Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Aku diam menatap Raina mematung, air matanya mengalir deras. Raina menatap tajam kearah ku. Dia berjalan mendekat kearah ku, melepaskan pelukan Bara ditubuh ku dengan kasar. Lalu dia melingkarkan tangannya keleher ku.
"Jika aku tidak bisa memiliki Bara, kau juga tidak boleh memilikinya," teriak Raina sambil mencekik leherku.
Bara yang berada didekat ku, langsung menghentikan aksi gila yang dilakukan Raina padaku. Bara menarik tubuh Raina, lalu menghempaskan tubuh Raina jatuh ke lantai.
"Sakit..." kata Raina sambil mengusap perutnya.
Darah keluar dari bagian sensitif Raina, membuat aku menjerit keras.
"Mas, Raina berdarah," teriakku.
"Biarkan saja. Biar dia tahu rasa!" ucap Ibu Bara kesal.
"Tidak usah ditolong, biarkan saja!" sambung Ardi yang juga terlihat geram.
"Mas, kasian Raina! Kenji tolong pacarmu," kataku panik, melihat darah yang keluar semakin banyak.
"Chika, apa kau masih iba? Wanita ini baru saja akan menghabisi mu," ucap Kenji marah.
"Aku tahu, Raina salah! Tapi, bayi dalam kandungannya tidak bersalah. Tolong dia Kenji, janin itu anakmu. Bawa Raina ke rumah sakit," kataku.
Kenji menggendong Raina menuju mobilnya, aku melihat wanita itu menoleh kearah ku. Ada tatapan penyesalan diwajahnya. Semoga setelah kejadian ini, Raina tidak lagi mengganggu hidupku dengan Bara.
****
Keesokan harinya, aku bangun dari tempat tidur. Aku mandi dan mengganti bajuku. Tak lama Bara bangun, dia tersenyum manis mendekat kearah ku.
"Sayang..." bisik Bara manja.
"Ada apa?"
"Aku mau kau buatkan aku makanan kesukaanku hari ini," ucap Bara.
Makanan kesukaan Bara? Apa ya? Kenapa aku bingung? Aku menatap kearah Bara, aku bingung karena tidak tahu makanan kesukaan suamiku.
"Apa arti dari raut wajah itu?" tanya Bara sambil mencium pipiku.
"Apa makanan kesukaanmu?" tanyaku.
"Apapun masakan yang kau buat, aku pasti suka," ucapnya.
"Ya sudah. Aku ke dapur untuk memasak, kau jaga Alghi sebentar ya!" ucapku sambil berjalan keluar kamar.
Sampai di dapur aku terkejut, menatap Ardi ada disana. Aku mendekat, namun tidak berani bertanya. Aku melihat Ardi sibuk membuat telur dadar untuk sarapan. Kenapa Ardi buat sarapan sendiri? Apa Ibu tidak masak?
Beberapa kali Ardi membuang telur buatannya karena gosong. Mungkin sudah tiga kali, telur gosong itu dilemparnya ke tempat sampah. Aku tertawa tanpa suara, namun membiarkan laki-laki itu tetap berjuang membuat sarapan sendiri. Sampai Ardi menyadari kehadiranku, terlihat dia terkejut menatap kearah ku.
"Chika, sedang apa kau disini?" tanya Ardi.
Aku tidak bicara, namun aku mengambil alih dapur itu. Aku mulai memasak makanan, tanpa bicara sepatah katapun pada Ardi.
Aku memasak ayam goreng, capcay dan tempe balado. Tak butuh waktu lama, masakan buatan ku siap. Aku mematikan kompor, tak sengaja tanganku menyenggol wajan panas.
"Auuu..." Aku berteriak keras, sontak Ardi panik dan mendekat kearah ku.
Ardi mengusap tanganku yang sakit, lalu merendam tanganku didalam baskom berisi air dingin.
"Kenapa bisa ceroboh begitu? Tanganmu jadi luka kan!" ucap Ardi.
Aku menatap wajah Ardi, dia terlihat begitu panik dengan lukaku. Padahal aku tidak apa-apa, sakit luka ini sebentar lagi juga sembuh. Tapi luka yang ku beri pada Ardi, luka hati yang mungkin tidak akan ada obatnya. Kenapa dia masih perduli padaku?
"Tunggu sebentar. Aku ambil obat oles untuk mengobati lukamu," ucapnya.
Ardi kembali membawa obat oles, lalu mengoleskan obat itu ke tanganku yang terluka. Dia juga meniup-niup luka itu saat diberi obat oles. Terlihat dia begitu telaten mengobati lukaku.
"Apa sakit sekali?" tanyanya.
"Tidak."
"Apa kau mau, aku mencium lukamu agar cepat sembuh," ucapnya diiringi tawa.
