Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9_DIPATAHKAN DIDEPAN SEMUA ORANG
Hari itu Nayla datang ke sekolah dengan kepala sedikit berat, tapi langkahnya tetap mantap. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri semalam, tidak akan menyerah, tidak akan runtuh hanya karena satu orang bernama Azka Mahendra.
Kelas terasa ramai. Beberapa murid bercanda, beberapa sibuk membuka buku. Nayla duduk di bangkunya, menyiapkan alat tulis. Dani dan Sena sudah lebih dulu datang.
“Lo kelihatan capek,” bisik Dani.
“Kurang tidur,” jawab Nayla singkat sambil tersenyum kecil.
Ia tidak ingin membahas apa pun. Tidak ingin mengulang rasa semalam.
Beberapa menit kemudian, Azka masuk kelas.
Seperti biasa, suasana berubah. Beberapa siswa langsung diam, beberapa siswi membenarkan posisi duduk mereka. Azka melangkah ke bangku depan tanpa melihat siapa pun.
Termasuk Nayla.
Pelajaran dimulai. Hari itu mata pelajaran ekonomi, dan guru terlihat cukup serius sejak awal.
“Kita akan presentasi,” ujar guru sambil membuka daftar nama. “Kelompok minggu lalu.”
Nayla mengangkat wajahnya perlahan. Dadanya berdebar. Ia ingat betul kelompoknya dan ia ingat satu nama di dalamnya.
“Kelompok tiga,” lanjut guru. “Azka Mahendra dan Nayla Azzahra.”
Kelas langsung riuh kecil.
Nayla menelan ludah. Ia berdiri pelan, mengambil map presentasinya. Azka berdiri lebih dulu, wajahnya datar.
Mereka berjalan ke depan kelas bersama.
Tidak sejajar.
Azka melangkah lebih cepat, seolah tidak ingin berada di samping Nayla terlalu lama. Nayla mengikutinya, menahan rasa perih yang tiba-tiba muncul tanpa izin.
Presentasi dimulai.
Azka membuka penjelasan dengan suara tenang dan percaya diri. Seperti biasa, semua mata tertuju padanya. Nayla berdiri di samping, menunggu bagiannya.
Saat giliran Nayla berbicara, ia menarik napas.
“Untuk poin selanjutnya—”
“Tidak perlu,” potong Azka tiba-tiba.
Nayla terdiam.
Guru mengernyit. “Azka?”
Azka menoleh ke guru, lalu ke Nayla, kemudian kembali ke kelas. “Maaf, Pak. Tapi penjelasan dia kurang relevan. Saya sudah rangkum semuanya.”
Ruangan hening.
Nayla merasa wajahnya panas.
Guru terlihat ragu. “Tapi ini presentasi kelompok.”
Azka mengangguk kecil. “Saya tahu. Tapi tidak semua anggota harus bicara, kan?”
Beberapa siswa mulai berbisik.
Nayla mengepalkan tangan di balik map. “Pak, saya bisa jelaskan—”
Azka menoleh cepat. Tatapannya tajam. “Kamu yakin?”
Nada suaranya rendah, tapi menusuk.
“Materi ini cukup kompleks,” lanjut Azka tanpa menunggu jawaban. “Takutnya malah bikin kelas bingung.”
Kalimat itu seperti tamparan terbuka.
Beberapa siswa tertawa kecil. Ada juga yang terlihat tidak nyaman, tapi tidak ada yang berani bicara.
Nayla berdiri kaku.
Guru terbatuk kecil. “Baik, Azka lanjutkan.”
Dan saat itu, Nayla benar-benar dipinggirkan.
Ia berdiri di depan kelas, tapi seolah tidak ada. Azka menjelaskan dengan lancar, tanpa meliriknya lagi. Setiap kata Azka terasa seperti menekan kepalanya lebih dalam.
Saat presentasi selesai, guru memberi komentar. “Bagus, Azka. Penjelasannya rapi.”
Nayla menunduk.
“Untuk Nayla,” lanjut guru ragu, “lain kali lebih aktif, ya.”
