Update Minggu dan Rabu
Karya ini adalah misi kepenulisan dari NOVELTOON yang di adaptasi komik dengan Judul serupa, "Menantu Laki-Laki Pertama."
Qinli adalah seorang pemuda yang menikah dengan salah satu putri keluarga berada. Ia menjadi menantu tunawicara di keluarga Chu. Sayangnya selama menjadi tunawicara ia tidak bekerja dan hanya mengandalkan nafkah dari istrinya Chu Qingyin.
Sampai ahirnya karena usaha yang sangat keras selama sepuluh tahun, ia berhasil menyempurnakan ilmu tenaga dalamnya.
Mulai sejak itu ia memulai kehidupan yang baru! Mengobati penyakit aneh, dan menguji barang berharga.
Meskipun banyak wanita cantik, tetapi hanya istrinyalah yang selalu menempati urutan pertama dihati Qinli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26
...⚜⚜⚜...
...Villa Qinli...
Hari itu kebetulan, adik Qinyin alias Chu Zitan datang berkunjung ke villa milik Qinli.
"Kak, apa benar villa besar ini dibeli oleh Qinli?"
"Ini sangat mewah, rumah orang kaya generasi kedua di kelasku juga tidak sebagus ini."
Tak berapa lama kemudian Qinli datang dan menuangkan air putih untuk Qingyin dan Chu Zitan. Kebetulan saat itu mereka sedang membicarakannya. Karena tak suka mendengar adiknya memanggil Qinli dengan tidak sopan, Qingyin memukul kepala Zitan sambil menegurnya.
"Kenapa kau tidak sopan memanggil namanya, panggil kakak ipar!" ucap Qingyin sedikit marah.
"Iya kakak ipar," seru Zitan sambil memegangi kepalanya yang benjol akibat ulah tangan cantik kakaknya.
"Baru kali ini mendengarmu memanggil-ku kakak ipar. Aku merasa senang," batin Qinli dengan terharu.
Sedangkan Chu Zitan sangat interest dengan semua kemewahan yang tersaji di villa itu. Bahkan ia tak berhenti berbicara.
"Di sini seperti kehidupan orang kaya," ucap Zitan sambil melihat ke sekeliling ruangan.
"Kakak ipar, darimana kau bisa menghasilkan begitu banyak uang, tidak mungkin kau mengorbankan harga dirimu untuk ditukarkan, kan!"
"Aku punya pekerjaan yang halal, jadi jangan salah paham."
Jengah akan ucapan adik iparnya, Qinli mencoba bertanya kenapa dia datang ke villanya.
"Kau belum mengatakan kenapa hari ini kau kesini?" tanya Qinli.
"Oh, aku hampir lupa jika kau tidak mengingatkanku."
Zitan pun bersikap manis kali ini.
"Kampusku akan mengadakan perkumpulan keluarga dalam dua hari ini, bukankah kau sudah berjanji sebelumnya untuk menemaniku pergi menghadiri acaranya?"
"Beberapa hari ini aku tidak bertemu denganmu, kakak selalu bilang kau sibuk, jadi aku hanya bisa datang ke sini untuk mencarimu."
"Oh, masalah ini ya?"
"Aku kira anak ini tidak sungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya," batin Qinli.
"Kalau kau tidak pergi, dan kebetulan ada yang menindasku bagaimana?" tanya Zitan khawatir.
"Kalau kau benar-benar takut mereka akan balas dendam, maka kau tidak perlu pergi," jawab Qinli dengan enteng.
"Tidak bisa, kalau aku menjadi pengecut kedepannya, mukaku mau aku taruh dimana?"
Zitan benar-benar ketakutan kalau Qinli tidak mau menemaninya datang. Beruntung Qingyin mengijinkan Qinli ikut bersama adiknya, bahkan ia pun membujuk Qinli secara langsung.
"Karena kau telah menyetujui Zitan, pergilah dan temani dia."
"Baiklah," ucap Qinli tidak enak hati.
Qingyin melirik adiknya, "Hm, begini lebih baik."
