NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebutuhan Kanara

Lampu kamar rawat sudah diredupkan. Hanya ada cahaya lampu tidur di atas ranjang dan bunyi bip pelan dari monitor jantung. 

Kanara tidur menghadap Nura, tangan kecilnya masih menggenggam erat jari wanita itu. Napasnya sudah tenang. Sejak sore tadi, Kanara memang tidak bicara lagi setelah mengucapkan empat kata pertamanya. 

Elang duduk di sudut ruangan, punggungnya sedikit membungkuk. Tangannya memegang botol air yang belum dibuka.

Beberapa jam berlalu dalam keheningan. Sampai akhirnya Elang melirik jam di dinding. Sudah pukul tujuh malam. 

Ia akhirnya berdiri dan menaruh botolnya di meja. “Aku keluar sebentar beli makanan. Kamu mau titip apa?” tanyanya, suaranya rendah dan serak. 

“Tidak usah repot-repot, Pak,” tolak Nura sopan tanpa mengalihkan pandangannya dari Kanara. 

Elang memasukkan tangan ke saku celana. Tatapannya menajam. “Kamu belum makan apa-apa sejak sore, Nura,” ujarnya singkat. Elang terdengar tegas namun sekilas ada nada khawatir di dalamnya. 

“Nanti saya beli sendiri saja, Pak,” balas Nura. Kali ini ia menoleh ke arah Elang. 

“Aku nggak mau nanti Kanara bangun, dan tidak menemukanmu di sini,” potong Elang telak. Tatapannya mengunci manik Nura. “Jadi, katakan saja, kamu mau makan apa?”

Jantung Nura berdesir hebat. Tatapan itu terasa terlalu intens. “Hmm… apa saja, Pak. Saya tidak pilih-pilih.”

Tidak lama kemudian, Elang kembali dengan beberapa kantong plastik besar di tangannya. 

“Kanara belum bangun?” tanya Elang sambil menata belanjaannya di atas meja. 

“Belum, Pak,” jawab Nura. 

“Berarti tidurnya nyenyak. Kamu bisa makan dulu,” ujar Elang sambil memberi isyarat ke arah sofa. 

Melihat Nura masih ragu, ia menambahkan dengan nada tegas yang tidak terbantahkan. “Ayo, Nura!”

Nura menyerah. Ia melangkah mendekat, namun sempat bimbang menentukan posisi duduk. Elang yang menyadari keraguan itu, segera bergeser ke ujung sofa, memberi ruang yang cukup luas bagi Nura di sebelahnya. 

Dalam jarak sedekat ini, di bawah cahaya lampu yang temaram, Nura tak kuasa menahan diri untuk tidak mengagumi profil samping pria itu. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan matanya cokelat pekat. 

Baru sekarang, Nura sadar jika ayah dari pasien istimewanya ini memang sangat tampan. Sore tadi, ia terlalu panik dengan kondisi Kanara untuk menyadari hal itu. 

“Pilih saja, aku nggak tahu kamu suka apa, jadi aku beli semuanya,” kata Elang memecah lamunan Elang. 

Nura kaget melihat isi plastik itu, ada bubur ayam, ketoprak, nasi goreng sampai nasi Padang. “Ini banyak banget, Pak.”

“Makan yang kamu mau,” balas Elang singkat. 

Nura mengambil nasi goreng, sementara Elang membuka bungkusan nasi Padang. Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok yang terdengar.

Malam makin larut, dan AC rumah sakit terasa makin dingin. Nura berkali-kali merapatkan kardigannya. Elang yang menyadari itu langsung berdiri, mengambil selimut tambahan dari lemari, dan menyampirkannya di bahu Nura. 

“Kamarnya dingin. Jangan sampai kamu ikutan sakit,” kata Elang. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. 

Nura cuma bisa mengangguk kaku. “Ingat, Nura! Profesional,” bisiknya dalam hatinya. 

“Euuuhh…,” Kanara meringis dalam tidurnya. 

Nura segera menggenggam tangan mungil itu. Dan, ditepuknya punggung Kanara dengan lembut. 

Kanara kembali tertidur dengan tenang. 

Elang terus melihat keduanya dengan tatapan tajam.

**********

Pagi harinya, cahaya matahari mulai masuk lewat celah gorden. Monitor masih berbunyi teratur. 

Elang terbangun dengan leher kaku karena tidur sambil duduk di sofa. Ia butuh waktu satu detik untuk mengingat di mana ia berada. Hal pertama yang dilihatnya adalah Kanara. Masih tidur.

