Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ada apa dengan Bu Raminah
Percakapan Bagas dan Dewi masih berlanjut malam itu.
"Mas Bagas...halooooo kamu masih di sana?" tanya Dewi dari seberang telepon.
"Ah..i..iya, masih kok hehe maaf sedikit melamun" jawab Bagas sembari mengusap tengkuknya karena gugup.
"Heeemmm, lagi ngelamunin apa sih, sampai enggak jawab pertanyaanku" goda Dewi.
"Ah itu hehe maaf, sebenarnya waktu itu aku sedang terburu-buru, perusahaan keluarga sedang ada masalah, dan aku harus segera menyelesaikannya, mengenai aku bisa ada di sini karena anak cabang di sini juga sedang bermasalah sehingga aku sendiri yang harus turun tangan, beginilah hidupku kesana kemari ngurusi perusahaan sampai pusing sendiri kepalaku hehe" jelas Bagas pada Dewi.
"Hahahaha...mas Bagas ini lucu sekali, setidaknya mas Bagas lebih beruntung tahu enggak, aku aja di kampung harus jadi kuli panggul di pasar buat nyambung hidup, lha ini mas Bagas yang punya perusahaan banyak duit masih bisa ngeluh, bagaimana dengan nasib kami yang rakyat kecil bahkan buat makan saja susah, apa harus menangis kejer dalam menghadapi kenyataan hidup" ucap Dewi membandingkan kehidupan dia yang di desa dengan kehidupan mewah Bagas.
"Hahaha...kamu bisa aja, memangnya kami yang pengusaha enggak punya keluhan, kita itu sama-sama manusia, sama-sama punya hati punya rasa,mengurus perusahaan memang berurusan dengan banyak uang tapi kalau kita tak pandai mengelolanya juga uang itu akan habis, kami para pengusaha mengandalkan kerja pikiran sedang kalian mengandalkan tenaga tubuh, kalau di fikir semua sama beratnya cuma beda versinya" jelas Bagas berpendapat.
"Iya juga sih mas, enggak ada kesuksesan tanpa usaha yang maksimal, jadi mas Bagas juga enggak bahagia meski sudah banyak uang?" tanya Dewi penasaran.
"Kebahagiaan enggak bisa di ukur dengan uang, kalau standar kebahagiaan adalah uang berarti kalau uangnya habis kebahagiaan itu akan hilang dong" jawab Bagas dengan tegas.
"Ya...mas Bagas benar, meski enggak berlimpah harta dulu hidupku juga enggak sedih-sedih amat kok, aku bahagia hidup bersama mertuaku, hanya saja kebahagiaan itu hancur karena penghianatan yang Suamiku lakukan" ucap Dewi sembari menghela nafas.
"So benarkan, tolak ukur bahagia bukan dengan uang" ucap Bagas pada Dewi.
"Hu um...Jadi minder aku ternyata mas Bagas adalah seorang pengusaha sukses, apa aku layak berteman dengan orang yang terhormat seperti mas Bagas ini" ucap Dewi yang minder sendiri.
"Jangan seperti itu kesannya aku ini manusia yang kejam saja deh" protes Bagas.
"Dih siapa yang bilang, kan aku cuma ngerasa enggak sebanding sama sekali dengan kamu mas, aku ini ibarat kata adalah remahan rempeyek" ucap Dewi.
"Tapi gurih rasanya" sahut Bagas.
"Hahahaha....bisa aja mas Bagas ini" ucap Dewi yang tak lagi minder, ternyata Bagas tak membedakan status sosial mereka.
"Ya sudah, sudah malam selamat beristirahat, jangan lupa kalau sudah senggang traktir aku makan!" ucap Bagas yang hendak mengakhiri teleponnya.
"Oke, selamat malam, mas Bagas juga cepat istirahat dan jaga kesehatan" balas Dewi sebelum sambungan terputus.
"Astagah ya Tuhan, kenapa aku merasa nyaman dan senang ngobrol dengan mas bagas ini, sama mas Abi saja aku tak pernah ngobrol sepanjang dan seasik ini padahal dia suamiku, apakah memang karena mas Abi sudah enggal cinta sama aku sehingga hubungan kami juga tak bisa sedekat ini" gumam Dewi lirih, kemudian Dewi pun tak mau ambil pusing dia langsung tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Kita berpindah ke tempat lain, hari telah berlalu, malam pun berganti pagi, Bu Raminah tiba-tiba saja merasakan tubuhnya lemas pusing dan menggigil kedinginan.
