh di angkasa sana.
Bagaimana caranya ia untuk turun?
Haruskan Devan juga yang mengajaknya turun? Jadi sesampainya di dasar, mereka baru melambai sebagai tanda perpisahan. Namun, Vallen pikir sepertinya Devan malah akan mengajaknya terbang lebih jauh.
Maka dari itu, cara yang dijelaskan sudah pasti salah.
Vallen-lah yang harus mengajak Devan kembali ke tempat semula, tempat di mana kedua hati itu tak saling terikat, tempat kedua hati itu tak saling mengisi, waktu di mana mereka masih merasakan perasaan yang hambar satu sama lain.
Benar.
Itu caranya!
Keduanya diam dalam toilet yang seharusnya angker ini, tapi itu semua mereka tepis karena mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Fa, lo anggep kita serius?" tanya Vallen membuka pembicaraan beberapa waktu setelah keheningan.
"Ya menurut lo? Pernikahan main-main?"
Vallen menggeleng.
"Fa ...."
"Hm?"
"Gue punya kesempatan buat berusaha cinta sama lo?"
Deg ....
Rafa diam, dia tercengang dengan pertanyaan Vallen. Demi apapun sebenarnya itu pertanyaan yang hendak Rafa keluarkan, tapi malah didahului oleh cewek itu.
"Setiap orang di dunia punya kesempatan," jawab Rafa yang kalimatnya bersifat umum.
"Bantu gue ya?" pinta Vallen. Bantu untuk cinta dengan Rafa sekaligus bantu menarik Vallen turun ke dasar perasaan dari dunianya dengan Devan. Setelahnya, Rafa bebas membawa Vallen terbang kemana pun yang dia atau bahkan mereka mau.
Rafa tak menjawab. Ada sebuah kehangatan yang melingkupi dirinya saat Vallen berkata hal tersebut dengan lembut.
Kemudian cowok itu bisa dengan jelas menatap mata Vallen sebab ia sedang mendongak. "Lo juga mau usaha buat sayang sama gue kan, Fa?" tanya Vallen penuh harap.
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.