Di sisi lain ruangan, Nura tengah menutup tirai sedikit agar cahaya yang menyilaukan tidak mengenai wajah Kanara. 

Tatapan Elang menangkap gerakan itu. Entah kenapa hatinya terasa hangat melihat Nura. 

Rambut Nura tergerai sederhana, wajahnya berbentuk hati dengan dagu yang sedikit runcing, kulitnya berwarna putih yang mudah memerah saat malu. Elang melihatnya beberapa kali tadi malam. 

Mata Nura berwarna coklat keemasan dengan bulu mata yang tidak terlalu panjang, hidungnya kecil dan lurus dengan ujung yang sedikit mancung. Lalu, tatapan Elang jatuh pada bibirnya. Bibir berwarna merah muda alami itu memiliki bentuk sempurna.

“Ehemm,” gumam Elang mendadak merasakan jantungnya berdegup kencang.

Nura menoleh ke arah suara. Untuk beberapa saat keduanya saling beradu pandang. 

“Kamu nggak tidur?” tanya Elang memecah kecanggungan. 

Nura menggeleng. “Aku tidur sebentar.”

“Nura… terima kasih,” ucap Elang pelan. “Terima kasih karena sudah mau tetap di sini, menemani Kanara dan… aku.”

Nura mengangguk. 

Keduanya saling menatap dan melemparkan senyum tipis. 

Kanara bergerak. Alisnya berkerut, napasnya berubah. Elang refleks berdiri, mendekat. Nura sudah berdiri di sisi ranjang, menundukkan tubuhnya dan meremas lembut telapak tangan Kanara.

“Selamat pagi, Kanara…,’’ sapanya pelan. 

Mata Kanara terbuka perlahan. Ia menatap langit-langit, lalu ke arah Nura. Ada kebingungan sebentar, tapi kemudian matanya membesar. 

Ia tidak menangis. 

Dari jarak yang cukup, Elang menahan napas.

Kanara menggeser tangannya yang satu lagi, seolah mencari sesuatu. Nura membiarkan. 

Elang menunggu, siap maju, siap mundur, tidak tahu harus berdiri di mana.  

Lalu Kanara menoleh, menatap Elang lama. Tangannya terulur seperti ingin menggapai. 

Elang merasa dadanya runtuh dan tersusun kembali sekaligus. Ia segera mengambil tangan yang menggapai itu, dan menciumnya. Ia menunduk agar Kanara bisa melihat wajahnya. 

“Iya, Sayang. Ayah di sini,” ujarnya dengan suara bergetar, menahan tangis.

Nura yang melihat itu langsung membuang muka dan menghapus air matanya. Ia lega karena Kanara mau mengikis jarak dengan ayahnya. 

Kanara tidak merespon apapun, tidak tersenyum, tidak menangis, hanya terus menatap. Bagi Elang, itu sudah lebih dari cukup. 

Perawat masuk membawa nampan sarapan. Melihat Kanara terjaga, ia tersenyum hangat. “Pagi, anak cantik.”

Kanara menegang sedikit. 

Nura menenangkan dengan satu kalimat sederhana, “Ibu perawat cuma mau kasih makanan buat Kanara. Habis itu keluar lagi.”

Kanara mengangguk kecil.

“Kita sarapan sekarang, ya?” ujar Nura sambil bergerak mengambil nampan makanan. “Kanara mau Kak Nura suapin?”

Kanara bergerak duduk dan membuka mulutnya lebar-lebar. 

Pagi itu, suasana terasa hangat di kamar rawat inap VVIP itu. Nura dengan telaten menyuapi Kanara, sedangkan Elang terus menggenggam tangan Kanara dan sesekali mengusap sisa makanan di sudut bibir putrinya. 

Menjelang siang, bu Maya datang. Langkahnya tenang, wajahnya profesional. Tapi sorot matanya langsung berubah ketika melihat wajah Kanara yang tertidur. 

Ia duduk di sofa, mengajak Elang dan Nura berbicara serius. 

Elang berdiri di samping ranjang, dan Nura di sisi lainnya. 

“Apa yang terjadi kemarin?” tanya Bu Maya pada keduanya.

Nura mendekat, lalu berbicara tentang kejadian yang menimpa Kanara. Sesekali, Elang menimpali. 

Cerita kronologis itu membuat bu Maya menarik napas dalam. 

“Apa yang terjadi di sekolah kemarin itu bukan kebetulan,” mulai Bu Maya. “Kanara mengalami acute stress response, dengan dissociative shutdown. Tubuhnya mendadak ‘mati rasa' karena rasa takut yang terlalu besar.”

