NovelToon NovelToon
Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda

Status: tamat
Genre:Fantasi / Pendekar / Perubahan Hidup / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sigi Tyo

Seorang Dewa Perang yang terbuang dari Alam Dewa karena ulah nya yang dianggap "nakal", hingga membuat kaisar Dewa memohon kepada sang pencipta untuk membuang nya ke alam manusia.

Jalan takdir yang membawa nya ke alam yang baru dengan ingatan yang hilang dan kekuatan yang tersegel.

Mampukah Sang Dewa Perang menemukan jati dirinya..? ikuti kisah ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sigi Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat dari Maut

Dua hantaman pukulan dari dua tokoh kelompok Pengguna element Api dan Es itu berbenturan dengan hantaman pukulan Gelombang Badai Matahari milik Jaya Sanjaya, membuat terjadinya ledakan cukup kuat.

Bahkan akibat Ledakan dan pecahnya gelombang kekuatan itu membuat semua orang terpental, termasuk Prabu Danar Kencono, Permaisuri serta Pelangi juga Jayeng Rono.

Jaya Sanjaya terpental beberapa langkah ke belakang karena menghadapi dua pukulan tokoh sakti, sementara dua tokoh itu terpental bergulingan.

"Edaan...kekuatan anak semuda ini begitu dahsyat, bahkan menghadapi dua pukulan kami masih mampu bertahan."

Sementara itu Kidang Semeleh dan Guru Benowo masih menghadang laju ratusan orang yang makin merangsek masuk hunian yang telah jebol dindingnya.

"Tangkap perempuan itu..!!," sebuah teriakan komando entah dari kelompok apa, membuat ratusan orang itu merangsek ke arah Pelangi.

Jaya Sanjaya yang kembali bertarung menghadapi keroyokan bukan hanya tokoh sakti partai Es Abadi, Api suci tapi juga dari tokoh tokoh sakti lainnya, menjadi sedikit kewalahan karena pikirannya terpecah memikirkan Pelangi yang hanya tinggal di lindungi oleh kakek Jayeng Rono.

Kidang Semeleh dan Benowo juga masih di sibukkan oleh ratusan orang perusuh tersebut.

"Keparaat...!!, tak akan ku maafkan kalian jika sampai terjadi sesuatu dengan gadis itu...!!," teriak Jaya Sanjaya mulai murka dengan empat orang yang mengeroyoknya, mereka dari partai Es Abadi, Api suci juga pendekar sakti dari dua kerajaan Agung Jongka Lengkong dan Wukir Asri.

Keempat orang tersebut seakan memang bertugas menghadang Jaya Sanjaya.

Dengan kekuatan Jaya Sanjaya yang sekarang, memang butuh waktu beberapa saat untuk menghadapi para tokoh sakti tersebut.

"Cuiih...!!, mau mati kami cincang saja, masih belagu..!!," teriak pendekar sakti dari Jongka Lengkong yang bergelar Rubah Emas, karena kehebatan nya di wilayah kerajaan Agung tersebut.

Rubah Emas lalu meloncat dan mengayunkan pedang senjata nya.

Wuuusss...!!

Sambaran pedang dari Rubah Emas, di iringi serangan tusukan tombak dari tokoh sakti kerajaan Agung Wukir Asri yang bergelar Raja Tombak.

Ssrrriiing....!!

Namun bukan hanya dua serangan dua pendekar tersebut saja yang menyerang Jaya, dua tokoh dari Partai Es Abadi dan Kelompok Api Suci yang juga sudah bangkit mulai menebaskan masing masing pedangnya dengan melambari hawa panas dan dingin.

Traaang.....! traang....!!

Jaya Sanjaya langsung mengeluarkan dua senjata tombak Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo, dan langsung menangkis-kan senjatanya tersebut kearah hujaman senjata senjata lawan.

Bagai burung mendapatkan sayapnya kini level bertarung Jaya meningkat drastis, setelah memegang senjatanya dari pada tadi.

Dengan senjata Illahi tersebut, Jaya meladeni gempuran empat orang tokoh sakti itu, yang kian mengganas serangan nya.

Pelangi juga sudah bertarung bersama Jayeng Rono melawan orang orang yang akan menculiknya.

Ratusan orang yang datang tersebut, bukanlah lawan yang mudah bagi kelima orang itu.

Kelima orang dan ditambah dengan sang Prabu serta permaisuri kini sudah terkepung dari berbagai sisi.

Jaya sudah berhasil memukul mundur keempat lawannya, namun banyaknya orang yang merangsek ke wilayah tersebut tetap menyulitkan semua nya.

