Setiap orang pasti ingin menikah dengan orang yang di cintainya bukan?
Lalu bagaimana jika kita Menikah Karna Jebakan? Terlebih kita tidak tau jika kita dijebak.
Begitu pula dengan Rafa yang terpaksa menikah dengan teman satu kampusnya saat kuliah dulu karna suatu insiden yang bahkan dia sendiri tidak menyadari atas perbuatannya. Sungguh, dia ingin lari namun ada orang tuanya yang akan kecewa jika mengetahui kalau Putra yang sudah mereka didik dengan susah payah malah berbuat hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Lantas setelah menikah, apakah pernikahan mereka akan berjalan seperti pasangan Suami Istri pada umumnya atau malah sebaliknya?
Cus Capcus ikuti kisah mereka➡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nora Afridana Ritonga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdegup Kencang
Pukul 7 malam Rafa baru menyelesaikan semua pekerjaannya, butuh beberapa jam dia lembur untuk menyelesaikan nya. Sebelumnya dia sudah mengabari orang rumah jika dia akan pulang terlambat.
Kantor sudah tampak sepi saat dia berjalan melewati koridor menuju kearah lift, hanya ada beberapa staf saja yang sedang lembur.
Ting..
Pintu lift terbuka dan sampailah Rafa di lantai satu, dia segera bergegas menuju parkiran dimana mobilnya berada.
Bip.. bip..
Rafa membunyikan alarm mobilnya sebelum masuk ke dalamnya. Matanya menyipit tatkala melihat seorang gadis berbaju syar'i yang sedang berdiri di pinggir jalan di depan gerbang kantor.
"Syifa?" Gumamnya saat matanya tak sengaja melihat wajah wanita tersebut.
Rafa menginjak pedal gas nya dan perlahan mendekati wanita itu sekaligus ingin memastikan bahwa penglihatan nya tidak salah. Dan benar saja, wanita itu adalah Syifa, Rafa segera mendekat kearah Syifa.
"Mas Rafa?" Seru Syifa saat sebuah kaca jendela mobil terbuka dan menampakkan wajah seorang pria yang dikenalinya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Rafa.
"Baru pulang magang Mas, ini lagi nungguin taxi lewat tapi kok gak ada ya." Keluh Syifa yang sudah 10 menit menunggu angkutan umum namun tak kunjung ada yang lewat.
"Biasanya memang jam segini angkutan umum jarang lewat, bareng saya aja." Rafa menawarkan untuk mengantarkan Syifa untuk pulang bersamanya.
"Gitu ya Mas?" Terlihat sekali bahwa Syifa yang sudah kelelahan.
"Iya, bareng saya aja lagian kita searah kan?"
"Emangnya gak apa-apa Mas?"
"Enggak, udah ayo masuk."
Sejenak menghela nafas pasrah setelahnya melangkahkan kakinya memasuki mobil Rafa.
"Kamu magang di mana memangnya?" Tanya Rafa saat sudah menjalankan mobilnya.
"Disitu!" Sambil menunjuk kearah gedung yang berlogo 'Wibowo Group'.
"Mas sendiri dari mana hendak kemana?" Sambungnya lagi dengan melontarkan pertanyaan.
"Oh? saya juga kebetulan bekerja di perusahaan tempat kamu magang itu." Jawab Rafa tak ingin memberitahu bahwa dia adalah anak dari pemilik perusahaan tempat Syifa sedang magang.
"Kenapa kamu bisa pulang malam?" Tanya Rafa heran, Syifa katanya kan anak magang kenapa juga pulang nya malam?
"Aku baru magang hari ini Mas dan banyak banget pekerjaan yang harus aku kerjain, dan alhasil aku pulang malam." Jawab Syifa sambil tersenyum.
Rafa hanya manggut-manggut. Setelahnya hening diantara mereka, Rafa hanya fokus mengemudi, dia juga bingung harus bertanya apa karna dia bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Sedangkan Syifa memandang lurus kearah jalan sambil melamunkan sesuatu.
"Sudah sampai." Ujar Rafa saat sudah sampai di rumah yang tepat di depan mesjid Al-Qoriyyah.
"Oh sudah sampai Mas?" Tanya Syifa yang sudah tersadar dari lamunan nya.
".. Mas tau dari mana alamat rumah saya?" Tanya Syifa kembali saat sudah melihat gerbang rumahnya yang setinggi bahu di depan nya.
"Kamu lupa? kamu pernah memberitahukan nya kepada saya."
"Oh?.... Oh iya Mas saya lupa hehe.." Syifa baru ingat kalau dia pernah memberitahukan alamatnya kepada Rafa di Supermarket beberapa hari yang lalu.
"Mau mampir dulu Mas?" Syifa menawarkan untuk mampir kepada Rafa karna tidak mungkin juga kan Rafa yang sudah berbaik hati mau memberikan tumpangan kepadanya malah tidak di tawarkan untuk mampir, walaupun seandainya Rafa tidak mau tapi setidaknya dia sudah menawarkan.
