NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN DI ATAS KAPAL FERI

BAB 4

Luntasan terakhir Menuju Tanah Air

Hujan tipis mulai turun ketika konvoi kecil itu mendekati pelabuhan penyeberangan. Lampu-lampu sodium memantul di aspal basah, menciptakan bayang-bayang panjang yang bergerak seiring laju Alphard hitam. Mesin berdengung rendah—tenang di luar, tegang di dalam.

Bima memegang radio, suaranya dibuat serendah mungkin.

“Semua unit, dengar. Kita masuk zona pelabuhan lima menit lagi. Jangan terpisah.”

Agung menjawab cepat.

“Siap. Perimeter kanan terlihat aman, tapi lalu lintas padat. Banyak wajah asing.”

Eren menambahkan dari kursi belakang kendaraan pengawal.

“Perasaan gue nggak enak, Sertu. Terlalu banyak yang pura-pura santai.”

Bima mengangguk, meski tahu tak ada yang melihat.

“Justru itu. Fokus.”

Di kursi tengah Alphard, Laura menatap jendela yang berembun. Ia mengusapnya pelan, melihat siluet kapal feri besar di kejauhan. Anisa terbangun dan langsung menggenggam tangan kakaknya.

“Kak… kita naik kapal?”

“Iya, Dik,” jawab Laura lembut. “Sebentar lagi.”

Dr. Hadijah memandang keduanya, lalu menoleh ke Dr. Sandi.

“Apakah benar-benar aman?”

Dr. Sandi menarik napas. “Tidak ada kata aman, Bu. Yang ada—dikawal.”

Di sudut pelabuhan, sebuah van putih berhenti. Pintu geser terbuka sedikit. Letnan Benjamin menurunkan kaca helmnya, menatap layar tablet.

“Target masuk pelabuhan,” lapornya singkat.

Suara Jenderal Okto terdengar dari perangkat.

“Jangan gegabah. Ambil saat paling lemah.”

Benjamin tersenyum tipis.

“Di atas kapal, jalur sempit. Sempurna.”

Konvoi berhenti. Seorang petugas pelabuhan mendekat, melirik pelat diplomatik, lalu memberi isyarat cepat.

“Silakan langsung ke jalur khusus.”

Bima turun, berbicara singkat dengan petugas, lalu memberi kode.

“Masuk.”

Begitu kendaraan bergerak ke perut kapal, Bima merasakan sesuatu—sunyi yang terlalu rapi. Ia menoleh ke Agung.

“Hitung kepala. Sekarang.”

“Lengkap,” jawab Agung. “Tapi… ada tiga orang naik tanpa kendaraan. Jaket hujan hitam.”

Bima menyipitkan mata.

“Awasi.”

Di dalam Alphard, Laura memeluk tas kecilnya lebih erat.

“Kak… kenapa jantungku berdebar?”

Laura menelan ludah. “Karena kita masih hidup, Dik. Dan hidup itu selalu diuji.”

Kapal bergetar pelan—tali dilepas. Klakson panjang meraung. Pelabuhan menjauh.

Beberapa menit kemudian, seorang pria berjaket hitam berdiri terlalu dekat dengan Alphard. Ia berpura-pura menelepon, matanya sesekali melirik.

Dimas mendekat, suaranya dingin.

“Area ini terbatas.”

Pria itu tersenyum canggung. “Maaf, Bang. Saya—”

Tiba-tiba, pria kedua muncul dari belakang. Kilat pisau terlihat.

“Kontak!” teriak Eren.

Bima bergerak cepat.

“Lindungi sipil!”

Baku hantam meledak di perut kapal. Suara langkah, benturan besi, dan teriakan bercampur. Dimas menepis serangan, memutar pergelangan lawan, pisau terlepas. Agung menubruk pria ketiga, membantingnya ke lantai baja.

Benjamin muncul di tangga, senyum tipis di wajahnya.

“Serahkan gadis itu. Kalian akan hidup.”

Bima berdiri di depannya, napas teratur, mata tajam.

“Kau salah hitung.”

Benjamin mengangkat pistol berperedam.

“Sepuluh juta dolar—”

“—tak sebanding,” potong Bima, lalu menerjang.

Tiga detik. Pistol terlepas. Satu pukulan ke rahang. Benjamin terhuyung. Eren mengunci dari belakang. Agung memborgol.

“Permainan selesai,” kata Bima.

Benjamin tertawa kecil meski terengah.

“Kalian pikir ini akhir?”

Bima mendekat, berbisik.

“Bagi kamu—iya.”

