Penting untuk dibaca calon reader sebagai gambaran : Bahwa novel fiksi ini dilatar belakangi kasus kriminal berat. jadi kandungan di dalam nya berisi 40% konflik tegang, 30% romantis dan 30% komedi. Jadi mohon bijak untuk menanggapi. salam sehat selalu dari Author
Hai, Kamu. Ya Kamu yang pernah tersakiti, dicampakkan, dikhianati, didzolimi, dan dibuang seperti barang tanpa arti.
Jangan takut, kamu tidak sendirian.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Kamu sedih? Sama, akupun sedih.
Kamu kecewa? Terlebih lagi aku.
Kamu dendam? Apalagi aku.
Kita berhadapan dengan musuh yang sama walaupun dengan jalan cerita yang berbeda.
Aku butuh kasusmu dan kamu butuh perlindunganku. Untuk menghadapinya lebih baik kita bersatu.
(with Love, Ferdian)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianti Maura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Dikantor Reynard. Perusahaan milik Bramanto yang cukup bonafid dibidang peti kemas pelabuhan laut antar negara. Kesibukan tampak padat siang itu.
Para pegawai berkutat dengan pekerjaannya masing-masing. Begitu juga dengan Reynard sebagai salah satu pejabat yang berposisi sangat strategis di perusahaan itu.
Kinerjanya patut diacungi jempol karena telah memberi banyak kemajuan bagi perusahaan itu. Sehingga menjadikannya sebagai salah satu orang kepercayaan Bramanto untuk menangani perusahaannya.
“Permisi, Pak Rey.” Diana sekertaris Reynard menghampiri mejanya. Reynard mendongak.
“Sambungan pribadi di line 1 dari Pak Bramanto.” Diana menunjuk telepon kantor yang terletak di atas meja Reynard.
“Oo, baik.“ Buru-buru Reynard mengangkat teleponnya.
“Halo Boss, selamat siang,” sapa Reynard dengan suara riang.
“Selamat siang, Rey. Apa kau bisa ke rumah malam ini. Ada sesuatu yang akan aku bicarakan,” sambut suara berat Bramanto di ujung telepon.
“Tentu bisa, Boss. Pulang kantor saya ke rumah," janji Reynard.
“Oke, saya tunggu."
Sambungan telepon berakhir. Reynard meletakkan gagang telepon ke tempatnya.
“Ada apa ya kira-kira?” gumam Reynard sambil menerka-nerka dalam hati.
Malam hari di kediaman Bramanto.
Reynard memasuki ruang tamu milik Bramanto yang sangat mewah itu. Tampak beberapa pengawal pribadi Bramanto berdiri tegap di beberapa sudutnya dengan raut wajah kaku tanpa senyum.
Sudah terlihat beberapa rekan sesama direksi duduk di ruangan tengah. Mereka masih mengenakan setelan jas lengkap sama seperti dirinya.
“Silahkan, mari sini Rey," sambut Bramanto yang berdiri di antara anggota direksi.
Reynard lekas menghampiri dan menduduki sebuah kursi kosong yang tampaknya sudah dipersiapkan untuknya.
Semua direksi kompak mengangguk hormat padanya lalu kembali fokus pada Bramanto yang duduk di hadapan mereka.
“Kau mau minum apa, Rey? Vodka? Beer? Atau Wine?“ Bramanto menawarkan minuman pada Reynard.
“No thanks, masih terlalu sore untuk minum alkohol. Kopi saja," jawab Reynard sopan.
Bramanto menyuruh pelayannya menyiapkan apa yang dipesan Reynard. Tak lama kopinya datang lalu diletakkan di atas meja tepat di hadapan Reynard.
“Anda semua sudah kenal dengan Reynard, toh?” Bramanto membuka pembicaraan, memperkenalkan Reynard pada anggota direksi yang hadir disitu.
Mereka mengangguk sambil tersenyum hormat pada Reynard.
“Anak muda yang cerdas inilah yang berhasil menyelamatkan semua aset perusahaan di cabang Surabaya yang hampir di rampok oleh begundal-begundal manipulator di cabang Surabaya. Anak muda ini jugalah yang telah mengungkap permainan manipulasi mereka,” Puji Bramanto pada Reynard dengan bangga. Yang hadir spontan memberikan aplause. Reynard pun mengangguk hormat.
