Menikah dengan Ipar adalah sesuatu yang sumbang buat Aralia. Tetapi ia tidak bisa menolak permintaan Ibunya yang memohon dengan air matanya demi sang cucu.
Varga suami yang lembut tak bosan-bosan memperhatikan istrinya walau sang istri menolak perhatian itu. Bahkan berani memasuki hati pria lain, yang membuat perjalanan cinta mereka rumit.
Dapatkan Varga memenangkan hati istri atau akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia milik berdua
Saat pintu lift terbuka Reven melihat sosok pria tinggi melangkahkan kaki panjangnya keluar dari dalam, Reven ingat wajah itu, saat ia membawa neneknya kontrol di rumah sakit ini. Wajah Varga suami kekasihnya.
Berbeda dengan Varga, ia sama sekali tidak mengenal Reven. Seperti apa parasnya seperti apa penampilannya, Varga tidak tahu itu.
Tanpa sepengetahuannya, Varga telah melewati pria perebut hati istrinya.
Reven masuk kedalam lift dan menunggu pintu tertutup ia melihat Varga dengan tatapan mencela dari belakang hingga pintu tertutup.
Aralia, bagaimana caraku mengambilmu dari pria ini. Bantu aku sayang.
Aralia duduk bersandar di bangsalnya, saat ini pikirannya penuh mengenai hubungannya dengan Reven.
Kalau kak Varga sudah tahu hubungan aku dengan Reven kenapa dia tidak mengatakan apa-apa? Kenapa dia masih bersikap baik dan juga merawat aku disini? Aneh! Apa kak Varga tidak peduli dengan hubunganku? Tidak, tidak dia pasti merencanakan sesuatu. Seperti yang di bilang Reven mereka akan bertemu, tapi kapan? Astaga ... ini memusingkan!
Pada saat Aralia sibuk dengan pikirannya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka menampilkan sosok Varga.
"Napa Ara? Kok kamu belum tidur? Tidur ya." Varga membantu Aralia berbaring.
"Iya kak," Aralia menelan ludah, menatap Varga diam-diam.
Aku penasaran kenapa sampai sekarang kak Varga masih bersikap baik pada Ara, padahal Ara sudah sering mengabaikannya, Ara juga tidak peduli dengannya tapi tetap saja kak Varga baik terhadap Ara ...
"Ara ..., hei ..., Ra ...," Lagi-lagi Aralia tersentak, entah sudah berapa kali Varga memanggilnya hingga memutuskan menyentuh lengan Aralia.
"A—apa kak?" tanya Aralia terbata, wajahnya memerah memfokuskan tatapanya pada Varga yang berdiri di samping bangsalnya.
"Tutup matamu, kenapa melihatku seperti itu? Atau kau butuh sesuatu?" tanya Varga bingung.
Aralia mengelengkan kepala, membawa tatapannya ke arah yang lain.
Apa yang dipikirkan Aralia? Tunggu! Apa pria itu sudah menelponnya atau Aralia yang menghubunginya? Varga melirik ke arah ponsel Aralia yang ada di atas meja kecil lalu tercetak senyum kecut di bibirnya.
Mungkin saja Aralia sudah mengetahui hal itu, terlihat dari wajah bingungnya sekarang ini. Baiklah Ara, aku akan menunggu kesadaranmu sendiri untuk mengatakan yang sejujurnya atau aku akan langsung menemui pria itu.
Varga merasakan getar dari dalam kantongnya, lalu ia mengeluarkan benda itu dan menatap siapa pemanggil di layar itu. 'Mertua'
"Mama," kata Varga pada Aralia yang tiba-tiba membuka matanya.
"Halo ma," sapa Varga menarik kursi dan duduk disamping ranjang Aralia.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Sehat?" suara lembut keibuan dari seberang sana terdengar hangat di telinga Varga, membuat pria itu menyungingkan senyum di bibirnya.
"Baik ma, bagaimana dengan mama?" jawab Varga sekaligus bertaya sementara Aralia mencoba berpikir kenapa Ibunya menelpon pria itu dan bukan dirinya.
"Sehat, Aralia dan Bianca sehat juga kan?" Varga melihat Aralia yang tengah ikut serta mendengar pembicaraan itu. Varga menaikkan kedua alisnya meminta tanggapan Aralia.