Nayla mengangguk pelan. “Iya, Pak.”
Ia kembali ke bangkunya dengan langkah berat.
Dani langsung menoleh, wajahnya tegang. “Nay…”
“Gapapa,” potong Nayla cepat, meski suaranya sedikit bergetar.
Sena menggenggam tangan Nayla di bawah meja. “Dia keterlaluan.”
Nayla tersenyum tipis. “Udah biasa.”
Padahal tidak. Tidak pernah biasa dipermalukan seperti itu.
***
Istirahat datang seperti penyelamat, tapi juga seperti jebakan.
Nayla memilih tetap di kelas. Ia duduk menatap buku tanpa benar-benar membaca. Beberapa murid keluar, beberapa masih tinggal.
Azka berdiri, hendak keluar, lalu berhenti di samping bangku Nayla.
“Kamu sengaja bikin aku kelihatan buruk?” ucap Azka pelan, tapi cukup untuk didengar Nayla.
Nayla mengangkat wajahnya. “Apa?”
“Kamu berdiri di depan tadi,” lanjut Azka dingin. “Seolah kamu punya hak yang sama.”
Kalimat itu membuat Nayla terdiam.
“Aku anggota kelompok,” jawab Nayla pelan. “Itu tugasku.”
Azka menyeringai tipis. “Di dunia nyata, tugas tidak selalu berarti kesempatan.”
Nayla menatapnya lama. Matanya tidak berkaca-kaca. Tidak lagi.
“Kamu puas?” tanyanya.
Azka mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Mempermalukan aku di depan kelas,” lanjut Nayla tenang. “Kalau itu tujuanmu, selamat.”
Azka terdiam sejenak.
“Kamu terlalu sensitif,” ucapnya akhirnya.
Nayla tertawa kecil. “Atau kamu terlalu kejam.”
Azka menajamkan tatapannya. “Jaga mulutmu.”
Nayla berdiri, berhadapan langsung dengannya. “Aku cuma mau satu hal.”
Azka menunggu.
“Kalau kamu mau aku nggak kelihatan di sekolah,” ucap Nayla pelan tapi tegas, “berhenti dorong aku sampai jatuh. Aku bisa mundur sendiri.”
Beberapa siswa yang masih di kelas menahan napas.
Azka menatap Nayla lama. Ada sesuatu di matanya, bukan marah, tapi terganggu.
“Jangan sok kuat,” ucap Azka akhirnya.
Nayla tersenyum tipis. “Aku memang kuat.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Azka berdiri sendiri.
***
Di toilet sekolah, Nayla mengunci diri di salah satu bilik. Begitu pintu tertutup, lututnya melemas.
Tangannya gemetar. Ia menunduk, menarik napas berulang kali. Tidak menangis. Tidak sekarang.
“Aku janji,” bisiknya pada diri sendiri, “aku nggak bakal runtuh di sini.”
Beberapa detik berlalu. Ia membasuh wajah, menatap pantulan dirinya di cermin.
Masih pucat. Masih lelah. Tapi matanya berbeda. Ada api kecil di sana.
***
Dari kejauhan, Devan melihat semuanya. Ia berdiri di ujung koridor bersama Raka dan Dion. Wajah Raka terlihat gelap.
“Ka kebangetan,” gumam Raka.
Dion mengangguk pelan. “Itu bukan sekadar dingin.”
Devan tidak berkata apa-apa. Tatapannya mengikuti Nayla yang berjalan menjauh dengan bahu tegak.
“Dia nggak nangis,” ucap Devan pelan.
Raka menoleh. “Hah?”
“Kalau murid lain diperlakukan begitu,” lanjut Devan, “udah pasti hancur.”
Ia menoleh ke arah kelas. Dan di sana, Azka berdiri sendirian dengan wajah yang sulit dibaca.
Hari itu, Nayla dipermalukan di depan kelas.
Tapi tanpa mereka sadari, sesuatu juga mulai aneh di dalam diri Azka. Dan keanehan itu, tidak akan mudah ditutup kembali.