Rubah Emas, Raja Tombak serta Langgeng Darmo dari partai Es Abadi dan Topo Rubedo dari Api Suci masih duduk memulihkan diri setelah bertarung tadi dengan Jaya Sanjaya.

Jaya Sanjaya belum sempat memusnahkan lawannya, karena keburu melesat menolong Pelangi yang sudah makin di kerubuti para perusuh.

Keadaan makin genting, meskipun empat tokoh yang melawan Jaya Sanjaya sudah tak ikut bertarung, namun masih ada ratusan orang yang juga tak bisa di sepelekan.

"Serbuuuu....!!." teriak orang orang tersebut makin merangsek.

BLEGAAAART...!!

Jaya Sanjaya menghantamkan pukulannya, sebagian orang orang tersebut terlempar berhamburan, namun gelombang orang orang yang bagai kesetanan itu datang lagi merangsek ke arah mereka.

"Keparat..!!, orang orang tak punya otak..!!," teriak Jaya Sanjaya mulai frustasi dengan banyaknya orang yang terus berdatangan, bahkan nampaknya orang orang baru juga makin berdatangan.

Semakin lama orang orang yang berdatangan semakin banyak, meskipun korban yang berhasil di hantam juga sudah banyak yang terkapar, namun orang orang baru makin merangsek.

Kidang Semeleh, Benowo atau Bekel Soponyono, Jayeng Rono serta Pelangi sudah makin gelisah, dengan banyaknya orang yang merangsek.

Raja dan ratu yang di lindungi oleh mereka selain Pelangi, juga hanya bisa merunduk penuh ketakutan.

Jaya Sanjaya sudah mengamuk sebagai penghadang serangan di lapisan terdepan melindungi semuanya, mengayunkan tombaknya memutar melindungi semuanya dari terjangan serangan lawan.

Disaat semua makin kritis...tiba tiba.

CLAAAAPP...!!

Sebuah gelombang transparan dengan wujut bulatan nampak melingkupi semuanya, lalu semua gerakan orang orang nampak melambat dalam pandangan Jaya Sanjaya, meski demikian Jaya Sanjaya hanya sedikit saja terpengaruh menjadi sedikit melambat oleh gelombang tersebut.

Lalu sepasang kakek nenek menarik orang orang yang terkepung tersebut, membawa kabur menghindar.

"Jangan hanya menonton anak muda..!!," teriak sang Kakek yang melihat Jaya sedikit kaget, karena tak terlalu terpengaruh oleh Jurus Mata Dewa nya.

Jaya Sanjaya tergagap mendengar teriakan itu, lalu menyambar badan Pelangi dan Jayeng Rono menggendongnya, melesat mengikuti langkah dua kakek dan nenek tersebut yang masing masing memanggul dua orang.

Nyai Nilam Sari menggendong Raja dan Ratu, sedangkan Kakek Randu Sembrani menggendong Kidang Semeleh dan Benowo.

Ketiganya melesat cepat, meninggalkan tempat tersebut sebelum efek dari Mata Dewa yang memperlambat gerakan, menghilang dari orang orang tersebut.

**

Kumala meringis kesakitan, badannya terasa remuk redam.

"Aauuwww..."

Samar samar terdengar air gemericik memecah kesunyian.

Suasana ruangan yang nampak gelap membuat Kumala tak bisa jelas melihat, kini berada dimana.

"Apakah saat ini aku sudah mati dan di kuburkan....?."

"Kenapa gelap sekali di dalam kubur..?."

"Tapi kalau sudah mati, kok aku masih bisa bergerak meskipun hanya sedikit karena semua terasa sangat sakit."

Suara air gemericik masih terdengar di telinga Kumala, hingga entah berapa lama sampai dia tertidur lagi.

Tak berapa lama Kumala tertidur, nampak sebuah obor memasuki ruangan yang ternyata sebuah gua.

Sesosok laki laki dengan pakaian serba hitam nampak mendekati Kumala.

Memasang sebuah obor disana Hinga ruangan gua tersebut nampak terang.

Pria tua itu lalu membuat api di depan mulut gua, mulai membakar sesuatu, nampaknya daging buruan.

Bau harum dari bakaran daging tersebut tercium menusuk hidung siapa pun yang menghirup nya.

Kumala yang tertidur hingga terjaga.

Kruyuuk....kruyyyuuk...

Perut Kumala terdengar berbunyi, nampaknya cacing cacing sudah minta di beri asupan makanan.

"Aaaarh.." suara pelan rintihan dari Kumala terdengar memilukan, membuat pria tua tersebut menoleh dan mendekati nya.

"Hmm...rupanya kau sudah bangun.."

