Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Ketiga
Maya dan lainnya kembali ke ruang tamu lalu mengajak Laras makan siang bersama. Mereka kini sudah berkumpul di ruang makan.
"Bibi tidak tahu kalau bakal ada tamu ke sini. Jadi, Bibi masak cuma seadanya. Tidak apa-apa, kan?" Maya mencoba tersenyum manis.
"Saya sebenarnya juga masih kenyang. Tadi Dio sudah mengajak saya makan bakso," jelas Laras yang tak mungkin mengisi perutnya lagi.
"Tidak apa-apa kalau kamu makan sedikit atau mau Bibi buatkan teh?" Maya menawarkan sajian lainnya.
"Tidak usah repot-repot, Bibi. Saya minum air putih saja," Laras menolak dengan cara sopan.
"Hmmm, baiklah. Kalau begitu kami makan, ya!" kata Maya.
"Ya, silahkan!" ucap Laras tersenyum.
Maya dan anggota keluarganya telah mengisi piring yang ada dihadapan mereka dengan nasi beserta lauk dan sayuran. Lalu menyantapnya dengan santai dan pelan karena ada orang asing menemani mereka.
"Rumah kamu di mana? Kenapa bisa berkenalan dengan anak kami?" tanya Derry sambil melirik putranya dan istrinya.
"Perumahan Edelweis, Paman," jawab Laras.
Mendengar lokasi perumahan itu sontak membuat seluruh keluarganya Dio saling pandang. Karena rumah-rumah yang ada di sana pemiliknya para orang kaya.
"Kamu kerja di sana atau bagaimana?" Maya mengulik lebih dalam latar belakang wanita yang duduk dihadapannya.
"Di sana rumah orang tua sana," kata Laras.
"Wah, berarti dia anak orang kaya raya," batin Maya.
"Lalu kenapa kalian bisa berkenalan?" tanya Derry lagi.
"Saya tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Dio sudah membantu saya," jawab Laras.
"Tapi, kenapa Kakak mau menikah dengan Kak Dio?" Diana ikut juga bertanya karena penasaran.
Sontak pertanyaan Diana membuat kedua orang tuanya dan kakaknya mengarahkan pandangannya kepadanya.
Laras lalu menjelaskan alasannya mengajak dia menikah. Dia tak punya pilihan lagi hanya Dio yang mampu membantunya.
"Sangat sulit sekali permintaanmu!" kata Derry pelan dan juga bingung.
"Berapapun yang kalian minta akan aku berikan!" Laras meyakinkan keluarganya Dio agar mau mengizinkan Dio menikahinya.
"Nak Laras, ini bukan masalah uang. Tapi, pernikahan tidak bisa sembarangan kita jalani. Pernikahan adalah janji kalian berdua kepada Sang Pencipta. Jika diantara kalian tidak ada rasa cinta, pernikahan seperti apa yang kalian bangun?" nasehat Derry dengan lembut.
Laras sekilas mengarahkan pandangannya kepada Dio yang asyik menyantap makan siangnya.
"Coba pikirkan lagi," sahut Maya tersenyum.
Laras menundukkan wajahnya, ia bingung apa yang harus dilakukannya. Menerima tawaran orang tuanya menikah dengan pria beristri atau tetap bersikeras memaksa Dio menikahinya.
"Bicaralah baik-baik dengan orang tuamu," nasehat Derry lagi.
Laras mengangguk pelan mengiyakan.
Selepas makan siang, Dio berpamitan kepada kedua orang tuanya buat mengantarkan Laras pulang ke rumah.
Maya memeluk Laras sebentar, lalu memegang lengan wanita itu dan berkata, "Semua pasti ada jalan keluarnya."
"Terima kasih, Bibi." Laras memaksa tersenyum.
"Dio, antar dia pulang. Pastikan dia sampai rumah dalam keadaan selamat!" kata Derry kepada putranya.
"Memangnya dia mau aku buang, Yah!" kesal Dio membuat Derry tertawa kecil.
"Apa pun keputusan orang tuamu, mungkin itu yang terbaik," Derry memberikan nasehat lagi sebelum Laras diantar pulang.
Laras hanya tersenyum tipis mendengar nasehat ayahnya Dio.
Selepas Dio dan Laras berlalu, ketiganya duduk di ruang tamu membahas lagi cerita Laras yang akan memberikan uang kepada mereka jika memberikan izin Dio menikahinya.
"Padahal uang itu bisa kita gunakan buat bayar utang, Yah, Bu."
"Itu sama saja kita menjual kakak kamu!" kata Maya.
"Dio sudah punya kekasih. Tidak mungkin dia meninggalkannya, apalagi Dio berniat mau menikahinya," sahut Derry.
