Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Session 1 - Xavier - Cassandra [Tamat]
Session 2 - Roman - Alesha [Tamat]
Session 3 - Ongoing
Tiga tahun menjalani pernikahan akhirnya membawa Alesha pada keputusan penting, yaitu meminta perceraian dari sang suami, Roman Alvero.
Apakah keretakan rumah tangga itu akan berakhir di persidangan? Atau mampukah Roman, mempertahankan Alesha sekali lagi?
~Selamat membaca terima kasih sudah mampir~ ♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Berbagi
"Tenanglah. Kau punya aku." ~Xavier Forzano.
.
.
.
Cassandra tidak muncul pagi itu. Dia melewatkan kelas di jam pertama dan kedua, tidak memberikan kabar apapun. Dia harus bekerja di kafe sore ini, namun belum muncul hingga matahari telah naik tengah hari.
Arjuna melirik pada gedung perkuliahan Cassandra, tidak menemukan gadis itu di dalam sana. Yoyo keluar dari kelas dan menghampiri Arjuna yang masih celingukan di ambang pintu.
"Mas!" sapanya, membuat Arjuna menoleh ke arahnya.
"Cassandra mana?" tanya Arjuna to the point. Dia berfikir mungkin saja Yoyo tahu apa yang terjadi pada gadis itu.
Yoyo mengangkat bahunya.
"Ponselnya gak bisa dihubungin. Dan dia gak bilang apa-apa, aku gak tau dia kemana," jawab Yoyo jujur. Dia telah berusaha menghubungi sahabatnya itu sejak jam pertama dimulai, namun ponselnya tidak dihidupkan.
Cassandra tidak pernah membolos sebelumnya. Gadis itu tahu dengan benar bahwa dia harus menjaga nilai dan absennya, agar namanya masih berada dalam jajaran mahasiswa penerima beasiswa semester depan.
"Mas ada urusan sama dia?" tanya Yoyo lagi, memastikan. Arjuna tidak menjawab apapun atas perkataannya sebelumnya, lelaki itu hanya terdiam mematung di tempatnya.
Sejurus kemudian, Arjuna menggeleng.
"Enggak. Gak ada apa-apa kok. Yaudah makasih ya," katanya cepat, berpamitan sekilas pada lelaki bertubuh gempal itu, kemudian melangkah pergi dari sana.
Xavier juga tidak muncul pagi ini. Dan persis sama seperti Cassandra, ponsel pria itu juga tidak bisa dihubungi.
Arjuna menggeleng, dia berniat menanyakan perihal Xavier pada Cassandra, namun ternyata gadis itu juga tidak berada di sana.
***
Cassandra menatap laut yang berada di depannya. Dia memandang jauh pada ombak yang berkejaran indah, berharap kesedihannya akan sedikit berkurang.
Di sinilah mereka. Xavier duduk tepat di samping gadis itu, memandang laut yang sama sekaligus sesekali melirik pada wajah cantik Cassandra. Rambutnya yang dibiarkan tergerai terlihat sedikit berantakan akibat tertiup angin.
Cassandra bukan tidak datang kuliah. Dia tidak tidur lagi sejak terbangun karena mimpi buruknya semalam, dan terjaga hingga pagi. Matanya bengkak karena menangis dan wajahnya terlihat kuyu sekali. Cassandra turun dari bus dan melangkah tak bersemangat menuju kelas pertamanya.
Xavier memarkir mobilnya dengan baik, kemudian melintasi persimpangan jalan dan tiba-tiba dia melihat Cassandra melangkah gontai pagi tadi. Sontak, lelaki itu berlari kecil menghampiri gadis itu, meraih bahunya dan membuat Cassandra berbalik ke belakang.
Gadis itu tampak pucat, sekaligus tidak sehat.
"Apa?" tanya Cassandra lemah.
Xavier langsung memikirkan sesuatu saat itu juga. Dia menarik lengan Cassandra, membawa gadis itu berbalik arah, menuju mobilnya. Tidak peduli mereka melewati tatapan-tatapan dari mahasiswa yang melihat adegan bak FTV di pagi hari. Ada yang mencibir, ada juga yang bersorak kegirangan.
Xavier berhenti tepat di depan mobilnya.
"Kau mau makan?" katanya menatap lurus pada manik Cassandra.
Gadis itu benar-benar tidak bersemangat.
"Xavier," katanya memanggil nama Xavier, tidak menjawab pertanyaan Xavier tadi.
Cassandra mendongak, menatap dalam pada mata Xavier yang teduh. Wajah lelaki itu terlihat tampan pagi ini.
"Kau mau bolos denganku?" tanya gadis itu lirih, penuh harap.
Cassandra mungkin hanya membutuhkan tempat untuk mencurahkan kesedihannya. Dia hanya butuh refreshing sejenak, sebelum kembali ke rutinitasnya yang padat.
