Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gambar tanpa wajah
Flashback on
Satu tahun lalu
Pagi itu seharusnya sama dengan hari-hari sebelumnya. Rumah masih dibalut sunyi yang pekat. Duka atas kepergian Tari, ibunya Kanara, satu bulan lalu, masih bergelayut di setiap sudut ruangan, membuat atmosfer terasa berat dan dingin.
Di lorong lantai atas, Kanara kecil berlari-lari dengan rambut berantakan, kausnya terangkat sedikit.
“Non Kanara, jangan lari! Lantainya licin,” teriak Bu Yati dari belakang, terseok mengejar sambil membawa handuk mandi.
Langkah Kanara terhenti mendadak. Bukan karena patuh pada ucapan Bu Yati, melainkan ia terpaku pada sebuah cermin besar di ujung koridor. Tubuhnya menegang. Bahunya terangkat, dan jemari kecilnya terkepal erat hingga memutih.
Bu Yati mendekat dengan napas tersenggal. “Non Kanara?” Ia mengikuti arah pandangan sang bocah ke permukaan cermin. “Kenapa, Sayang? Itu kan cuma Non Kanara.”
Ia tidak sadar betapa kalimat itu justru menjadi pemicu ledakan.
Kanara menjerit. Sebuah pekikan panjang yang memilukan.
Elang keluar dari kamarnya.
Ia melihat Kanara menutup telinganya lalu berjongkok, punggungnya menempel ke dinding. Napasnya tersenggal, matanya terpejam erat, kepalanya menggeleng. Kanara ketakutan seolah pantulan itu akan memakannya.
Elang membeku.
“Non….Non Kanara, kenapa?” tanya Bu Yati lagi. Kali ini suaranya bergetar.
Elang tersadar, dan langsung berjalan cepat ke arah Kanara. Ia berlutut, memegang bahu Kanara. “Kanara! Kanara ini Ayah, ada apa?”
Namun jeritan itu makin menjadi.
Elang menariknya ke dalam pelukannya. Tubuh Kanara kaku dan dingin. Dia menggeliat seolah sentuhan dari ayahnya pun akan berbahaya. “Kanara… tenang… Nggak apa-apa.”
Elang menoleh ke cermin, lalu berdiri menyambar selimut terdekat, dan menutup cermin itu dengan gerakan kasar.
Saat pantulan itu hilang, seketika jeritan itu mereda menjadi isak tangis yang lirih.
Pada saat itulah, ia sadar bahwa ketakutan itu sudah ada sejak lama. Ia mulai mengingat momen-momen kecil yang ia abaikan, bagaimana Kanara selalu menolak untuk disisir di depan kaca, tangisannya yang pecah setiap kali masuk ke kamar mandi tertentu, atau caranya berjalan menunduk jika melewati permukaan yang memantul.
Elang kembali memeluk Kanara dengan tangan gemetar. “Maaf…,” ucapnya entah kepada siapa.
Namun, luka itu sudah terlanjur dalam. Kanara mendorong tubuh Ayahnya sekuat tenaga sebelum berlari menjauh ke sudut koridor, meninggalkan Elang yang menatap dengan sorot mata nanar. Ia sudah terlambat memahami. Dan, itu adalah kegagalannya sebagai ayah.
Hari itu juga, Elang memerintahkan seluruh staf untuk menyingkirkan semua cermin yang ada di rumah, dan menutup semua permukaan yang memantul. Ia ingin Kanara merasa aman di dalam rumahnya.
Flashback off
**********
Nura berjalan mengelilingi rumah, menyentuh kain-kain gelap yang menutupi furnitur mengkilap. Baginya, kain-kain itu bukan hanya sebagai penutup, melainkan kain kafan yang membungkus kebahagiaan kebahagiaan rumah ini.
“Nura…”
Panggilan itu membuat Nura tersentak, dan menarik tangannya kembali. Elang berdiri di belakangnya.
“Saya sudah bicara dengan pihak sekolah. Kanara akan saya tarik untuk sementara waktu,” lanjut Elang.
Nura hanya mengangguk, memahami langkah perlindungan itu.
Elang mendekat, jemarinya ikut menyentuh kain penutup di dekat Nura. “Terlalu gelap, ya?”
Nura terdiam, membiarkan Elang melanjutkan isi kepalanya.
“Rumah ini selalu gelap, dan aku baru menyadarinya setelah Kanara menjerit ketakutan,” ucapnya getir. “Dulu saya selalu menganggap semua akan berjalan sendiri, seperti bumi yang terus berputar. Setiap bagian akan menemukan tempatnya sendiri dan pasti akan baik-baik saja. Ternyata saya salah….”
Kanara mata Elang yang penuh luka. Ia tahu bahwa saat ini, pria itu sedang tidak membicarakan Kanara atau cermin lagi.
Nura menatap mata Elang yang sarat dengan luka masa lalu. “Ada kalanya kita harus menabrak tembok untuk mengetahui kalau jalan yang kita ambil itu salah, Pak.”
Elang tersenyum tipis. Sorot matanya melembut, menciptakan getaran yang membuat napas Nura tertahan. Tiba-tiba, tangan Elang terulur, menyentuh pipi Nura dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh perasaan.
“Tapi harganya terlalu mahal, Ra…,” bisiknya lirih sebelum berbalik dan menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Nura terpaku di tempatnya. Jantungnya berpacu liar. Ia segera masuk ke kamar, duduk di sofa, dan menangkup pipinya yang masih terasa panas. “Duh, bisa sakit jantung kalau begini terus,” gumamnya sambil mengatur napas.
Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan membuka map biru berisi catatan perkembangan Kanara. Ia membuka satu per satu catatan yang sudah ditulisnya selama lebih dari dua minggu, sejak Kanara keluar dari rumah sakit.
Ada satu kalimat yang diberi tinta merah.
Takut dengan wajah.
Nura membuka tumpukan gambar milik Kanara. Semuanya sama. Manusia, hewan, hingga matahari sekalipun, digambarkan tanpa wajah. Hanya lingkaran kosong yang hampa.
Ia mengambil gambar terakhir yang dibuat Kanara pagi ini.Sebuah rumah tanpa jendela denga taman bunga, pelangi, dan tiga sosok masuk yang saling bertautan tangan.
“Kanara gambar apa?” tanya Nura saat mendampingi anak itu tadi pagi.
Kanara tidak menjawab, terus asyik mewarnai.
“Ini rumah Kanara?” tanya Nura lebih jelas.
Kanara mengangguk.
“Terus, yang ini siapa?” Nura menunjuk gambar pria tinggi tanpa wajah.
“Ayah…,” jawabnya pelan. “Dan ini Kanara…” Ia menunjuk gambar gadis kecil berkuncir dua, juga tanpa wajah.
Jari Nura berpindah ke sosok ketiga di sebelah gambar Kanara. “Kalau yang ini siapa?”
“Kak Nura…,” jawab Kanara dengan senyum manis.
Nura terpaku menatap gambar itu. Nama dirinya disebut oleh Kanara sebagai bagian dari ‘tiga sosok berpegangan tangan', adalah sebuah kemajuan besar. Namun, fakta ia digambarkan tanpa wajah membuat dada Nura terasa sesak.
Ia mengusap kertas gambar itu dengan ibu jarinya. Kanara sudah menerimanya masuk ke dalam dunianya. Tapi, dia belum berani ‘melihat’ Nura seutuhnya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu penghubung antara kamarnya dengan kamar Kanara. Nura mengira itu Kanara yang terbangun, namun saat pintu itu terbuka sedikit, Elang yang muncul di sana.
Pria itu tampak sudah berganti pakaian dengan kaos santai. Ia melihat tangan Nura memegang gambar-gambar itu.
“Belum tidur?” tanya Elang rendah.
Nura menggeleng, mencoba menormalkan detak jantungnya setiap kali pria itu mendekat. “Masih mempelajari gambar Kanara, Pak.”
Elang melangkah masuk, mendekati sofa tempat Nura duduk. Ia ikut menatap gambar di tangan Nura. “Dia menggambarmu di sana,” gumam Elang dengan nada getir. “Ia sudah memasukkanmu ke dalam ‘rumah’ yang ia bangun di dalam kepalanya.”
“Tapi, saya nggak punya wajah, Pak,” jawab Nura pelan. “Begitu juga Pak Elang. Kita semua hanya bayangan kosong bagi Kanara. Dia mencintai kita, tapi dia terlalu takut untuk mengenali diri kita sebenarnya. Karena baginya, mengenali berarti memiliki resiko kehilangan.”
Elang duduk di kursi kecil di seberang Nura. Ruangan itu hanya diterangi lampu sudut yang temaram, menciptakan suasana yang terlalu intim untuk sekadar pembicaraan antara terapis dan orang tua pasien.
“Sentuhan tadi…” Elang memulai pembicaraan, merujuk pada kejadian di koridor beberapa saat lalu. “Maafkan saya Nura. Saya hanya… untuk sesaat, saya merasa seperti menemukan cahaya di rumah yang selama ini saya buat gelap sendiri.”
Nura menunduk, memainkan ujung map birunya. “Saya mengerti, Pak. Beban yang Bapak bawa tidak mudah.”
“Tidak, kamu tidak mengerti,” potong Elang lembut tapi tegas. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Nura. “Kamu satu-satunya orang yang tidak menatap saya dengan tatapan kasihan. Kamu menuntut saya untuk menghadapi kenyataan, bukan sekadar menghibur.”
Elang menghela napas panjang, lalu menatap gambar Kanara lagi. “Besok, aku akan membuka satu kotak di gudang. Kotak yang berisi foto-foto Kanara Dan, foto-fotoku saat masih bisa tersenyum. Aku ingin Kanara mulai melihat wajah lagi, meskipun itu harus dimulai dari masa lalu yang menyakitkan.
Nura tersenyum kecil yang tulus. “Itu langkah yang berani, Pak. Dan, saya akan di sini menemani Kanara … dan menemani pak Elang melewati itu."
Elang berdiri, hendak kembali ke kamarnya. Namun, ia berhenti tepat di samping Nura. Ia tidak menyentuh pipinya lagi, tapi tatapannya jauh lebih dalam daripada sentuhan fisik.
“Terima kasih Nura, untuk tidak menyerah pada anakku. Dan… untuk membuat rumah ini tidak mencekam lagi.”
Setelah Elang keluar, Nura menyandarkan kepalanya ke punggung sofa. Ia tahu mulai besok, perang yang sesungguhnya melawan trauma Kanara akan dimulai.
Namun, ia juga tahu ada perang lain yang sedang berkecamuk di dalam dirinya sendiri. Perang untuk tetap profesional di saat hatinya mulai luluh pada duka dan ketulusan seorang pria bernama Elang.