Semuanya nampak baik-baik saja, dia ceria , bahagia , ramah , kuat dan tegar! Tetapi itu hanya cover nya saja, dan yang kenyataannya adalah?
Dia rapuh, cengeng dan juga sakit!
Dan semua nya berubah ketika dia sembuh dari sakit yang membuat mental nya terganggu.
Dia bukan lagi wanita ramah dan ceria, melainkan wanita cuek dengan wajah datar dan segudang frestasi dan kekayaan!
*
Zahra Khoerunisa, memilih untuk pergi dan meninggalkan cinta pertama nya daripada bertahan dengan sakit yang teramat sakit.
-Di ambil dari kisah nyata-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hnislstiwti., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sore itu, Zahra bercerita dengan sang Abang dan calon Kakak ipar nya.
Ray pun ikut serta disana karena ia tidak ingin meninggalkan Zahra.
Hingga malam tiba, Zahra dan Ana pun pergi ke dapur untuk memasak makan malam.
Sedangkan Doni dan Ray, mereka menunggu di halaman belakang.
"Tuan, maaf jika selama ini Adik saya merepotkan anda" ucap Doni dengan formal.
"Saya justru yang selalu merepotkannya, awal saya bertemu dengannya saat dia sedang interview pekerjaan dan mulai saat itu juga saya menyukai nya. Hingga saat ini, saya menyukai, menyayangi dan mencintai nya" balas Ray dengan sorot mata berbinar.
"Saya dan keluarga saya sudah tahu latar belakang Zahra, bahkan kami juga tau kenapa ia sampai disini. Bunda, Adik saya dan saya sudah mencoba membujuk nya agar pulang dulu ke tanah air, tetapi dia tidak mau dan tadi pagi dia minta cuti untuk pulang" jelas Ray kembali.
Doni menghela nafas lega, ia takut bahwa nasib sang Adik akan sama saat sedang menjalin rumah tangga bersama dengan Wendi.
"Kami akan merestui kalian, maaf bukan kami langsung begitu saja setuju apalagi siapa yang tidak tahu anda dan keluarga anda. Tetapi saya pribadi, melihat ketulusan itu dalam sorot mata anda" ucap Doni dengan jelas.
"Zahra itu pribadi yang manja, dia selalu bergantung pada seseorang yang menurutnya akan selalu ada. Contoh nya pada mantan Suami nya dulu, ia manja dan juga bergantungan pada dia, tetapi dia harus di patahkan dengan sikap cuek Suami dan Keluarga nya.
Meskipun kami juga kadang sibuk, tetapi kami selalu saja meluangkan waktu untuk mengobrol dan berkumpul" ucap Doni kembali.
Doni terus saja bercerita tentang kepribadian Zahra pada Ray, ia ingin Ray tahu semua tentang Zahra sebelum ke jenjang yang lanjut.
Raymond sendiri diam saja dan mendengarkan, ia cukup senang karena keluarga Zahra yang sangat baik dan terbuka. Bahkan Ray juga salut akan tindakan Doni yang selalu mengutamakan ke bahagiaan sang Adik.
"Ehemmm" dehem Zahra yang memang sejak tadi sudah ada disana.
"Loh kamu kayak hantu saja tiba-tiba datang" celetuk Ray dengan tertawa kecil.
"Ish menyebalkan, ayo makan" ajak Zahra dengan mencebik.
"Sangat menggemaskan" batin Ray menatap Zahra dengan tersenyum.
Doni mengangguk, ia lalu mengajak Ray makan malam bersama.
Di ruang makan, Ana sudah selesai menata makanan di meja makan.
Zahra mengambilkan makanan untuk Ray, begitupun dengan Ana ia juga mengambilkan untuk Doni.
Mereka makan dengan tenang, bahkan tanpa banyak bicara dan hanya fokus pada makanannya saja.
Setelah selesai, mereka berkumpul kembali di ruang tamu. Zahra menyuruh Doni untuk menelpon sang Ibu.
"Mereka pasti sedang dalam pesawat, dan besok siang akan sampai disini" ucap Ray pada Zahra.
"Ahh iya ya, aku lupa" balas Zahra terkekeh.
Ck.
Decak Ray sambil mengacak rambut Zahra dengan gemas.
"Besok Bunda dan Citra akan kesini" ucap Raymond.
"Benarkah? Berarti aku boleh izin kerja ya" pinta Zahra dengan sedikit memohon.
"Hmmmm" balas Ray dengan menganggukan kepala nya.
Zahra langsung tersenyum bahagia, ia hampir saja akan memeluk Ray karena saking bahagia nya.
"Hehehe" cengengesan Zahra dengan wajah yang merona malu.
