Demi mendapatkan biaya operasi sang ayah yang mengidap penyakit jantung, Nabila Kanaya terpaksa menikah dengan Sean Ibrahim, lelaki yang tak lain adalah suami dari sahabatnya.
Sandra Milea, seorang model terkenal yang
namanya sedang naik daun di dunia entertainment, terpaksa meminta sahabatnya untuk menikah dengan suami tercintanya demi mendapatkan seorang anak yang sudah lama didambakan oleh Sean dan juga mertuanya. Bukan karena Sandra tidak bisa mempunyai anak, tetapi, Sandra hanya belum siap kehilangan karirnya di dunia model jika dirinya tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang anak.
Lalu, bagaimana nasib pernikahan Kanaya dengan suami sahabatnya itu? Akankah Kanaya menderita karena menikah tanpa cinta dan menjadi istri rahasia dari suami sahabatnya? Ataukah Kanaya justru bahagia saat mengetahui kalau suami dari sahabatnya itu ternyata adalah seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya?
Yuk, ikutin kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 ISTRI SIRI
Sean dan Sandra pulang ke rumah yang ditempati oleh Kanaya dan Sean. Awalnya Sandra tidak ingin mampir setelah dirinya menghabiskan waktu bersama Sean karena ia merasa tidak enak dengan Kanaya.
Namun, Kanaya ingat kalau mobilnya tertinggal di rumah itu. Oleh karena itu, Sandra akhirnya menuruti keinginan Sean untuk datang ke rumahnya terlebih dahulu.
Sepasang suami istri itu pulang saat hari menjelang siang. Mereka kelelahan dan bangun kesiangan karena menghabiskan sepanjang malam dengan adegan ranjang.
Sean dan Sandra benar-benar melepaskan rindu yang menggebu di dalam hati mereka setelah seminggu tidak bertemu. Sepasang suami istri yang sudah menikah selama lima tahun itu tidak menyia-nyiakan kesempatan saat mereka berdua bertemu.
Apalagi, setelah ini, Sean harus berangkat ke Surabaya sesuai perintah Papanya. Sudah dipastikan Sandra dan Sean akan jarang bertemu. Begitupun dengan Kanaya.
Kanaya membuka pintu saat terdengar suara bel. Perempuan cantik itu tersenyum saat pintu terbuka dan melihat sang sahabat sudah berdiri di sana.
Kanaya memeluk Sandra dengan erat. Semenjak akan menikah dengan Sean, Kanaya belum bertemu lagi dengan Sandra.
"Ponselmu tidak bisa aku hubungi. Apa kamu sangat sibuk sampai-sampai kamu tidak mau mengangkat panggilan telepon dariku?" Kanaya berucap kesal. Bibirnya mengerucut sambil menatap sahabat sekaligus istri pertama dari suaminya itu.
"Maafkan aku, Sayang ... aku benar-benar sibuk. Banyak pemotretan." Sandra menatap Kanaya dengan rasa bersalah. Model cantik itu memang sengaja tidak mengangkat panggilan Kanaya karena ia merasa belum siap.
Sandra tidak siap mendengar curhatan Kanaya soal pernikahannya dengan Sean. Perempuan cantik itu masih menyiapkan hatinya agar ia bisa ikhlas menerima semua yang terjadi.
Ikhlas? Rasanya Sandra ingin tertawa sendiri saat kalimat ikhlas itu tebersit di kepalanya.
Bagaimana dia bisa ikhlas berbagi tubuh suaminya dengan perempuan lain?
"Ayo masuk! Kebetulan sekali, aku baru saja selesai masak." Kanaya menarik tangan Sandra, sementara kedua matanya melirik Sean yang hanya terdiam melihat interaksi kedua wanita itu.
"Benarkah? Kebetulan sekali perutku sangat lapar. Ayo, Sean. Kita makan dulu." Sandra menarik tangan suaminya.
Mereka bertiga berjalan beriringan.
"Sungguh pemandangan yang sangat langka," batin Sean.
Bagaimana bisa Sandra dan perempuan itu bisa bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu?
Sean menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu tidak bisa menebak isi hati kedua perempuan yang saat ini sama-sama menyandang gelar sebagai istrinya itu.
Sean dan Sandra duduk di kursi di depan meja makan. Sementara Kanaya menyiapkan makanan untuk suami dan istri pertamanya.
Entah apa perasaan yang Kanaya rasakan saat ini, yang jelas, perempuan itu tidak mungkin membenci Sandra dan juga marah pada Sean.
Biar bagaimanapun, Sandra adalah sahabat baik yang selama ini menjadi dewa penolong baginya. Model cantik itu bukan hanya saat ini saja menolong Kanaya, tetapi, setiap kali perempuan itu butuh bantuan, Sandra dengan senang hati akan membantu Kanaya meskipun sang model sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Waah ... sepertinya ini enak sekali." Sandra menelan air liur melihat makanan yang tersaji di depannya.
"Ingat, Sayang ... kamu tidak boleh makan banyak-banyak kalau kamu tidak ingin berat badanmu naik," peringat Sean. Laki-laki itu tidak mau kalau setelah makan, Sandra akan menyesal dan akhirnya melakukan berbagai cara untuk mengeluarkan makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Sandra bahkan terkadang melakukan hal gila dengan memuntahkan kembali makanan yang bahkan baru beberapa menit masuk ke dalam perutnya.
