Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Langit menatap Mentari yang duduk lemah di atas ranjang, tatapannya tajam dan dingin.
“Kenapa kamu ada di sini?” ucapnya datar, tanpa sedikit pun empati.
“Lho, kalian sudah saling kenal?” tanya Ny.Mutia dengan nada terkejut.
“Mama ngapain ada di sini sama wanita itu?” Langit menoleh ke ibunya, sorot matanya masih penuh kecurigaan.
“Dia yang nolong Mama, Lang. Kalau nggak ada dia, mungkin Mama sekarang sudah tinggal nama,” ucap Ny. Mutia pelan, masih syok mengingat kejadian tadi.
Langit tertawa kecil,bukan karena lucu, tapi karena meremehkan.
“Dia yang nolong? Atau dia pura-pura nolong? Aku nggak percaya.”
“Lho, kok begitu? Benaran lho, dia nolong Mama,” Ny.Mutia mencoba meyakinkan.
Langit kembali terkekeh, kali ini lebih sinis.
“Mah, zaman sekarang susah cari orang jujur. Penampilan aja bisa nipu. Aku nggak mau Mama ketipu. Bisa jadi mobil itu disuruh sama dia buat nyelakain Mama.”
Ny.Mutia terkejut. Ia menatap wajah Mentari, berusaha mencari kebenaran.
Mentari hanya menunduk… pasrah.
Membela diri pun rasanya percuma. Tenaganya hampir habis.
“Masa sih, Lang?” suara Ny.Mutia mulai ragu, terpengaruh ucapan putranya.
“Coba Mama pikir. Habis ini dia bakal minta imbalan besar. Bilang Mama harus bayar biaya rumah sakit segala macam.”
“Iya juga…” Ny.Mutia menghela napas berat. “Kalau apa yang Langit bilang benar… kamu keterlaluan sekali, Nak.”
“Maaf, Tante… saya tidak seperti itu,” ucap Mentari lirih, nyaris tak terdengar.
“Sudahlah, Mah. Jangan pedulikan dia. Mama nggak apa-apa kan?” Langit memeriksa keadaan ibunya.
“Mama nggak apa-apa, Lang.”
“Ya sudah. Asistenku bakal antar Mama pulang. Aku masih harus ke ruangan Minara.”
Ny. Mutia mengangguk. Sebelum pergi, ia sempat menatap Mentari sebentar,tatapan campuran antara ragu dan iba. Lalu ia keluar.
Begitu pintu menutup, Langit kembali menatap Mentari…
Tatapan itu penuh dendam dan prasangka gelap.
“Kau mungkin bisa nipu ibuku,” ucapnya pelan, penuh tekanan, “tapi kau nggak akan pernah bisa nipu aku.”
Mentari akhirnya mengangkat wajah. Meski tubuhnya lemah, suaranya tetap tenang.
“Aku… tidak tahu salahku apa. Kalau memang aku pernah berbuat salah… tolong katakan.”
Hingga detik ini, ia tidak mengerti kenapa pria asing itu begitu membencinya,seolah ia telah melakukan dosa besar yang tak ia sadari.
Langit perlahan mendekati ranjang itu. Setiap langkahnya terdengar jelas terukur, dingin, mengancam. Mentari spontan merapatkan punggungnya ke sandaran, merasakan bulu kuduknya meremang.
“Kamu mau tahu salahmu apa?” ucap Langit pelan, tapi nadanya seperti pisau yang siap menusuk.
“Masih ingat peristiwa enam tahun lalu? Peristiwa… di mana seorang gadis tewas karena kecerobohanmu?”
Mentari membelalakkan mata. Nafasnya tercekat. Kata-kata itu menghantam seperti petir yang membelah langit.
Waktu seolah berhenti.
Lalu bergerak mundur ke enam tahun silam.
Kilatan ingatan itu muncul begitu jelas. Jeritan. Cahaya lampu. Tubuh seorang gadis yang tergeletak tak bernyawa tepat di hadapannya.
Akhirnya, vonis itu dijatuhkan. Ia ditetapkan sebagai tersangka dan harus mendekam di penjara selama lima tahun. Luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Kau ingat?” Langit kembali bersuara, kali ini lebih dekat. Ia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Mentari.
Mentari tak sanggup menatapnya. Air matanya jatuh tanpa suara, mengalir perlahan di pipinya. Ia tidak berani mengatakan apa pun. Kata-kata terasa terlalu berat untuk keluar dari bibirnya.
Sedikit demi sedikit, ia mulai mengerti.
