Zanna Kemal lebih memilih tinggal seorang diri setelah ayahnya meninggal dunia dari pada tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, hidup dengan sederhana menjadi seorang perawat di rumah sakit swasta di kota Praha. Anna begitu ia disapa suatu hari terpilih menjadi perawat untuk merawat anak sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja yang bernama Kerem Abraham, ia sudah terbaring koma selama dua belas tahun akibat kecelakaan yang dialaminya.
Setelah beberapa bulan merawat Kerem, pria itu pun akhirnya sadar dari komanya, tapi sejak Kerem sadar mereka tidak pernah bertemu lagi.
Bagaimana kisah pertemuan mereka kembali sehingga keduanya terikat dalam sebuah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia begitu pandai
Anna mengitari setiap sudut kamar itu dengan bola matanya, kamarnya cukup luas dengan dua jendela besar disana, di sebelah kanan ruangan itu terdapat sebuah lemari yang cukup besar. Sehelai karpet bulu terbentang disana, diatasnya ada sebuah meja kecil dan dua buah bantal besar. Tatapannya bepindah pada nakas yang terletak diisi ranjang diatasnya terletak lampu tidur.
Tangan Anna menepuk-nepuk kasur yang ia duduki yang terasa begitu empuk. “ ini empuk sekali pasti nyaman sekali kalau tidur disini,” puji Anna tersenyum senang. Anna menatap kaos Kerem ditangannya lalu berpindah pada
gaun yang sedang dipakainya.
“Iya, bajuku kotor tidak mungkin aku memakainya untuk tidur.” Ia pun mencoba manarik resleting gaun tapi karena tangannya yang sakit membuatnya kesulitan saat melakukannya.
*****
Tak butuh waktu lama Kerem pun menemukan mini market yang buka dua puluh empat jam, ia segera memarkir mobilnya dan bergegas turun dan
melangkah masuk ke dalam mini market. Matanya segera mencari letak rak pembalut
dan ia pun berhasil menemukannya. Kerem melongoh menatap begitu banyak merek
pembalut disana dan ia pun lupa menanyakan apa mereknya pada Anna.
“Aaahhh, sudah aku pilih saja.” Kerem mencari tulisan yang untuk malam sesuai dengan permintaan Anna, ia menarik napas lega saat berhasil menemukannya.
“Perempuan banyak sekali maunya memang apa bedanya siang dengan yang malam.” Dengus Kerem kesal, lalu segera berpindah pada pakaian dalam wanita. Ia melirik kiri dan kanan dan tidak melihat seorang pun disana dan tentu saja ini menguntungkannya karena sangat memalukan sekali masa laki-laki
berada ditempat pakaian dalam wanita.
Kerem kembali bingung saat menatap pakaian dalam di depannya
ia menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.
“Celana dalamnya apa ya ukurannya,” Kerem bingung. Ia membayangkan ukuran tubuh Anna sambil memegang celana – celana yang terpajang. Merasa sudah menemukan ukuran yang pas ia mengambil dan langkah lebar menuju meja kasir.
Kasir menahan senyum gelinya saat melihat barang yang diletakan Kerem diatas meja kasirnya, melihat pria keren didepannya tengah malam membeli pakaian dalam dan pembalut wanita. Tapi saat melihat tampak
sangar Kerem membuatnya tak berani berkutik. Setelah membayar semua belanjaanya ia pun segera meninggalkan tempat itu dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi Karen jalanan juga sudah sepi.
****
Kerem masuk ke kamar bersamaan dengan Anna yang baru saja keluar dari kamar mandi, Kerem terpaku menatap Anna memakai kaosnya yang terlihat kebesaran di tubuhnya yang ramping, kaos yang hanya menutupi separuh paha putih mulusnya membuat Kerem cepat mengalihkan tatapannya. Tau menjadi pusat perhatian Kerem Anna menarik-narik kaos itu dengan wajah merah menahan rasa malu dan canggung.
“Ini pesananmu, “ Kerem mengulurkannya tanpa menatap Anna.
“Terima kasih,” ujarnya sambil mengambil kantong dari tangan Kerem.