"Mereka sehat ma," jawab Varga setelah melihat Aralia mengatakan "Sehat" tanpa suara.
"Syukurlah, Varga mama mau mengucapkan selamat ulang tahun ya, Nak ....
Deg
Wajah Aralia memerah begitu mendengar ucapan dari Ibunya untuk Varga,
Jadi mama tahu kalau kakak hari ini ulang tahun?
Aralia menatap Varga terkekeh sambil melanjutkan pembicaraan mereka, Aralia tidak penasaran lagi. Ia memilih memejamkan mata membawa pikirannya kembali ke alam mimpi, itupun kalau bisa. Karena saat ini Aralia dibebani dengan sikap diam Varga terhadap hubunganya dengan Reven.
Ia penasaran apa dibalik diamnya pria itu.
Sore hari dokter dan perawat kembali memeriksa keadaan Aralia dan mengambil kembali darahnya untuk pemeriksaan ulang. Aralia merintih, menjauhkan tatapannya dari para dokter yang merawatnya.
Aku bisa kehabisan darah kalau setiap hari begini?
Setelah melakukan tugasnya dan memberi penjelasan tentang kemajuan kesehatan Aralia, perawat dan dokternya keluar.
Varga menutup pintu, berjalan kembali ke tempat duduknya dan mengambil tangan Aralia, memasukkanya kedalam selimut.
___________________________________________
Setelah Aralia kembali dari rumah sakit, ia disambut hangat oleh kedua mertuanya dan juga Bianca. Varga membantu Aralia keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam.
"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Ele, mengusap kepala Aralia lembut.
"Sudah sehat kok, Ma." jawab Aralia, "sini sayang ...,mami kangen." Aralia mengambil Bianca dari tangan Ele dan seperti biasa Bianca yang sudah berusia sebelas bulan itu terlihat ceria.
"Uuuh ..., kangen nggak sama mami?" tanya Aralia mencubit gemes pipi gembul Aralia.
"Istirahat sayang, biar mama yang jaga Bianca dan sampai kau pulih total Bianca akan tidur sama papa dan mama." Roland berujar seraya mengikuti langkah Varga dan Aralia ke ruang keluarga.
"Nggak apa-apa pa, Ara sudah sehat kok." ucap Aralia nggak enak hati karena sudah merepotkan mertuanya dalam hal ini.
"Iya ma, biar Bianca tidur sama Daddy malam ini, sudah dua hari nggak main ya kan, putriku." Varga mengambil Bianca dari Aralia. Menciumnya dan menggelitik hingga Bianca tertawa.
"Ya sudah kalau begitu, sini Bianca biar kamu antarin Aralia ke kamar, dia masih harus istirahat."
"Iya mama," Varga menyerahkan Bianca pada neneknya, dan membantu Aralia menaiki anak tangga ke kamar.
Aralia merindukan kasurnya, ia sudah tak sabar membaringkan diri di tempat empuk yang membuatnya cepat pergi ke alam mimpi.
"Ra, istirahat ya ..., kakak mau mandi sudah dua hari nggak mandi-mandi."
Aralia mengangguk, menarik selimutnya dan memejamkan mata.
_____________________________________________
Reven menunggu Aralia di taman kampus yang berhadapan langsung ke gedung perpustakaan. Disinilah mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bercanda.
Pria itu tidur-tiduran di bangku panjang dengan mata terpejam sambil menikmati lagu lewat earphonenya.
Hatinya bahagia, mengingat Aralia sudah masuk kampus dan berjanji akan menemui pacarnya itu di tempat ini.
Lagu cinta bersenandung di telinga pria berwajah tirus dengan kulit putih khas asia itu.
Aralia tersenyum, melihat pria yang ada di sana. Tidur menyilangkan kaki, berbantalkan tangan mengijinkan mentari membakar wajahnya yang tampan.
Aralia mendekat, membungkuk sedikit tepat di ujung kepala Reven, mendekatkan kepalanya lalu meniup kening Reven dengan napasnya yang hangat.
Reven terperanjat, membuka kedua matanya mendongak ke atas. Melihat Aralia tersenyum manis dengan kedua tangan berada di belakang. Dia seperti peri langit.
