Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27_Karma
Vinda membuka matanya perlahan. Awalnya dia hanya berniat memejamkan mata agar tidak ketahuan Ibu mertuanya. Namun, yang ada dia malah kebablasan dan tidur sampai matahari terbenam. Netranya menatap ke sekeliling ruangan dan tidak mendapati siapa pun di kamarnya. Rasanya dia mulai merasakan sakit di ulu hati. Harapannya, dia melihat Michael di dekatnya. Namun, semua itu hanya harapannya saja.
Vinda termenung menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Senyumnya perlahan tercetak, tetapi hanya sekejap karena setelahnya ada setitik air mata yang mengalir. “Kita benar-benar tidak bisa bersama, ya?” tanyanya dengan diri sendiri.
Vinda menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata dan siap mengalir. Saat ini dia benar-benar berharap Rensi tidak akan datang dalam hidupnya. Egois memang, tetapi dia juga tidak bisa memungkiri, bahwa dia mulai takut kehilangan.
Boleh aku berharap agar dia tidak pernah kembali? Boleh aku berharap mendapatkan kebahgiaan darimu, Ael? Namun, Vinda langsung mengenyahkab semua pikiran konyolnya.
“Kamu mikir apa sih, Vin. Sejak awal memang bukan kamu pilihannya,” ucapnya sembari mengusap air mata. Beberapa kali mengerjapkan matanya agar air yang siap tumpah dari selama matanya segera menghilang. Vinda juga mulai mengatur napasnya agar kembali normal.
Vinda mencoba bangkit dari tidurnya dan duduk. Sekarang dia baru merasakan nyeri di bagian lukanya. Dia hanya meringis dan memegangnya lembut, mencoba menghilangkan rasa sakit yang dirasakannya.
Vinda baru saja menapakan kaki di lantai kamar yang terasa dingin dan siap keluar. Tenggorokannya haus, tetapi baru satu langkah, pintu kamarnya terbuka dan menghadirkan pria yang sejak tadi dipikirkannya.
“Kamu ngapain turun dari ranjang?” tanya Michael dengan kening berkerut.
“Memangnya kenapa?” Vinda malah balik bertanya dan menatap bingung ke arah Michael saat ini berdiri.
“Kamu itu baru ditembak. Lukanya aja belum kering. Mendingan kamu istirahat aja biar lukanya gak terbuka lagi,” jelas Michael dan melangkah mendekati Vinda.
“Ael, aku hanya terkena tembakan di dada dan bukan di perut atau kaki. Aku masih bisa berjalan tanpa merobek lukanya,” ucap Vinda dengan kepala menggeleng. Dia tidak tahu apa yang dipikrikan pria tersebut.
Michael berdecak kesal dan langsung mendekati Vinda yang masih nekat berjalan. Tangannya menggengam Vinda yang langsung diam dan membimbingnya duduk di ranjang. “Kamu istirahat aja. Memangnya apa yang kamu butuhkan?”
Vinda yang mendengar hanya menghela napas dan segera mengikuti perintahnya. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Rasanya ini semakin sulit karena sifat Michael yang benar-benar berbeda.
“Kamu lapar? Atau haus?” tanya Michael lembut. Dia tidak cukup kejam dengan memarahi Vinda karena tindakan bodohnya.
“Aku haus,” ucap Vinda pelan karena memang tenggorokannya sudah sangat kering.
Michael langsung keluar kamar dan kembali dengan segelas air mineral yang langsung ditenggak habis oleh Vinda. Matanya masih menatap gadis yang menyelamatkannya. Rasanya dia benar-benar merasa bersalah. Padahal, biasanya dia tidak pernah merasakan apa pun, bahkan ketika menyakiti orang lain. Namun, rasanya berbeda ketika dia yang dijadikan objek penyelamatan.
Michael mengamati wajah Vinda lekat, membuat gadis tersebut semakin salah tingkah. Matanya menelisik wajah Vinda yang memang mirip dengan malaikatnya. Namun, lagi-lagi, hati dan logikanya tidak bisa berkompromi. Pikirannya selalu menyangkal hal tersebut dan hatinya seolah memberontak dan membenarkan semua penglihatannya.
“Ael, ada yang aneh sama mukaku?” tanya Vinda yang risih karena Michael menatapnya dengan mata yang tidak berkedip.