"uhuk...uhuk...aduh, kenapa ini, kenapa tubuhku rasanya kaku dingin, kepalaku juga pusing sekali, Dewi....Wi...!" panggil Bu Raminah tanpa sadar.
Bruuukkkkkk!!!
Bu Raminah ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian Bu Kokom datang membawakan sarapan pagi buat Bu Raminah.
"Bu Raminah....Buuuuu!, astagah...Ya Tuhan Bu Raminah kamu kenapa ini bu!" teriak Bu Kokom dengan cemas langsung mendekat ke tubuh Bu Raminah yang tergeletak di lantai, setelah di periksa dan di rasa masih ada nafasnya Bu Kokom langsung berlari keluar dan mencari bala bantuan.
"Tolong....tolong ada yang pingsan!!!" teriak Bu Kokon di jalan depan rumah Bu Raminah.
"Ada apa bu Kokom, siapa yang pingsan?" tanya warga yang tak sengaja lewat.
"Cepat-cepat Bu Raminah pingsan!" jawab Bu Kokom.
"Aku cari bantuan dulu kalau gitu, Bu Kokom lihat Bu Raminah dulu!" pinta orang itu pada Bu Kokom.
Bu Kokom pun langsung kembali masuk ke dalam rumah, tak berapa lama kemudian datang beberapa warga dan juga mobil desa ke rumah Bu Raminah, para Warga segera menggotong tubuh Bu Raminah dan menaikkannya ke mobil, setelah itu mereka membawanya ke rumah sakit.
"Aduh kasihan ya Bu Raminah, setelah Dewi ke kalimantan dia jadi sering sakit-sakitan dan tak terurus, gara-gara anaknya yang enggak tau diri itu sekarang ibunya yang harus menganggung akibatnya, andai saja Abi tak berhianat mungkin Bu Raminah masih hidup bahagia bersama Dewi" ucap Warga yang emosi.
"Ah sudahlah enggak usah ikut campur urusan keluarga mereka, kita doakan saja semoga Bu Raminah baik-baik saja!" sahut warga yang lainnya, kemudian mereka pun membubarkan diri.
Tak berapa lama kemudian Mobil pun sampai di rumah sakit, Bu Raminah segera di turunkan di depan UGD, team dokter segera menanganinya.
Bu Kokom dan beberapa warga yang mengantar pun menunggu di depan dengan harap-harap cemas.
"Bu Kokom, kabari Abi maupun Dewi, kasih tahu kalau ibunya masuk rumah sakit!" pinta tetangga lain yang ikut mengantar Bu Raminah.
"Oh iya, sebentar aku hubungi mereka dulu, semoga saja di angkat!" jawab Bu Kokom yang sudah gemetar ketakutan sedari tadi, Bu Kokom takut dan cemas dengan keadaan Bu Raminah, mau bagaimana pun Bu Kokom lah yang paling dekat dan paling sering bertemu Bu Raminah karena mereka tetangga dekat.
Bu Kokom segera menelepon Abi dengan Hp nya. Sambungan pun terhubung namun tak kunjung di angkat oleh Abi, Bu Kokom sudah mengulangi beberapa kali namun tak kunjung di angkat.
"Haiyah Abi ini gimana sih, kenapa enggak di angkat!" keluh Bu Kokom kesal.
"Coba telepon Dewi Bu, barang kali Abi sibuk" ucap tetangga Bu Kokom yang ikut di rumah sakit.
"Ah iya, biar ku telepon Dewi saja kalau gitu" ucap Bu Kokom yang kemudian segera mencari kontak Dewi di Hp nya, kemudian Bu Kokom pun segera menghubungi Dewi.
Tak berapa lama sambungan pun terhubung dan Dewi pun segera mengangkat telepon dari bu Kokom tersebut.
"Halo Bu Kokom!" sapa Dewi dari seberang telepon.
"Halo Dewi...Ibu kamu masuk rumah sakit!" ucap Bu Kokom pada Dewi.
"Apaaaaaa, Bu Kokom ibu kenapa, apa yang terjadi?!" Dewi sudah cemas mendengar ucapan Bu Kokom.
"Wi, kamu yang sabar ya, Bu Raminah tadi pingsan dan sekarang masih di tangani dokter di rumah sakit, aku tak bisa menghubungi Abi!" jawab Bu Kokom pada Dewi, Dewi pun luruh ke lantai, badannya lemas tubuhnya gemetar, Dewi merasa ada yang tidak beres dalam hatinya.
"Buuuuuuuuu!"
cinta boleh wi gobloogg jangan