NovelToon NovelToon
Status Janda, Rekening Miliaran

Status Janda, Rekening Miliaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yance 2631

Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melibatkan Polisi

Ibu Hemas dan Astrid tampak sedang menonton acara televisi, hampir semua channel tv menayangkan tentang acara penobatan pengusaha wanita terbaik nasional yang di siarkan secara Live..

Tanpa sengaja Astrid melihat Hanin yang ada di acara penghargaan tersebut,

"Hah, ini kayak si Hanin, eeh Hanin Kirana yang mana ya hmm.. mantan bini Adrian atau bukan ya?" gumam Astrid pada dirinya sendiri.

"Oh iya bener, itu si Hanin mandul sialan itu kok bisa ya jadi pengusaha wanita terbaik.. halaaah paling juga di belakangnya ada pria hidung belang atau simpenan dia kali, nggak heran perempuan jaman sekarang" ujar Astrid bicara sendiri.

"Tuh, bu lihat deh bedaknya aja tebal gitu nutupin mukanya yang jelek kampungan.. namanya juga orang udik hahaha.." ujar Astrid yang ucapannya asal itu.

"Penasaran ibu deh.. coba nanti ibu mau lihat wajah dia apa masih kampungan?" ujar ibu Hemas.

Tidak lama ponsel ibu Hemas berdering, ibunya Sita mengabarkan bahwa Adrian menolak menikahi Sita apa pun alasannya, ibu Hemas tampak geram dengan info tersebut.

"Bu Hemas, dengar ya .. mulai malam ini saya putuskan pertemanan kita, terima kasih!" ujar mamanya Sita. Bu Hemas pun terdiam, mematung.

Tampak ayah Adrian keluar kamar dan melihat juga acara televisi, "Loh itu seperti Hanin.. iya benar dia, luar biasa rejeki anak itu, makin cantik lagi, hebat!" ujar pak Wijaya.

Astrid dan bu Hemas menjadi sewot setelah mendengar pernyataan pak Wijaya,

"Ayah ngapain sih puji-puji segala perempuan mandul itu, dia kan cuma bekas menantu?" ujar Astrid. "Heh.. Astrid jaga omongan kamu, kamu nggak lebih baik dari dia, apa prestasi kamu?, kamu bisa apa? sama saja dengan ibu kamu kerjanya menindas orang lain.." ujar pak Wijaya kesal pada putrinya,

Astrid pun terdiam.

"Aku malu pak sama mamanya Sita, ini semua gara-gara Adrian, dasar anak durhaka!" ujar bu Hemas.

"Bu, yang menjalani pernikahan itu Adrian.. bukan ibu, kenapa ibu repot mengatur pernikahan?, Adrian bukan anak kecil lagi dia tahu apa yang baik buat dirinya sendiri, ibu aja yang kegatelan jodohin dia dengan Sita, paham?" ujar suaminya, bu Hemas pun terdiam.

Adrian tampak sedang membereskan sebagian barangnya untuk di bawa ke rumah barunya, tampak Andini penghuni kos sebelahnya diam-diam memperhatikan Adrian.. Andini yang mulai menyukai Adrian ini pun menghampiri Adrian, "Mas Adrian mau kemana ya?" gumam Andini dalam hati.

Setelah beberapa barang masuk ke dalam mobil, Adrian pun bersiap untuk pergi menuju rumah barunya.. mobil pun melaju.

Tiba di rumah barunya, Adrian segera segera menurunkan barang-barangnya, belum ada perabotan apa pun di rumahnya saat ini hanya sebuah kasur baru untuk beristirahat,

"Alhamdulillah baju dinasku ada, hampir aku lupa, ahh.. sebaiknya malam ini aku tidur di sini sekalian ngerasain rumah baru" gumam Adrian dalam hati.

Adrian sambil berbaring mengirim pesan untuk Davina kekasihnya,

Adrian : Sayang, kayaknya malam ini aku mau coba tidur di rumah baru aja deh.. ini sekalian beres-beres barang.

Davina : Loh tahu gitu aku tadi bantuin mas, kok nggak bilang sih.. gimana enak tiduran disana, suasananya tenang ya?

Adrian : Mm, ya belum terasa enak sih soalnya kasur ini dingin kan nggak ada kamu..

Davina : Mas ini ada ada aja ahh..

Setelah selesai chat dengan Davina, Adrian mengunci pintu pagar lalu kembali ke kamarnya, tak lama Adrian mencoba memejamkan matanya dan tertidur.

Pagi ini Hanin dan Amel menuju rumahnya untuk membereskan dan merapikan pakaiannya, karena hari ini Hanin juga akan pindah dan mulai menetap di rumahnya sendiri.

