NovelToon NovelToon
Ingfah & Nara Si Indigo

Ingfah & Nara Si Indigo

Status: tamat
Genre:Mata Batin / Misteri / Anak Yatim Piatu / CEO / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

SINOPSIS
​Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
​Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
​Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyusup di Balik Bayang-bayang

Suasana di ruang bawah tanah yang tadinya tenang berubah menjadi tegang. Guru Chai baru saja memberikan instruksi dasar, namun ia sempat tertegun saat Nara melakukan tendangan pemanasan pada samsak. Suara dentumannya begitu berat, menandakan kepadatan otot yang tidak biasa bagi gadis seusianya.

Namun, latihan itu terhenti seketika saat radio panggil di pinggang Guru Chai berbunyi pendek. Tatapan pria itu berubah tajam.

"Tuan Arun, sensor perimeter di sisi timur tersentuh. Ada pergerakan," lapor Guru Chai melalui alat komunikasinya.

Arun tetap tenang, namun matanya memancarkan kilatan berbahaya. Ia segera memberi isyarat kepada Nara untuk berhenti berlatih.

"Nara, naik ke atas sekarang. Bawa Ingfah ke ruang tengah."

Di luar, Guru Chai dan beberapa pria berjas hitam segera berpencar dengan gerakan taktis. Mereka adalah profesional yang sudah lama bekerja untuk keamanan keluarga Cankimha. Suara langkah kaki cepat terdengar di atas rumput halaman belakang, diikuti bunyi gesekan logam yang halus.

Di ruang tengah yang luas, Nara menggandeng tangan Ingfah dengan erat. Meskipun Nara ingin sekali mengambil tongkatnya dan ikut bertarung di luar, ia teringat perintah Arun.

"Biarkan mereka yang mengurus. Tetaplah belajar dan awasi Ingfah," perintah Arun saat ia bergabung dengan mereka di ruang tengah, sambil menyesap kopinya seolah tidak ada hal genting yang terjadi.

"Ingat, mulai detik ini, kalian adalah putri Arun Cankimha yang lemah lembut dan penakut. Jangan tunjukkan kalau kalian bisa menghancurkan leher orang dalam sekejap."

"Baik, Daddy. Kami mengerti," jawab Nara dan Ingfah serempak.

Nara duduk di karpet bulu yang empuk, mencoba mengatur napasnya agar terlihat seperti gadis biasa yang sedang cemas, padahal indra pendengarannya sedang memetakan posisi para penyusup di luar sana.

Kehangatan Nina dan Ingfah

Di tengah ketegangan itu, Nina (si kecil Ning yang kini berusia 11 tahun) mencoba mencairkan suasana. Ia membawa beberapa buku cerita bahasa Inggris dan duduk di sebelah Ingfah.

"Kak Fah, jangan takut. Paman-paman di luar itu hebat-hebat kok," kata Nina dengan polos sambil membuka bukunya.

"Ayo, lebih baik Kakak bantu aku baca ini. 'The cat sat on the mat'. Coba Kakak ikuti."

Ingfah tersenyum kecil, merasa terhibur oleh keberanian adik kecilnya.

"Okay, Nina... The cat... sat on the mat," ucap Ingfah dengan aksen yang mulai membaik.

Nina tertawa kecil dan mulai mengajak Ingfah melakukan percakapan sederhana.

"How are you today, Kak Fah?"

"I am... hungry?" jawab Ingfah ragu, yang memicu tawa kecil dari Nara dan Arun.

Beberapa menit kemudian, Guru Chai kembali masuk ke dalam rumah. Pakaiannya sedikit berdebu, namun wajahnya tetap datar. Ia memberikan anggukan kecil kepada Arun.

"Hanya pengintai amatir, Tuan. Sepertinya suruhan dari pesaing bisnis yang penasaran dengan 'anak baru' Anda. Kami sudah membereskan mereka tanpa suara," lapor Guru Chai.