"Kamu tenang saja. Kanaya juga tidak akan membiarkan aku makan banyak karena dia tahu kebiasaanku setelah makan melebihi porsi." Sandra tersenyum manis pada Sean membuat laki-laki bertampang dingin itu ikut tersenyum.
Kanaya yang melihat sepasang suami istri itu pun ikut mengulas senyum. Merasa bahagia melihat kedua orang itu begitu perhatian satu sama lain.
Meskipun cemburu, tetapi, Kanaya masih bisa mengontrol dirinya. Lagipula, apa hak dia merasa cemburu?
Meskipun saat ini dirinya menyandang status istri Sean, tetapi, bukankah dirinya hanya berstatus istri siri? Mungkin benar, Kanaya mencintai Sean. Akan tetapi, dalam hati ia sudah berjanji tidak akan mengkhianati Sandra.
Sebesar apa pun cinta Kanaya terhadap Sean, ia tidak akan merebut pria itu dari Sandra. Sean adalah milik Sandra. Baik itu sekarang, atau pun seterusnya.
"Ayo kita makan," ucap Kanaya setelah semua masakan yang ia masak sudah tersaji di meja makan.
Sandra dan Sean mengangguk. Kanaya mengambil makanan untuk Sean dan Sandra. Mereka bertiga kemudian makan sambil sesekali tersenyum.
Kedua perempuan itu terlihat akur, tidak seperti seorang istri dengan madunya yang selalu bertengkar.
Sean menghela napas panjang. Menatap satu persatu wajah cantik di samping dan dihadapannya.
Sandra memang sangat cantik, begitupun Kanaya yang semakin hari semakin terlihat cantik di matanya.
Wanita itu, apa dia akan tetap tersenyum bahagia seandainya suatu saat nanti dia hamil dan melahirkan kemudian aku dan sayang dengan begitu egois mengambil anak yang dilahirkannya?
Sean menatap Kanaya yang terlihat sangat cantik saat sedang tersenyum. Perempuan itu melahap makanannya sambil sesekali berbicara dengan Sandra.
"Besok kamu ikut Sean ke Surabaya, Nay." Suara Sandra membuat Kanaya dan Sean yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya langsung menatap model cantik itu.
"Sayang ... aku tidak mungkin membawa Kanaya ikut ke sana," protes Sean.
"Kenapa tidak bisa? Kalau Kanaya ikut denganmu, Kanaya akan mengurus semua keperluan kamu di sana.
Jadi kamu bisa fokus dengan pekerjaan kamu." Sandra menatap Sean yang tampak tidak setuju dengan usul Sandra.
"Aku tidak mungkin membawa Kanaya ke Surabaya, Sayang ... di sana banyak orang-orang kepercayaannya papa." Sean memberitahu istrinya, berharap wanita keras kepala itu mau mendengar penjelasannya.
"Sean benar, Sandra. Aku tidak mungkin ikut dengan Sean karena itu aku akan membahayakan kamu sendiri." Kanaya ikut menimpali. Perempuan itu sangat tahu kalau sahabatnya itu sangat keras kepala.
"Kamu ingin semua rencanamu aman bukan?" Kanaya menatap Sandra yang menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu ingin semua rahasia ini aman, kamu harus menuruti kata-kata suamimu, Sandra," lanjut Kanaya.
"Suamiku suamimu juga, Naya." Ucapan Sandra membuat Sean dan Kanaya langsung menatap wanita cantik itu.
"Kamu lebih berhak atas Sean karena kamu istri sahnya, Sandra. Sedangkan aku–"
"Kamu juga istrinya sekarang, Nay, terlepas dari perjanjian kita."
"Sandra ...."
Kanaya tidak bisa melanjutkan ucapannya. Perempuan cantik itu kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Sandra.
"Pernikahanku dengan Sean sudah ditentukan kapan berakhirnya. Sementara kamu dan dia adalah pasangan suami istri yang sah menurut agama dan negara juga diakui oleh keluarga dan juga semua kerabat kalian." Kanaya menatap Sandra. Ia tidak tahu apa maksud Sandra mengatakan hal itu.
Namun, Kanaya sangat yakin kalau Sandra juga pasti merasa sangat tidak nyaman dan sakit hati saat orang yang sangat dicintainya berbagi cinta apalagi sampai berbagi ranjang dengan perempuan lain.
Sebagai sesama perempuan, Kanaya sangat yakin, kalau saat ini Sandra sedang menyembunyikan rasa sakitnya.
"Sandra, aku memang istri dari suamimu, tetapi aku hanya istri siri. Aku istri siri yang kamu kontrak untuk melayani suamimu sampai aku hamil dan melahirkan," ucap Kanaya.
"Setelah itu, gelar istri yang aku sandang ini akan hilang setelah perjanjian tidak tertulis kita berakhir." Kanaya menatap manik mata Sandra yang tampak terkejut.
"Setelah aku melahirkan, Sean dan aku akan berpisah sesuai rencanamu."
BERSAMBUNG ....
Akhirnya ... bisa update juga. Tetap stay terus menunggu kelanjutannya ya ❤️❤️❤️