Tampak juga beberapa pekerja bangunan yang sedang merenovasi ulang sedikit bagian samping rumah Hanin, ada yang mengecat, mengganti beberapa genteng dan juga merapikan pagar halamannya.

Hanin di rumah ini akan tinggal bersama Amel sahabatnya sekaligus asisten pribadinya, dengan begitu Hanin tidak akan merasa sepi..

"Mbak Hanin, sepertinya cat abu-abu tuanya kurang" ujar salah satu pekerja. "Oh iya kang, beli saja kekurangannya merknya harus sama ya ini uangnya" ujar Hanin, "iya mbak terima kasih" ujar tukang tersebut.

Hanin dan Amel lalu melanjutkan membereskan pakaian-pakaian dan beberapa barang Hanin yang dibawa dari ruko, tanpa mereka sadari.. Astrid dan ibu Hemas datang masuk ke rumah Hanin,

"Mbak, seperti ada yang masuk rumah.." ujar Amel pada Hanin. "iya Mel, kan ada tukang yang bantu-bantu, tadi yang satu beli cat lagi, yang satunya lagi benerin genteng.. cuma itu kok" ujar Hanin, "iya mbak, tapi seperti ada langkah orang masuk.. di luarkan nggak ada siapa-siapa" ujar Amel.

Hanin mengangguk, lalu berjalan keluar kamarnya dan keluar menuju pintu rumah..

"Hmm, ada ibu Hemas juga Astrid mau apa mereka?" gumam Hanin.

"Mel, bener kamu da.. iya ada bekas mertua aku dan Astrid juga mereka memang nggak suka sama aku, tolong kamu hadapi dulu ya" ujar Hanin sambil mengintip dari celah jendela.

"Oh, siap mbak" ujar Amel, lalu pergi membuka pintu depan. "Mau cari siapa ya bu?" tanya Amel santai.

"Mau tanya, katanya rumah ini sudah jadi milik si Hanin, mana si Haninnya sekarang?" tanya bu Hemas, sambil matanya menatap mobil mewah di garasi rumah itu.

"Mbak Hanin ada, ada perlu apa ya bu ngomong-ngomong?" tanya Amel memperhatikan sikap bu Hemas yang tidak ramah.

"Heh, kamu itu ya ditanya malah nanya balik.. panggil si Hanin sekarang!" ujar bu Hemas berteriak kesal.

"Sorry ya bu, saya bukan pembantu, saya tanya sekali lagi ada keperluan apa dengan mbak Hanin?" tanya Amel tidak mau kalah.

"Saya mantan mertuanya, saya mau ketemu dengan Hanin si udik itu mana orangnya hah?" ujar bu Hemas sambil melotot.

"Bu, tolong kalau bicara itu di jaga mulutnya jangan menghina orang.." ujar Amel kesal. "Loh, emang bener kok si Hanin itu udik, kampungan!" ujar Astrid yang mulai bicara.

Hanin mulai mendengar keributan, lalu ia pun pergi menghampiri mereka..

Dengan langkah yang elegan Hanin berjalan ke arah Amel, "Mel.. ada apa?" tanya Hanin.

"ini mbak, ada doger monyet nyasar kesini" ujar Amel sambil melirik Astrid dan bu Hemas, karena merasa terhina dengan ucapan Amel Astrid hendak menampar Amel.

"Eh, anak kemarin sore berani ya bilang kita 'doger monyet?" teriak Astrid menatap Amel.

"Sudah Mel, sudah .. sabar, kita masuk yuk kunci aja pintunya nanti" ujar Hanin santai menanggapi sikap keras Astrid dan ibu Hemas.

Ibu Hemas pun tersulut emosinya mendengar ucapan Hanin pada Amel, "Heh,.. kamu ya Hanin mentang-mentang kebeli rumah, mobil bagus berani-beraninya kamu nggak sopan sama saya, dasar udik, kampungan ya tetap aja udik!!" ujar bu Hemas menunjuk muka Hanin.

Hanin sepertinya malas menanggapi mantan mertuanya ini, dengan santai ia menyapa tukang bangunan yang ada di dekatnya..

"Kang, tadi gimana catnya sudah ada?" tanya Hanin, "Beres mbak, catnya ada merknya juga sama" ujar tukang bangunan tersebut. Dengan tenang Hanin memperhatikan tukang tadi menunjukkan cat yang di baru dibelinya, Hanin tidak menyapa atau pun mengusir mertuanya dan Astrid yang masih berdiri di sana..

"Halah, kamu Hanin sok.., baru juga jadi orang kaya segitunya udah sombong!" ujar Astrid. Hanin pun hanya menatap Astrid sedetik saja lalu kembali mengobrol dengan tukang bangunan yang sedang bekerja.