Arun mengangguk. "Bagus. Tingkatkan kewaspadaan. Jangan sampai mereka tahu siapa sebenarnya anak-anak ini."

Nara menatap ke arah jendela yang tertutup tirai rapat. Ia tahu, meskipun pengintai tadi hanya "amatir", ini adalah peringatan bahwa dunia luar mulai mencium keberadaan mereka. Ia harus berlatih lebih keras lagi dengan Guru Chai agar penyamarannya sebagai atlet bela diri segera sempurna.

Malam itu, ketegangan di luar rumah perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan keluarga di dalam ruang tengah yang luas. Meskipun status mereka kini adalah majikan dan pelayan secara formal, ikatan batin sebagai sesama pelarian dari masa lalu tetap tak terbendung.

Nina terbukti menjadi guru yang jauh lebih efektif daripada buku teks mana pun. Dengan kesabarannya, ia mengajari Ingfah cara mengucapkan kata-kata sulit dengan gaya bicara remaja Bangkok yang modern.

"Bukan 'I am hungry', Kak Fah! Kalau di sekolah, Kakak bisa bilang 'I'm starving' supaya terdengar lebih keren," celoteh Nina sambil membetulkan pengucapan Ingfah.

Ingfah tertawa, matanya yang biru berbinar senang. "Star-ving... Begitu, Nina?"

"Tepat! Kak Fah pintar sekali!" puji Nina sambil bertepuk tangan kecil.

Di sudut ruangan, Prew (Prawit) dan Wen (Bibi Wiern) berdiri mengawasi. Prew, yang kini bertubuh tegap dengan kemeja kerjanya, hanya bisa tersenyum tipis melihat adegan itu. Hatinya lega melihat kedua gadis yang dulu ia lindungi di tengah hutan kini bisa tertawa di atas karpet mahal.

"Siapa sangka mereka akan belajar bahasa asing, ya?" bisik Wen kepada Prew.

"Dulu kita hanya berpikir bagaimana cara mereka bisa makan buah hutan esok hari."

Prew mengangguk pelan. "Dunia sudah berubah, Wen. Tapi syukurlah, mereka tetap memiliki satu sama lain."

Bibi Ratri (Mae Parang) muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi camilan hangat—roti panggang mentega dan susu cokelat. Ia mendengar ucapan Ingfah tadi tentang rasa lapar.

"Nah, ini dia pesanan 'Tuan Putri' yang tadi bilang lapar saat belajar," sindir Bibi Ratri dengan nada menggoda sambil meletakkan nampan di tengah karpet.

"Belajar bahasa Inggris itu memang menguras tenaga, ya? Padahal tadi saat makan malam, nasi di piringmu habis bersih, Fah."

Ingfah tersipu malu, wajahnya memerah. "Habisnya... aku jadi lapar lagi setelah melihat Nina semangat sekali mengajariku, Bibi."

Nara, yang sejak tadi duduk waspada, akhirnya ikut bersantai. Ia mengambil sepotong roti dan menyuapkannya ke mulut Ingfah.

"Makanlah yang banyak, Nong. Besok kita punya hari yang panjang lagi di sekolah. Kamu harus punya energi untuk menghadapi Cindy dan kawan-kawannya."

Arun memperhatikan mereka dari meja kerjanya dengan tatapan puas. Baginya, pemandangan ini jauh lebih berharga daripada seluruh keuntungan perusahaannya. Keluarga ini adalah benteng yang ia bangun untuk melindungi cahaya terakhir dari Mustika Prema-Vana.

Malam itu ditutup dengan keheningan yang damai. Ingfah, yang merasa lelah namun bahagia, tidak tidur di ranjangnya sendiri. Ia menyelinap ke ranjang Nara, memeluk kakaknya erat-erat seperti yang selalu ia lakukan sejak mereka masih kecil di gubuk hutan. Aroma tubuh Nara yang menenangkan adalah "rumah" yang sesungguhnya bagi Ingfah.

