Komitmenlah yang membuat dua orang terikat dalam sebuah hubungan. Seperti perjanjian, suatu hari akan dipertanyakan. Sekuat itu Ayya menggenggam ikatan meski sedari awal tak terlihat ada masa depan.
Sementara Ali butuh cukup waktu untuk me-reset ulang perasaannya setelah masa lalu bersarang terlalu lama dalam ingatan.
Akan dibawa ke manakah rumah tangga mereka yang didasari atas perjodohan orang tua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sales Hp
Ayya meninggalkan Ali yang tengah beristirahat di kamar, lalu kembali ke dapur membantu Umi.
“Ayy ....” ucap Bu Aisyah, pelan.
“Iya, Umi.”
“Sejak kamu nikah, Ibra sering datang ke sini.” Bu Aisyah yang sedang mencuci piring, melirik sekilas ke arah Ayya yang berdiri di sampingnya.
“Apa, Umi? untuk apa dia datang ke sini?” bisik Ayya dengan wajah kagetnya. Dia melirik sekilas ke arah kamarnya karena takut di dengar oleh suaminya.
“Umi mau tanya, ada hubungan apa antara kamu dengan Ibra, sebelum kamu menikah?”
“Tidak ada, Umi!” jawab Ayya pelan.
“Apa kamu yakin?” tegas Bu Aisyah sambil menatap tajam mata anaknya.
“Memangnya kenapa, Umi? sepertinya Umi tidak percaya?” jawab Ayya sambil menunduk.
“Apa pun hubungan kamu dengannya, tolong akhiri segera, karena kamu sudah menikah.”
“Apa yang harus Ayya akhiri, Umi? karena Ayya tidak pernah memulainya.”
“Tapi ....” ucap Bu Aisyah yang terpotong.
“Tapi apa, Mi? Umi meragukan Ayya?”
“Bukan begitu, Ayy. Umi merasa ... bahwa setiap Ibra datang ke sini, dia seperti menyimpan maksud lain.”
“Itu hanya perasaan umi saja. Mungkin saja mas Baim hanya ingin mewakili Ayya dan mas Ali yang belum sempat mengunjungi Umi sebelum ini, karena dia 'kan sepupu mas Ali.”
“Semoga saja begitu. Ya sudah, Ayy, sholat duhur dulu sana, setelah ini Umi sama Abi mau ke rumah kakamu dulu.” pungkas Bu Aisyah mengakhiri obrolan siang itu.
Ayya kembali ke kamarnya, setelah sholat Ayya duduk sendiri di tepi jendela, pikirannya menerawang ke masa lalu semasa dirinya masih di Asrama, semua orang berpikir bahwa Ayya adalah kekasih Ibra, masih teringat jelas kata-kata Ibra yang meminta Ayya untuk menunggunya, sesaat sebelum dia pergi ke luar negeri.
Antara mereka memang tidak ada ikatan yang jelas namun, tidak dipungkiri bahwa Ayya memang sempat menunggu kepulangan Ibra dari luar negeri.
Flashback on :
“Ayy, besok aku harus pergi ke luar negeri, kamu bisa menungguku 'kan? karena sepulang dari sana aku ingin mengatakan sesuatu yang penting,” ucap Ibra sambil menatap Ayya yang menunduk.
Diamnya Ayya mungkin bisa di katakan bahwa ia setuju. Padahal, Ayya tidak yakin karena bisa di bilang hubungan mereka itu tanpa setatus. Ayya segera membuang harapan itu karena ternyata Ibra tidak pergi sehari dua hari melainkan dua tahun, sehingga Ayya berpikir kalau dirinya sedang dipermainkan. Mengingat selama itu, Ayya tidak mendapat telepon untuk sekedar mendapatkan kabar dari Ibra, ia tidak ingin jika penantiannya selama ini sia-sia saja, karena itulah Ayya tidak pernah menyimpan harapan apa pun lagi terhadap Ibra.
Flashback off.
Deru suara mobil yang baru tiba di depan rumah membuyarkan lamunan Ayya, dari jendela dia bisa melihat bahwa yang datang ternyata Ibra, mungkin kedatangan nya hanya untuk menemui Abi dan Umi-nya, karena Ibra belum mengetahui kedatangan Ayya ke rumah ini. Namun, Ayya merasa ada hal yang harus di selesaikan dengan Ibra karena khawatir bahwa yang dikatakan Bu Aisyah itu benar adanya, bahwa Ibra memiliki maksud tertentu. Maka sebelum Ibra memasuki rumahnya, Ayya segera menghadang di luar rumah, juga tak ingin jika kedatangan Ibra akan diketahui oleh suaminya.
“Berhenti di situ, Mas.” Seru Ayya.
“Ayy! kamu ada disini?” seru Ibra yang senang sekaligus tidak menyangka akan bertemu Ayya di sini.
“Maafkan Ayya, Mas. cepat pergi dari sini.”