"Kau mau Bara memukulmu?" kataku ikut tertawa.
"Terimakasih, kau sudah mengobati lukaku," ucapku lagi.
"Terimakasih juga. Karena kau memberi senyum manis dibibirmu itu untukku," kata Ardi sambil mengusap lembut kepalaku.
Kenapa denganku? Ada getaran dasyat yang menyerang dadaku saat ini. Tidak Chika, kau tidak boleh memiliki perasaan pada adik ipar mu. Ya, Ardi bukan lagi pacarku, sekarang dia sudah menjadi adik ipar ku.
Aku merapikan meja makan, dan menata semua masakan ku disana. Bara mendekat kearah ku sambil menggendong Alghi ditangannya.
"Sudah selesai masaknya," tanya Bara.
"Sudah," ucapku sambil menggendong Alghi.
"Rumah ini sepi sekali. Kemana Ibu dan Ayah?" tanyaku.
"Mereka mengunjungi makam Ayahku. Kata Ibu, dia merindukan mendiang Ayahku. Ayah Arman ikut mengantarnya," kata Bara sambil duduk dimeja makan.
"Wah, sepertinya enak sekali!" ucap Cindy.
"Aku juga mau makan Kak," ucap Alesha.
"Kemari. Ayo kita makan!" kata Bara.
Aku tersenyum menatap mereka makan dengan lahap. Si kecil Marcell bahkan minta tambah. Ardi mendekat, lalu ikut makan bersama disana.
"Enak..." ucap Marcell sambil mengacungkan jempol.
"Kak Chika memang jago masak, makanannya selalu enak. Iya kan Kak Ardi?" ucap Alesha.
Tiba-tiba meja makan hening, ucapan Alesha membuat kami terkejut.
"Kenapa diam? Bukankah dulu Kak Ardi suka sekali makan masakan Kak Chika? Apa Kak Ardi lupa?" tanya Alesha dengan polosnya.
"Kak Ardi tidak akan lupa Sha, bahkan Kak Ardi masih menyayangi Kak Chika sampai saat ini," ucap Ardi, seketika Bara berhenti makan, dan beranjak pergi meninggalkan meja makan.
Aku menitipkan Alghi pada Cindy, lalu aku berlari mengejar Bara. Aku menarik tangan Bara, menatap wajah Bara yang terlihat sedih. Apa yang harus aku lakukan? Aku memang pernah punya kenangan bersama Ardi dulu. Tapi itu masalalu, aku sudah mengubur cerita cintaku bersama Ardi.
"Maafkan adikku, Mas!" ucapku masih memegang tangan Bara.
"Aku mengerti. Tapi entah kenapa, hatiku sakit mendengarnya," ucap Bara.
"Maaf..." kataku memohon, sambil menggenggam tangan Bara dengan kedua tanganku.
"Kenapa dengan tanganmu? Kau terluka?" tanya Bara khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Tadi aku tidak sengaja menyentuh wajan panas, makanya luka. Tapi Ardi sudah mengobati lukaku tadi," ucapku.
"Ardi? Kenapa harus Ardi? Kau bisa memintaku untuk mengobati lukamu," ucap Bara sambil mengusap luka ditanganku.
"Tadi aku menjerit kesakitan, kebetulan Ardi ada disana, makanya dia mengobati lukaku."
"Tetap saja aku cemburu," ucap Bara.
"Cemburu? Benarkah?" Aku tersenyum menggoda Bara yang terlihat cemberut.
"Kenapa senang?"
Aku menatap wajah Bara sambil tersenyum, lalu memeluk tubuh Bara erat. Ada rasa bahagia dihatiku, mendengar Bara mengucapkan kata cemburu. Kenapa denganku? Apa aku tidak waras?
"Jangan pernah mendekati adikku lagi. Biar bagaimanapun, adikku Ardi adalah mantan pacarmu. Hatiku sakit, aku tidak mau berbagi cinta dengan Ardi, walau dia adikku."
"Iya, Mas!" ucapku sambil tersenyum.
Aku mengajak Bara masuk, aku menatap Cindy, Marcell dan Alesha bermain bersama baby Alghi.
"Kak, biarkan kami main dengan Alghi ya!" ucap Marcell.
"Hati-hati. Jaga Alghi!" ucap Bara.
Bara dan aku masuk kedalam kamar, mau apa kami ke kamar? Tiba-tiba bulu kudukku berdiri, menatap Bara yang sudah memeluk tubuhku dari belakang. Aku berbalik badan, menatap wajah Bara.
Bara mendekatkan bibirnya ke bibirku, ciuman hangat itu terjadi cukup lama. Aku menikmati sentuhan bibir Bara yang terus menggigit lembut bibirku. Bara mulai menciumi lengkuk leherku tanpa kendali. Ada jutaan rasa yang aku rasakan saat itu. Sakit, geli, tapi tidak mau menyudahi. Bara menarik tubuhku keatas tempat tidur, lalu kami kembali bercumbu. Ciuman yang membuatku semakin tak terkendali.
