Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Grace Keceplosan
Hari-hari berjalan seperti biasa, sudah satu tahun, bahkan Raja Arian tetap tidak mau jika rakyatnya sendiri mengunjungi sang putri.
Perlahan, kupu-kupu itu mulai menghilang tapi sebagian tetap berterbangan setiap pagi disekitar Castle Castavia.
Di Castle Castavia, perayaan itu tidak dibuat besar. Tidak ada pesta kelahiran, raja tidak membuat undangan untuk datang ke castle. Hanya acara keluarga yang beranggotakan empat orang saja.
Greta duduk di lantai, bertopang pada kedua tangannya. Ia tertawa saat Arion menepuk-nepuk lantai di depannya.
"Ayo sini," kata sang raja lembut. "Jangan hanya melihat."
Greta menggerakkan lututnya, maju pelan, lalu terjatuh dan tertawa sendiri. Thaddeus bersorak kecil.
"Dia berani!" katanya bangga.
Chelyne mengamati dari kursinya, senyumnya hangat namun matanya tetap menyimpan kelelahan yang hanya bisa dipahami seorang ibu.
Di sudut ruangan, Grace berdiri seperti biasa. Diam. Ia hanya mengamati keluarga bahagia itu. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
"Yang Mulia, pekerjaan saya sudah selesai. Saya izin untuk pulang." Ujar Grace
"Tentu, Grace. Kau tidak perlu memaksakan apapun." Balas Chelyne.
"Baik, Yang Mulia. Saya pamit." Grace lalu membungkuk dan pergi.
...****************...
Malamnya, seperti rutinitas yang tidak pernah berubah, Grace meninggalkan castle saat lentera-lentera mulai dinyalakan. Ia berjalan pulang menuju rumah kecilnya di sisi kota, rumah yang ia tempati berdua dengan putranya, Hugo.
Hugo sudah menunggu dirumah.
Ia duduk di meja kayu sederhana, dagunya bertumpu di tangan. Usianya sebaya dengan Thaddeus, tetapi raut wajahnya jauh lebih dewasa dari anak-anak seusianya.
Dulu, Ia sering bermain dengan Thaddeus, tapi semenjak kejadian yang menimpa, pertemanan mereka asing begitu saja. Bahkan sudah setahun lebih mereka tidak bertemu lagi.
"Ibu, kenapa ibu selalu lama pulang?" tanya Hugo menoleh ke ibunya
"Istana ramai hari ini, nak" jawab Grace sambil meletakkan selendangnya.
"Putri kerajaan berulang tahun."
Hugo menoleh.
"Putri?"
Grace berhenti sejenak. Bukan karena ragu, tapi karena tidak biasa membicarakan hal itu di luar istana.
"Namanya siapa?" tanya Hugo, nada suaranya datar, tapi matanya tajam.
Grace menghela napas pendek.
"Greta."
Hugo mengerjap. "Greta siapa?"
Grace menggeleng. "Ibu tidak tahu nama lengkapnya."
Dan di situlah kesalahan kecil itu terjadi.
Ketukan terdengar di pintu.
Grace menoleh, alisnya sedikit berkerut. "Siapa malam-malam begini?"
Seorang perempuan paruh baya berdiri di ambang pintu saat Grace membukanya. Wajahnya ramah, matanya penuh rasa ingin tahu.
"Maaf mengganggu, Lady Grace," katanya.
"Aku cuma lewat dan lihat lampu menyala. Kupikir menyapa tidak apa-apa."
Grace tersenyum sopan.
"Silakan masuk."
Perempuan itu duduk, matanya langsung menyapu ruangan.
"Kau baru pulang dari istana?" tanyanya.
"Iya."
"Putri kerajaan sehat, kan?"
Perempuan itu condong sedikit ke depan.
"Kami semua penasaran."
Grace menuang air ke cangkir. Gerakannya tenang, suaranya terkendali.
"Dia sehat," jawabnya singkat.
"Namanya siapa?" tanya perempuan itu, nyaris berbisik.
Hugo melirik ibunya. Grace menahan diri sepersekian detik.
"Greta."
Perempuan itu terdiam.
"Greta?" Grace mengangguk.
"Itu saja yang bisa kukatakan."
"Kami dengar raja sangat protektif."
"Dia seorang ayah," jawab Grace. "Wajar."
Perempuan itu tersenyum canggung, lalu bangkit.
"Baiklah. Terima kasih sudah menjawab. Aku tidak akan bertanya lagi."
"Aku hanya ingin tahu tentang putri. Pasti dia sangat spesial sampai-sampai ayahnya seprotektif itu." Ujar perempuan itu lagi.
Tak lama mereka berbincang, hanya sebentar saja menanyakan nama putri.
