NovelToon NovelToon
R²

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Caramels_

Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera

"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-

"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Satu persatu purnama telah terlewati, tak terasa pula ujian akhir untuk kelas 12 semakin di depan mata. Semakin dekat pula waktu yang akan menghadirkan jarak antara mereka berdua.

"Sayang, kamu udah siap buat ulangan kimia besok?" tanya Raka, sambil melirik catatan kimia milik Rissa. Ia berusaha terlihat fokus pada pelajaran, tapi matanya sesekali menangkap senyum Rissa yang begitu menawan.

"Alhamdulillah, udah lumayan siap kok," jawab Rissa, tersenyum. Namun, senyumnya terlihat sedikit terpaksa. Pikirannya masih melayang-layang memikirkan pengumuman beasiswa ke Turki yang keluar kemarin malam.

 "Lumayan siap? Jangan cuma lumayan dong. Ujian ini penting banget!" Raka sedikit menaikkan nada suaranya, mencoba untuk menyembunyikan kekhawatirannya. Ia tahu Rissa sedang memikirkan hal lain.

"Iya, aku tau. Aku lagi berusaha sebaik mungkin kok," jawab Rissa, suaranya sedikit pelan. Ia merasa bersalah karena pikirannya tak sepenuhnya fokus pada pelajaran.

Bel masuk berdering, menghentikan percakapan mereka. Bu Rahma, guru kimia, masuk ke kelas dan memulai pelajaran. Rissa berusaha keras untuk fokus, tetapi pikirannya tetap melayang-layang. Ia membayangkan dirinya berada di Turki, belajar di universitas yang telah lama menjadi impiannya. Namun, bayangan itu selalu diikuti oleh rasa cemas akan jarak yang akan memisahkannya dari Raka.

Sepanjang pelajaran, Rissa terlihat gelisah. Ia sesekali menggigit bibirnya, menatap kosong ke luar jendela, dan menggaruk-garuk kepalanya. Raka memperhatikan semua itu. Ia tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Rissa.

Setelah pelajaran kimia selesai, Raka menghampiri Rissa. "Sayang, ada apa sih? Kamu dari tadi terlihat gelisah banget," tanya Raka, dengan nada khawatir.

Rissa menghela napas panjang. "Aku lagi mikirin pengumuman beasiswa ke Turki," jawabnya.

Kemarin malam, hasil pengumuman dari perguruan tinggi di Turki telah keluar dan menyatakan bahwa Rissa lolos dengan beasiswa full selama beberapa semester, ia sangat merasa bahagia dan bersyukur ketika mendapat berita itu. Akan tetapi, di sisi lain ada sebuah hati yang mau tak mau harus menerima jarak yang akan terbentang di hadapannya.

“Cie… Selamat ya sayang,” ujar Raka sembari tersenyum manis menyembunyikan rasa takut tentang hubungan berjarak.

“Makasih sayang,”

“habis ini LDR dong…” tanya Raka agak ragu.

“Ehmmm… kita pasti bisa kan, yang penting selalu saling percaya,” Rissa menggenggam tangan Raka berusaha meyakinkannya, walaupun rasa takut juga menyelimuti hati Rissa.

“Sekarang kamu fokus dulu buat masuk kedokteran, nanti kalau emang jodoh pasti bakalan ketemu lagi kok,”

Mereka berdua menyadari, babak baru dalam hidup mereka akan segera dimulai, babak yang penuh tantangan dan rintangan, tetapi juga penuh harapan dan impian.

...****************...

Siang ini terik matahari teramat menyengat kulit Rissa yang sedang berjalan ke mall untuk membeli sesuatu. Awalnya ia mengajak Raka untuk menemaninya, namun cowok itu berkata jika sedang ada urusan yang harus dikerjakannya. Ia pun memakluminya karena sekarang sudah mendekati ujian dan membuat Raka belajar setiap waktu. Rissa pun tak mau mengganggu waktu belajar kekasihnya, akhirnya Ia memutuskan untuk pergi sendirian.

"Ah, setidaknya beli minuman dulu," gumam Rissa, berhenti di sebuah kedai kopi. Ia memesan es kopi susu dan duduk di salah satu meja kecil yang tersedia.