Aku hanya bisa pasrah, saat Bara melucuti pakaianku. Rasanya aku tidak bisa menolak semua kenikmatan yang diberikan Bara padaku. Sakit itu kini menjadi kenikmatan yang selalu membuatku ketagihan. Hal gila apa ini?
Aku menatap wajah Bara yang bercucuran keringat, kecupan terakhir mendarat dibibirku, mengakhiri semua hasrat Bara.
"Aku mencintaimu," bisiknya.
"Aku juga mencintaimu," ucapku.
Bara memeluk tubuhku mesra, mencium keningku penuh kasih. Aku terbuai, membuatku merasakan indahnya dicintai.
****
Malam itu Bara sudah tidur, begitupun dengan Alghi. Tapi aku belum mengantuk, lalu aku ke dapur untuk mengambil air minum. Aku menatap Ardi berjalan sempoyongan bersama seorang wanita. Siapa wanita itu? Pacar Ardi kah?
Entah kenapa rasa ingin tahuku begitu besar. Aku mengikuti langkah kaki mereka menuju kamar Ardi. Mau apa mereka kedalam kamar?
Aku menatap mereka dari pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Mungkin wanita itu lupa menutup rapat pintu itu. Wanita itu tersenyum menatap Ardi. Dia mulai menciumi bibir Ardi dengan begitu buas. Siapa wanita itu sebenarnya?
Aku menatap beberapa adegan mesra yang biasa dilakukan suami istri. Aku juga mendengar suara Ardi merintih memanggil namaku. Apa, namaku?
"Chika, pelan-pelan sayang! Seluruh tubuhku ini milikmu," ucap Ardi sambil mengusap wajah wanita itu, lalu mengecup bibirnya.
Wanita itu tak perduli, dia bermain lincah di atas tubuh Ardi. Desahan suara hasrat keduanya terdengar keras sampai ke telingaku. Tapi kenapa, Ardi menyebut namaku? Apa Ardi mabuk lagi?
Aku sudah tidak sanggup menatap permainan wanita itu yang semakin buas. Aku memilih pergi meninggalkan tempat itu. Tapi, lagi-lagi Ardi memanggil namaku.
"Chika sayang. Aku mohon jangan pernah pergi lagi! Aku mau kau menemaniku seumur hidup..." Ardi tak melanjutkan ucapannya, karena wanita itu menutup bibir Ardi dengan ciuman buasnya.
Aku tidak tahu harus apa? Aku merasa kehancuran hidup Ardi, semua adalah kesalahanku. Aku berjalan menjauh dari kamar itu tapi,
PRAAAK...
Aku menjatuhkan bingkai foto, sontak Ardi melepaskan pelukan tubuhnya pada gadis itu. Ardi menghampiriku, lalu menatap wajahku tajam.
"Chika sayang. Kau disini?" bisik Ardi. Aku mencium bau alkohol dari mulutnya. Ardi benar-benar mabuk lagi.
"Kenapa kau mabuk? Bukankah dulu kau membenci alkohol?" kataku.
"Aku mabuk karena dirimu. Kau Chika, kau yang telah menghancurkan hidupku," ucap Ardi sambil mengangkat daguku agar menatap wajahnya.
Aku menepis kasar sentuhan Ardi, namun Ardi kembali memelukku erat. Wajahnya kini begitu dekat denganku.
"Lepaskan Ardi, lepas..." ucapku.
Tapi bukan dilepas, Ardi malah mencium bibirku. Lidahnya bergerak tak terkendali dimulutku. Aku menggigit bibir Ardi, hingga Ardi menghentikan ciumannya.
"Apa yang kau lakukan?" ucapku pelan.
Ardi tidak menjawab, tapi matanya terus menatap wajahku tanpa berkedip. Wanita itu keluar dari kamar, lalu menarik Ardi masuk kembali kedalam kamar itu. Sebelum masuk kedalam kamar, Ardi mengucapkan satu kata yang tidak bisa ku lupakan.
"Kau akan melihat aku hancur Chika. Aku tidak akan pernah menjadi Ardi yang kau kenal lagi. Kau lihat saja, aku akan menghancurkan hidupku sendiri," ucap Ardi sambil berlalu meninggalkanku.
Apa maksud kata-kata Ardi? Menghancurkan hidupnya sendiri? Tapi kenapa? Bukankah selama ini dia sudah mengikhlaskan aku dengan Bara? Kenapa Ardi jadi begini? Apa yang harus aku lakukan?
Tinggalkan jejak Like atau Jempol juga Vote untuk mendukung karya Author.
Terimakasih sudah membaca.💕
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