Mungkin… memang karena itulah Langit sangat membencinya.
"Apa hubunganmu dengannya… sampai kamu begitu membenciku?”
Akhirnya itu kata-kata yang berhasil keluar dari mulut Mentari, meski suaranya bergetar ketakutan.
Langit menatapnya tajam, rahangnya mengeras. “Dia itu kekasihku,” jawabnya dengan suara pecah. “Wanita yang sangat aku cintai… dan dengan tega kamu membunuhnya!”
Nada suaranya mendadak naik, berubah menjadi teriakan penuh rasa sakit dan amarah.
“Kenapa?! Hah?! Kenapa kamu membunuh kekasihku?!!! KENAPA?!”
Semua kendali dalam dirinya seolah hilang. Dalam sekejap, tangan Langit terulur dan langsung mencengkeram leher Mentari. Cekikannya kuat,begitu kuat hingga wajahnya sendiri memerah karena tenaga yang ia keluarkan.
Mentari terbelalak, panik. Kedua tangannya meronta, mencoba melepaskan diri dari cekikan itu. Tenggorokannya perih, udara tak bisa masuk. Pandangannya mulai kabur. Jika ini terus berlanjut… ia bisa mati.
“Le…pas…” bisik Mentari, nyaris tanpa suara.
Detik berikutnya, pintu kamar terbuka keras.
Dua orang suster berlari masuk setelah mendengar keributan.
“Pak! Lepaskan! LEPASKAN!” teriak mereka.
Mereka berusaha menarik Langit menjauh, berjuang menahan tubuhnya yang sedang dikuasai amarah membabi buta. Cengkeraman itu akhirnya terlepas, membuat Mentari langsung terbatuk keras, memegangi lehernya yang memerah.
Para suster panik, satu menahan Langit yang masih hendak menerjang maju, sementara yang lain memeriksa keadaan Mentari.
Langit masih berusaha melawan, matanya basah antara marah dan hancur.
“Kamu harusnya mati! Harusnya KAMU yang mati, bukan dia!” teriaknya, memekakkan telinga.
Mentari hanya terisak pelan, tubuhnya gemetar.
Untuk pertama kalinya… ia benar-benar melihat kebencian yang ingin menghabisinya.
Pihak keamanan akhirnya datang dan langsung menarik Langit keluar dari ruang rawat itu. Mereka cukup kewalahan menahan tubuhnya yang besar dan kuat, apalagi dengan teriakan Langit yang terus memekakkan telinga.
“Pembunuh! Dia pembunuh! Jangan biarkan dia hidup!!”
Suara itu menggema di sepanjang koridor rumah sakit, membuat beberapa pengunjung menoleh dengan wajah ngeri. Mentari hanya bisa terdiam di ranjang, tubuhnya masih bergetar, sementara suster mencoba menenangkannya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" ucap perawat.
Mentari yang masih ketakutan hanya menggeleng lirih.
"Berbaringlah biar aku periksa keadaanmu."Ucap Perawat itu lagi dan wanita itu hanya menurut saja.meski tidak bisa di pungkiri ia amat ketakutan.
Beberapa jam kemudian…
Dengan langkah pelan dan berat, Langit berdiri di depan sebuah makam bernama Arsila Putri. Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan dan rumput di sekitar pemakaman itu. Di tangannya, ia membawa buket mawar putih,bunga kesukaan gadis itu. Gadis yang… seharusnya kini berusia dua puluh tujuh tahun.
Ia berlutut perlahan, meletakkan mawar-mawar itu di atas nisan marmer yang sudah mulai sedikit pudar warnanya.
“Sayang… aku datang,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan yang tertahan di dadanya.
Tangannya dengan lembut mengusap pahatan nama gadis itu. Kepedihan yang sudah bertahun-tahun ia pendam kembali mengalir menyeruak, seolah luka itu baru saja terjadi kemarin.
“Maafkan aku…” suaranya bergetar. “Andai saja dulu aku menjaga kamu dengan baik… mungkin sekarang kita masih bersama.”
Matanya memerah. Rahangnya menegang menahan isak.
“Aku sangat menyesal, Sila,” lanjutnya, suara itu penuh retakan dan sesal yang tidak pernah benar-benar hilang.
Di hadapan batu nisan itu, Langit bukan lagi pria dingin dan keras kepala yang dilihat orang.
Ia hanyalah seorang lelaki yang kehilangan cintanya… dan tidak tahu bagaimana caranya memaafkan dunia terutama seseorang yang ia anggap sebagai penyebabnya.
Bersambung...
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