“Aku mau tidur, jika kau ada perlu panggil saja aku, kamarku ada disebelah. Dan
kau juga segera tidur.” Perintah Kerem melihat Anna menguap, Anna pun mengiyakan menganggukan kepalanya.. Kerem pun keluar dari kamar tak lupa menutup pintunya kembali.
Anna mengintip barang pesanannya yang masih ada dalam kantong, ia mengulurkan tangannya menjangkau isinya dan mengeluarkannya. Anna tersenyum senang melihat pembalut yang dibelikan Kerem sesuai dengan permintaannya dan juga merekanya sama seprti yang ia pakai biasanya.
“Pintar juga dia membelikannya.” Anna tersenyum lebar. Tatapan Anna berpindah pada celana dalam dan melebarkannya, ia tidak dapat menahan tawa gelinya membayangkan ekspresi Kerem saat memilihkan pakaian dalam untuknya
karena ukurannya bisa pas sekali.
****
Matahari telah meninggi, Anna masih terlihat begitu nyenyak di bawah selimut tebalnya. Ketika deringan ponsel yang terdengar begitu nyaring di dalam kamar yang sepi mengusik tidurnya. Dengan mata masih tertutup karena
kantuknya yang masih bergelayut disana, ia meraba-raba ponselnya yang semalam
ia letaknna diatas nakas.
“Hallo,” sapa Anna dengan suara serak khas bangun tidur.
“Anna, kau kenapa. Kenapa kau tidak masuk kerja. Kau baik-baik saja bukan. Aku sangat
mengawatirkanmu karena semalam kau memksa untuk pulang sendirian.kau tidak
sakit kan?”
Pernyaan Elif yang bertubi-tubi membuat Anna berdecak kesal.” Elif…satu-satu dulu pertanyaanmu aku bingung harus menjawab yang mana dulu.”Anna mendudukan tubuhnya dan menyandarkan tubuhnya kekepala sofa.
“Aku sangat kwatir, apakah kau sakit.”
“Tidak, aku baik-baik saja,hanya kepalaku saja sedikit pusing,” ucap Anna berbohong.
“Syukurlah.”
Jelas sekali nada lega dari suara Elif saat mendengar kabar kalau Anna baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu ynag buruk padanya. Anna memang tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Elif dan
ditambah lagi ia sekarang menginap di tempat Kerem, bisa-bisa meledak IGD
tempatnya bertugas karena gossip.
“Ya, sudah nanti pulang bekerja aku akan singgah ke tempatmu.”
“Tidak usah, merepotkanmu saja,” tolak Anna halus.
“Mana ada sesama sahabat saling merepotkan.”
“Ya sudah terserah kau saja.” setelah mengobrol beberapa saat keduanya pun m emutuskan telponnya karena Elif yang harus kembali bekerja.
Anna menarik napas panjang menatap jam dinding disampingnya yang sudah menunjukan pukul delapan lewat, ia meletakan ponselnya ditempat
sebelumnya dan beranjak turun dari
tempat tidur. Anna mendesis menahan nyering akibat luka dikedua lututnya
meregang, ia melangkah dengan pelan ke kamar mandi.
Anna mencuci wajahnya di wastafel lalu menatap pantulan wajahnya pada cermin di depannya, ia menyentuh sudut bibirnya yang merah kebiruan. Ia membuka rak kaca mengambil sikat gigi yang masih terbungkus, ia membuka bungkusnya lalu mengolesinya dengan odol, dan menyikat giginya dengan
hati-hati agar tidak membuat luka di sudut bibirnya perih.
Setelah selesai Anna pun segera keluar dari kamar mandi, ia beranjak ke tempat tidur untuk merapikannya, walaupun sedikit kesusahan Anna tetap melakukannya. Setelah tempat tidur itu kembali rapi ia keluar dari kamar. Ia menatap pintu kamar Kerem yang masih terkunci untuk sesaat Anna berdiri
disana menduga-duga apakah ia masih tertidur atau sudah berangkat bekerja.