Lama kelamaan Astrid dan bu Hemas kesal dengan sikap Hanin yang tidak mengacuhkan sama sekali kehadirannya, dengan cepat menarik lengan Hanin..

"Heh, ngapain tarik-tarik begini.. tolong.. tolong pak.." ujar Hanin berteriak, 2 tukang bangunan dan ibu-ibu yang kebetulan lewat depan rumah mendatangi Hanin, "ada apa mbak Hanin?" tanya ibu tersebut.

"Ada orang nggak jelas nih bu tarik-tarik tangan saya" ujar Hanin, mereka pun memisahkan bu Hemas dari Hanin. "Ooh ini ya ibunya mas Adrian dan kakaknya, pantesan.." cibir ibu tersebut menatap bu Hemas. Amel pun kesal, "Heh.. bu, mbak jangan main fisik dong, ngajak duel apa?" ujar Amel emosi.

Astrid pun maju ke dekat Amel, "Heh.. aku cuma mau tanya siapa nama pacarnya Adrian sama si udik kampungan ini!" ujar Astrid kasar.

"Heh!, kalau ngomong tuh di jaga dong.. yang sopan, kalau dia udik kampungan terus kamu sendiri lonte?" ujar Amel menatap mata Astrid dengan berani.

"Kamu ya berani sama saya?" ujar Astrid sambil menarik hijab Amel. Melihat asistennya hendak dicelakai Astrid Hanin pun meluapkan emosinya melepas tangan Astrid.

"Astrid, kamu itu ya.. kamu terlalu sombong, padahal kamu nggak punya apa-apa, omongan kamu selalu menyakitkan hati orang, kamu kasar, PERGI KAMU KELUAR SEKARANG ini rumah saya!!" ujar Hanin menunjuk muka Astrid.

Tanpa di ketahui oleh Hanin, seorang tetangganya sudah menghubungi polisi, dan rumah Hanin sekarang banyak tetangga yang melihat keributan yang terjadi, tak lama polisi pun datang..

"Hanin, berani-beraninya ya kamu panggil polisi segala?" ujar Astrid, "siapa yang panggil polisi hah!" balas Hanin menatap Astrid.

"Sudah, sudah ya mbak .. cukup, mau di selesaikan di sini atau di kantor polisi?" ujar polisi yang melerai Hanin dan Astrid, ibu Hemas hanya terdiam. "Di kantor polisi aja pak,.. tuman manusia kayak gini!" ujar Hanin, Astrid pun melirik sinis pada Hanin.

Setelah mendengar kronologis cerita versi Hanin dan versi Astrid juga dukungan dari tetangga yang melihat, pak polisi pun bicara..

"Saudari Astrid dan ibu Hemas, kalian sudah melakukan ujaran kebencian dengan kata-kata yang tidak pantas, dan itu bisa jadi penghinaan, penistaan, pencemaran nama baik seseorang, menghasut orang lain.. kalian bisa kena pasal 156, 157, 130 dan 131 KUHP dan hukumannya adalah kurungan penjara 4 tahun, gimana MAU?" ujar polisi menjelaskan.

Astrid dan ibu Hemas tampak tertunduk, diam mematung tidak menyangka kalau kebenciannya mereka pada Hanin sampai berurusan ke pihak yang berwajib, melibatkan kepolisian.

"Maaf, mbak Hanin dan mbak Amel sebagai korban apakah mau melanjutkan penyidikan terhadap kedua ibu ini?" tanya polisi.

"Silahkan pak, saya meneruskan penyidikan terhadap mereka berdua.. mereka selalu mengganggu privacy saya, bahkan rumah tangga saya juga hancur oleh mereka!" ujar Hanin sambil menatap ibu Hemas dan Astrid.

"Baik, baik mbak kalau begitu.. saya akan buat berita acaranya dan penyidikan selanjutnya, ini ditandatangani dulu mbak" ujar polisi sambil memberikan berkas laporan.

Astrid dan bu Hemas terlihat cemas, takut tidak menyangka Hanin tega memproses masalah penyidikan ini lebih lanjut.

Nasi telah menjadi bubur, kadang kita lupa sebagai manusia.. lidah memang lembut, tidak bertulang, tapi ucapan kita bisa menjadi harimau untuk mulut kita sendiri.

*****

,

1
Dwi Agustina
Bagus Nin👍biar kapok👍👍👍
Dwi Agustina
Segala sesuatu yg berawal dr kebohongan akan menuai hasil yg tdk baik😁
Dwi Agustina
Amit2 ada y perempuan kyk Sita😅
Dwi Agustina
Semangat Hanin💪semangat othor💪🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!