Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Kiandra lagi santai di rumah, selonjoran di sofa sambil nonton TV. Begitu pulang dari ketemu mamanya, kepalanya malah penuh rencana. Bukan soal kerjaan, tapi soal gimana caranya menyingkirkan wanita itu dari hidup Adam. Dia nggak bisa tinggal diam, terlalu banyak yang harus dibereskan.
Sambil senyum miring, Kiandra mengomel sendirian.
“Lebih baik aku bilang ke mama Ina aja. Biar wanita itu dilabrak langsung sama mamanya Adam,” gumamnya, diselingi tawa kecil yang terdengar sinis.
Sebenarnya Kiandra punya banyak cara lain buat menjatuhkan Nayla. Masalah rumah, hadiah, dan segala fasilitas yang dulu Adam berikan ke wanita itu, biar itu menjadi urusan ibu mertuanya. Kiandra males ribut perkara harta, menurutnya tidak sebanding sama energi yang harus dia keluarin.
Tanpa berpikir lama, Kiandra meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jemarinya lincah mencari nama ibu mertuanya, lalu menekan tombol panggil.
Beberapa detik kemudian, sambungan telepon tersambung.
“Iya halo, Kian. Ada apa?” suara Ina terdengar dari seberang sana.
“Ma, aku mau ngasih tahu sesuatu. Tadi wanita itu datang ke kantor Adam. Dia masih berusaha merayu Adam lagi.” kata Kiandra dengan nada dibuat setenang mungkin.
Di seberang, Ina mendengus kesal. “Huh, nggak tahu diri banget. Besok mama datengin rumahnya.”
Kiandra tersenyum puas. “Iya, Ma.”
Telepon pun ditutup. Kiandra menyandarkan punggungnya lagi ke sofa, menatap layar televisi tanpa benar-benar memperhatikan. Di sudut bibirnya, senyum tipis mengembang. Dalam hatinya, dia yakin, satu per satu langkahnya bakal bikin wanita itu tidak punya tempat lagi di hidup suaminya.
Waktu rasanya jalan cepet banget. Tidak kerasa, sore pun datang. Jam dinding baru menunjukkan angka lima ketika pintu rumah terbuka lebar. Adam pulang, dan itu membuat Kiandra langsung menoleh. Ini pertama kalinya Adam pulang sore sejak mereka menikah. Biasanya? Jangan ditanya. Pulangnya selalu malam, bahkan sering kebablasan.
“Selamat sore, sayang,” sapa Adam santai sambil melangkah masuk. Dia langsung mengecup kening istrinya, seperti tidak ada yang aneh.
Kiandra malah bengong. Alisnya langsung berkerut, matanya menatap Adam dari ujung kepala sampai kaki.
“Kamu kenapa pulang sore gini? Ada yang ketinggalan atau gimana?” tanyanya. Di kepalanya, hanya berpikir Adam pulang hanya untuk mengambil dokumen atau barang penting.
Adam berdecak pelan, keliatan sedikit kesal.
“Aku pulang ya pulang. Bukan balik buat ngambil dokumen,” ucapnya.
Kiandra cuma manggut-manggut. Wajahnya datar, tapi di dalam hati dia tersenyum lebar. Ada rasa hangat yang tidak bisa dia bohongi. Pelan-pelan, Adam mulai berubah. Dan itu membuat perasaannya lega. Ia berharap suaminya akan seperti ini terus, tidak hanya seakrang aja saat ada masalah.
Adam lalu menatap istrinya dengan ekspresi capek tapi manja.
“Sayang, tolong buatkan aku makan. Aku lapar,” pintanya, nadanya dibuat memelas.
Kiandra melirik sekilas, pasang wajah jutek.
“Emangnya kamu belum makan?” tanyanya.
Adam langsung geleng kepala.
“Aku dari pagi belum makan,” jawabnya jujur. Dia tidak bilang kalau seharian ini pikirannya penuh dengan istrinya, sampai membuat dia tidak selera makan sama sekali.
Kiandra terdiam sebentar, lalu bangkit dari sofa, dan melangkah ke dapur. Kiandra mulai membuat makanan untuk suaminya. Meski mulutnya tidak bilang apa-apa, langkahnya yang ringan udah cukup nunjukin kalau hatinya lagi senang.
Tak lama kemudian Adam menyusul ke dapur. Aroma tumisan masih mengepul, suara minyak beradu dengan wajan memenuhi ruangan. Kiandra berdiri membelakangi Adam, fokus mengaduk masakan seolah dunia di sekitarnya tak ada apa-apanya.
Adam mendekat pelan, lalu tanpa banyak kata langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. Lengannya melingkar di pinggang Kiandra, dagunya ia taruh di bahu sang istri, mencari kehangatan yang belakangan terasa makin jauh.
“Duduklah, jangan ganggu aku. Aku lagi masak,” ucap Kiandra dingin, bahkan tak menoleh sedikit pun. Tangannya tetap sibuk, gerakannya tegas, seolah sedang melampiaskan sesuatu.
Adam sama sekali tak peduli. Pelukannya justru makin mengerat, seakan takut Kiandra akan menjauh kalau dilepas. “Sayang, tadi Nayla nemuin aku di kantor.” ucapnya lembut, suaranya nyaris berbisik.
Tangan Kiandra sempat berhenti sesaat, tapi hanya sepersekian detik. Setelah itu dia kembali mengaduk masakan, ekspresinya datar. Adam menarik napas, lalu melanjutkan dengan cepat, seolah takut ucapannya dipotong.
