Awalnya, pernikahan itu baik-baik saja. Semua menjadi hangat, luka akibat masa lalu Ainayya Hikari Salvina sedikit demi sedikit mulai sembuh.
Tapi, pernikahan hangat itu tiba-tiba diterpa gelombang. Menghancurkan sebuah kepercayaan dan membuatnya meninggalkan rumah yang sudah mengajarkan arti sebuah keluarga harmonis.
Lalu, mampukah Albara Demian Dominic. Sang pelaku kehancuran tersebut memperbaiki rumah tangga yang sudah membuatnya sembuh dari kejadian di masa lalu? Bisakah Albara mengobati luka yang ia berikan pada istrinya?
Mari kita lihat bagaimana perjalanan Albara dalam mengejar cinta istrinya kembali!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa sitepu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawa (Revisi)
Keesokan paginya, Bara dan Nayya masih belum menunjukan tanda-tanda akan bangun. Membuat Albert tidak jadi mengetuk pintu, berfikir mungkin sang tuan muda serta istrinya sedang tertidur nyenyak.
Tepat ketika jam menunjukan pukul 8 pagi, Bara akhir bangun. Melihat wajah damai Nayya ketika tidur membuatnya merasa damai, bingung dengan perubahan yang tiba-tiba terjadi padanya.
"Hei, tukang tidur. Bangun, ini sudah pukul 8 pagi. Dan kita harus sarapan," ucap Bara berusaha membangunkan
istrinya.
Nayya yang merasa tidurnya terganggu langsung bangun, sedikit terkejut ketika tahu dirinya sedang tidur di pangkuan suaminya. Malu segera menghampirinya membuat Bara tersenyum tipis.
"Sebaiknya kau merenggang tubuh mu dan aku akan mandi lebih dulu."
"Biar Nayya siapkan air hangat untuk kakak." Nayya tidak ingin menjadi tidak tahu diri hanya karena Bara berbaik hati padanya.
"Tidak perlu, aku sedang ingin mandi air dingin. Jadi sekarang kau harus merenggang tubuh mu."
Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu jawaban dari Nayya. Bara meletakan istrinya di atas ranjang lalu turun dan berjalan menuju kamar mandi sambil membawa pakain serta handuknya.
Ditinggal pergi, membuat Nayya duduk termenung. Perubahan Bara yang menjadi sedikit ramah serta dekat
padanya membuat Nayya bingung.
"Bunda, apakah Nayya akan bahagia jika jatuh cinta dengan kak Bara," ucap Nayya pelan.Ia masih trauma dengan
hubungan seperti itu, takut jika nanti Bara akan memperlakukannya sebagaimana Leonal memperlakukannya. Di buang dan dimanfaatkan berperan besar sebagai dinding pembatas untuk Nayya jatuh cinta.
Ketika Nayya tengah sibuk dengan fikirannya. Bara akhirnya keluar dari kamar mandi, ia langsung meminta Nayya mandi agar mereka bisa sarapan. Pagi ini, ia berencana membawa Nayya ke kantor karena ada meeting pada pukul 10 siang.
"Kau harus segera mandi, agar bisa segera sarapan. Hari ini kita akan pergi ke kantor. Ada meeting yang tidak bisa di tinggalkan, dan aku juga tidak bisa meninggalkan mu di rumah."
Selain takut Nayya akan melakukan hal yang berbahaya. Bara juga terpaksa membawanya karena tidakingin merepotkan sang ibu yang sedang mengurus keponakan dari kakak laki-lakinya yang sakit.
"Tapi Nayya bisa tinggal di rumah. Dan Nayya berjanji akan menjadi baik, Kak."
"Aku sudah mengatakan bahwa kau harus ikut, maka hasil akhirnya kau akan tetap ikut. Jadi, sekarang pergilah mandi agar kita bisa segera sarapan. Jangan buat aku terlambat ke kantor."
Karena sudah tidak bisa menolak, Nayya akhirnya pasrah. Ia langsung mengambil satu set pakai tertutup beserta handuk lalu pergi ke kamar mandi, meninggalkan Bara yang sedang memakai dasinya.
Setelah 20 menit berlalu. Nayya akhirnya keluar, wajahnya kembali cerah. Pakaian yang ia gunakan membuatnya menggemaskan. Dan akhirnya, Bara terlihat seperti sedang membawa adik perempuan dari pada seorang istri. Tapi itu hal yang bagus untuk Bara karena ia tidak ingin nyawa Nayya terancam jika orang lain tahu bahwa dirinya sudah menikah.