Michael tersadar menggeleng. “Tidak. Aku hanya berpikir, kenapa kamu ada di kantorku?” ucapnya bohong. Padahal dia tidak memikirkan alasan Vinda datang sejak tadi.
Vinda yang mendengar tampak gelagapan. Jika saja dia tidak mendengar percakapan Michael dengan mamanya, dia pasti akan menjawab semuanya dengan penuh kebahagiaan. Namun, sekarang dia sendiri merasa tidak perlu menceritakan hal tersebut karena bagi Michael, semua tidak akan ada bedanya.
“Kok diem aja. Gak mau jawab?” tegur Michael karena tidak juga mendapatkan jawaban.
“Oh,itu. Tadi...” Vinda diam sejenak dan memutar otaknya untuk mencari alasan, “tadi..tadi aku mau cari kerjaan,” putusnya berbohong. Dia menghela napas lega dengan senyum canggung yang ditunjukannya.
“Kamu mau cari kerja?” tanya Michael dengan kening berkerut. Apa wanita di hadapannya tengah bercanda? Dia bahkan sudah menjadi menantu keluarga yang terpandang dan kaya raya. Bahkan, Michael mampu membelikan apa saja yang diinginkan Vinda.
Vinda mengangguk mantap. “Iya. Aku tidak tahu jika itu kantormu. Maaf.”
Michael menatap Vinda dengan tatapan yang tak menaruh curiga sama sekali. “Lalu, kenapa kamu menyelamatkanku?”
Vinda tersenyum mendengarnya. “Bagimana pun awalnya kita menikah, nyatanya kamu tetap suamiku, Ael. Entah aku dan kamu saling cinta atau tidak, kenyataan bahwa kamu telah menjadikanku seorang wanita masih tidak bisa dipungkiri. Itulah sebabnya aku menyelamatkanmu,” ucap Vinda jujur, “setidaknya sampai kamu mendapatkan Rensi dan melepas semua ikatan diantara kita. Aku ingin menjadi layaknya seorang istri yang baik untukmu.” Vinda menekan suaranya senormal mungkin. Padahal dia begitu terluka mengatakannya.
Michael yang mendengar hanya diam. Benar apa yang dikatakan Vinda. Bagaimana pun awal mereka menikah, mereka tetaplah sepasang suami istri yang sah di mata agama dan hukum. “Aku akan membebaskanmu setelah Rensi ditemukan,” ujar Michael dengan wajah sumringah, “dan terima kasih telah menyelamatkanku. Tapi, lain kali jangan sok jadi pahlawan. Aku sudah biasa terkena baku hantam. Jadi, biarkan saja aku yang terkena. Mengerti?”
Vinda mengangguk. Ini pertama kalinya dia mendengar Michael berbicara dengan nada lembut kepadanya. Rasanya dia berharap, untuk kali ini saja, dunia berhenti berputar dan membiarkannya bersama dengan Ael.
“Dan untuk pernikahan kita, mungkin kita benar-benar bisa bertingkah menjadi suami istri yang sebenarnya. Sampai nanti Rensi kembali dan aku akan menceraikanmu. Bagaimana?” tawar Michael sembari menatap Vinda yang menunduk.
Vinda yang mendengar langsung mendongakan kepala. Matanya bertemu pandang dengan mata indah milik Michael. Rasanya hatinya benar-benar tercubit mendengar penuturan gamblang Michael yang tidak memikirkan perasannya. Namun, akhirnya Vinda mengangguk dan menerima tawaran Michael.
“Aku akan menjadi istri yang baik untukmu sampai Rensi kembali,” ujar Vinda.
“Bagus. Setidaknya saat Rensi kembali dan kami menikah, media tidak akan curiga dengan perceraian kita nantinya,” jawab Michael dengan senyum menenangkan.
Vinda hanya mengangguk dan *** selimutnya erat. Dia tidak mau jika pada akhirnya Michael melihat air matanya mengalir. Dia ingin melepaskan diri dari pria tersebut tanpa membuatnya merasa bersalah.
Setidaknya, hanya ini yang bisa aku lakukan. Menikmati peran pengganti selama tokoh utama menghilang. Vinda menghela napas panjang dan masih memperlihatkan wajah bahagianya, meski batinnya benar-benar terluka.
