Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 27
Karina duduk termenung di teras rumah Ava sendirian. Ia memikirkan nasibnya yang selalu di rundung masalah. Karina mulai merasakan kalau dirinya hanya menjadi beban hidup orang lain.
Jangankan bekerja, untuk mengurus dirinya sendiripun, Karina harus di bantu Ibunya. Berkali kali Anna mendesah kecewa, mengusap wajahnya pelan.
"Ya Rabb, aku harus kuat. Aku pasti bisa melewati ini semua," gumam Karina pelan.
Karina terdiam cukup lama, ia mulai merasakan kebosanan sepanjang hari hanya diam duduk di kursi menunggu Widia dan Ava pulang bekerja. Karina memutuskan untuk jalan jalan sekitar perumahan untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Perlahan ia berdiri, tangannya meraba keberadaan tongkatnya di atas meja. Lalu ia mulai melangkahkan kakinya perlahan turun dari teras rumah menuju pintu gerbang.
"Mm, aku harus kemana ya?" tanya Karina menoleh ke samping kiri meski pandangannya gelap, jika tidak menggunakan tongkat siapa sangka wanita cantik itu buta.
Karina memutar tubuhnya ke kiri, kembali melangkahkan kakinya. Tanpa terasa ia sudah di ujung jalan perumahan. Jika saja kepalanya tidak membentur dada seorang pria. Mungkin ia akan terus berjalan tanpa tahu arahnya
"DUKK!!"
Dengan reflek tangan Karina mencengkram baju pria tersebut supaya tidak terjatuh karena benturan keras. Tongkatnya terjatuh ke jalan.
"Maaf, aku tidak sengaja."
Karina mundur selangkah, menarik tangannya kembali. Lalu jongkok tangannya meraba keberadaan tongkatnya yang terjatuh. Pria itu yang tak lain Alexis hanya diam memperhatikan, awalnya ia ingin marah. Namun ketika ia melihat kalau Karina buta. Ia tidak jadi marah, lalu ikut jongkok mengambilkan tongkat Karina.
"Ini tongkatmu."
Karina mengambil tongkat dari tangan Alexis, tersenyum lalu berdiri di ikuti pria itu.
"Terima kasih mas, sekali lagi maaf."
Alexis hanya diam, memperhatikan wajah Karina dengan seksama. Ia teringat foto yang di ambilnya dari ponsel Widia.
"Namamu Karina?" tanya Alexis.
"Ya benar mas, kok tahu namaku? mas siapa?" tanya Karina balik.
"Putrinya Widia?" Alexis kembali melontarkan pertanyaan.
"Ya betul, mas siapa ya? dari tadi tidak menjawab pertanyaanku?"
"Aku-?"
"Karina!!"
Karina langsung menegang saat terdengar suara yang sangat familiar ia dengar.
"Mas Pram?"
Karina langsung balik badan dan berjalan dengan tergesa gesa. Alexis menoleh ke arah Pramudya yang mengejar Karina. Selama ini ia mencari keberadaan Karina di rumahnya yang terbakar.
"Karina tunggu!"
Pramudya langsung menarik tangan Karina dengan paksa. Karina sendiri menepis tangan Pramudya lalu mengayunkan tongkatnya ke tubuh Pramudya tak tentu arah.
"Pergi kau! aku tidak sudi lagi bertemu denganmu!" pekik Karina terus memukul.
"Karina! aku belum menceraikanmu. Kau masih istriku!"
"Tidak! lepaskan aku!" jerit Karina terus memberontak saat Pramudya menarik paksa tangan Karina.
"Lepaskan dia, bodoh!"
Pramudya menoleh ke arah pria tinggi besar, hingga ia harus sedikit mendongakkan kepala menatap wajah Alexis.
"Dasar bule, berani sekali kau ikut campur!" bentak Pramudya.
"Lepaskan wanita itu."
Alexis menarik kerah baju Pramudya lalu mendorong bahunya supaya menjauh dari Karina.
"Berani sekali kau ikut campur!" Pramudya maju melayangkan tinju ke perut Alexis. Namun pria itu tidak bergeming sama sekali.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, dan tinggalkan wanita itu sendirian."
Alexis menarik kerah baju Pramudya dan menghempaskannya hingga terjatuh ke jalan aspal.
"Kurang ajar!" Pramudya bangkit lagi hendak memukul Alexis. Namun pria itu enggan meladeni Pramudya. Ia memanggil dua anak buahnya yang sedari diam memperhatikan menunggu perintah Alexis.
"Singkirkan pria itu, dan bawa ke kantor polisi!"
"Baik Tuan!" sahut mereka serempak.
"Hei, kalian mau apa!" teriak Pramudya saat dua pria itu mencengkram kedua lengan Pramudya dan membawanha pergi.
"Terima kasih mas." Karina melipat kedua tangannya, padahal Alexis berada jauh dari hadapannya mengambilkan tongkat Karina yang terjatuh.
"Ambil tongkatmu dan di mana kau tinggal?" tanyanya sembari memberikan tongkat pada Karina.
"Di sana!" tunjuk Karina ke arah belakang.
Tanpa banyak bicara, atau izin Karina. Pria itu langsung menggendong Karina.
"A, appa yang kau lakukan!" ucap Karina terkejut saat merasakan tubuhnya terangkat ke atas dan sudah berada dalam gendongan Alexis.
"Diam, biar kuantarkan kau ke rumahmu biar cepat sampai, sekarang katakan. Nomer berapa rumahmu?" tanya Alexis terus menatap wajah Karina.
Sesaat Karina terdiam, kemudian ia teringat saat Ava mengatakan kalau nomer rumahnya B25.
"B25, mas!" sahut Karina, tangannya mencengkram kerah baju Alexis.
Sesampainya di halaman rumah, Alexis menurunkan tubuh Karina.
"Terima kasih."
"Hmm," hanya itu jawaban Alexis, kemudian pria itu kembali setelah memastikan Karina aman.
Karina hanya diam, mendengarkan suara langkah Alexis meninggalkannya. Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah, mengunci pintu rapat rapat.
***
moga tidak ya klu iya gk semangat lagi baca nya