NovelToon NovelToon
Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duda
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naim Nurbanah

Kakak dan adik yang sudah yatim piatu, terpaksa harus menjual dirinya demi bertahan hidup di kota besar. Mereka rela menjadi wanita simpanan dari pria kaya demi tuntutan gaya hidup di kota besar. Ikuti cerita lengkapnya dalam novel berjudul

Demi Apapun Aku Lakukan, Om

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naim Nurbanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Lina menatap mata Marcos, suaranya bergetar saat berkata, "Marcos sayang, jangan bilang begitu. Bukannya aku tunanganmu? Sampai kapan pun, aku tetap tunangan kamu." Namun, Marcos membalas dengan nada dingin, bahunya sedikit membungkuk,

"Sejak kamu memutuskan pergi ke luar negeri demi kariermu, hubungan kita sudah selesai. Kamu bebas memilih jalan hidupmu. Sekarang pun tak akan berubah." Lina menghela napas berat, jemarinya bermain-gelisah di ujung bajunya.

"Maafkan aku, Marcos. Dulu aku benar-benar belum mengerti perasaanku. Baru setelah jauh darimu aku sadar, aku tak bisa jauh darimu," suaranya hampir tertahan, berharap ada pengampunan.

Marcos menenggak minuman di gelasnya, wajahnya menutup rapat. Sebelumnya, ia sudah menghubungi Wanda untuk menjemput karena ia tahu tak bisa menyetir dalam keadaan mabuk itu. Dia diam sejenak, tatapannya sayup menatap ke luar jendela, seolah mencoba meredam kekacauan di hatinya.

Tuan Marcos menatap tajam ke arah Lina, dadanya bergemuruh menahan amarah.

“Jangan kira aku ini laki-laki bodoh yang bisa kamu bohongi, Lina! Kamu pergi dari aku waktu itu karena pria kaya itu, kan? Saat itu aku bukan Marcos yang sekarang!” Suaranya bergetar, tangan terkepal di samping tubuh.

“Sekarang aku sudah sukses, kaya raya, menang tender milyaran. Dan kamu datang lagi, mencoba merayuku?” Lina menyunggingkan senyum dingin, mencoba merangkul lengan Marcos, tapi pria itu cepat menepis dengan kasar.

“Pergi! Jangan coba-coba manfaatin putriku untuk tujuan licik mu!”

Marcos melotot, nafasnya memburu. Wajah Lina mengerut penuh perhitungan. Saat Marcos memandang jauh ke gelas minumannya yang hampir kosong, diam-diam Lina menyelipkan sebuah butir obat ke dalamnya. Dia tetap bertahan, tak mau pergi meski Marcos mulai limbung oleh pengaruh minuman keras.

Ketika obat itu mulai bereaksi, mata Marcos memanas dan tubuhnya melemah. Lina segera meraih lengannya, bersiap memapah. Tapi langkah mereka terhenti ketika sosok Wanda muncul dari balik pintu, menatap mereka dengan mata penuh curiga.

Wanda menarik napas panjang, matanya tajam menatap pria yang semakin keras menahan Marcos.

"Lepaskan tuan Marcos! Dia sudah memerintahkan aku mengantarnya pulang," suaranya tegas, tapi ada getar lelah yang susah disembunyikan.

Pulang, baginya, bukan ke tempat yang sama sekali lain, melainkan ke rumah ini, tempatnya sekarang.

Pria itu mengernyit, napasnya memburu, jelas tak ingin rahasia tentang Marcos yang mabuk dan pulang bersama wanita lain sampai ke telinga putrinya.

Tiba-tiba, suara Lina meledak dari sisi lain, penuh kemarahan yang terbakar, "Tidak akan! Marcos tunanganku! Aku yang berhak membawanya pulang."

Wajahnya merah padam, jari-jarinya mengepal kencang.

Lina menatap Wanda dengan kebencian yang pekat, merasa terancam oleh kehadiran wanita itu. Dalam benaknya, Marcos sudah hampir berada dalam genggamannya dan ia siap memanfaatkan keadaan, membuat pria itu terjebak dalam janji sehidup semati.

"Wanita macam apa kamu, berani-beraninya merebut Marcos ku?" suara Lina bergetar, campur antara takut kehilangan dan amarah membara.

Udara di antara mereka tegang, seolah bentrokan dua dunia yang saling bertarung untuk hak atas satu nama..

Wanda menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar sebelum akhirnya menekan tombol panggil ke sekuriti. Suaranya terdengar tegang,

"Tolong, ada seseorang yang mau menculik suami saya."

Dalam sekejap, para sekuriti sigap merespons, percaya begitu Wanda menunjukkan rekaman panggilan terakhir dari Tuan Marcos yang memintanya menjemput. Lina hanya bisa terpaku, matanya membelalak menahan kecewa. Dalam sepi itu, hatinya remuk melihat Wanda berhasil membawa Tuan Marcos pergi bersamanya tanpa perlawanan.

*****

Wanda menyetir mobilnya dengan hati-hati, sesekali melirik ke arah Tuan Marcos yang duduk di belakangnya. Pria tua itu tampak limbung, matanya sayu, lidahnya tergagap tak karuan, seperti melantur dalam dunia sendiri yang penuh kabut. Sesekali napasnya tersengal, seolah menahan beban yang tak terlihat. Wanda menahan diri, mencoba menembus dinding kesedihan yang membungkus pria dewasa itu.