Kapal bersandar di seberang. Fajar mulai menyingsing. Konvoi bergerak lagi—jalan panjang menuju perbatasan terakhir.

Di dalam mobil, Anisa memandang cahaya pagi.

“Kak… langitnya biru.”

Laura tersenyum, air mata menetes. “Iya. Biru.”

Dr. Hadijah menggenggam tangan Laura.

“Kau kuat.”

Laura menggeleng. “Kita kuat, Bu.”

Radio berderak. Suara Bima terdengar lebih ringan.

“Semua unit, target aman. Kita lanjut.”

Agung menimpali, setengah bercanda.

“Indonesia sudah rindu.”

Laura memejamkan mata, menghirup napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak lama, napas itu terasa utuh.

Di kejauhan, matahari naik—

menyapu luka dengan cahaya,

mengantar mereka menuju rumah,

tempat perjuangan akan berlanjut—

dengan harapan.

Kapal feri terus melaju membelah laut pagi. Deru mesin berpadu dengan debur ombak yang menghantam lambung. Di dalam, para penumpang mulai bergerak—ada yang ke kantin, ada yang menuju dek atas, ada pula yang mencari toilet setelah perjalanan panjang.

Laura bangkit dari kursinya, wajahnya pucat.

“Dok… aku mau ke toilet sebentar.”

Dr. Sandi langsung berdiri.

“Aku ikut sampai depan.”

Bima yang duduk tak jauh mengangkat kepala.

“Lima menit. Jangan lama.”

Laura mengangguk. Anisa hendak ikut, tapi Laura menggeleng lembut.

“Dik, tunggu di sini. Kakak sebentar.”

Mereka berjalan menyusuri lorong sempit feri. Lampu neon bergetar halus, bau laut bercampur desinfektan. Dr. Sandi berhenti tepat di depan toilet wanita.

“Aku tunggu di sini,” ucapnya tegas. “Jangan bicara dengan siapa pun.”

Laura masuk, mengunci pintu bilik. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri. Tangannya refleks menyentuh tas kecil di balik jaket—flashdisk itu masih ada.

Namun ia tak sendiri.

Dari balik cermin, dua bayangan bergerak.

Seorang wanita tinggi berambut pirang kecokelatan, mata biru tajam, berdiri bersandar di wastafel. Jaket kulit hitam membalut tubuh atletisnya. Di sampingnya, wanita lain berambut hitam bergelombang, senyum tipis di bibirnya—dingin dan terukur.

“Tenang saja, sayang,” ujar yang pirang dengan aksen Amerika kental.

“Nama saya Stella Laurent.”

Wanita berambut hitam melangkah setengah langkah.

“Dan aku Annabelle Stephani. Kami cuma mau bicara.”

Laura mundur setapak, jantungnya berdentum.

“Aku tidak mengenal kalian.”

Stella tertawa pelan.

“Oh, tapi kami mengenalmu. Laura Islamiyah. Flashdisk itu… kami membutuhkannya.”

Annabelle menutup pintu utama toilet, menggeser tanda occupied.

“Serahkan dengan baik-baik. Kami dibayar mahal untuk itu.”

Laura menggenggam tasnya.

“Tidak. Itu bukan milik kalian.”

Stella menghela napas, lalu wajahnya mengeras.

“Kalau begitu, kami ambil.”

Dalam satu gerakan cepat, Stella menerjang. Laura berteriak—namun teriakan itu teredam oleh deru mesin kapal.

PINTU TERBUKA KERAS!

“BERHENTI!”

Dr. Sandi sudah berdiri di ambang pintu. Matanya tajam, tubuhnya sigap.

“Langkah mundur. Sekarang.”

Annabelle tersenyum sinis.

“Dokter ya? Menyingkir saja.”

Ia menyerang lebih dulu—tendangan rendah mengarah ke lutut. Dr. Sandi menghindar, memutar tubuh, menepis dengan siku. Stella ikut masuk, memukul lurus ke wajah Dr. Sandi.

DUK!

Dr. Sandi menahan, mengunci pergelangan tangan Stella, memutar keras. Stella mengerang, namun Annabelle menghantam punggung Dr. Sandi dari samping.

Laura menjerit.

“Dok!”

“Laura, mundur!” teriak Dr. Sandi.

Pertarungan pecah di ruang sempit. Bunyi hantaman menggema. Dr. Sandi bergerak cepat dan presisi—bukan brutal, tapi efektif. Ia memanfaatkan dinding, sudut sempit, dan momentum lawan.

Stella mencoba mencabut pisau lipat dari balik jaket.

“Kau terlambat,” gumam Dr. Sandi.