_____
Dave menatap gadis yang sejak tadi teridur di kursi sebelahnya. Matanya mengamati wajah gadis yang beberapa hari menjalan hidup bersamanya, bahkan saat tidur dan bangun tidur. Senyum sinisnya memperhatikan Rensi yang masih terlelap. Bagaimana tidak, Dave sengaja mencampurkan obat tidur di minuman Rensi agar wanitanya tidak tahu kemana dia akan membawa pergi.
“Sayang, kejutanmu akan segera menanti,” bisiknya dengan senyum mematikan.
Setelah satu jam perjalanan mengendarai mobil yang sudah disewanya, Dave akhirnya sampai di sebuah rumah tua, tempat dimana dia dan Sam pernah menggadakan pertemuan singkat. Rumah tua yang terkesan kumuh karena keluarganya memang sudah lama tidak merawatnya.
Dave langsung melepaskan sabuk pengamannya dan keluar mobil. Berjalan menuju ke pintu sebelahnya dan membopong Rensi masuk ke dalam. Dia menatap wajah Rensi sekilas dan tersenyum manis, lalu melangkah menuju ke rumah tersebut.
Dave menapakan kaki dan menaiki tangga kayu yang masih terlihat kokoh. Tangan kekarnya masih membopong Rensi dan langsung masuk ke salah satu kamar yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Kamar yang tampak rapi. Dave menatap ranjang kecil yang ada di hadapannya dan tersenyum lagi.
“Saat kamu bangun, aku harap kamu menyukai kejutannya, sayang,” ucapnya sembari meletakan Rensi di ranjang dan mengelus pipinya pelan. Memandang dengan tatapan membunuh yang disembunyikan.
_____
Rensi merasakan ada benda yang melilit tubuhnya, membuat gerakannya menjadi terhalang. Tangan dan kakinya bahkan sudah tidak bisa digerakan. Matanya membuka perlahan, menyesuaikan netranya dengan suasana kamar yang berbeda. Keningnya berkerut melihat tempat yang masih asing baginya. Dia belum pernah mendatangi tempat seperti yang ditempatinya saat ini.
Rensi hendak melangkah, tetapi langkahnya terhenti karena dia sadar, kakinya tidak dapat digerakan. Ketika wajahnya menunduk da melihat kondisinya saat ini, Rensi membelakak kaget. Dia hanya duduk di kursi kayu jati dengan tangan dan kaki terikat.
“Apa-apaan ini?” ujarnya dengan perasaan kesal yang mulai merayap. Ingatannya pudar dan hanya menginat sebagian saja. Dia ingat saat ini harusnya dia melihat kejutan yang diberikan Dave untuknya.
Dave? Mengingat nama tersebut membuat Rensi semakin tidak tenang. Matanya mencari keberadaan pria tersebut dan tidak menemukannya. Apa terjadi sesuatu sampai dia ada di rumah kumuh tanpa Dave? Pikirannya saat ini benar-benar kacau dan kekhawatirannya lenyap ketika sebuah tepukan keras menggema di ruangan tersebut.
Rensi menegok, melihat ke asal suara dan melihat Dave yang tengah berdiri dengan tubuh di sandarkan di tembok kayu rumah tersebut, menatap dengan senyum yang sulit diartikan. Rensi yang melihat Dave masih bersamanya langsung menghela napas panjang. Lega.
“Dave, kamu di sana? Aku khawatir jika terjadi apa-apa denganmu,” ucap Rensi dengan senyum sumringah.
“Tentu, aku tentu baik-baik saja, sayang,” jawab Dave dengan langkah pelan mendatangi Rensi, “apa kamu suka dengan kejutannya?”
“Kejutan? Jadi ini kejutan yang kamu maksud?” tanya Rensi bingung.
“Tentu, sayang. Aku harap kamu akan menyukai tempat ini,” ujar Dave dengan tubuh yang sudah setengah membungkuk, menatap Rensi dengan senyum manis yang dibuat-buat.
“Apa? Aku tidak mengerti, Dave. Tapi, sebelum kamu menjelaskannya, bisa kamu lepas tali ini? Aku tidak nyaman,” sahut Rensi sembari menunjukan wajah memelasnya. Dia tau, Dave akan luluh dengan wajahnya yang menunjukan rasa lemah.