Orang-orang selalu ingin menanyakan putri kepada Grace, karena hanya ialah rakyat yang diangkat sebagai pelayan tetap dikerajaan itu.
Tapi Grace lebih memilih untuk menjaga jarak dengan rakyat, takut suatu saat Ia keceplosan lagi seperti tadi.
Setelah pintu tertutup, rumah kembali sunyi. Hugo masih menatap ibunya.
"Kenapa Greta disembunyikan, Bu?" tanya Hugo.
"Karena dunia tidak selalu ramah pada anak kecil, Hugo" jawab Grace sambil merangkul putranya yang sudah berusia 11 tahun sama seperti Thaddeus. Kedua anak laki-laki ini hanya selisih lima tahun dengan Greta
"Jadi sekarang Thaddeus punya adik perempuan ya, bu?" tanya Hugo
"Iya, betul sekali, sayang." Balas Grace
Sebenarnya Hugo memiliki keinginan yang sama seperti Thaddeus, sama-sama ingin memiliki adik perempuan.
Tapi takdir berkata lain dikeluarga Hugo. Ia hanya bisa menerima nasibnya sekarang tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki adik perempuan.
Hugo terdiam sejenak, lalu bertanya pelan,
"Apakah Raja Arion sangat menyayanginya, Bu?"
Grace mengangguk.
"Iya, sayang. Raja Arion sangat menyayangi Greta"
Hugo menunduk. Jari-jarinya mengepal di atas meja.
"Raja Arion selalu begitu," katanya lirih.
"Dia selalu ada untuk anaknya."
Grace tidak membantah. Tidak juga membenarkan.
Hugo menelan ludah. "Ayahku dulu juga begitu."
Nama itu tidak pernah mereka ucapkan dengan lantang. Terlalu berat dan menyakitkan.
"Ayahku mati," lanjut Hugo.
"Dan dia mati karena menyelamatkan anak orang lain."
Grace berdiri, menepuk bahu putranya.
"Itu masa lalu, sayang. Kita harus mengikhlaskan apa pun yang terjadi. Yang penting, kamu masih punya Ibu" ujar Grace menenangkan walau dihatinya juga merasakan kerinduan pada mendiang suaminya.
"Aku sayang ibu." Hugo memeluk ibunya
...****************...
Hari-hari berlalu. Di istana, Greta tumbuh semakin aktif. Ucapannya makin jelas. Kata-katanya sederhana, tapi penuh keingintahuan.
"Ayah," panggilnya hampir setiap pagi.
Bukan "Ibu".
Arion sering tertawa kecil mendengarnya. "Kau tahu itu akan membuat ibumu cemburu?"
Greta hanya tersenyum, lalu menarik ujung jubah ayahnya. Ia mengikuti Arion ke mana pun. Ke taman, ke lorong panjang dan ke ruang kerja. Duduk di pangkuannya saat ia membaca laporan, menepuk-nepuk buku tebal seolah ikut memahami.
"Ayah suka buku." Ujar Greta dengan nada suara pelan
"Iya, Greta." Jawab Arion.
Chelyne memperhatikan dari jauh. Ia senang melihat suaminya menunjukkan perannya sebagai ayah.
"Dia terlalu menempel padamu," katanya suatu malam.
"Dia masih kecil," jawab Arion ringan.
"Thaddeus dulu menempel padaku," balas Chelyne pelan.
Arion terdiam. Ia menatap Greta yang tertidur di lengannya.
"Mungkin dia sangat senang."
Arion menggendong Greta lalu memindahkannya ke ranjang besar mereka, tak lagi diranjang bayi.
Greta tidur ditengah-tengah kedua orang tuanya, sama seperti saat Thaddeus masih kecil.
"Setelah aku pikir-pikir, sepertinya saat Greta berusia dua tahun, aku akan membawanya keluar dari istana." Ujar Arion
"Lalu bagaimana dengan matanya? Bukankah kau takut dengan itu, Arion?" tanya Chelyne meyakinkan
Arion menghela nafas pelan
"Ah, ya. Aku hampir lupa. Aku juga tidak ingin Greta hanya berdiam diri saja di castle ini." Jawab Arion.
Greta kini berusia satu setengah tahun.
Ia bisa menyebut nama ayahnya dengan jelas. Bisa menyebut nama kakaknya. Bisa menunjuk sesuatu yang ia mau. Matanya bersinar saat melihat Arion masuk ruangan.
Dan di balik semua itu, dunia di luar istana mulai menyusun ceritanya sendiri.
Nama Greta sudah beredar pelan disekitar rakyat tapi tidak ada yang tahu nama lengkapnya dan itu cukup untuk membuat bisik-bisik dari rakyat.