Sedangkan yang dilirik sudah membuang muka.
"Itu ... masalah dulu. Kau tidak memperhitungkan-nya 'kan?" ucap Zitan kemudian.
Padahal di dalam hatinya Zitan berkata, "Apa yang sudah aku katakan."
Qinli yang mendengar adik iparnya bergumam segera menoleh ke arahnya.
"Kau bergumam apa, cepat bantu aku. Hari ini aku akan memasak untuk kalian."
Zitan bersorak kegirangan, "Oh, aku ingin makan iga manis."
Sedangkan Qingyin tersenyum melihat keakraban Qinli dan adiknya.
"Suamiku, sini aku bantu."
🍃🍃🍃
Sebulan kemudian.
Klinik pengobatan Qian Kun Tang.
Dari hari ke hari semakin banyak orang yang berobat ke sana. Bahkan Lian Qing semakin rajin bekerja.
"Lian Qing semakin lama sudah semakin terampil, dan untuk saat ini, belum ada kabar mengenai teman seperjuangannya. Apa aku terlalu kejam kalau aku memberitahunya sekarang?" gumam Qinli sambil mengamatinya.
"Bos, kalau kau pergi, bagaimana dengan toko obat China ini?"
"Ehem, itu ...."
"Kau tidak perlu khawatir, dalam beberapa hari, akan ada shinse terkenal lainnya yang akan bekerja di sini untuk memeriksa pasien."
Lian Qing terdiam. Wajahnya begitu sendu kali ini. Qinli pun mencoba menghiburnya.
"Oh, ya, aku sudah meminta orang untuk mencari keberadaan teman seperjuanganmu, seharusnya akan menemukan mereka cepat. Kalau sudah ada kabar, aku akan memberitahumu."
"Baik, terima kasih, Bos."
Tiba-tiba Qinli menyerahkan kunci villa miliknya pada Lian Qing.
"Ini kunciku, kau boleh tinggal setelah aku pergi."
"Tunggu sampai aku benar-benar menetap di sana, aku akan membawamu ke Jiangcheng."
Lian Qing menoleh ke arah Qinli.
"Bos, kau tidak perlu seperti ini. Aku sudah banyak berhutang budi padamu, jika kau menyuruhku untuk tinggal di sini, aku akan mengurusnya dengan baik," ucap Lian Qing yang sudah tidak enak hati pada Qinli.
"Aku menganggapmu sebagai teman, tidak ada yang namanya hutang budi ini dan itu."
Tiba-tiba Qingyin muncul dari belakang.
"Suamiku, sudah saatnya kita pergi. Kalau tidak, kita akan ketinggalan pesawat!"
"Sudah saatnya pergi, kalau ada masalah jangan lupa hubungi aku."
Qinli pun berpamitan sambil melambaikan tangannya ke arah Lian Qing sambil tersenyum, sayangnya Lian Qing menatap sendu kepergian bosnya itu.
Beberapa saat kemudian.
Sepasang suami istri itu telah sampai di Jiangcheng. Kini mereka mengunjungi teman sekaligus sahahat Qinli yaitu Tuan Muda Jiang.
...⚜⚜⚜...
...Villa Limin_ Jiangcheng...
Terlihat beberapa orang sedang membawa barang-barang masuk ke dalam villa itu.
"Hati-hati jangan sampai pecah!" instruksi dari salah seorang pemimpin disana.
Sementara itu, Tuan Muda Jiang sedang menjamu kedatangan Qinli dan Qingyin di dalam villa tersebut.
"Tuan Muda Jiang, lama tidak berjumpa."
"Qin, aku sudah lama menantikan kedatanganmu."
Mereka pun saling bersalaman. Sedangkan Qingyin berbasa-basi dengan mengucapkan terima kasih untuk kerja sama yang telah mereka lakukan selama ini. Tak lupa ia juga berterima kasih katena Tuan Muda Jiang juga sudah membantu mempersiapkan tempat tinggal untuk mereka selama di Jiangcheng.
"Terima kasih Direktur Jiang, telah membantu kami mempersiapkan semua ini dan mencarikan tempat tinggal untuk kami."