Rafa melirik jam di pergelangan tangannya, "Tidak perlu, ini sudah malam, lain kali saja ya." Rafa sebenarnya ingin sekali menerima tawaran Syifa namun dia masih memikirkan orang rumah yang pasti sekarang sedang menunggu kepulangannya.
Allahuakbar... Allahuakbar...
Allahuakbar... Allahuakbar...
Terdengar dengan jelas suara azan Isya yang berkumandang dari mesjid Al-Qoriyyah.
"Sudah dapat waktu Isya, Mas gak mau mampir buat Sholat dulu?" Syifa kembali mengingatkan Rafa, entah kenapa saat Rafa menolak tawaran nya untuk mampir ke rumahnya hatinya merasa Kecewa, dia juga tidak tau kenapa bisa hatinya seperti itu.
"Ya, sepertinya saya akan mampir sebentar untuk Sholat dulu di Mesjid." Syifa tidak lagi memberikan tanggapan, entah kenapa dia tidak suka mendengar kalimat terakhir Rafa yang mengatakan bahwa akan sholat di Mesjid. Tapi kenapa juga dia berfikir seperti itu? apa urusannya untuk itu? dia juga seperti merasakan ada yang aneh dari dirinya.
"Baiklah, kalau begitu terimakasih banyak ya Mas karna sudah mau memberikan saya tumpangan." Akhirnya Syifa memilih pergi saja karna merasa jantungnya semakin tak terkendali.
"Tidak perlu sungkan." Rafa tersenyum manis kearah Syifa.
"Assalamualaikum Mas." Syifa buru-buru membuka pintu mobil dan segera beranjak keluar karna jantungnya semakin tak terkendalikan saja saat tak sengaja melihat senyum Rafa.
"Waalaikumsalam.."
"Astagfirullahaladzim." Syifa berjalan menuju ke rumahnya dengan terus melantunkan kalimat Istighfar secara berulang hingga sampai di depan pintu rumahnya.
Tok.. tok.. tok..
"Assalamualaikum... Bun..." Masih dengan jantungnya yang terus memompa lebih cepat, Syifa berusaha menormalkan nya namun dia tidak mengerti akan hal itu, yang dia ketahui dari sebuah artikel bahwa jika jantung seseorang berdegub kencang saat dekat dengan lawan jenisnya itu artinya dia sedang 'jatuh cinta'.
Syifa menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran-pikiran yang saat ini bersarang di otak kecil nya.
"Wa'alaikumsalam.. Asy sudah pulang?" Syifa masih berperang dengan hati dan pikirannya hingga tidak menyadari bahwa Ibunya sudah membukakan pintu dan sekarang telah berdiri tepat di hadapan nya.
"Ah.. Bunda..?" Syifa akhirnya tersadar saat merasa lengan nya disentuh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Ibunya.
"Kenapa melamun?" Asyida, wanita paruh baya yang sudah berumur 50 tahunan itu menegur Putrinya yang tampak sedang melamun.
"Oh gak apa-apa Bun, Bunda sudah Sholat Isya?" Syifa mengalihkan pembicaraan mereka, pas juga Ibunya itu tampak sedang membawa mukenah, dia ingin bercerita kepada Ibunya namun dia masih ragu dengan hatinya. Jadi dia putuskan untuk memendamnya saja, nanti juga pasti hilang sendiri, begitulah pemikirannya.
"Belum, tapi Bunda sudah berwudhu, kamu masuklah ke dalam bersihkan tubuhmu dan segera Sholat Isya setelah itu jangan lupa makan." Wanita paruh baya yang masih tampak segar itu selalu memberikan arahan yang baik kepada Putrinya, begitupun Syifa dia akan selalu menerima arahan dari Ibunya, dia akan melakukan apapun agar bisa membuat wanita terhebatnya bahagia bersamanya.
"Bunda mau ke Masjid?" Syifa sudah tau kebiasaan Ibunya yang selalu ikut serta Sholat berjama'ah di Masjid depan rumah mereka, tak jarang dia juga ikut bersama Ibunya untuk Sholat berjamaah, bahkan Masjid itu sudah menjadi rumah keduanya.
"Iya,, yasudah kalau begitu Bunda pergi dulu ya." Setelah mengusap lengan kanan Syifa, Asyidah pun segera berjalan menuju Masjid meninggalkan Syifa yang masih berdiri di ambang pintu tampak gusar sendiri.
"Mobil siapa ini?" Saat berjalan menuju Masjid, Asyidah membuka pintu gerbang dan terlihatlah sebuah mobil sedan mewah yang terparkir disana, dia bisa melihat dari arah luar bahwa tidak ada orang di dalam mobil tersebut, dia ingin bertanya kepada Syifa namun saat dia berbalik, pintu sudah tertutup rapat.
"Mungkin saja orang yang mampir buat Sholat di Masjid." Asyidah menarik kesimpulan sendiri karna tak ada seorang pun yang bisa ditanyai nya, dan dengan segera dia kembali melanjutkan langkahnya menuju Masjid.
_
_
**Mohon tekan like nya, di komen kalau ada yang menurut kalian kata per katanya yang kurang/salah.
Happy reading❤**