"Kemarilah, aku akan menguncir rambut mu."
Belajar dari pengalaman menuncir rambut keponakan perempuan dari pihak kakak laki-lakinya, Bara mencoba melakukannya pada Nayya. Ia sangat gerah setiap kali wanita itu menggeraikan rambutnya.
Nayya menjadi cemas ketika mendengar permintaan suaminya, tapi tidak bisa menolak karena takut sang suami kecewa. Duduk dengan patuh dimeja rias. Nayya dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah serius Bara yang tengah menguncir rambutnya.
Terlihat sedikit kesal karena rambut Nayya lebih panjang dari rambut keponakannya.Beberapa kali, Bara bergumam kesal ketika hasil yang ia buat gagal. Nayya tertawa pelan, merasa kasihan karena sang suami selalu gagal dengan hasilnya.
"Bagaimana jika kita meminta Sara yang melakukannya," ucap Nayya.
"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri. Jangan membuat ku seperti pria buruk karena tidak bisa melakukan hal semacam ini." Naluri pria Bara tidak terima jika pekerjaannya di ambil oleh orang lain.
"Baiklah." Nayya memutuskan diam, percuma jika dia memberi saran. Jika sang suami bahkan tidak bisa
menerima kegagalannya.
Tangan Bara masih setia di rambut Nayya, hingga menit ke 10. Akhirnya, rambut itu terbentuk juga. Meskipun tidak serapi buatan seorang yang profesional, tapi rambut Nayya masih terlihat bagus. Membuat Bara bangga akan dirinya.
"Kalau begitu, ayo sekarang kita turun ke bawah dan sarapan."
Nayya menganggukan kepalanya, membiarkan Bara lebih dulu pergi. Sedangkan ia, menyempat diri mengabadikan rambut hasil kerja keras suaminya yang semakin membuat wajahnya menggemaskan.
Tersenyum puas ketika melihat hasil fotonya, ia tidak lupa membagikannya di akun media sosialnya yang bernama Instagram, aplikasi yang sengaja di siapkan oleh Bara untuk istrinya.
Bara yang sudah menyadap semua hal di ponsel Nayya tersengum geli ketika melihat foto istrinya dengan caption yang sangat lucu tapi membuat bangga atas keberhasilannya.
Albert dan para pelayan yang melihat senyum sang tuan muda di lagi hari menjadj terkejut. Bahkan mereka merasa itu hanya sebuah halusianasi, tapi keterkejutan itu semakin bertambah ketika melihat kehadiran nyonya muda mereka dengan penampilan yang tidak biasa.
"Selamat pagi semua," sapa Nayya dengan senyum andalannya. Senyum yang sempat hilang kini hadir kembali, di tambah penampilannya yang sangat jauh berbeda. Ia telibat seperti seorang gadis yang akan pergi kekampus dari pada ikut ke kantor dengan suaminya.
"Selamat pagi juga, Nyonya Nayya," sapa semua pelayan dengan ramah.
Bara yang melihat interaksi antara Nayya dan para pelayannya hanya diam, sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Namun hari ini sedikit berbeda karena PenampilanNayya yang baru.Sara yang melihat senyum hangat dan penampilan nyonya mudanya bahagia. Ia bahkan mulai menebak-nebak, alasan di balik senyum
tuan mudanya ketika melihat ponsel.
"Hari ini, Nayya akan ikut dengan ku. Dan Sara, kau tidak perlu ikut, tinggal saja di rumah tapi tetap siap jika sewaktu-waktu aku memanggil mu."
"Baik, Tuan Muda," ucap semua pelayan kompak.Sarapan akhirnya di mulai, seperti biasa. Sara melayani Nayya, mulai dari mengambil roti hingga susu. Sara melakukannya dengan benar.Setelah selesai sarapan, dengan tas besar yang berisi alat lukis Nayya serat beberapa cemilan di bawa oleh para pelayan pria ke mobil.
Mengikuti tuan dan nyonya muda mereka yang akan segera pergi ke kantor. Bara sengaja membawa alat lukis agar sang istri tidak merasa bosan ketika ia sedang bekerja, dan makanan riangan untuk pengganjal perut Nayya jika nanti ia mulai lapar karena lelah melukis.
Albert yang melihat perusabahan tuan mudanya tersenyum simpul. Pada akhirnya, semua hal yang ia inginkan satu persatu terwujud, sekarang tinggal bagaimana nyonya mudanya tidak tahu apa yang pernah terjadi di masa lalu.