"Tidak perlu sungkan, Qinli adalah saudaraku, sudah seharusnya aku membantunya!"
"Lagipula kalian adalah partner Grup Jiang, masalah kecil seperti ini tidak perlu diingat."
"Kalau begitu, ke depannya aku akan merepotkanmu."
"Hahaha, kau tidak perlu berbicara sungkan padaku, sudah kubilang kita adalah saudara."
Ucapan Qinli barusan membuat ketiga orang iru tertawa. Bahkan sampai membuat Tuan Muda Jiang merangkul Qinli.
"Oh ya, Qin, aku hari ini ada janji dengan seseorang yang punya pekerjaan yang sama denganmu, aku ingin memperkenalkannya padamu."
Qinli yang tidak enak karena harus meninggalkan istrinya sendirian di villa, segera meminta pendapat Qingyin.
"Istriku, kau ...."
"Aku harus membereskan barang, pergilah kalau kalian ada urusan."
Ternyata Tuan Muda Jiang mengajak Qinli untuk menemui seseorang di Istana Kerajaan Ming.
"Orang ini bukan hanya seorang doktor kedokteran dengan gelar tinggi, dia juga dokter hebat terkenal yang ada di Kota Jiangcheng, setelah dia pulang dari luar negeri, dia membuka toko besar obat China, Ching-Feng-Tang!" ucap Tuan Muda Jiang di sepanjang jalan.
Selama Jiangjun berbicara Qinli hanya berusaha mendengarkannya baik-baik.
"Karena kau ke Kota Jiang untuk membuka toko obat China, kau pasti sangat tertarik dengan pengobatan China, jadi aku ingin memperkenalkan kalian satu sama lain."
"Tapi ...."
"Tapi apa?" tanya Qinli penasaran.
"Orang ini mengejar adikku, tapi ditolak olehnya, alasannya karena kau."
Tuan Muda Jiang sampai sungkan mengatakan hal ini, terlebih Qinli sudah memiliki istri yang cantik.
"Karena aku?" ucap Qinli heran.
Tuan Muda Jiang menoleh ke arah Qinli dan menjelaskan alasan dibalik penolakan Jiangran.
"Benar, gadis itu bilang, kau adalah idolanya, jika ingin mendapatkan hatinya, dia harus mencapai levelmu dulu."
Muka Qinli pun berubah pias. Qinli tak menyangka Jiangran sampai meng-idolakan dirinya. Bahkan sampai menolak seseorang yang ingin mendekatinya.
Akhirnya mereka sampai di dalam ruangan yang sudah ada Jiangran dan lelaki itu. Ternyata mereka sudah menunggu lama di sana. Tuan Mida Jiang yang baru saja datang membuka pintu itu dengan lebar.
"Kita sudah sampai."
Jiangran yang melihat kedatangan Qinli langsung menyapanya. Tetapi tidak dengan lelaki di sebelahnya yang memandang masam Qinli dari kejauhan.
"Hai, lama tidak jumpa," sapa Jiangran dengan ramah.
"Nona Jiangran, lama tidak jumpa," balas Qinli ramah.
"Apa kau Qinli, dokter terfavorit Nona Jiangran?" ucapnya dengan nada ketus.
"Hallo, aku Qinli," ucap Qinli sambil mengulurkan tangan padanya.
Tetapi respon lelaki itu malah ketus terhadapnya. Bahkan uluran tangannya tidak ia balas. Lelaki itu bersedekap dada dan malah meragukan kemampuan Qinli hanya karena penampilan Qinli yang sangat biasa.
"Aku kira orang hebat seperti apa, ternyata hanyalah orang desa," ucapnya sombong.
Lalu, lelaki itu malah menggertak Jiangran di depan Qinli dan kakaknya.
"Ran, orang ini tidak pantas menjadi sainganku!"
"Apa yang sebenarnya Jiangran katakan padanya, kenapa dia terlihat sangat membenciku," gumam Qinli.
.
.
...🌹Bersambung🌹...