Sedangkan Doni dan Ana menggelengkan kepala nya, mereka bahagia karena Zahra sudah kembali tersenyum seperti dulu.
***
Sedangkan di dalam pesawat pribadi, Ibu, Bapak dan Aeni hanya bisa patuh serta duduk diam saja saat mereka di minta ikut bersama mereka.
"Bu, sebenarnya mereka siapa dan kenapa mereka membawa kami?" tanya Aeni sedikit takut.
"Ibu juga tidak tahu, tetapi mereka sangat meyakinkan bahwa kita akan bertemu seseorang" jawab Ibu dengan terus saja mengolesi minyak angin pada pelipis, hidung dan perut nya.
"Ibu mual?" tanya Aeni.
"Iya Nak, Ibu kan baru pertama kali naik pesawat rasanya perut Ibu di aduk-aduk" jawab Ibu dengan tertawa kecil.
"Bapak mual juga?" tanya Aeni pada Bapak Tora.
Bapak hanya tersenyum sambil menganggukan kepala nya, ia juga sama hal nya dengan Ibu sedang memegang minyak angin dari anak buah Ray.
Aeni memijit kepala Ibu , ia juga merasa mual tapi hanya saat akan lepas landas saja.
Ibu memejamkan mata nya , ia cukup menikmati pijatan dari Aeni.
Hingga jam berlalu dan mereka juga sangat lelah meski hanya duduk saja.
Mereka lalu tidur karena memang sudah larut malam dan juga kelelahan.
**
Tak terasa, waktu berganti sudah pagi. Matahari menampakan cahaya nya dengan sangat indah.
Dan perjalanan Aeni serta kedua orangtua nya masih saja berlanjut.
Saat ini mereka sedang melakukan sarapan di dalam pesawat tersebut.
"Duh Ibu sudah ahh, mual banget" ucap Ibu dengan meletakan sendok makannya.
"Yasudah, Nyonya minum air teh hangat saja" balas anak buah Ray dengan sopan.
Ibu Aminah langsung saja mengangguk dan menerima Teh hangat dari anak buah Ray.
Setelah meminum Teh tersebut, rasa mual pun surut seketika.
Sedangkan Aeni dan Bapak masih saja melakukan sarapan pagi, Bapak juga merasakan mual tetapi ia memaksakan sarapan.
Setelah selesai, mereka kembali duduk dengan santai. Aeni menatap lurus keluar jendela pesawat.
"*Apa kabarmu, Kak" batin Aeni dengan sendu.
"Aku merindukan mu, Ka Zah. Kapan kau akan kembali" lirih Aeni dengan memejamkan mata nya*.
Tes.
Air mata Aeni menetes saat ia memejamkan mata, ia sangat merindukan Zahra.
Mereka memang bukan saudara kandung, tetapi mereka sangat dekat dan bahkan sudah seperti Adik Kakak kandung.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Bapak saat melihat Aeni menghapus air mata nya.
"Aku merindukan Kak Zahra, Pak" jawab Aeni lirih.
Bapak memeluk Aeni dengan erat, ia mengusap lembut punggung Aeni.
"Sabar ya, Nak. Kami juga sangat merindukan dia, semoga saja Abang mu bisa menemukan Zahra" ucap Bapak dengan lembut.
Aeni mengangguk pelan, ia menangis terisak di pelukan sang Bapak.
Tidak hanya rindu pada Zahra, ia juga bersyukur karena keluarga Zahra sangat baik padanya yang notabene nya bukan siapa-siapa mereka.
"Pak, Bu, terimakasih untuk semua nya" ucap Aeni dengan tulus.
"Kamu sudah Ibu anggap Putri bungsu kami, jadi kami sangat menyayangi mu sama seperti Abang dan Kakak mu" balas Ibu tersenyum lembut.
"Semoga kalian sehat dan bahagia selalu" ucap Aeni dengan tersenyum haru.
"Kita sama-sama berdoa semoga Zahra cepat kembali" timpal Bapak dengan yakin.
"Amin" balas Ibu dan Aeni.
Lalu mereka berpelukan dengan haru, pemandangan itu tak lepas dari para anak buah Ray.
Mereka juga ikut terharu akan keluarga itu.
"*Kalian akan segera bertemu dengan Nona Zahra" batin salah satu dari mereka.
"Pantesan keluarga Langit dan Tuan muda sangat tergila-gila pada Nona Zahra, ternyata orangtua nya juga sangat lembut dan ramah" batinnya kembali dengan bersyukur*.
.
.
ini perkataan atau sekedar kalimat cerita
pasti yg mandul itu Wendy scra pamannya kn GK BS punya ank dengan Tante mila