Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Muak
Langit mulai meredup. Di tengah terpaan angin sore, Alyssa berjalan menyusuri jalanan yang kini tampak lengang.
Dering ponsel di tangannya terus berulang, namun tak sekali pun ia melirik layar itu.
Ia hanya ingin pergi menenangkan diri dari semua luka yang baru saja menghantam hidupnya.
Rasa sedih dan kecewa menumpuk di dadanya, begitu sesak hingga napasnya terasa berat.
Bayangan hari-hari yang pernah ia lalui bersama sang suami berkelebat silih berganti, menyesakkan hingga membuat matanya kembali berkaca-kaca.
“Huh…”
Helaan napas panjang keluar dari bibirnya. Pandangannya terangkat menatap bintang bintang yang mulai muncul di angkasa.
“Haruskah aku pulang ke rumah Ibu…?” gumamnya lirih pada diri sendiri.
“Tapi aku tidak ingin beliau khawatir…”
Tes…
Air mata kembali jatuh saat wajah ibunya terlintas di benaknya. Sosok yang telah membesarkannya dengan penuh cinta itu pasti akan hancur melihat keadaannya sekarang.
Pikiran itu membuat Alyssa mengurungkan niatnya. Ia memilih mampir ke sebuah penginapan kecil yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Krek…
Langkahnya terhenti sesaat ketika memasuki kamar yang telah ia pesan.
Sunyi kembali menyergap, menusuk lebih dalam. Tak ada suara, tak ada siapa-siapa. Hanya dirinya… dan kesepian.
Air mata yang sedari tadi ia tahan kembali menggenang. Kini ia benar benar telah sendirian.
Tak ada lagi senyum sang suami yang dulu selalu menyambutnya setiap hari.
“Kenapa aku merasa sesedih ini…” lirihnya.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya. Terlalu lelah fisik dan hati.
Alyssa pun terlelap, air mata masih mengalir di sudut matanya. Ia tertidur dalam tangis.
…
Keesokan harinya, Alyssa terbangun oleh dering ponsel yang kembali berbunyi. Dengan mata setengah terbuka, ia meraih ponsel itu dan mengangkatnya tanpa melihat siapa peneleponnya.
“Alyssa… akhirnya kamu mengangkat teleponku, sayang.”
Mata Alyssa langsung terbuka lebar. Tangannya gemetar, hendak memutuskan sambungan itu, namun suara sang suami kembali terdengar.
“Aku mohon, jangan matikan teleponnya. Aku sangat merindukanmu. Tidak masalah kalau kamu tidak ingin berbicara denganku… aku hanya ingin kamu mau mendengarkan ku.”
Hening.
Alyssa terdiam. Kata rindu yang diucapkan Arya tak lagi terasa hangat. Justru menyayat dan memaksanya tersenyum getir.
“Ada apa kamu menghubungiku, Arya?” ucapnya dingin.
“Kalau kamu hanya ingin menjelaskan semuanya, tidak perlu. Bagiku semuanya sudah sangat jelas.”
Tak ada lagi panggilan Mas. Tak ada nada lembut seperti dulu. Kata-katanya ketus.
Hati Arya perih mendengarnya, namun ia mencoba memahami, ia tahu istrinya masih terluka.
“Aku tahu kamu belum siap mendengar penjelasanku,” ucap Arya pelan.
“Dan aku juga tidak berniat menjelaskannya lagi. Aku hanya ingin meminta waktumu. Bisakah kita bertemu di kafe langganan kita? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Ini bukan penjelasan, Alyssa… tapi sebuah solusi. Mungkin kamu mau menerimanya.”
Alyssa menghela napas panjang. Sebenarnya ia enggan bertemu kembali dengan pria itu.
Namun ia sadar, masalah ini tak bisa terus dihindari. Cepat atau lambat, ia harus menghadapinya meski dengan hati yang telah remuk.
“Baik,” jawabnya akhirnya.
“Aku setuju bertemu denganmu. Tapi ingat satu hal aku datang bukan karena aku sudah memaafkan mu, melainkan karena aku ingin semua ini segera berakhir.”
