Nafisa, gadis istimewa yang terlahir dari seorang ibu yang memiliki kemampuan istimewa. Tumbuh menjadi gadis suram karena kemampuan aneh yang dimiliki.
Melihat tanda kematian lewat pantulan cermin, membuatnya enggan bercermin seumur hidupnya. Suatu ketika ia terpaksa harus berdamai dengan keadaannya sendiri, perlahan ia mulai berubah. Dengan bantuan sang sahabat, ia menolong orang-orang yang memiliki tanda kematian itu sendiri.
Simak kisah menarik Nafisa, kisah persahabatan dan cinta, juga perjuangan seorang gadis menerima takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERiyy Alma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin 27
“Apa yang terjadi?” tanya Arjuna sesaat setelah Fisa memberikan cermin pada sang kakek, kakek tua itu sudah kembali pada keluarganya, sementara Fisa kembali menikmati makanannya lagi.
Fisa menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Arjuna, ia tak ingin membahas masalah tanda kematian yang dilihatnya di kaki kakek tua tadi. Merasa bukan urusannya sebab tak saling mengenal, lagipula cahaya putih sudah mencapai pusar, hari ini pasti sang kakek pergi.
“Mau tambah Fisa?” tanya sang ibu yang bisa melihat gelagat aneh dari putrinya, makan yang semula lahap kini jatuhnya seperti pasien yang dipaksa makan saat hendak minum obat. “Kamu kenapa sih? sakit perut?” imbuh sang ibu.
“Enggak kok Bu,” jawabnya singkat.
Shella dan yang lain hanya diam menyimak pembicaraan ibu dan anak itu, sementara Husin diam-diam menambah sosis di piring sang putri, Fisa mengucapkan terimakasih pada ayahnya, meski wajah gadis itu masih terlihat tegang.
Shella mendekati putranya, berbisik di samping telinga Arjun dan bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada Fisa, Arjun menggeleng, pasalnya Fisa tak bercerita dengan jelas. Meski ia memiliki feeling akan sikap aneh gadis itu, tapi ia tak bisa memastikan, khawatirnya melakukan kesalahan.
Ditengah keheningan yang terjadi, terdengar kegaduhan dari tenda sebelah. Ibu dari anak kecil yang terjatuh di samping Fisa tadi berteriak histeris, beberapa saudara lain berusaha menenangkan. Shella yang penasaran segera mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi, tak lama kemudian Fisa mendengar bahwa kakek tiba-tiba mengalami serangan jantung dan saat ini tak sadarkan diri.
Kia melirik putrinya yang diam bergeming, Fisa menunduk dalam sembari tangannya terus memainkan isi piring, Kia mulai paham kenapa sang putri mendadak diam.
“Bagaimana keadaan ayahku?” tanya wanita sebelah. Kia bisa melihat seorang lelaki dari tenda lain yang mengaku berprofesi sebagai dokter datang menolong, tapi lelaki itu hanya diam menunduk sambil mengucapkan maaf.
“Tidak, tidak mungkin ayahku pergi, dia baik-baik saja, dia baru saja berkejaran dengan cucunya, ayah sehat apa yang kamu katakan Mas? kamu dokter gadungan ya?” hardiknya.
“Sayang, jangan bicara sembarangan!” ucap sang suami yang tak lelah menenangkan istrinya, “maaf Mas, istri saya terlalu syok,” katanya lagi.
Dokter muda yang sepertinya tengah berlibur dengan keluarga kecilnya itu mengangguk kecil, sang istri memeluk lengan beliau, mencoba menenangkan suaminya yang baru saja terkena omelan.
“Sudah panggil ambulans kah?” tanya Evan pada keluarga kakek. Menantu sang kakek mengiyakan pertanyaan itu.
Kia berjalan mendekati suaminya, berbisik di samping telinga Husin jika kakek memang sudah meninggal. Kia bisa melihat arwah kakek kebingungan di samping jasadnya, arwah lelaki tua itu bahkan menangis. Fisa tak sengaja mendengar ucapan ibunya pada sang ayah, gadis itu merasa iba.
“Husin, Kia, kita pulang yuk. Nggak usah nunggu sore, kalau kakek itu beneran meninggal jadinya kan horor, mana tendanya tepat di samping tenda kita? mana bisa kita lanjut makan kalau begini,” ungkap Shella lirih, tapi disetujui oleh Evan.
“Benar kata kalian, kita pulang saja. Liburan hari ini sampai sini saja, kita bisa coba lain waktu,” jawab Husin.
“Ya, tapi jangan disini lagi,” bisik Shella lagi. Wanita itu segera membersihkan barang bawaan mereka, Kia dan yang lain datang membantu, sebelum itu ia menitipkan Fisa pada Arjuna. Gadis itu masih syok, diam membisu di depan piringnya.
“Naf, kamu sudah tahu sebelumnya kan? kalau kakek akan meninggal?” tanya Arjuna mencoba memancing pembicaraan.
Fisa mendongak, menatap Arjuna dengan pandangan mata mulai mengabur, air mata yang ditahan sejak tadi berkumpul di sana membentuk danau kecil yang siap tumpah. Fisa tak sengaja melirik arwah kakek yang berjalan mondar mandir di tengah keluarga, lelaki tua itu menangis hebat, seperti yang dikatakan ibunya tadi.