“Tapi aku udah ngusir dia kok. Aku nggak ngapa-ngapain sama dia, sumpah. Aku cuma pengin kamu tahu, biar nggak ada rahasia lagi"
Kiandra hanya mengeluarkan suara pendek. “Eum.” Nada suaranya malas, hambar, sama sekali tak mencerminkan rasa ingin tahu atau cemburu. Justru itu yang membuat dada Adam terasa makin sesak.
Adam mengernyit. Dia menurunkan kepalanya sedikit, mencoba menangkap wajah istrinya dari samping. “Sayang, jangan marah gitu dong, aku janji ingin memperbaiki semuanya"
Kiandra akhirnya mematikan kompor. Dia melepaskan diri dari pelukan Adam, lalu berbalik menatap suaminya. Tatapannya tenang, terlalu tenang, sampai membuat Adam gelisah.
“Aku nggak marah, tapi aku butuh waktu untuk memaafkan semuanya" ucap Kiandra.
Jawaban itu justru terasa lebih menyakitkan daripada amarah. Adam terdiam, menatap wajah istrinya yang kini terlihat lelah, bukan marah, bukan cemburu, tapi kosong. Seolah semua penjelasannya sudah tak lagi punya arti besar.
Adam ingin bicara lagi, ingin menjelaskan lebih panjang, ingin meyakinkan kalau dia benar-benar berubah. Tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Dapur itu mendadak terasa sempit, penuh dengan jarak yang tak kasat mata, jarak yang dulu tak pernah ada di antara mereka.
Siang itu suasana dapur terasa agak berat, bukan karena bau masakan, tapi karena banyak hal yang masih menggantung di antara mereka.
“Aku bakal ngasih waktu buat kamu,” ucap Adam akhirnya, suaranya pelan tapi terdengar tulus.
Adam paham betul posisi Kiandra sekarang. Luka karena pengkhianatan bukan luka kecil yang bisa sembuh cuma dengan kata maaf. Dia sendiri sadar, apa yang dia lakukan bukan hal sepele. Memaafkan itu butuh proses, dan dia nggak mau lagi maksa istrinya buat cepat-cepat baik-baik aja.
Kiandra nggak menjawab. Tangannya masih sibuk mengaduk masakan sampai akhirnya kompor dimatikan. Setelah dirasa cukup, dia mengambil piring, menata makanan dengan rapi, lalu menyodorkannya ke Adam.
“Makan, selagi masih anget,” ucap Kiandra singkat, tanpa menatap wajah suaminya.
Adam menerima piring itu, menatap Kiandra sebentar sebelum tersenyum tipis. “Makasih,” katanya. Lalu setelah duduk, dia menoleh lagi. “Sayang, temenin aku makan ya.”
Kiandra menarik napas panjang, dadanya terasa sesak entah kenapa. Ada rasa capek yang nggak kelihatan, capek hati. Tapi akhirnya dia mengangguk pelan.
Mereka berjalan ke meja makan bersama. Adam mulai menyuap makanannya, sementara Kiandra duduk di depannya, cuma memainkan sendok, belum benar-benar berniat makan. Sesekali Adam mencoba membuka obrolan ringan, tentang pekerjaan, tentang anak mereka, seolah pengkhianatan itu bisa diredam dengan percakapan biasa.
Hingga akhirnya Kiandra memecah suasana.
“Wanita itu masih jadi model di perusahaan mu?” tanyanya dingin, tanpa basa-basi.
Sendok Adam berhenti di udara. Dia menelan ludah, lalu meletakkan sendoknya pelan. Tatapannya beralih ke Kiandra, mencoba membaca perasaan istrinya yang jelas belum tenang.
“Nanti kalau sudah mendapatkan penggantinya, aku akan memberhentikan dia" jawab Adam jujur. “Untuk sekarang aku masih butuh dia buat promosi salah satu produk.”
Rahang Kiandra mengeras. Ada rasa panas menjalar di dadanya. Tanpa pikir panjang, dia menatap Adam tajam.
“Kalau begitu aku saja yang menggantikannya,” ucap Kiandra tegas.
Adam terdiam, menatap istrinya dengan wajah kaget. Keputusan itu terdengar tiba-tiba, tapi dari sorot mata Kiandra, Adam tahu, ini bukan cuma soal bisnis. Ini soal harga diri, soal luka, dan soal batas yang nggak mau lagi dilanggar.
Kebetulan Kiandra dulu juga pernah menjadi model, karena menikah dengan Adam akhirnya dia berhenti sesuai permintaan suaminya itu.
dijauhkan dari nayla dan nayla2 yg lain 😅😅😅
apapun niat nayla semoga gagal
atau haris bakal berubah jd mucikari??😅😅😅
atau cerita ini akan segera tamat??
maunya dia,, diatas segala-galanya dari kiandra
udah.. bikin gila aja kali ya 😅😅😅
kalo sesuai judul harusnya kiandra dan adam tetap bersama
tapi melihat aksi gilanya nayla dan adam yg tidak melakukan apapun (atau itu cara adam membiarkan istrinya membalut luka),, entahlah...
karena yg memulai adam,, harusnya adam juga yg menegaskan kalo nayla memang tidak berarti apa-apa baginya
btw membaca topik ini di bulan ramadhan itu sesuatu banget ya 😅😅😅