Ia menendang pergelangan tangan Stella—pisau terlepas dan meluncur ke lantai. Dengan satu sapuan kaki, Dr. Sandi menjatuhkan Stella ke wastafel.

BRAKK!

Annabelle mencoba dari belakang, mencekik. Dr. Sandi menunduk, menarik Annabelle ke depan, lalu menghantamkan siku ke perutnya.

“Hngh—!”

Annabelle terhuyung. Dr. Sandi memutar, memukul titik saraf di lehernya dengan telapak tangan terbuka.

PLAK!

Annabelle roboh, tak sadarkan diri.

Stella bangkit dengan amarah.

“Kau akan menyesal!”

Ia menerjang lagi—namun Dr. Sandi melangkah masuk, memukul cepat ke rahang, lalu menyusul dengan hantaman telapak ke pelipis.

DUK!

Stella terjatuh, kepalanya menghantam lantai. Tubuhnya terkulai—pingsan.

Hening.

Laura gemetar, air mata mengalir.

“Dok… aku—”

Dr. Sandi langsung memeriksa Laura.

“Kau tidak apa-apa?”

Laura mengangguk, masih terisak.

“Flashdisknya… masih ada.”

Dr. Sandi menghela napas lega.

“Bagus. Sekarang dengarkan aku.”

Ia membuka radio kecil.

“Bima, ini Sandi. Dua ancaman di toilet wanita. Sudah dilumpuhkan.”

Suara Bima terdengar cepat dan dingin.

“Dimengerti. Kami menuju ke sana.”

Beberapa detik kemudian, Bima, Agung, dan Eren tiba. Mereka memandang dua wanita tak sadarkan diri itu.

Agung mengangkat alis.

“Kerja rapi, Dok.”

Bima menatap Dr. Sandi, lalu Laura.

“Kalian baik-baik saja?”

“Ya,” jawab Laura lirih.

Bima memberi instruksi singkat.

“Amankan mereka. Serahkan ke otoritas setempat saat sandar.”

Saat mereka berjalan pergi, Stella setengah sadar, matanya membuka sedikit. Ia menatap Laura dengan kebencian samar.

“Ini… belum… selesai…”

Dr. Sandi menutup pintu toilet di belakang mereka.

“Sudah selesai untuk hari ini.”

Laura menarik napas panjang, menggenggam tas kecilnya lebih erat.

“Kenapa mereka semua menginginkan ini…?”

Dr. Sandi menatap lurus ke depan.

“Karena satu flashdisk bisa menyelamatkan jutaan nyawa.”

Di luar, matahari semakin tinggi.

Kapal feri terus melaju—

membawa mereka mendekati tanah aman,

sementara bayang-bayang pemburu

perlahan ditinggalkan di belakang

Benturan di Atas Laut

Kapal feri terus melaju, ombak menghantam lambung dengan ritme berat. Di dek bawah, dekat ruang kargo yang dijadikan area sementara penahanan, Stella Laurent dan Annabelle Stephani terikat dengan borgol plastik, duduk bersandar pada dinding baja. Wajah mereka pucat, napas belum sepenuhnya teratur.

Sertu Bima berdiri beberapa langkah di depan mereka, tangan menyilang di dada.

“Duduk tenang. Begitu sandar, kalian kami serahkan ke otoritas.”

Stella mendengus lirih.

“Kau pikir ini berakhir di sini?”

Agung yang berjaga di sisi pintu menyahut dingin.

“Diam.”

Namun di lorong atas, langkah-langkah berat mendekat. Langkah yang tidak tergesa, tapi penuh keyakinan.

Seorang pria bertubuh besar—bahu selebar pintu, lengan seperti batang besi—muncul dari balik tikungan. Jenggot tebal, kepala plontos, jaket kanvas menegang menutup dada bidangnya. Matanya hijau kelam, dingin.

Ia berhenti, menatap situasi dengan senyum tipis.

“Stella… Annabelle. Kalian bikin repot.”

Stella mengangkat wajah, matanya menyala.

“Simon.”

Simon McGregor.

Nama itu seperti dentuman di ruang sempit.

Bima melangkah maju setengah langkah.

“Berhenti di situ. Area terbatas.”

Simon mengangkat tangan, pura-pura damai.

“Santai, Sersan. Aku cuma mau menjemput temanku.”

Agung menyentuh radio.

“Bima—”

Terlambat.

Simon bergerak secepat badai. Satu langkah panjang—

BRAKK!

Pukulan palu menghantam dada Agung, membuatnya terpental menghantam dinding. Borgol plastik Stella ditarik paksa—KREK!—putus. Annabelle ikut bebas dalam hitungan detik.