Dave malah berdiri tegap dengan wajah yang sudah tidak menunjukan keramahan sama sekali. “Melepaskanmu? Jangan bercanda,” kata Dave dan tertawa lantang, setelahnya dia menatap Rensi yan mengerutkan kening bingung, “aku bahkan tidak ingin melepaskan ikatan itu sama sekali, sayang.”
“Apa maksudmu, Dave? Aku tidak bisa terus duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Jadi, lepaskan aku,” teriak Rensi mulai geram. Dia seperti melihat Dave yang berbeda.
“Berhenti memerintahku, Rensi!” bentak Dave dengan mata yang sudah mengelurakan emosinya. Dia menatap Rensi yang langsung diam mendengar bentakannya. “Aku tidak suka kamu memerintahku.”
“Dave,” panggil Rensi pelan. Ini pertama kalinya dia mendapatkan bentakan dari Dave dan jantungnya benar-benar terasa akan lepas dari tempatnya.
Dave mengapit dagu Rensi dan mendongakan, sehingga mereka saling menatap. Rensi dapat melihat dengan jelas ada kemarahan dan kebencian yang sengaja ditunjukan pria tersebut. Jujur, saat ini dia benar-benar takut karena selama berpacaran, Dave hanya menunjukan sisi romantis dan tidak pernah melukainya.
“Kamu tau kenapa aku membawamu ke sini? Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan. Kamu harus tau apa akibat dari perbuatanmu,” ucap Dave dengan nada suara yang terdengar begitu marah.
Rensi yang mendengar hanya mengerutkan kening bingung, sampai pada akhirnya Dave melanjutkan kembali ucapannya. “Kamu tau, Rensi? Aku benar-benar menyesal telah menuruti ucapanmu. Kamu tau, saat ini papa ku ada di kantor polisi dan ibuku di rumah sakit. Sedangkan perusahaanku sudah diambang kehancuran. Itu semua karena kamu.” Dave melepaskan gapitannya dengan kasar.
“Aku tidak tahu apa pun, Dave. Kenapa kamu melampiaskan semuanya kepadaku?” balas Rensi masih berusaha melepaskan ikatannya, tetapi semua sia-sia saja.
Dave yang mendengar mengepal penuh amarah dan menendang kursi di sebelahnya, membuat Rensi tersentak kaget karena suara nyaring di ruangan tersebut. “Ini semua salahmu, Rensi. Andai saja kamu tidak memaksa dan memakai kelemahanmu kepadaku, semua akan baik-baik saja. Kehidupanku dan keluargaku akan baik-baik saja. Tetapi kamu memaksaku dan menggunakan tubuhmu untuk itu. Kamu adalah penyebabnya, Rensi!”
“Dave, aku....”
“Diam! Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu,” bentak Dave dengan napas terengah menahan amarah, “dan bukannya Michael begitu menyayangimu, hm? Jadi, diamlah di sini dan tunggu sampai Michael datang. Aku akan menghabisinya.”
Dave menegakan tubuhnya dan menatap Rensi dengan tangan mengepal. “Kamu, membusukanlah di sini,” ucapnya dan langsung pergi.
Rensi yang melihat Dave melangkah pergi langsung berontak dan mencoba melepaskan ikatannya. Matanya sudah mengeluarkan air mata dan terus memanggil Dave, tetapi pria tersebut menulikan pendengarannya, sampai pintu besar tersebut tertutup rapat. Rensi bisa mendengar suara pintu di kunci dari luar.
“Dave!” teriak Rensi dengan cucuran air mata. Tubuhnya melepas mendapati dirinya yang begitu mengenaskan. Yang bisa dilakukannya saat ini hanya satu, menyesali segala keputusannya.
Apa jika akau menerima Michael, semua akan menjadi lebih baik? Rasanya Rensi benar-benar jatuh dalam lubang besar saat ini. Namun, semua hanya sesaat karena dia menunjukan wajah berbeda.
“Kamu membuatku menderita, Michael. Tidak. Hidup bersamamu adalah sebuah kesalahan. Sekarang, aku yang harus menanggung beban hidupmu, hm? Aku akan membuat perhitungan denganmu, Michael,” desisnya dengan wajah mengeras dan tangan mengepal. Saat ini yang harus dilakukannya adalah keluar dari jeratan konyol seorang Dave.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