“Aku mengerti… terima kasih. Dan aku sangat mencintaimu...”
Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, Alyssa sudah lebih dulu menutup telepon. Ia muak mendengar kata cinta dari pria itu, jika Arya benar benar mencintainya laki laki itu tidak akan mungkin mengkhianati dirinya apalagi sampai menghamili wanita lain.
Memikirkan itu rasa benci semakin menumpuk didada Alyssa ia sungguh tidak sabar bertemu dengan Arya, ia ingin tau solusi apa yang laki laki itu punya untuk masalah mereka.
Setelah bersiap, Alyssa masuk ke dalam taksi menuju kafe tempat mereka pertama kali bertemu.
Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap kosong jalanan yang kini dipenuhi aktivitas.
Tak seperti kemarin, hari ini ia memaksakan diri untuk berdandan. Mata sembap nya tertutup bedak tebal. Ia tak ingin Arya tahu bahwa semalam penuh ia menangisi pria itu.
“Sudah sampai, Mbak,” ucap sopir taksi.
“Terima kasih,” jawab Alyssa singkat sambil menyerahkan uang, lalu melangkah masuk ke dalam kafe.
“Alyssa, di sini!”
Suara seorang pria memanggilnya.
Alyssa menoleh dan darahnya langsung mendidih. Tangannya mengepal erat kala mengetahui Di sana ditempat yang tak jauh darinya berdiri Arya sang suami … bersama Rosa. Wanita yang telah merebut suaminya.
Dengan langkah malas, Alyssa mendekat. Saat Arya memintanya duduk di samping, ia justru memilih kursi lain yang berjarak.
“Aku tidak menyangka,” ucapnya sinis.
“kamu mengajakku ke sini hanya untuk menemuinya.”
“Tenang, Mbak… jangan marah dulu,” ujar Rosa dengan suara yang seolah olah dibuat lembut hal itu membuat Alyssa menjadi jijik...
“Diam,” potong Alyssa tajam.
“Aku tidak sedang berbicara denganmu.”
“Alyssa, jaga sikapmu,” kata Arya dengan nada menekan.
“Rosa sudah berbicara sopan, tapi kamu malah kasar. Ingat, kita di tempat umum. Jangan mempermalukan dirimu sendiri.”
Hati Alyssa runtuh.
Ia tak percaya suaminya justru membela wanita lain di hadapannya.
“Ck.” Alyssa berdecak kesal.
“Aku tidak punya waktu untuk drama kalian. Cepat katakan apa maumu dan kenapa kamu mengajakku ke sini.”
Tatapan Alyssa yang dulu teduh kini berubah tajam dan arogan. Arya semakin kesal, namun ia menahan emosinya.
“Apa kamu tidak mau memesan makanan dulu?” tanyanya berusaha lembut.
“Aku sudah kenyang.”
Arya mengangguk pelan. Ia mengerti itu hanya alasan istrinya agar tidak terlalu lama berada disana bersama dirinya.
“Begini… aku tahu aku salah. Tapi semua sudah terjadi. Aku tidak bisa memutar waktu. Jadi…”
Alyssa menatapnya tanpa berkedip.
“Jadi aku ingin kamu ikhlas… dan mau menerima Rosa sebagai madumu.”
Mata Alyssa membelalak. Dadanya naik turun menahan amarah.
“Gila kamu, Mas!” teriaknya.
“Bagaimana bisa kamu meminta itu dariku? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku? Sakit! Hatiku hancur saat kamu mengkhianati pernikahan kita. Lukaku bahkan belum kering, dan sekarang kamu ingin menambahnya lagi, inikah solusi yang kamu maksud ?”
Air mata Alyssa jatuh tanpa bisa ditahan.
“Kamu punya hati atau tidak, Mas? Kenapa setega ini memperlakukanku? Aku salah apa padamu?”
Suasana kafe mendadak hening. Semua mata tertuju padanya ada yang terkejut, ada yang iba. Bisik-bisik mulai terdengar. Rosa yang tak nyaman menggenggam lengan Arya, memberi isyarat agar ia menenangkan Alyssa.