****

Pagi harinya, Bibi Ratri telah menyiapkan dua jenis pakaian di atas tempat tidur mereka. Selain seragam kemeja putih yang rapi, ada juga setelan olahraga sekolah yang terdiri dari jaket tracksuit dan celana panjang berwarna biru tua dengan garis putih.

"Hari ini ada jam olahraga, Nara. Ingat, jangan sampai kamu melompat terlalu tinggi atau menendang terlalu keras," pesan Bibi Ratri sambil merapikan kerah baju Nara.

Nara mengangguk dalam diam. Ia melirik pergelangan tangannya yang kini sengaja dibalut handwrap tipis, sebuah "aksesoris" yang disarankan Arun untuk memperkuat identitasnya sebagai atlet bela diri.

Target Baru: Pesona Ingfah yang Berbahaya

Begitu mereka turun dari mobil di depan sekolah, suasana terasa berbeda dari hari pertama. Jika kemarin mereka ditatap dengan penuh tanya, hari ini pandangan para siswa laki-laki jauh lebih terang-terangan.

Berita tentang kecantikan "Gadis Farang" bernama Ingfah telah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Ingfah bukan lagi sekadar murid baru; ia telah menjadi target para siswa populer yang merasa bisa menaklukkan hati siapa saja.

Saat mereka berjalan menuju kelas, seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi dengan jaket tim basket sekolah menghalangi jalan mereka. Namanya Leo, kapten tim basket yang dikenal sombong.

"Hei, murid baru," sapa Leo dengan senyum yang dipaksakan menawan, mengabaikan keberadaan Nara di samping Ingfah.

"Aku dengar kamu suka roti kantin yang jatuh? Bagaimana kalau siang ini aku traktir makan di restoran elit di seberang sekolah? Kamu terlalu cantik untuk makan di kantin berisik ini."

Ingfah tersentak, ia langsung bersembunyi di balik lengan Nara. Ia tidak terbiasa dengan perhatian yang agresif seperti ini.

Nara melangkah maju satu langkah, menutupi seluruh tubuh Ingfah dari pandangan Leo. Mata tajamnya menatap Leo dari bawah topi baseball yang ia kenakan.

"Dia tidak tertarik," jawab Nara dingin.

Leo tertawa remeh, menatap Nara dengan sinis. "Oh, jadi ini kakaknya yang katanya jago berantem itu? Dengar ya, aku cuma mengajak adikmu makan. Jangan jadi satpam yang terlalu galak kalau tidak mau urusanmu panjang denganku."

Teman-teman Leo di belakangnya mulai bersiul-siul, memprovokasi suasana. Leo mencoba meraih tangan Ingfah, bermaksud mengabaikan Nara.

Srett!

Dengan gerakan yang sangat cepat namun terkendali, Nara menangkap pergelangan tangan Leo sebelum menyentuh Ingfah. Nara tidak meremasnya sampai hancur seperti botol kemarin, tapi ia menekan titik saraf tertentu yang membuat tangan Leo mendadak lemas dan kesemutan.

"Jangan. Sentuh. Adikku," bisik Nara dengan nada yang membuat bulu kuduk Leo meremang.

Leo menarik tangannya dengan wajah kaget. Ia merasakan tangannya seperti tersengat listrik.

"Cih, dasar aneh! Ayo cabut, guys! Masih banyak cewek lain yang lebih asik," gerutu Leo sambil berjalan pergi dengan wajah malu karena ditolak di depan umum.

Ingfah menghela napas lega setelah Leo pergi. "Terima kasih, Pi. Tapi sepertinya sekolah ini lebih melelahkan daripada mendaki gunung Chiang Mai."

"Ini baru permulaan, Nong," kata Nara sambil merapikan tasnya. "Ingat kata Daddy, kita harus terlihat 'lemah lembut'. Tapi jika mereka sudah menyentuhmu, itu artinya mereka sudah melewati batas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!