"Jangan banyak gerak, tubuhmu hancur akibat jatuh ke jurang hutan larangan ini."

Kumala masih terdiam hanya matanya yang mampu membuka dengan sedikit sayu karena masih sangat lemah dan sakit seluruh badannya.

"Kamu mau makan..?."

Kumala mengangguk sedikit pelan, Karena memang nyatanya dia sudah sangat kelaparan.

Kakek itu lalu dengan telaten menyuapi Kumala yang masih lemah tersebut.

"Aku menemukanmu di jurang hutan larangan ini."

"Semula aku ingin membunuhmu dan meninggalkan mayat mu di sana agar di makan binatang buas."

"Tapi aku melihat auramu berbeda dengan orang orang yang memasuki hutan ini, dan aku melihat matamu sangat cocok untuk mempelajari jurus yang kumiliki."

"Makanya aku menolong mu..."

Sambil menyuapi Kumala, kakek tersebut berbicara yang membuat Kumala terjengit kaget.

"Setelah kau pulih, aku ingin mendengar siapa dirimu sebenarnya dan mengapa bisa terjatuh di jurang Karangan..?."

"Apakah kau juga salah satu orang yang ingin mencari harta pusaka di hutan Larangan ini..?."

Kumala hanya menggeleng mendengar omongan kakek tersebut.

Kakek tersebut mengangguk sedikit tersenyum dan kembali menyuapi Kumala hingga Kumala menggeleng tanda sudah kenyang.

"Minumlah pil ini, agar tubuhmu segera pulih Kembali."

Kumala menurut apa yang kakek itu perintah kan.

**

Randu Sembrani beserta rombongan nya sudah berada di sebuah tempat yang rahasia.

Setelah meletakkan Kidang Semeleh dan Benowo yang terlihat lemah, Randu Sembrani duduk di kursi dengan nafas sedikit tersengal.

Begitu juga dengan Nyai Nilam Sari yang membawa Raja dan Ratu, nafasnya juga tersengal.

Sebenarnya jika bukan karena ingin menghilangkan jejak dengan berlari sekuat tenaga mereka tak akan kehabisan tenaga seperti ini.

Mereka sengaja melakukan lari sprint dengan memanggul dua orang di pundaknya, tentu saja hal itu cukup menguras tenaga.

Jaya yang memanggul kakek Jayeng Rono dan Pelangi juga sudah menaruh kedua nya yang masih lemah terkena imbas jurus Mata Dewa.

Jaya kini telentang di lantai yang ada di pendopo bangunan itu, beristirahat menunggui Pelangi dan Jayeng Rono yang masih lemah.

"Semua gara gara para perusuh itu..!," gumam Jaya Sanjaya merutuki orang orang yang mencoba menculik Pelangi, membuat sepasang suami istri itu menoleh ke arahnya.

Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari jadi teringat dengan pemuda yang tak terpengaruh jurus nya tersebut.

"Kau berhutang untuk memberikan jawaban, tentang siapa dirimu anak muda.." kata Randu Sembrani memecah keheningan di sana.

____________

Jangan lupa tinggalkan jejak nya....

1
Raysonic Lans™
duh duh
Reza bima
iya,musuhnya lari ga dibunuh, terus bikin perguruan lagi bikin ulah lagi.. begitu seterusnya...ya orangnya itu2 saja
Reza bima
berhenti,tunjukkan surat2nya.. dewa kok begini
Markinyo
rasa kemanusiaan apa? gimana dengan korban yg di bantai oleh perusuh itu?

jgn naif dunk thor..
Markinyo
kelamaan, knp tdk langsung d ikuti ke markas penjahat, langsung d tumpas sekalian..?
Reza bima: bertele-tele..ceritanya
total 1 replies
Markinyo
katanya pembela kebenaran? kelompok pemeras di biarkan..
Markinyo
katanya kl ketemu zirah sayapnya, akan kembali ke Jaya, krn ada roh di zirahnya..
lha ini ktmu kok g kembali ke Jaya thor..

yg bnr mn thor?
Bagian Pendaftaran Cristal Biru Meuligo
Luar biasa
Iskandar Yunaeni
Sepertinya mau jadi kuat nih
Iskandar Yunaeni
Baru mulai
Iskandar Yunaeni
WAH RAME NIH
muh syahlan
mantap.............,/Good//Good//Good//Good/
teguh andriyanto
Luar biasa
Irfan tejo laksono
top
Agus Susanto
Lumayan
left
Luar biasa
left
Lumayan
Dewi Yani
mcnya gila jalan makan istrahat....jalan makan istrahat....lha pusaka udah diambil semua orang...
Zacky yulianto
Luar biasa
Zacky yulianto
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!