"Sayangku," Reven singap bangun dari baringannya, menjatuhkan benda yang menempel di kedua telinganya. Meraih Aralia dan membawanya ke pelukannya. Mereka tertawa, riang dan Reven mengangkat Aralia membawanya berputar sebagai tanda rasa bahagianya.
"Turunkan aku, Reven! Kau akan membunuhku aku baru pulang dari rumah sakit." Aralia mengingatkan, karena kalau tidak entah berapa lama pria ini membawanya berputar. Dia sering melakukan itu setiap kali mereka bertemu.
"Oh ya benar, maafkan aku." Reven berhenti dan perlahan menurunkan Aralia dan mendudukannya ke bangku taman.
"Oh ya ampun, aku merasa pusing." keluh Aralia dan seketika membuat Reven panik.
"Sungguh, Ra?" Tanya Reven cemas."maaf Ara, aku terlalu bahagia." lirihnya menatap Aralia penuh cinta.
Aralia tersenyum, saat mengatakan itu wajah kekasihnya itu begitu polos.
Aralia mendekatkan wajahnya pada Reven, membuat pria itu sedikit tercengang lalu jemarinya yang lentik mengusap pipi Reven.
"Aku juga bahagia bertemu denganmu." katanya dibarengi senyum manis.
Reven membalas senyuman itu, kemudian menepuk pucuk kepala Aralia dengan telapak tangannya yang hangat.
"Oh iya, aku ada sesuatu untukmu."
"Apa?"
Reven, mengambil tas nya dari bawah bangku dan mengeluarkan kotak makanan lalu membukanya di hadapan Aralia.
"Tada ...,"
"Apa ini?" Aralia kagum pada tataan irisan macam buah yang ada di kota itu.
"Tomat chery, kiwi, nanas, strawberry, anggur. Oh my ... ini ada berapa macam?" Aralia menyebutkan satu-satu yang ia lihat, wajahnya berbinar kala ia mendapati buah kesukaannya yaitu nangka.
"Ada nangka juga," katanya lagi, mengambil tusukan serupa garpu kecil dan langsung menikmati buah beraroma enak itu.
"Kau suka?"
"Sangat."
"Akan sering kubawakan. Tapi ini nenek yang buat Ara."
Mendengar itu Aralia menguyah pelan dan melihat Reven yang terlihat bingung.
"Aku berterima pada nenek." ucap Aralia, "kau memikirkan sesuatu?"tanyanya saat membaca mimik Reven yang berubah warna sedih.
"Dia ingin ketemu denganmu," ucap Reven.
"Nenek?" Aralia bertanya kanget.
Reven mengangguk. Benar, wanita itu penasaran dengan Aralia, gadis yang sering diceritakan Reven padanya. Meski mereka pernah bertemu sekali itu tidak cukup bagi Wanita itu. Dia hanya melihat sekilas Aralia saat perempuan ini datang menemui Reven saat itu. Hanya itu!
Tidak ada perkenalan hangat dan obrolan yang berkesan. Aralia hanya menyebut dirinya seorang teman.
"Kau mau kan menemui nenekku?" tanya Reven, memberi tatapan penuh harap.
Aralia menarik napas, meletakkan kembali tusuk buah itu ke asalnya. Ia belum siap untuk itu.
"Akan aku pikirkan, Re." jawabnya pelan. Reven mengangguk dan berkata.
"Aku tunggu kesediaan kamu, dia orang baik dan berpikir modren kok. Kau pasti akan cepat akrab." katanya Reven.
Aralia mengangguk, "ya sudah makan lagi, jangan sampai tersisa kalau tidak nenek akan marah padaku." Reven kembali ceria, menusuk buah itu dan memasukkan ke dalam mulut Aralia.
Aralia melakukan hal yang sama, menyuapi Reven dan sesekali mereka tertawa bahagian. Untuk saat ini dunia milik mereka.
Tanpa sadar ada penyusup yang datang diam dan bersembunyi menganggu kemesraan mereka, mengambil photo dan sudah pasti akan mendatangkan sakit hati dan juga air mata.
Jepret, Jepret,Jepret.