“Sekarang!” teriak Simon.

Bima menerjang.

“Kontak! Lindungi sipil!”

Tinju Bima meluncur, tepat—namun Simon menahan dengan lengan seperti baja. Balasan datang keras, membuat Bima terhuyung.

“Berat juga kau,” gumam Simon.

Bima menggertakkan gigi.

“Belum coba yang ini.”

Ia berputar, tendangan rendah menyapu. Simon hanya bergeser setengah langkah, lalu menyodokkan bahu—

DUK!

Bima terdorong mundur, napas terpotong.

Di sisi lain, Annabelle menyerang Eren dengan serangan cepat, sementara Stella mengambil pisau lipat dari saku jaket yang disembunyikan sebelumnya.

Dr. Sandi, yang baru tiba setelah mendengar keributan, langsung bersuara keras.

“Laura! Mundur! Tetap di belakang!”

Laura menarik Anisa menjauh, jantungnya berdegup liar.

Bima mencoba bangkit. Simon sudah di depannya—bayangan besar menutup cahaya.

“Kau berani,” kata Simon dingin.

“Dan kau terlalu percaya diri,” balas Bima, meski napasnya berat.

Simon menghantam lagi—

Bima menangkis, tapi kekuatan itu membuat lengannya mati rasa.

Agung bangkit dengan susah payah.

“Sertu… dia terlalu kuat!”

Simon tertawa pendek.

“Akhirnya ada yang jujur.”

Ia meraih Bima, mengangkatnya setengah—

“BIMA!” teriak Dr. Sandi.

Dalam sepersekian detik, Dr. Sandi bergerak. Ia tak mengejar kekuatan—ia mengejar titik.

“Sekarang!” teriaknya.

Bima mengerti. Ia mengendurkan tubuhnya, membiarkan Simon percaya diri. Saat Simon bersiap menghantam, Bima menggeser berat badan—menciptakan celah.

Dr. Sandi masuk dari samping.

Siku ke tulang rusuk—PLAK!

Telapak ke titik saraf leher—TAK!

Simon menggeram, tapi belum jatuh.

“Bagus,” katanya, setengah kagum.

Ia berbalik—

Bima sudah siap.

Tendangan lutut ke paha dalam—DUK!

Dr. Sandi menyusul, pukulan lurus ke rahang—BRAKK!

Simon terhuyung. Matanya liar. Ia mencoba bertahan—

Bima dan Dr. Sandi bergerak bersamaan.

“Sekali lagi!” seru Bima.

Siku—paha—rahang—

KOMBINASI SEMPURNA.

Tubuh besar itu akhirnya roboh, menghantam lantai baja dengan suara berat.

Hening.

Simon McGregor terbaring tak bergerak—pingsan.

Annabelle melihat itu, rautnya berubah.

“Simon—!”

Stella mundur setapak, napas memburu.

“Kita pergi!”

Namun Eren sudah di sana.

“Tidak ke mana-mana.”

Dalam hitungan detik, Annabelle dan Stella kembali diborgol. Simon diikat dengan sabuk pengaman kargo, napasnya berat tapi stabil.

Bima menyeka keringat, menatap Dr. Sandi.

“Kita cocok.”

Dr. Sandi tersenyum tipis.

“Kau umpan yang bagus.”

Bima tertawa pendek, lalu menoleh ke Laura.

“Kalian aman?”

Laura mengangguk, suaranya bergetar tapi tegas.

“Terima kasih… berdua.”

Bima menghela napas panjang, menatap laut di balik jendela kecil.

“Perjalanan belum selesai.”

Di luar, ombak terus bergulung.

Di dalam, tekad mengeras.

Kapal feri melaju—

meninggalkan kekacauan di belakang,

membawa harapan ke depan,

sementara para pemburu

satu per satu tumbang

oleh mereka yang bertarung

bukan demi bayaran—

melainkan demi kemanusiaan.

Sesudah Benturan, Sebelum Fajar

Kapal feri kembali tenggelam dalam dengung mesin yang berat. Namun ketenangan itu palsu—seperti napas yang ditahan terlalu lama. Di dek bawah, Simon McGregor terikat kuat pada rangka kargo, dadanya naik turun pelan. Stella dan Annabelle duduk terpisah, kepala tertunduk, borgol plastik menjerat pergelangan mereka.

Sertu Bima berdiri dengan tangan di pinggang, menatap ketiganya bergantian.

“Siapa pun yang coba bergerak lagi,” ucapnya datar, “akan diturunkan di tengah laut.”

Stella mendengus, darah tipis di sudut bibirnya.

