Dewangga adalah seorang pangeran yang sebentar lagi akan dinobatkan menjadi seorang raja di zaman kuno. Dengan bantuan dari sistem, dia terlempar ke zaman modern ketika dia hampir saja terbunuh dari serangan musuh.
Tiba-tiba dia berada di dalam sebuah mobil dengan keadaan tanpa busana. Ternyata di dalam mobil tersebut terdapat seorang wanita cantik, membuat mereka dikira telah berbuat tak senonoh dan nikahkan oleh masyarakat secara paksa.
Dari sanalah perjalanan kehidupannya sebagai seorang manusia biasa dimulai. Dia yang awalnya hidup selalu dihormati dan disegani oleh semua orang di zaman kuno, kini di zaman modern dia hidup dengan penuh banyak rintangan.
Rupanya cincin warisan dari leluhur mengaktifkan sebuah sistem, untuk membantunya bisa kembali ke zaman kuno, dengan syarat dia harus melakukan misi-misi yang telah ditentukan oleh sistem, untuk memburu orang-orang yang melakukan kejahatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Tangan Dewangga perlahan-lahan turun ke bawah, memberikan sentuhan dengan lembut seluruh lekuk tubuh indahnya Sandra, kemudian tangannya masuk menelusup ke dalam celana da-lam yang masih dikenakan oleh Sandra.
"Mmmhhh!" Sandra tercekat ketika merasakan satu jemari Dewangga sedang bermain dibawah sana, memainkan sesuatu yang bisa membuat gairahnya semakin menjadi-jadi.
Tubuh Sandra tidak bisa diam, dia meliuk-liukan tubuhnya, memeluk kepala Dewangga yang sedang menyesap dadanya, gerakan jemari Dewangga dibawah sana membuatnya menggila.
Sandra tidak menyangka bahwa suaminya yang selalu dianggap gila olehnya ternyata mampu membuat dirinya seakan sedang melayang-layang di udara, dengan segala kenikmatan yang Dewangga lakukan kepada tubuhnya.
Ciuman Dewangga turun ke bawah, dia menciumi perut Sandra yang rata, sambil kedua tangannya melepaskan celana dal-am yang dikenakan oleh Sandra, sehingga kini wanita itu benar-benar dalam keadaan tanpa mengenakan sehelai kain apapun.
Dewangga membuka lebar-lebar kedua paha Sandra, menenggelamkan kepalanya dibawah perut wanita itu.
"Ahhh!" Sandra menjerit penuh kenikmatan ketika merasakan lidahnya memainkan sesuatu yang sangat sensitif di area intinya, memutarkan lidahnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya, menghisapnya dengan kuat.
"Owh... Dewa!" Sandra sudah semakin terlena dengan apa yang Dewangga lakukan di bawah perutnya, kedua tangannya mencengkram seprai untuk memberikannya kekuatan untuk menghadapi kenikmatan yang terus dia rasakan secara bertubi-tubi malam ini.
Dewangga masih menjilatinya sekali, dua kali, tiga kali, dan terus dia lakukan secara berulang-ulang kali. Menikmati satu titik sensitif di area inti Sandra. Diiringi dengan suara jeritan Sandra yang terdengar parau.
Suara des-ahan Sandra bagaikan alunan musik yang terdengar sangat indah ditelinga Dewangga, kemudian dia menghisapnya kembali, suara jeritan Sandra terdengar lagi dan lagi.
Nafas Sandra kian memburu, dan Dewangga semakin liar menggerakkan lidahnya di milikinya Sandra. Lidah yang lembut tersebut bergerak maju mundur dan menyapu kelembutan kulitnya. Tanpa sadar tubuhnya ikut bergerak mengimbangi pergerakan lidah Dewangga dibawah sana.
"Ohhhh!" Sandra melenguh nikmat, tanpa sadar dia menekan kepala Dewangga, membuat lidah Dewangga menusuk semakin dalam. Lidah yang lembut tersebut bergerak keluar masuk dengan sangat lembut, membuat Sandra semakin menggila.
Tubuh Sandra menegang dengan hentakan yang tertahankan dari pinggulnya, lalu kedua kakinya dia lebarkan. Sebuah pertanda Sandra akan segera mencapai puncak kenikmatannya.
Dewangga segera mencumbunya, menyesapnya dengan sangat kuat. Tubuh Sandra menggelin-jang, dia menekan kepala Dewangga yang sedang menghisap cair-an yang sudah mulai keluar, sampai Sandra berteriak memanggil nama Dewangga berkali-kali.
"Ahhh... ahhh Dewangga."
Dewangga memandangi wajah Sandra yang sangat terlihat cantik jika sedang bergairah seperti itu, nafasnya terasa sesak ingin segera memakan dan melahap wanita cantik itu sampai habis.
Dewangga segera membuka boxernya, membuat Sandra melebarkan pandangannya ketika melihat bagaimana besar dan panjangnya milik Dewangga, membuat wajahnya memerah dan menelan saliva, apakah senjatanya akan muat jika masuk ke dalam miliknya.
Bagaimana jika sakit? Tapi Sandra berpikir mereka hanya melakukannya malam ini saja, hanya satu kali. Jadi dia harus bisa kuat jika seandainya merasakan sakit.
Dewangga mulai menggesek-gesekkan senjatanya menyentuh milik Sandra, mungkin karena Sandra sedang dalam keadaan bergairah, dia menjadi tidak sabar untuk menyatukan tubuh mereka.
"Kamu sudah siap?" tanya Dewangga kepada Sandra.
Sandra mengangguk pelan, jantungnya berdebar-debar tidak karuan, begitu tegang, tapi dia sangat penasaran bagaimana rasanya bercinta.
Dewangga mulai memasukkan bagian kepalanya.
[Ding!]