Anna memutuskan untuk turun saja, ia menuruni tangga dengan hati-hati sambil berpegangan pada pagar tangga. Begitu menginjakan kakinya di lantai dasar ia memperhatikan sekelilingnya, mulutnya berdecak kagum melihat betapa mewahnya apartemen milik Kerem. Semua perabotan mahal tertata dengan rapi, Anna terus melangkah mencari dimana letaknya dapur. Ia berhenti di depan meja makan dan sudah terletak makanan diatasnya dan segelas jus juga air putih. Anna mengambil secarik kertas yang terletak diatas meja lalu membacanya.
*Selamat pagi Anna...
Aku sengaja tidak membangunkanmu, karena aku rasa kau masih butuh istirahat. Aku telah meletakan sarapan di meja makan, makanlah jika kau sudah bangun.
Nanti akan ada yang mengantarkan pakaian ganti untukmu, jadi jangan kemana-mana aku akan pulang jam makan siang.
Kerem*
Anna mengulum senyumannya dan meletakan kertas itu kembali, ia menarik sebuah kursi dan mendudukan tubuhnya disana. Anna segera meneguk air putih di depannya. Lalu mengambil beberapa lembar roti dan mengolesinya dengan selai coklat. Anna memakan sarapannya dengan lahap karena perutnya memang sudah
keroncongan. Terakhir Anna meminum jusnya hingga tak bersisa.
Anna segera mencuci piring dan gelas bekas makannya dan menyimpannya diatas rak dekat kran cuci piring. Ia melangkah meninggalkan dapur mencoba berpikir apa yang akan ia lakukan menunggu siang tiba. Akhirnya langkahnya terhenti pada sofa besar dan mendudukan tubuhnya disana, menjangkau remot tv diatas meja lalu menyalahkannya.
Anna menyandarkan tubuhnya dengan malas ke sofa, saat ia menatap ke bawah meja ia melihat sebuah album foto, Anna pun menegakan tubuhnya kembali dan menjangkau album foto itu. Anna duduk berselunjur diatas sofa lalu meletakan album itu diatas pahanya, dengan hati-hati ia mulai membuka album di depannya.
Anna terpana melihat ternyata album itu berisi foto Kerem saat remaja, ia kembali membalik lembar demi lembar album itu, ia melihat beberapa foto Kerem mengenakan pakaian balap dan berpose diatas motornya. Anna tersenyum melihat foto Kerem yang sedang memegang piala ditangannya kirinya dan satu tangannya merangkul pundak seorang wanita. Anna mengamati wajah wanita itu untuk sesaat karena merasa mengenalinya.
“Kak Kayla, ini kan kak Kayla. Oh ternyata ia sudah mengenal Kerem sejak remaja,” guman Anna mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Ia kembali membalik album itu dak melihat lagi beberap foto mereka berdua yang terlihat sangat akrab, dan juga ada foto mereka bertiga dengan Burack kakaknya Kerem.
“Tapi kenapa waktu itu mereka…
Anna mendengar bel apartemen Kerem berbunyi, ia menutup kembali albumnya dan meletakannya ditempatnya kembali. Anna pun bergegas membukakan pintu dan bersembunyi dibalik pintu ia hanya menjulurkan wajahnya saja karena kaosnya yang dipakaianya terlalu pendek..
“Selamat pagi Nona,” sapa Jordan sangat sopan.
“Se-selamat pagi Tuan Jordan,” Anna begitu gugup tidak menyangkah Jordan akan datang ke apartemen Kerem, Anna sangat malu ingin
rasanya ia menghilang dibalik dinding dibelakannya, pasti Jordan sudah berpikir
buruk tentangnya karena tidur di apartemen Kerem.
“Maaf mengganggu Nona, saya hanya ingin mengantarkan pesanan tuan Kerem,” ujarnya lalu mengulurkan kantong ditanganya.
“Terima kasih Tuan Jordan,” sahut Anna mengambil paper bag ditangan Jordan tak berani menatap padanya.
“Kalau begitu saya permisi Nona.”
Anna langsung menutup pintunya begitu Jordan pergi, ia menyandarkan tubuhnya ke pintu, "iiihhh…. Memalukan... memalukan…."Anna merengek sambil mengacak-acak rambutnya kesal.
.
.
.
.
Bersambung
Selamat membaca 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak, biar semangat upnya 😅😅😅
ana jangan pernah percaya sama temen dekat...