“Kau tentara yang keras kepala.”

Bima menatap tanpa emosi. “Dan kau pemburu yang salah target.”

Dr. Sandi menyimpan radio ke saku, lalu menoleh ke Laura yang berdiri di balik Eren.

“Semua sudah terkendali. Duduklah.”

Laura menurut, menarik Anisa ke sisinya.

“Kak… mereka akan kembali?” bisik Anisa.

Laura menatap mata adiknya, berusaha tersenyum.

“Selama kita bersama, tidak.”

Agung memeriksa ikatan Simon, memastikan tak ada celah.

“Orang ini bukan kaleng-kaleng, Sertu. Kalau sadar—”

“—dia tidak akan sadar,” potong Bima. “Setidaknya sampai kita sandar.”

Di kejauhan, suara langkah cepat mendekat. Seorang petugas feri muncul, wajahnya pucat.

“Ada laporan keributan di dek bawah. Semua aman?”

Bima mengangguk singkat.

“Aman. Ini urusan keamanan. Kapten perlu diberi tahu—kami minta area ini ditutup.”

Petugas itu menelan ludah.

“Baik, Pak.”

Beberapa menit berlalu. Lampu-lampu bergoyang lembut mengikuti ombak. Dr. Sandi berdiri di sisi Laura, suaranya direndahkan.

“Kau lihat?”

“Apa, Dok?”

“Bukan hanya satu organisasi yang mengejar. Ini jaringan. Mereka akan mencoba lagi.”

Laura mengangguk pelan.

“Aku tidak takut mati,” katanya lirih. “Aku takut gagal.”

Dr. Sandi menatapnya lama.

“Keberanian bukan tidak takut. Keberanian itu—tetap berjalan.”

Bima mendekat, nada suaranya berubah lebih lembut.

“Kita hampir sandar. Setelah itu, rute darat sudah siap. Tapi aku perlu jujur—tekanan akan meningkat.”

Laura berdiri, menatap Bima.

“Apa pun yang terjadi… jangan biarkan flashdisk ini jatuh.”

Bima mengangguk tegas. “Dengan nyawa kami.”

Simon mengerang. Matanya terbuka setengah.

“Stella…” gumamnya.

Stella mengangkat kepala.

“Diam,” desis Annabelle.

Simon mencoba tersenyum, lalu tertawa kecil yang berubah menjadi batuk.

“Kalian kalah hari ini.”

Bima mendekat, berjongkok.

“Hari ini cukup.”

Simon menatapnya, mata menyala samar.

“Kalian pikir negara akan selalu melindungi?”

Dr. Sandi menimpali dari belakang.

“Negara mungkin punya batas. Tapi nurani—tidak.”

Simon menutup mata lagi, kelelahan menenggelamkannya.

Kapal feri memperlambat laju. Klakson panjang terdengar—pertanda sandar. Pintu dek mulai terbuka, udara pagi masuk bersama cahaya keemasan. Pelabuhan tampak di depan.

Bima berbicara cepat ke radio.

“Unit siap. Kita turun berurutan. Sipil dulu.”

Agung dan Eren membentuk perisai. Laura melangkah, Anisa di sampingnya. Dr. Hadijah menyusul, wajahnya tegar.

Saat kaki Laura menyentuh darat, ia berhenti sejenak. Menghirup napas.

“Kita masih hidup,” bisiknya.

Bima berdiri di belakangnya.

“Dan itu baru awal.”

Di belakang, Stella menatap punggung Laura, sorot matanya gelap.

“Ini belum selesai,” katanya lirih—lebih seperti janji pada dirinya sendiri.

Annabelle memalingkan wajah.

“Kita salah perhitungan.”

Konvoi bergerak lagi—jalan darat menunggu. Matahari naik perlahan, memantul di kap mobil. Laut tertinggal di belakang, membawa serta kegagalan para pemburu.

Di dalam kendaraan, Anisa bersandar dan tersenyum kecil.

“Kak… aku mau lihat Indonesia.”

Laura mengusap rambutnya.

“Akan kau lihat. Dan kau akan tumbuh di sana.”

Dr. Sandi memejamkan mata sesaat, lalu membuka—tegap kembali.

“Bima,” katanya, “kalau mereka datang lagi—”

“—kita sambut,” jawab Bima singkat.

Mobil melaju, menelan jarak.

Di belakang mereka: kekacauan yang ditinggalkan.

Di depan: tanah aman yang belum sepenuhnya ramah.

Namun satu hal pasti—

selama mereka berdiri berdampingan,

tak ada harga yang cukup

untuk membeli

kemanusiaan.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!