-
Mereka akhirnya tiba dikediamannya orang tuanya Laras. Wanita itu turun dan menyerahkan helm yang tadinya digunakannya kepada Dio dengan wajah datar.
"Semoga kita tidak pernah bertemu lagi!" Dio tersenyum senang akhirnya dia berhasil mengantarkan wanita aneh ke rumahnya.
"Aku harap kamu tidak pernah menyesal!" Laras kemudian melangkah memasuki halaman rumahnya yang pagarnya telah dibuka penjaga keamanan.
"Buat apa aku menyesal? Memangnya dia siapa aku?" gerutu Dio sambil menyalakan mesin motornya.
-
Sejam kemudian, Dio sampai di rumahnya. Akhirnya dirinya bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak di atas karpet ruang televisi.
"Apa kamu sudah mengantarnya?" Maya mendekati putranya dan ia duduk di samping kanannya.
"Sudah, Bu. Dan kami tidak akan pernah berjumpa lagi!" Dio menatap langit ruangan sembari melebarkan senyumnya.
"Apa benar dia memang orang kaya?" tanya Maya penasaran.
"Iya, Bu. Rumahnya besar, mewah dan halamannya luas. Ada juga penjaganya di pagar. Mobilnya yang kulihat ada sekitar empat atau lima gitu!" jawab Dio.
"Ternyata dia memang benar anak orang kaya," kata Maya manggut-manggut.
"Mungkin saja dia bekerja di sana?" Diana tiba-tiba muncul dan bergabung dengan ibu dan kakaknya.
"Kalau dia cuma pelayan tidak mungkin para pria itu memanggilnya 'nona'," kata Dio menjelaskan.
"Semoga saja dia menemukan seseorang yang sangat menyayanginya dengan tulus meskipun itu pria yang dijodohkan untuknya," harap Maya.
"Kalau sudah beristri, berarti laki-lakinya bukan pria yang tulus, Bu. Dia saja berani mengkhianati istri pertamanya!" celetuk Diana. Ia mengingat ucapan Laras saat makan siang yang mau dijodohkan dan dijadikan istri ketiga.
Maya mencerna kata-kata putrinya, "Benar juga, ya. Semoga saja yang dijodohkan bukan pria beristri."
"Semoga saja Kak Dio yang jadi suaminya!" harap Diana sambil senyum-senyum membayangkan menjadi ipar dari keluarga kaya raya.
"Kakakmu tidak mungkin meninggalkan kekasihnya itu!" singgung Maya melirik putranya.
"Iya juga, ya, Bu. Si Kakak 'kan sudah terlanjur cinta!" Diana juga menyindir kakaknya.
"Kenapa 'sih kalian tidak bisa menerima Sindy?" kesal Dio sebab ibu dan adiknya selalu mengatakan bahwa kekasihnya bukan gadis yang benar.
"Apa dia bukan orang kaya?" Dio yang rebahan bangkit dan duduk.
"Ibu ke belakang dulu, ya, mau metik daun kangkung!" Maya beranjak berdiri.
"Aku juga, lupa belum menyelesaikan tugas!" Diana juga berdiri kemudian dengan cepat melangkah ke kamarnya.
Maya pun juga cepat-cepat ke area belakang rumahnya. Keduanya malas berdebat dan menjelaskan sosok kekasihnya Dio karena percuma juga Dio takkan mempercayainya dan menerimanya.
"Mereka itu selalu saja menghina Sindy!" Dio tampak kesal.
*
Dikediaman orang tuanya Laras...
Sepasang suami istri memasuki rumahnya dan menghampiri putrinya di ruang santai keluarganya. Keduanya duduk dihadapannya memasang wajah serius.
"Bagaimana apa kamu sudah menemukan calon suamimu?" tanya Johan, 53 tahun.
Laras menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Kalau begitu kamu harus bersedia menerima perjodohan ini!" sahut Karina, 50 tahun.
"Ma, Pa, tolong jangan jodohkan aku!" mohon Laras dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana lagi? Kami sudah terlanjur berjanji kepadanya!" kata Johan.
"Kalian 'kan mempunyai kuasa, masa 'sih mau menyerahkan putri kalian ini kepada pria beristri?" Laras terus memelas.
"Kami sangat capek mengatur kamu, maka solusinya adalah menikah!" kata Karin.
"Aku janji akan menuruti kata-kata Mama dan Papa!" ucap Laras.
"Kamu kebanyakan janji dan selalu itu yang diucapkan, lama-lama kami tidak percaya," kata Karin lagi.
"Iya, Ma. Kali ini aku serius!" ucap Laras berjanji.