“Maka dari itu. Patutlah saya memberi penghargaan setinggi-tingginya untuk Reynard.”
Reynard dan semua yang hadir disitu menunggu apa yang akan dikatakan Bramanto selanjutnya.
“Saya mengangkat Reynard sebagai Direktur Operasional untuk Pusat. Mulai hari ini saya mendelegasikan semua tugas dan tanggung jawab perusahaan pada Reynard. Dan juga tentu saja ada reward untuk anda, Anak muda.”
Tepuk tangan kembali bergema di ruangan itu. Bangganya hati Reynard.
“Terima kasih saya yang sebesar-besarnya untuk anda, Pak Bramanto,“ ucap Reynard seraya membungkuk dan menempelkan tangannya di dada. Memberi hormat pada Bramanto.
“Baiklah. Sekarang kita akan bahas perkembangan perusahaan kita di semua cabang.”
Mereka mulai membicarakan semua hal yang berhubungan dengan perusahaan. Satu per satu direksi angkat bicara termasuk Reynard melaporkan semua perkembangan cabang yang dia pimpin.
Jam mulai menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Namun tampaknya mereka masih terus berdiskusi dan bertukar pikiran antar sesama direksi.
Reynard pamit sebentar untuk sekedar menghirup udara malam di sekitar taman belakang. Dia melepaskan jasnya, kemudian meletakkannya di bangku taman.
Dia menarik rokok putih sebatang lalu dinyalakannya. Dihirupnya dalam-dalam lalu dihembuskan kembali asapnya.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kamar di lantai atas yang lampunya menyala. Dia memicingkan mata demi menangkap sosok wanita yang sedang berdiri tepat di balkon kamar.
Dia melihat seorang wanita muda dengan pakaian tidur yang sangat minim berwarna hitam sedang berdiri menghadap ke arahnya.
Wanita muda itu meliuk-liukkan tubuh dengan seksi seolah-olah memancing Reynard untuk terus memperhatikannya.
Reynard semakin penasaran. Dia melangkah lebih mendekat.
“Jangan didekati, itu punya bossmu." Tiba-tiba sebuah suara wanita mencegah langkahnya.
Reynard menoleh ke asal suara. Didapatinya Ibu Tantri, istri Bramanto tengah berdiri tegak di sampingnya. Ikut memandang ke arah wanita muda di atas balkon itu.
“Dia mangsa baru bossmu, baru didapat tadi pagi,” lanjut Bu Tantri dengan suara dingin dan datar.
“Maksud ibu?” tanya Reynard penasaran.
“Orang tua gadis itu tidak dapat membayar hutangnya pada bossmu. Itulah putri mereka sebagai pembayarnya.” Suara Bu Tantri terdengar sangat gemas dan marah.
Ingatan Reynard seketika tertuju pada Lusi, gadis yang hampir saja menjadi korban kegilaan Bramanto dan kini menjadi istri sahabatnya.
“Entahlah sudah berapa anak gadis orang yang sudah menjadi korbannya. Sampai aku pun muak menghitungnya,” ujar bu Tantri lagi.
“Tapi kenapa perempuan di atas sana bertingkah seperti itu?" tunjuk Reynard dengan matanya.
Ibu Tantri ikut memperhatikan gadis di atas balkon itu meliuk-liukkan tubuhnya mengarah pada Reynard sepertinya sengaja sedang mengundang gairah kelaki-lakiannya.
“Anak itu sedang di bawah pengaruh obat perangsang. Entah berapa banyak dosis yang diberikan Bramanto padanya sampai-sampai kelakuannya binal seperti itu,” beritahu Bu Tantri mendengkus menatap tajam gadis di balkon itu.
“Itu cara baru Bramanto untuk menahan korbannya. Karena sebelumnya ada yang berhasil kabur selamat dari cengkraman laki-laki tua bangka itu.”
Yap! Itu pasti Lusi yang dimaksud ibu Tantri, tebak Reynard dalam hati.
“Kabur? Bagaimana caranya dengan pengawalan seketat ini?” selidik Reynard lagi.
“Aku bantu gadis itu kabur lewat pintu belakang itu.” Bu Tantri menunjuk pintu pagar kecil yang mengarah keluar.