Nura menunduk, tangannya saling menggenggam. Sedangkan, Elang hanya berdiri tapi rahangnya mengeras. 

Elang menelan ludah. “Apa… apa dia bisa seperti ini lagi?”

“Bisa,” jawab bu Maya jujur. “Dan karena itulah kita sekarang tidak bisa setengah-setengah.”

Ruangan hening.

“Kanara butuh orang yang dia percaya ada didekatnya terus menerus,” lanjutnya. “Selama satu bulan ini, Nura adalah orangnya.”

Elang menoleh pada Nura. Muncul rasa bersalah dalam hatinya. “Saya ayahnya,” katanya pelan. “Seharusnya saya yang–,”

“Tidak,” potong bu Maya lembut tapi tegas. “Ini bukan soal siapa yang gagal siapa yang berhasil. Ini soal apa yang dibutuhkan Kanara.”

Ia menatap Nura. “Dan, Nura saya tidak akan memintamu kalau tidak yakin.”

Nura mengangkat wajahnya. “Meminta apa, Bu?”

Bu Maya menghela napas pendek sebelum mengucapkannya. “Saya ingin kamu menjadi terapis intensif Kanara. Artinya, selama pemulihan ini, kamu harus tinggal di rumah Elang supaya bisa memantau Kanara 24 jam. 

Nura langsung terdiam. Elang juga tidak bersuara, ia menatap Nura, menunggu jawaban.

**********

Kanara Aulia Azzahra, usia 6 tahun

Elang Raka Wiratama, 36 tahun

Nura Safira Putriana, 24 tahun

1
Ayank~Oma
Jaga jarak, jaga hatimu Nura, manusia kayak gitu sulit untuk berubah. Jangan harap menjalani hubungan serius dengan Elang akan berjalan mulus tanpa kendala.
Ayank~Oma
Jadi curiga sama bapaknya sendiri. Jangan jangan Darmawan ingin menghancurkan anaknya sendiri 🤔
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
seneng bgt interaksi semakin membaik 🥺
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
pak, apakah ini sebuah kecemburuan? /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
duh bener2 hrs diperhatikan inimah, semoga tepat keputusan nura buat stay dirumah elang
PrettyDuck
elang ini mungkin tipe yang susah ngungkapin rasa sayang ya, makanya kanara susah deket sama dia 🥲
PrettyDuck
yaudah, ajak pacaran dulu minimal /Chuckle/
-Thiea-
Nura itu wanita istimewa mas. percayalah.🤭
-Thiea-
sekarang emang belum jadi siapa-siapa. tapi nanti siapa yang tahu🤭
Ramun🍓😈
siapa iblis itu. kok aku merasa itu ayahnya. Krena keknya mencurigakan cara bicaranya
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
memang tugasnya. tapi, setidaknya kamu bisa melihat. hanya Nura yang bisa membuat Kanara nyaman. eh /Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
saking sunyinya. bahkan elang merindukan kekacauan yang di buat oleh anaknya /Whimper/
Alessandro
wahhh..... wah...... babak baru, nih... bs berlanjut
Alessandro
org2 dg panic attack bgini.. bs hidup dg normal gasi?
kasian kl tiba2 histeris
Ramun🍓😈
Kita kan tidak bisa mencegah kemana hati kita akan berlayar Nura😩. positif thinking saja, smoga pak Elang juga menyukaimu
WDY
cie cie mulai tumbuh ni kayaknya benih benih cinta🤭🤭🤭
WDY
keluarga cemara 😄😄😄😄 dah lah jadiin terus Thor mereka
Meee
Hm. Kayaknya mereka emang harus jadi satu keluarga beneran, deh. Soalnya Kanara keknya bakal makin parah traumanya semisal dipisah dari Nura. Sedangkan untuk kerja terus-terusan kan gak mungkin juga. Mumpung sama-sama single, ya... yaudah. Marketing KUA berhasil tandanya 🤣
Meee
Mungkin karena itu aku gabisa jadi kek Nura. Soalnya sarannya Zoya terasa menggiurkan untuk dicoba 🤣
An_ Nas ywa
Hallo Author ... aku baru bergabung d platform ini krn mengikuti Author kesayanganku dr platform F. Yang akhirnya aku menemukan 1 cerita yg membuat aku tertarik utk baca. Tentang Nura, Elang & Kanara. Smp Akhir nya mulai baca Karya Author yg lain ...
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍
Nuri_cha: waaah, terima kasih banyak ya kak 🥺🙏
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!