OBSESSIVE LOVE dan IPAR
*perselingkuhan suami dilaknat tapi perselingkuhan istri dianggap bisa saja
*suami selingkuh dibuat dapat balasan, menderita, mengemis maaf dan berjuang keras dapat kesempatan tapi istri selingkuh dianggap biasa saja dan semudah itu dimaafkan
*suami selingkuh, sikap istri tegas, minta cerai, pergi dan tidak mudah memaafkan tapi istri selingkuh. sikap suami bodoh, tidak punya harga diri, malah suami yang mengemis dan memohon istri tinggalkan selingkuhan nya dan semudah itu dimaafkan
*suami selingkuh kalian hadir lelaki lain yang perhatian pada sang istri tapi istri selingkuh, kalian hadirkan wanita lain tapi tetap saja dicap pelakor dan wanita murahan
*wanita selingkuhan diperlakukan kasar, hina dan dibinasakan tapi ptia selingkuhan istri diperlakukan sangat lembut dan malah seakan jadi korban
adil jalan pikir mu kalau sudah begini, miris sikap egois wanita dalam membuat novel
obsessive loves (suami selingkuh) dan ipar (istri selingkuh)
obsessive lover, suami selingkuh dilaknat, dapat balasan, menderita, mengemis maaf, berjuang membuktikan diri, berjuang keras dapat kesempatan, sikap istri tegas minta cerai, pergi dan tidak semudah itu memaafkan, kalian hadirkan lelaki lain yang peduli pada sang istri dan dianggap pria paling pengertian, wanita selingkuhan diperlakukan kasar, tidak ada baiknya, dihinakan dan akhirnya dibinasakan
banding dengan novel sendiri
ipar ketika istri selingkuh,perselingkuhan itu malah dianggap hal biasa saja, semudah itu dimaafkan, sikap suami kayak lelaki tidak punya harga diri dan bodoh, Terima saja diperlakukan kayak gitu dan malah dia yang mengemis dan memohon cinta pada istri najis tukang selingkuhnya, kalian hadirkan wanita yang perhatian pada sang suami tapi tetap saja kalian wanita murahan, dan diperlakukan kasar, pria selingkuhan diperlakukan lembut, solah dia korban juga, seakan perselingkuhan itu kalian benarkan
jika sudah begitu banggakah author dengan sikap yang sangat egois ini dalam berkarya
miris
*lihat begitu enaknya jadi pemeran utama wanita selingkuh dan semudah itu dimaafkan (coba kau banding dengan novel suami selingkuh, udah pasti dibuat dapat balasan menderita, mengemis maaf dan berjuang keras)
*saat novel suami selingkuh kau buat istri tegas pergi dan minta cerai tapi saat istri selingkuh suami dibuat kayak pria bodoh dan tidak punya pendirian Terima saja diperlakukan kayak gitu
*saat novel suami selingkuh kau hadirkan pria lain yang baik pada sang istri tapi pada saat istri selingkuh kalian hadirkan wanita lain tapi tetap saja dicap wanita murahan
*saat suami selingkuh, wanita selingkuhannya kalian cap wanita murahan tapi saat novel istri selingkuh, pria selingkuhan kalian buat seakan jadi korban
*saat suaki selingkuh kalian laknat, dan tidak ada pembelaan sama sekali tapi pada saat istri selingkuh kalian bela dengan alasan masih labil lah
pikiran munafik dari wanita dia dibawah kedalam novel maka jadilah novel yang munafik dan menjijikan
SKRG LO LGSUNG BRUBAH JDI KLINCI MANIS, KMARIN2 SLMA 11 BLN VARGA BRSIKAP MANIS, PRHATIAN DN SABAR, SLLU LO KETUSIN.. SEHARI PULANG DRI RS, LO MALAH MESRA2AN MA REVEN.. DN BETAPA GILANYA LO JDI TAMENG TUBUH BUAT REVEN PAS KPERGOK VARGA..
DN MLMNYA SETELH VARGA DUEL MA REVEN, LO MLH LBH KUATIR K REVEN.. SETELH APA YG CAYROL LAKUKAN, LO LGSUNG BRUBAH JDI KLINCI MANIS.
SAMPE SAAT INI, IBU LO SINISA, DN KDUA MERTUA LO, GK TAU KLAKUAN LO, SEMUA KBUSUKN LO DI TUTUPI OLEH SUAMI LOO, RELA DIMUSUHI DN TRSAKITI OLEH ORTU SENDIRI, DEMI JAGA HARGA DIRI DN NAMA BAIK LOO..
TU REVEN KSIH MMPUS SAJA.