Erina, gadis pekerja keras yang selalu mengedepankan gaya. Dia dijodohkan dengan seorang pengusaha sukses. Namun, apa jadinya jika sang pengusaha mempunyai pujaan hati lainnya?
Mampu kah, Erina menjalin rumah tangga dengan tantangan meluluhkan hati suaminya, agar hanya melihat dirinya seorang?
Yuk ikuti kisahnya!
Terimakasih ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Bahagia
Nova menatap takjub pada bangunan yang sekarang di tempati nya. Walaupun rumah tersebut tidak terlalu besar, namun barang-barang mewah nan mahal yang berada disana cukup menegaskan, jika sang pemilik termasuk orang berada.
"Kami tinggal disini hanya berdua. Jadi, untuk sementara, ibu boleh tinggal bersama kami ya." ujar Ima seraya menunjukkan sebuah kamar untuk Nova.
"Ini kamar untuk Ibu, ibu boleh istirahat di depan dulu, biar saya bereskan kamarnya dulu." ungkap Ima.
Nova langsung merebahkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Tak henti-hentinya dia berdecak kagum pada interior rumah Uzair.
"Sepertinya, mereka bukan suami istri. Toh, kamar mereka terpisah." lirih Nova, karena sebelumnya Ima sempat menunjukkan kamarnya dan juga kamar Uzair.
Setelah Ima memberitahu, jika kamar Nova sudah bisa di tempati, Nova langsung ke beranjak dan mengucapkan terimakasih pada Ima.
"Sepertinya Clara cocok dengan Uzair."
...🍁🍁🍁...
Pulang dari pengajian, Suci langsung mengutarakan apa yang sebelumnya di dengarkan dari Uzair. Akri yang mendengar setiap penjelasan Suci hanya mendesah pelan. Dia tidak memaksa sang anak dalam setiap keputusan yang diambil Suci.
Karena Akri sadar, kelak pernikahan yang menjalaninya adalah Suci sendiri.
"Jadi, apa keputusan mu?" tanya mama Suci.
"Aku sudah mengatakan keberatan ku, pada Jonathan. Dan dia menyerahkan semua keputusan di tanganku. Namun, yang pasti, jika aku tetap menolak menikah dengannya, dia akan menarik saham yang sepuluh persen dari perusahan papa. Apa papa keberatan?" tanya Suci hati-hati.
"Papa tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting sekarang adalah kebahagian mu." sahut Akri.
"Dan tadi, aku juga sempat mengobrol dengan bu Belinda. Dia akan menanam saham sepuluh persen yang akan di tarik oleh Jonathan." balas Suci.
"Bukankah, itu sebuah jalan? Lantas, apa lagi yang kamu ragukan nak? Berarti, Jonathan memang bukan jodohmu. Makanya, Allah mudahkan, jalan perpisahan ini." terang Mama Suci. Dan Akri mengangguk setuju.
Tiga bulan telah berlalu, pagi ini Erina mendadak mual saat mendapatkan ciuman selamat pagi dari Ervin. Dengan begitu, Ervin merasa sedikit tersinggung.
"Kamu kenapa sih?" tanya Ervin mengelus punggung Erina.
"Gak tahu, tiba-tiba aja mual." balas Erina. Namun, sesaat setelah berbalik dan melihat wajah Ervin, kembali Erina mengalami mual.
"Kenapa lagi?" tanya Ervin.
"Gak, tahu. Tapi ..." Erina menggantung ucapannya.
Karena dia pun ragu, masak gara-gara melihat wajah Ervin, dia merasa mual.
Erina mencoba untuk tidak menatap wajah Ervin, dia berlalu sambil menunduk. Benar, dia tidak lagi merasa mual sedikit pun.
"Sepertinya, kamu masuk angin. Akibat, permintaanmu keliling naik motor." ujar Ervin.
"Sepertinya."balas Erina, namum reflek dia memegangi perutnya, dan berharap jika dugaannya benar.