 “Dia sangat merindukan istrinya,” pikir Wanda, melihat tatapan kosong yang terkadang berubah menjadi semburat haru.

Suara Marcos yang berantakan seperti menggema luka lama yang tak kunjung sembuh. Desas-desus tentang Lina, yang katanya hampir jadi penggantinya, terasa seperti bayangan samar yang tertelan jurang duka Marcos. Wanda menelan ludah, hatinya sesak.

 “Kalau memang begitu, bagaimana Lina bisa mengerti?” gumamnya pelan, merasakan simpati dan kebingungan mengaduk dalam dadanya.

Meski Marcos sering berkata hubungan itu selesai, bayangan Lina tetap menghantui, membuat segalanya menjadi rumit. Ia hanya bisa diam, memeluk rasa itu sembari melanjutkan perjalanan ke rumah baru sang pria.

Wanda menatap pria di depannya dengan mata yang bercampur haru dan bingung. Tubuh Tuan Marcos yang biasanya tegap dan penuh wibawa kini terkulai lemah dalam pelukannya.

 "Gimana nih, ya? Gue harus gimana, ya, di situasi begini?" gumamnya dalam hati, merasa dilematis antara membantu dan mengerti apa yang dirasakan Lina.

Dengan hati-hati, Wanda memapah Tuan Marcos masuk ke rumahnya. Setiap langkah terasa berat, tapi tekadnya lebih kuat. Sesampainya di ruang tengah, ia melepas perlahan tubuh pria itu dan membaringkannya di kursi panjang. Mata Wanda menangkap ekspresi Tuan Marcos yang berubah, ada kesakitan, harapan, bahkan permohonan dalam sorot matanya.

 "Merlin, jangan pergi!" suara serak Tuan Marcos memecah hening, kalimatnya terseret-seret penuh kepedihan.

Wanda terpaku sejenak, lalu buru-buru mendelik, hatinya bergetar melihat kerentanannya. Ia segera berbalik dan melangkah cepat ke dapur kecil, suaranya lirih,

"Aku buatkan minuman hangat, Om. Tunggu di sini, ya. Jangan bikin susah."

Di dapur, Wanda menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sambil menyiapkan minuman itu, berharap bisa membawa sedikit kelegaan untuk Tuan Marcos sekaligus menenangkan hatinya sendiri.

Pria itu terhuyung di kursi, bibirnya bergetar sambil terus meracau tanpa henti. Matanya yang merah padam tak lepas dari Wanda, seolah dia ingin memberikan semuanya untuknya meski tubuhnya terjebak dalam mabuk berat.

Di sekeliling mereka, perabot rumah tangga tertata rapi, alat-alat memasak berkilau seolah jadi saksi bisu perhatian pria itu pada rumah kecil ini. Wanda menatapnya, dadanya sesak oleh rasa terima kasih yang hangat karena pria itu benar-benar peduli padanya. Namun, tatapan pria itu tiba-tiba berubah muram, menenggelamkan hatinya ke dalam bayang almarhum istri yang dulu dicintainya. Wanda menarik napas dalam, tubuhnya mendadak kaku.

"Merlin… aku penasaran banget sama istri Tuan Marcos yang sudah meninggal itu," gumamnya pelan saat menuangkan minuman hangat ke cangkir.

 "Pasti dia cantik banget. Aku yakin, tipe wanita yang disukai Om Marcos nggak seperti Lina."

Suaranya melemah, dibungkus ragu dan cemburu tak terucapkan. Dari ruang tengah, terdengar suara napas berat pria itu yang masih terlelap, pakaiannya tetap rapi meski baunya menyengat alkohol.

"Merlin," bisik Tuan Marcos, suaranya serak tapi penuh rasa kehilangan.

Pria itu terlihat terbaring, mata setengah terpejam tapi napasnya tak teratur. Wanda melangkah pelan, membawa segelas minuman hangat dengan hati-hati. Ia membungkuk, menuntun tubuh tuan Marcos duduk perlahan di kursi. Namun saat ingin menyodorkan gelas, tangan pria itu malah menepis kasar. Wanda mengerutkan dahi, menatap wajah penuh kemarahan dan kelelahan tuan Marcos.

 "Ih, om Marcos mabok berat banget. Nyebelin sih," gumamnya kesal sambil menghela napas panjang, mencoba menahan jengkel tapi tetap sabar.

1
Celin Lin
lanjutkan Thor
Yuyun Yunita
terlalu bnyk kata kiasan... 🤔
Yuyun Yunita
knpby salsa selalu mendorong salwa untuk tidur dikamar ayahnya apakah salsa sengaja untk mengikat salwa dan ayahnya karena salsa tak pernah m3nyukai tunangan ayahnya
Sihna Tur
bagus. lanjutkan Thor
Ika Syarif
Luar biasa
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Momyyy ..
kau ini punya kekuatan super, yaaakk?!
keren, buku baru teroooss!!🤣💪
Xiao Li: beliau ini punya kuasa lima, sekali seeeetttt... langsung melesat. kagak kek kita yang lelet kek keong🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!