Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyari Kerja
Raisa tampak melamun, di antara teman-temannya. Ia sedang berada di kantin mini bersama Andini dan Indah.
"Kamu nggak makan, Cha?" tanya Indah.
"Nggak, aku lagi diet," sahut Raisa sambil tersenyum tipis.
"Diet segala, nanti tipes lho," celetuk Indah.
"Hmm, aku lagi ngirit," kata Raisa lagi, tak bersemangat.
Mata Indah dan Andini langsung tertuju ke arah Raisa. "Ngirit kenapa?" tanya Andini penasaran.
"Aku harus bayar kosan bulan depan," jawab Raisa. Indah dan Andini sedikit kaget mendengar ucapan Raisa.
"Bayar kosan? Bukannya kosan kamu dibayar per tahun ya?"
"Itu kan yang di Lengkong. Aku ngekos lagi di Cisitu Lama, dan 2 minggu lagi harus dibayar," ungkap Raisa menjelaskan.
"Hah? Ngapain jauh-jauh ngekos di Cisitu Lama?" Indah semakin penasaran.
"Emm... aku lagi cari suasana baru," jawab Raisa asal saja.
"Itu sih nyusahin diri sendiri," kata Indah lagi.
"Aku punya alasan kuat," kata Raisa, membuat kedua temannya menoleh ke arahnya.
"Alasan kuat apa?" Indah dan Andini bertanya hampir bersamaan.
"Nanti deh aku ceritain," kata Raisa lagi pelan.
"Trus, gimana cara kamu bayar kosan?" tanya Andini, membuat Raisa memikirkannya sejenak.
"Aku mau cari kerja," kata-kata itu tiba-tiba saja terlontar begitu saja.
"Emm, bener kamu mau kerja?" tanya Indah, tampak tak yakin dengan Raisa.
"Iya, aku lagi butuh uang soalnya."
"Eugh, jadi SPG event mau?" Tiba-tiba saja Andini teringat kalau sepupunya adalah HRD di sebuah perusahaan produk susu.
"SPG event tuh apa?" tanya Indah.
"SPG event tuh SPG buat ada event aja," Andini mulai menjelaskan. "Lumayan lah, 1 jam dibayar 60 ribu. Jadi, kalau 6 jam aja lumayan banget," kata Andini lagi.
"Boleh deh, aku mau," Raisa tampak bersemangat mendengar hal itu.
"Ya udah, nanti aku SMS sepupu aku."
"Syukur lah, makasih ya, Andini," Raisa memeluk Andini saking senangnya.
"Iya, tapi kerjanya mulai sore, pulangnya malam, nggak apa-apa?" tanya Andini meyakinkan.
"Nggak apa-apa kok," Raisa meyakinkan Andini lagi.
"Capek lho, Cha," celetuk Indah.
"Nggak apa-apa, aku lagi butuh uang banget."
"Ok, aku SMS sepupu aku ya sekarang," Andini langsung mengambil ponselnya.
Raisa menyunggingkan senyum ramah, menyapa setiap pengunjung yang melintas di depan standnya. Dengan cekatan, ia menawarkan produk sambil menenteng nampan berisi sampel susu dengan aneka varian rasa yang menggoda.
Aroma manis susu bercampur buah segar menguar, menarik perhatian siapa saja yang lewat.
"Selamat siang, Ibu. Silakan dicicipi produk susu terbaru kami," ujar Raisa dengan nada ceria kepada seorang pengunjung yang tampak tertarik dengan standnya.
"Kami punya rasa cokelat Belgia yang mewah, stroberi Jepang yang segar, dan vanila Madagaskar yang lembut. Semuanya dibuat dengan susu segar dari peternakan lokal."
Raisa tak hanya menunggu. Ia aktif menghampiri beberapa pengunjung, terutama ibu-ibu yang menggandeng anak-anak kecil.
"Adek mau coba susunya? Ada rasa pisang yang manis, lho!" tawarnya sambil menyodorkan nampan. Matanya berbinar, berharap anak itu tertarik.
Hari demi hari, Raisa semakin menguasai pekerjaannya. Ia tampak luwes dan percaya diri dalam menawarkan produk.
Kata-katanya mengalir lancar, penjelasannya detail, dan senyumnya selalu menghiasi wajah. Ia bukan hanya seorang SPG, tapi juga seorang duta produk yang bersemangat.
Di kejauhan, seorang pria berdiri mematung, matanya tak lepas dari sosok Raisa.
"Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat," gumam Darma sambil mengerutkan kening, berusaha mengingat.
Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Raisa, dari cara ia tersenyum hingga bagaimana ia berinteraksi dengan pengunjung.
Sudah hampir setengah jam Darma berdiri di sana, terhipnotis oleh Raisa. Kebetulan, saat itu ia sedang menjemput Mariana, ibunya, di salon yang terletak tak jauh dari supermarket tempat Raisa bekerja.
"Darma!" seru Mariana, namun Darma seolah tak mendengar. Ia masih terpaku pada sosok Raisa, pikirannya melayang entah ke mana. Mariana, yang penasaran, ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama.
"Oh, pantas saja," ucap Mariana sambil menyeringai kecil, menyadari sesuatu. Ia tahu betul siapa gadis yang membuat putranya terpesona.
"Darma!" Kali ini Mariana memanggil Darma dengan nada yang sedikit lebih keras, membuyarkan lamunannya. Darma terhentak, tersadar dari dunianya sendiri.
"Melamunkan siapa, sih, sampai segitunya?" goda Mariana sambil mencolek lengan putranya.
"Cantik, ya, Mah," celetuk Darma dengan nada bercanda, matanya masih terpaku pada Raisa.
"Ah, biasa saja. Standar SPG," sahut Mariana, berusaha meredam antusiasme putranya. Namun, dalam hatinya, ia mengakui bahwa Raisa memang memiliki daya tarik tersendiri.
"Tapi, sepertinya Darma pernah lihat dia di kampus," ungkap Darma, yakin bahwa ia pernah bertemu Raisa sebelumnya. "Entah di kelas atau di kantin, tapi aku yakin pernah melihatnya."
"Ya, coba saja tanya," tantang Mariana, tersenyum penuh arti. Ia ingin melihat seberapa berani putranya mendekati gadis itu.
"Nggak, ah. Nanti saja," sahut Darma, gugup. Ia mulai beranjak dari tempatnya, berusaha menyembunyikan rasa tertariknya.
"Kalau mau kenalan, besok Mamah ajak ngobrol anaknya," kata Mariana, membuat mata Darma berbinar. Ia tak menyangka ibunya akan mendukungnya.
"Bener, ya, Mah?" sahut Darma, wajahnya berseri-seri. Ia tak sabar menunggu hari esok tiba.
"Ayo, cepetan pulang. Mamah capek," kata Mariana sambil berjalan menuju mobil, diikuti Darma dari belakang.
Sementara itu, di dalam supermarket, Raisa sedang berbincang dengan Tanti, rekan kerjanya sesama SPG.
"Kira-kira gaji sudah masuk belum, ya?" tanya Raisa dengan nada cemas. Ia sangat membutuhkan uang itu untuk membayar kos.
"Tunggu saja. Nanti biasanya dikabarin lewat SMS," sahut Tanti sambil tersenyum menenangkan.