Saat sarapan, lagi-lagi Erina merasa mual akibat meminum susu yang disajikan oleh Sari.
Sari mengernyit, kala Erina berlari ke wastafel dan memuntahkan seluruh sarapan yang sempat masuk ke perutnya.
"Bu Erina gak apa-apa?" tanya Sari menyusul kedua majikannya.
Iya, Ervin kembali mengelus punggung Erina.
"Sepertinya, dia lagi masuk angin. Pasalnya, sejak bangun tadi, dia terus saja muntah." sahut Ervin.
"Apa jangan-jangan Ibu hamil?" tuduh Sari.
Ervin membelalakkan matanya, menatap Erina dengan rasa penasaran sekaligus harapan yang tidak bisa disembunyikan.
"Entahlah, tapi aku udah telah haid selama satu bulan." lirih Erina me-lap mulutnya dengan tisu yang diserahkan oleh Sari.
"Tolong kamu belikan testpack, kita cek sekarang." ujar Ervin dengan bahagia.
"Oh, jangan. Kita ke rumah sakit aja." ajak Ervin.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, senyum di wajah Ervin tak sekalipun hilang. Dia juga menggenggam erat tangan Erina.
Erina sendiri, memilih menatap keluar jendela. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Dia takut kecewa, apabila sesuatu yang diharapkan, nyatanya itu tidak pernah ada.
Beruntung, Ervin mempunyai salah satu sepupu yang menjabat sebagai dokter kandungan. Dan yang membuatnya sedikit lega, dokter tersebut berjenis kelamin perempuan.
Setelah namanya di panggil, dengan hati-hati Ervin mengajak istrinya untuk memasuki ruang pemeriksaan.
"Kapan terakhir haid?" tanya wanita dengan jas putih menghias tubuhnya, senyuman manis menghiasi wajahnya.
"Sekitar sebulan lalu." ujar Erina. Kemudian, dia menyebutkan tanggalnya secara lengkap.
"Kalo begitu, tolong tidur sebentar ya. Kita periksa dulu." sambungnya.
Suster dengan telaten menyibak baju Erina dan mengoleskan gel di perut Erina yang masih rata.
Dokter tersebut, langsung meletakkan sebuah alat dan menggesernya secara pelan-pelan di perut Erina.
"Nah, ini kantong bayinya. Dan perkiraannya sudah memasuki usia enam minggu." ujar dokter menjelaskan.
Ervin yang menatap melalui layar di depannya tidak bisa berkata-kata, yang pasti dia sangat bahagia. Bahkan, matanya berkaca-kaca.
Begitupun dengan Erina. Rasa bahagia membuncah di hatinya.
"Karena ini kehamilan pertama, dan masih muda. Tolong dijaga baik-baik ya. Dan ini, resep vitamin untuk di tembus didepan sana." ujar dokter tersebut.
"Selamat Ervin, jangan lagi pecicilan, kamu sudah menjadi calon ayah." ujarnya menggoda Ervin yang tidak bisa berkata-kata.
"Maaf, dokter. Apakah normal, jika saya enggan menatap wajah Ervin?" tanya Erina hati-hati.
"Maksudnya?" tanya Ervin.
Erina menjelaskan apa yang dirasakannya tadi pagi. Bahkan, dia tidak menatap wajah suaminya, karena takut kembali merasa mual.
Dokter tersebut langsung tertawa. Terlihat jelas, jika raut kepuasan ada di wajahnya.
"Itu wajar, karena perubahan hormon di setiap ibu hamil. Dan itu, juga terjadi di ibu-ibu diluar sana." kekehnya.
"Jadi, aku harus bagaimana?" tanya Ervin melongo.
"Pakai masker." sahut dokter cantik, menyerahkan masker untuk sepupunya itu.
bae2 bang ustadz, ntar kamu jodoh lho sama perempuan yg kamu blg aneh itu🤭