Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Rencana Pertunangan
Baru saja Gita ingin menghubungi Gala, pria itu justru menghubunginya terlebih dahulu. "Halo Gita, maafkan aku sudah membuatmu menunggu dan tidak bisa mengantarmu pulang," suaranya terdengar begitu berat dan penuh rasa penyesalan. "Aku baru saja selesai meeting."
Gita melirik jam di dinding kamarnya, menujukan pukul 23.00. "Apa ada masalah?" tanyanya khawatir. Ia tidak pernah melihat Gala selesai meeting selarut ini.
Gala menghembuskan napas berat, sebelum akhirnya ia bercerita jika ada masalah dengan beberapa supliernya. "Mereka sudah tidak bisa menanam lagi, sebab ada pengusaha besar merebut paksa lahan mereka. Mereka di minta menjual lahan mereka dengan harga di bawah pasaran," terang Gala.
"Aku bisa saja mencari suplier lain, tapi aku tidak bisa membiarkan ketidak adilan ini terus terjadi, Git."
Gita mengangguk setuju, ia sudah muak dengan para orang-orang kaya yang bertindak seenaknya dengan rakyat biasa. "Tapi seharusnya mereka tetap mempertahankan tanah mereka, jangan mau begitu saja melepasnya."
"Sebetulnya ada perjanjian lain di balik jual beli tanah itu, mereka di iming-imingi menjadi pekerja di perkebunan buah merah dengan gaji yang cukup tinggi. Sehingga mereka berpikir dari pada mengelola tanah sendiri dengan hasil yang tak menentu, lebih baik mereka menjual tanah mereka meski dengan harga rendah, asalkan tiap bulannya mereka mendapat pendapatan yang pasti dan lumayan. Tapi kenyataannya, baru dua atau tiga bulan bekerja mereka malah di berhentikan. Perkembangan teknologi yang di pakai oleh perusahaan itu membuat tenaga manusia tergantikan oleh robot."
"Jadi tidak ada perjanjian kontrak kerjanya?" tanya Gita memastikan dugaannya.
"Ya, kau benar sekali. Mereka seperti di jebak karena keterbatasan pengetahuan mereka."
"Ini benar-benar tidak adil, kita harus melakukan sesuatu."
"Kau tenang saja, Git. Aku pasti akan membantu mereka semaksimal mungkin, kau fokuslah pada kuliahmu, bukan kah senin depan kau sudah mulai kuliah? Aku akan memberimu cuti tiga hari, kau ajukan saja surat cutinya nanti aku tandatangani."
"Terima kasih, Gala. Tapi, kalau boleh aku tahu apa rencanamu untuk membantu mereka?" tanya Gita penasaran, sebab melawan pengusaha besar yang arogan seperti itu tentu mereka punya backingan yang kuat di belakangnya.
"Sementara ini kita akan mengajukan surat somasi, jika dua kali somasi mereka tidak menggubris tuntutan kita, barulah kita tempuh jalur hukum atau bila perlu kita berdemo di depan kantor mereka agar semua media meliput dan mereka malu karena telah menipu rakyat kecil."
Gita berharap rencana Gala berjalan dengan lancar, meski firasatnya mengatakan ini tidak mudah. "Aku akan mendukungmu, Gala."
"Terima kasih, Gita. Kau istirahatlah, ini sudah malam. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang."
"Tidak apa-apa, Gala. Selamat malam dan selamat istirahat." Gita pun mematikan sambungan teleponnya.
***
Sementara itu di tempat berbeda, Kai yang juga telah sampai di kediamannya membereskan semua barang-barangnya. Ia memasukan pakaian serta barang pribadi lainnya ke koper.
Kai tak berniat kabur dari rumah, ia justru berpamitan dengan Rendi ketika ia sudah bersiap meninggalkan rumah. "Aku ingin tinggal di apartemen," ucapnya dengan tenang pada Rendi yang berada di ruang kerjanya, tapi ia tak melihat keberadaan ibunya. Kemungkinan Tiara sudah istirahat, sebab jam menujukan pukul 00.20.
Rendi menatap Kai, kemudian beralih ke koper besar di sebelah Kai, kemudian kembali lagi pada anak sambungnya itu.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan tetap ke kantor dan bekerja seperti biasanya. Aku hanya butuh sedikit privasi,"lanjut Kai.
Rendi tersenyum simpul, ia menduga ini ada kaitannya dengan anak pemilik Confident Company. Pagi tadi Aksara mendatangi Rendi, dan secara terang-terangan Aksara mengutarakan niatannya untuk menjodohkan Jiva dengan Gema.
Rendi menyetujui rencana Aksara, ia melihat akan ada keuntungan yang sangat besar jika anak sambungnya menikah dengan satu-satunya calon pewaris Confident Company. Tapi Rendi tak mau terlibat dalam kisah asmara antara Jiva dan Gema, sehingga ia menyuruh Aksara mengurusnya sendiri.
'Mudah sekali anak sialan ini jatuh cinta,' pikir Rendi menatap Gema. "Baiklah," Rendi melambaikan tangan pertanda agar Kai segera pergi dari ruang kerjanya.
Kai pun berbalik, dan bergegas pergi meninggalkan kediaman Rendi. Ia tak pamit kepada ibundanya, sebab tak ingin mengganggu istirahatnya. Biarlah, besok pagi pun ibunya akan tahu dari Rendi, pikir Kai.
Namun dugaan Kai ternyata salah, secara diam-diam Mutiara pun pergi dari kediaman Rendi melalui pintu belakang, dengan di bantu oleh pekerja yang mendukung dirinya.
Sebetulnya Rendi sudah menerima laporan akan tidakan istrinya, ia bahkan menyaksikan Mutiara mengendap-endap melalui CCTV. Tapi entah mengapa pria itu membiarkan istrinya pergi. "Kita lihat saja, berapa lama wanita jalang itu mampu bertahan?" gumam Rendi, ia menduga paling lama hanya beberapa hari. Jika kehabisan uang, Mutiara pasti akan kembali lagi padanya sembari menangis-nangis.
"haha..." Rendi tak sabar menantikan hari itu.
galaa semoga kamu cepat balik pulang
kasihan banget kamu kiranaa
di mata Jiva, kamu tetep ibu yang terbaik untuknya
paling gak, dengan foto tersebut Gita dan juga Jiva bisa membayangkan wajah Sarah di kala rindu