Entah dorongan dari mana Fisa berdiri dan mengikuti ruh yang berjalan menuju belakang toilet, tepat di depan jurang dengan pemandangan yang menawan. Ruh kakek diam merenung seorang diri, tak sadar jika Fisa datang mendekatinya.
Sementara itu Kia melarang Arjuna yang hendak mengikuti gadis itu, memintanya membantu Shella dan yang lain. “Pergilah bantu ayah dan mamamu, biar tante yang jemput Fisa,” ucapnya. Arjuna mengangguk mengerti.
Kia bersembunyi di samping toilet, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan putrinya mendekati ruh kakek. Kia melihat dengan seksama bagaimana putrinya berbincang dengan ruh itu, Kia juga berusaha mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Jadi, aku sudah meninggal Nak?” tanya ruh kakek, masih dengan air mata berlinang di pipi keriputnya. Fisa mengangguk samar, gadis itu terisak.
“Lantas aku harus bagaimana?” tanya ruh kakek lagi.
“Menurut yang saya tahu, sebentar lagi akan ada cahaya datang bersama beberapa lelaki berpakaian putih yang akan menjemput Kakek.”
Ruh kakek semakin panik, Fisa seperti melihat kakeknya sendiri, dulu ia juga melihat sang ruh kakeknya kebingungan, hanya saja dulu ia masih kecil dan belum berbuat banyak. Membiarkan ruh kakeknya pergi tanpa sempat berbincang untuk terakhir kali.
“Ada yang bisa saya bantu Kek?” tanya Fisa.
Ruh kakek menatapnya, diam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu. Setelah sedikit tenang, ruh kakek mengucapkan keinginannya.
“Kamu lihat wanita yang menggendong cucuku tadi? itu putriku, hidupnya cukup sulit selama ini, dia punya hutang banyak dan aku tak bisa membantunya. Beberapa bulan lalu, aku menjual tanah pribadiku secara diam-diam, tanah yang tak pernah mereka tahu bahwa aku memilikinya.
Nak, tolong katakan padanya, tak perlu lagi bingung membayar hutang pengobatan mendiang ibunya itu, ayah sudah menyediakan semua untuk mereka. Uang itu ada di lemari pakaian ayah di tumpukan baju paling dasar, katakan untuk membongkarnya maka dia akan menemukan sebuah cek di sana. Minta dia gunakan uang itu untuk membayar hutang, dan sisanya untuk keperluan hidupnya.”
Fisa mengangguk mengerti, kakek kembali berkata, “katakan juga, ayah minta maaf sudah merepotkan dia selama ini, ayah sangat bersyukur dan bangga memiliki putri sehebat dia, ayah sangat menyayanginya, selamanya.”
Fisa semakin terisak, melihat ruh kakek tersenyum dan mengangguk. Lantas memintanya segera pergi menyampaikan pesan beliau, sebelum malaikat yang menjemputnya tiba, beliau ingin melihat wajah putrinya untuk terakhir kali.
Fisa mengerti, ia segera pergi meninggalkan ruh kakek sendiri. Setelah itu, barulah Kia keluar dari persembunyiannya, ia tersenyum pada ruh kakek tua yang terlihat mirip mendiang ayahnya dulu. Ruh kakek terkejut melihatnya.
“Rupanya kamu dan anakmu diberikan kemampuan khusus ya, keluarga kalian pasti sangat diberkati,” ucap ruh kakek begitu melihat Kia. Kia tersenyum tipis mendengar ucapan itu, ia sendiri bahkan tak tahu kemampuan ini berkat atau malah musibah untuk keluarganya, nyatanya selama ini tak mudah menjadi dirinya dan sang putri.
“Terimakasih, kamu sudah mendidik putrimu dengan baik. Sebenarnya dia bisa saja abai melihatku, tapi dia datang membantu. Entah putriku akan mempercayainya atau tidak, yang jelas isi pesanku akan menjadi bukti. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih Nak, semoga Allah membalas kebaikan kalian.”
“Amin, terimakasih Kek, sekarang pergilah dengan tenang, semoga Allah menempatkan anda di sisi-Nya.”
“Terimakasih doanya anak muda.”
Kakek pergi begitu saja saat sebuah sinar datang menjemputnya, Kia bisa melihat kakek menyempatkan diri melihat putrinya yang menangis tergugu setelah mendengar cerita Fisa, putri dan menantunya itu percaya begitu saja. Mereka berdua juga minta maaf, dan bilang sudah ikhlas atas kepergian sang ayah. Kakek tersenyum mendengar ini, lalu melambaikan tangan pada Fisa dan Kia.
Ruh Kakek pergi, bersamaan dengan datangnya petugas medis yang memindahkan jasad kakek ke dalam ambulans. Fisa yakin, ruh kakek akan kembali muncul di rumah dan berakhir di kuburan seperti ruh Hana waktu itu. Ia merasa tugasnya selesai, yang terpenting baginya sudah menyampaikan pesan pada keluarga. Kini ia sendiri akan pulang bersama keluarga besarnya.
...