“Ayy, kenapa kamu kasar padaku? setidaknya berikan aku penjelasan.”
“Tidak ada yang harus di jelaskan, yang pasti tidak baik buat kita bertemu seperti ini.”
“Tentu saja banyak yang harus kamu jelaskan, aku tunggu kamu bicara, tapi kamu selalu menghindar.”
“Ayya sudah menikah, dan kamu tahu itu sudah cukup jelas.”
“Kenapa kamu tidak menungguku? dan kenapa kamu menikah dengan orang lain, Ayy. Padahal aku sudah menyiapkan semuanya.”
“Untuk apa Ayya menunggumu, Mas. supaya terlihat seperti orang bodoh? Menunggu seseorang tanpa kepastian dan tanpa kabar berita selama 2 tahun berlalu, aku sadar, aku tidak pantas menunggumu, karena tak ada ikatan apa pun diantara kita.”
“Maafkan aku, Ayy. Aku terlalu fokus dengan pekerjaanku karena aku hanya ingin cepat selsai dan kembali pulang menemuimu, waktu itu. Tapi saat aku pulang, kamu sungguh memberiku kejutan seperti ini, aku sulit menerimanya.”
“Semua sudah berakhir, Mas. Lupakan semuanya karena kita tidak mungkin kembali ke masa lalu, Ayya sudah bahagia dengan pernikahan ini, Ayya harap, Mas Baim pun mendapatkan kebahagiaan yang lebih lagi.”
Ibra terdiam sambil menghela napasnya, di wajahnya terpancar raut muka penuh kecewa.
“Baiklah, Ayy. jika itu maumu, kita akhiri semuanya, tapi ....” nada bicaranya menurun.
“Tapi apa, Mas?”
“Kamu jangan menghindar lagi dariku, mulai saat ini aku hanya akan memperlakukanmu sebagai istri dari sepupuku.”
“Aku tidak bisa menjanjikan itu, karena aku tidak bisa melakukan hal yang tidak disukai oleh suamiku, mengertilah!”
Tiba-tiba terdengar suara Ali yang memanggil nama Ayya dari dalam rumah.
“Ayy! kamu di sini rupanya,” seru Ali sambil membuka daun pintu.
“I-iya, Mas. Ayya datang.” Bergegas menghampiri suaminya.
“Ibra, kenapa hanya berdiri di luar saja, ayo masuk,” ajak Ali dengan ramah.
Tidak biasanya Ali bersikap baik seperti ini pada Ibra, Ibra memanfaatkan kesempatan ini untuk segera masuk ke dalam rumah Ayya.
“Ibra, duduklah! aku mau sholat duhur dulu,”
“Baik, Mas.” jawab Ibra sambil mengangguk.
Ayya mengikuti suaminya ke kamar, karena tak mungkin duduk berdua dengan Ibra. Tak lama kemudian keluar dari kamarnya bersama-sama setelah Ali selsai sholat, Ali menarik tangan Ayya yang tidak lepas dari genggamannya.
“Duduk sini, Sayang.” ucap Ali dengan mesra.
“Apa kalian tidak mau memberiku segelas air minum? aku 'kan tamu di sini.” Ibra berdehem sambil mengusap tenggorokannya.
“Oh, iya, maaf. Ayya lupa, Mas.” Ayya pun segera pergi ke dapur, tak lama kemudian kembali dengan membawa dua gelas minuman.
“Abi sama Umi kemana, Ayy?”
“Mereka sedang di rumah kak Bayu, mungkin. Sebentar lagi pasti pulang.”
“Beberapa waktu yang lalu, Umi bilang kangen kamu tapi karena hapenya rusak, jadi gak bisa telpon kamu, dan ini aku bawakan hp baru buat umi, Ayy. fiturnya lumayan canggih karena ini keluaran terbaru tahun ini,” tutur Ibra sambil membuka bungkusan yang di bawanya.
“Mas Baim jangan repot-repot, biar nanti Ayya saja yang belikan umi hp baru, lagian ini terlalu canggih buat umi, umi 'kan gaptek. Hehe.” Ayya memasukan kembali ponsel canggih yang masih tersegel di dalam box kedalam kantongnya.
“Tidak, Ayy. hp ini sangat mudah digunakan oleh semua kalangan, nanti aku ajari umi cara menggunakannya, aku 'kan sering datang kesini, Ayy.”
“Sudahlah, Ibra. kamu itu seorang pengusaha muda, kenapa tingkahmu sekarang jadi seperti sales penjual hp? repot sekali.” Akhirnya Ali terpancing untuk mengomentari kelakuan Ibra yang terlihat seperti sedang pamer kekayaan.
BERSAMBUNG ...
Readers-ku tersayang mana suaranya? Author doakan semoga kalian selalu sehat dan banyak rejeki. Jangan lupa angkat jempolnya buat tekan like dan komen di bawah, dukung selalu karya-karya recehanku, supaya lebih semangat up-nya.😘