“Gadis itu bernasib baik bisa kabur dari sini. Walaupun aku yang habis di hajar oleh suamiku,” kenang Bu Tantri dengan hati pilu.
“Dan sampai detik ini Bramanto masih mencari keberadaan gadis itu. Syukurlah tak dia temukan. Mungkin sudah pergi keluar dari kota ini,” ucap Bu Tantri menarik nafasnya berat.
Reynard terpaku dan hatinya rasa tersayat mendengar penuturan Bu Tantri. Untung saja saat itu Lusi bertemu dengan Ferdian, orang yang tepat untuk melindunginya, pikirnya.
“Kenapa Ibu tidak lapor polisi? Ini sudah kelewatan, Bu?” tanya Reynard lagi.
Bu Tantri menggeleng lemah. “Aku tidak berani.”
Reynard menghela nafasnya berat. Matanya masih tertuju pada gadis yang berdiri 'menantang' di atas balkon kamar tidur Bramanto.
“Aku perhatikan kamu berbeda dengan karyawan suamiku yang lain. Perasaanku berbeda ketika melihat kamu," ujar Bu Tantri mengamati sosok Reynard dengan mata mendelik.
“Maksud Ibu?” tanya Reynard tak mengerti.
“Ya, aku merasa kamu adalah anak muda yang baik dan tidak penjilat seperti bawahan Bramanto yang lain.”
Reynard berdehem sekali kemudian serius menghadap Bu Tantri.
“Maukah kamu bantu aku, Nak?” pinta Bu Tantri menatap tajam wajah Reynard.
“Bantu apa, Bu?”
“Menghukum Bramanto atas perbuatan nya ini. Seret dia ke penjara. Karena menurutku ini sudah termasuk human traficking, perdagangan manusia. Aku benar-benar gak tega melihat anak-anak gadis orang di perlakukan serendah itu oleh suamiku. Dia beli cuma untuk melayani nafsu syahwatnya lalu setelah bosan dia campakkan begitu saja bahkan dijual kembali ke kafe-kafe malam atau tempat-tempat karaoke kelas atas.”
Reynard terdiam. Miris membayangkan perbuatan Bramanto yang sudah sangat melampaui batas.
Tapi Bramanto orang ‘sakti’. Reynard tahu bagaimana dia mampu memanfaatkan uang dan kekuasaaannya supaya terhindar dari jerat hukum. Terbukti pada kasus kematian orang tua Ferdian tujuh tahun lalu.
Walaupun saksi utama mengatakan Bramanto adalah dalang pembunuhan itu tapi tetap saja dia bisa bebas dan melenggang leluasa sampai detik ini
“Aku akan kumpulkan semua bukti kejahatannya, kamu yang mengolahnya supaya dia tidak bisa lolos lagi dari jerat hukum,” lanjut Bu Tantri mendesak Reynard.
Reynard menatap Bu tantri lama. Dalam hati dia pun setuju dengan permintaan Bu Tantri ini. Tapi dia juga punya tanggung jawab besar membantu Ferdian untuk membalas dendam atas kematian kedua orangtuanya.
Ya Tuhan, bantu aku. Doa nya dalam hati.
“Baiklah, Bu. Aku akan bantu.” Akhirnya Reynard memutuskan.
Tampak olehnya Bu Tantri tersenyum lega.
“Tetap keep contact, nanti aku kasih nomor telepon pribadiku yang Bramanto sendiri tidak tau.”
Reynard mengangguk. Lalu Bu Tantri melangkah cepat meninggalkannya sendirian.
Kini pandangannya terarah lagi pada gadis yang masih berdiri di balkon atas. Kali ini lebih menantang lagi. Tanpa sehelai baju pun yang menempel di tubuhnya. Reynard geleng-geleng kepala melihatnya.
Luar biasa perangsang yang diberikan Bramanto pada gadis itu sampai-sampai tak kenal lagi rasa malu lagi.
PLEASE LIKE, VOTE, BINTANG 5, KRITIK DAN SARAN NYA DI KOLOM KOMENTAR YAH...
HAPPY READING...
tokohnya ga ada yg tegas slalu menggantung
reynard aja yg tegas
ISTRI : MAESAROH
jauh amat thooor, suami gaul abis istri kampungan banget😅😅😅😅😅😅