Ketika Rissa berhenti sebentar untuk membeli minuman di salah satu kedai yang ada di dalam mall tersebut, tanpa sengaja ia melihat dua sosok remaja yang sangat ia kenali sedang duduk berhadapan dengan dua piring di hadapan mereka.

Rissa merasakan jantungnya berdebar kencang. Perasaan aneh, campuran antara rasa ingin tahu dan ketakutan, menyerang dirinya. Ia ragu untuk menghampiri mereka, tapi rasa penasaran mengalahkan keraguannya.

Untuk menebus rasa penasaran itu, Rissa pun memilih menghampiri meja tersebut. Dengan langkah gontai, Rissa mendekati meja mereka. Bagai tertusuk belati tajam di ulu hatinya, ia langsung membalikkan badan setelah melihat kenyataan di hadapannya.

Begitu dekat, Rissa melihat dengan jelas bagaimana Dara tertawa lepas, sesekali menyentuh lengan Raka sembari bercerita. Raka pun menanggapi dengan senyum yang—menurut Rissa—terlalu manis untuk seorang sahabat. Dara bahkan membantu Raka membersihkan sedikit saus yang mengenai sudut bibirnya. Adegan itu bagai menusuk jantung Rissa dengan belati tajam.

“Rissa!” teriak salah satu remaja tersebut saat sadar akan keberadaannya. Ia mengusap air matanya yang terlanjur jatuh sebelum akhirnya menghadap ke arah cowok itu lagi sembari tersenyum kecut.

"Riss…," Raka terlihat terkejut dan sedikit gugup.

“Have fun. Sorry kalau udah ganggu waktu kalian,” setelah Rissa mengucapkan kalimat tersebut, ia langsung berbalik menuju parkiran tanpa menghiraukan panggilan Raka yang terdengar di belakangnya.

Ia mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga membuat pengendara lain mengumpat ke arahnya. Ia tak bisa menerima kenyataan ketika cowok yang sangat ia sayangi dan mulai dipercaya ternyata sama-sama menikamnya.

Siapa yang tak kecewa saat sang kekasih memilih berjalan berdua dengan perempuan lain? Walau mereka beralasan hanya sebatas sahabat.

Memang benar, perempuan itu mengenal si cowok terlebih dahulu, tapi tak bisakah menghargai perasaan Rissa sebagai pacar cowok itu? Mereka sama-sama perempuan dan Rissa begitu sakit saat melihat Dara yang berani-beraninya mengelus pipi Raka dan membantu mengelap makanan yang tersisa di sekitar mulutnya. Ia merasa sangat dikhianati.

"Sahabat? Hanya sahabat?" gumam Rissa, mengucapkan kata-kata itu dengan nada getir.

"Kenapa harus sedekat itu?”

Lamunan tentang kejadian yang baru saja terjadi membuat Rissa gagal fokus sehingga menyebabkan ia kehilangan keseimbangan saat mengemudi. Dunia di sekitarnya seakan menghilang, hanya tersisa rasa sakit dan kecewa yang memenuhi hatinya. Mobilnya oleng, kehilangan keseimbangan, dan akhirnya menabrak sebuah truk gandeng yang sedang berhenti di pinggir jalan.

Brakkk…

Seluruh orang menghentikan aktivitas mereka lalu berkerumun melihat peristiwa yang beberapa detik lalu terjadi. Sebuah mobil silver menabrak truk gandeng bermuatan puluhan ton pasir, ambulans serta polisi berdatangan lalu melarikan korban ke rumah sakit terdekat.

Ada tiga korban dalam kecelakaan ini, yaitu 1 sopir truk dan temannya, satu lagi seorang perempuan pengemudi mobil silver itu. Beruntung si perempuan masih bisa diselamatkan di antara mobilnya yang sudah tak berbentuk lagi.

Salah satu saksi dari kecelakaan tersebut ikut ke arah rumah sakit karena merasa kenal dengan si pengemudi mobil. Setelah memastikan bahwa dugaannya benar, ia berusaha menghubungi nomor dari anggota keluarga korban.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
author
mampir back ya kak
author
keren ih alur nya
Caramels_: terimakasiihh
total 1 replies
tasha angin
Membuat terkesan
Caramels_: terimakasiihhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!