Xavier tidak perlu menjawab, dia membuka pintu penumpang, menyuruh Cassandra masuk ke dalam mobil dan cepat menuju pintu pengemudi.
Dan di sinilah mereka sekarang. Menatap laut yang luas, berkutat dengan fikiran masing-masing. Xavier membuka suara.
"Kau bertengkar dengan ayahmu karena kejadian kemarin?" tanyanya hati-hati.
Cassandra menoleh. Dia menggeleng pelan.
"Tidak. Yah, dia bertanya kau siapa, dan mengapa kau memelukku semalam. Tapi aku sudah jelaskan padanya."
Wajah Xavier memerah. Mengapa aku memelukmu?
"Aku berfikir dia orang asing yang ingin berbuat jahat, makanya aku berinisiatif menarikmu saja," kata Xavier membela diri.
"Aku tahu," kata Cassandra sembari menoleh. Xavier sedang menatapnya.
"Tidak mungkin kau memelukku tanpa alasan yang jelas," lanjut gadis itu lagi.
Xavier terdiam.
"Jadi kenapa kau tidak bersemangat seperti ini? Ada yang mengganggumu?" tanya Xavier lagi, setelah hening di antara mereka beberapa lama.
Cassandra berdehem pelan.
"Aku mengingat kisah lama. Dan itu membawa luka," katanya. Dia tidak ingin membahas itu sekarang.
"Aku tidak ingin membahasnya," lanjutnya lagi, lirih.
Xavier mengangguk. "Baiklah. Maafkan aku," katanya. Cassandra kembali menatap lelaki itu. Dia memutar ingatannya tentang bagaimana Xavier menarik tangannya pagi tadi dan mengajaknya makan. Apakah Xavier dapat melihat fikiran ruwet Cassandra melalui matanya? Gadis itu bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa kau memperhatikanku? Apa aku terlihat tampan? Jangan katakan, karena itu memang fakta," kata Xavier penuh percaya diri. Menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.
Cassandra tertawa.
"Memang kau tampan," katanya kemudian, membuat Xavier memutar bola matanya.
"Jadi, apakah reaksi orang tuamu tentang foto itu?" tanya Cassandra menatap lurus pada manik Xavier.
Raut wajah lelaki itu berubah. Cassandra menyadari mungkin dia tidak seharusnya menyinggung perihal foto itu lagi.
Xavier terdiam tidak menjawab.
"Maaf," kata Cassandra pelan, merasa tidak enak atas reaksi yang ditunjukkan Xavier. Mungkin seharusnya dia berhenti menyinggung masalah pribadi lelaki ini.
"Mereka tidak ada lagi," Xavier bersuara pelan.
"Kuharap mereka tenang di surga, setelah meninggalkanku sendirian di sini," kata pria itu penuh kesedihan. Begitu lama sejak terakhir kali dia membicarakan perihal orang tuanya yang telah tiada. Mengingat kembali bagaimana dia bertahan di keluarga kakeknya, syukurnya dia dibesarkan dengan bergelimang harta dan tak kurang suatu apapun.
Cassandra semakin menyesali pertanyaan konyolnya tadi.
"Sungguh, aku minta maaf," katanya tulus. Xavier memutar kepalanya, menoleh dan menatap dalam pada gadis itu. Cassandra balik menatapnya penuh penyesalan.
"Kau tidak salah apapun, Cassandra. Kau hanya bertanya."
Cassandra bungkam.
"Aku biasanya tidak berkata perihal pribadiku pada sembarang orang," kata lelaki itu lagi.
Cassandra mencerna arti dari perkataan Xavier barusan. Jadi, dirinya bukan sembarang orang bagi Xavier? Manik gadis itu membesar.
"Aku membicarakan masalah pribadiku pada beberapa orang yang aku inginkan saja," lanjut lelaki itu lagi.
Cassandra menaikkan alisnya. Mencoba menerka kemana arah omongan Xavier akan dibawanya.
"Dan ketika kau sudah tahu tentang kehidupan pribadiku, itu berarti ...," Xavier menggantung kalimatnya. Menyunggingkan senyuman di ujung bibir, dia menatap penuh arti pada gadis berambut indah itu.
Cassandra menanti lanjutan kalimat Xavier dengan penuh rasa penasaran. Apa yang ingin dikatakan lelaki ini?
"Berarti?" tanyanya cepat.
Xavier menyeringai. Dia mendekat pada gadis itu, memastikan Cassandra dapat mendengarnya dengan jelas.
Cassandra menunggu.
"Berarti kau tidak bisa seenaknya pergi dari sisiku."
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Makasih untuk semua like, vote dan komennya ya kak.. semoga suka dan selamat membaca 🙏
modusnya bisa aja bang roman!
atau gabungan di cerita cassandranya ya