NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA DI BALIK AWAN KAMPUNG

Jauh-jauh hari, sebelum bayangan musim hujan mulai menggendangi langit kota, sebelum debu besi dan baja mulai terasa seperti rantai di lehernya, Khem sudah menanam benih keputusan dalam lubuk hati yang paling dalam. Seperti biji yang tersembunyi di bawah tanah kering, ia tumbuh perlahan, tanpa suara, tanpa menyentuh siapa pun—hanya menyedot keheningan sebagai makanan hariannya.

Ia tidak pernah membuka bibir kepada atasannya, tidak pernah mengungkapkan bahwa setiap kilatan percikan las yang menyala di pabrik adalah seperti nyala lilin yang semakin menyusut, menghampiri ujungnya. Ia hanya datang dengan senyum yang dibuat-buat, dengan tangan yang masih kuat menggenggam formulir cuti, menyatakan hanya ingin istirahat selama seminggu saja. Atasan mengangguk dengan tatapan yang penuh keyakinan—seolah tahu bahwa anak muda ini hanya perlu kembali ke akar-akarnya untuk kembali dengan semangat baru.

Dan Khem pun pergi, membawa tas yang lebih berat dari biasanya, bukan karena barang bawaan yang banyak, melainkan karena beban rahasia yang tertanam erat di dalam dada. Di kost yang kini sepi tanpa keberadaannya, hanya bayangan bayangannya yang masih mengikuti jejak langkah Murni setiap pagi ketika perempuan itu pergi bekerja. Sedangkan di sisi lain, hanya Lilu yang tahu kebenaran yang tersembunyi di balik kata "cuti" itu.

Lilu, rekan kerja yang telah bersama Khem menghadapi panas tungku dan dinginnya malam kerja bertahun-tahun lamanya, ia yang melihat bagaimana mata Khem mulai hilang kilauannya setiap kali membicarakan masa depan di pabrik. Ketika Khem menggerakkan bibirnya dengan suara yang hampir tak terdengar, menyampaikan bahwa ia tidak akan pernah kembali lagi, bahwa pulang kampung kali ini adalah perpisahan yang tak dapat diubah—Lilu hanya bisa menatapnya dengan mata yang penuh pengertian, tanpa berkata apa-apa.

Hati Lilu terasa seperti batu yang terbenam di dasar sungai—berat dan dingin. Ia tidak tega untuk memberitahu siapapun, terutama Murni. Ia tahu betul bagaimana perempuan itu melihat Khem bukan hanya sebagai rekan kerja tapi sebagai kekasih dan pelita yang menerangi hari-hari yang penuh debu dan lelahnya. Murni selalu bercerita tentang rencana mereka bersama: bagaimana suatu hari nanti mereka akan memiliki warung kecil di pinggir jalan, dengan aroma kopi yang menggoda dan suara tawa yang tak pernah surut. Jika Murni tahu bahwa Khem telah pergi dengan membawa seluruh impian itu, seperti awan yang menghanyutkan hujan sebelum sempat jatuh—tentunya hatinya akan retak seperti kaca yang terkena batu.

Jadi Lilu memilih untuk menyimpan rahasia itu dalam kedalaman hati, seperti menyembunyikan bunga yang layu di balik lembaran daun hijau yang masih segar. Setiap kali Murni datang bertanya dengan wajah yang penuh harapan, "Kapan ya Khem balik dari kampungnya?" Lilu hanya bisa tersenyum dan menjawab dengan nada yang dibuat-buat riang, "Nanti saja, Murni. Dia pasti akan datang dengan oleh-oleh yang banyak lho."

Sementara itu, jauh di kampung halamannya, Khem berdiri di tepi sawah yang luas, di mana angin membawa aroma tanah lembap dan pepohonan kelapa yang bergoyang-goyang. Matahari mulai meremuk di ufuk barat, mengecat langit dengan warna jingga dan ungu yang memikat—seperti lukisan yang diciptakan untuk menyembunyikan kesedihan yang tersembunyi di baliknya. Ia melihat ke arah langit yang sama dengan yang dilihat Lilu dan Murni di kota, berharap bahwa angin bisa menyampaikan pesan yang tak pernah ia ucapkan: maaf atas segala yang harus ia tinggalkan, atas semua harapan yang harus ia biarkan terbawa angin.

Di dalam rumah tua yang sudah tua mengeluarkan aroma kayu dan kenangan, ibunya menghampirinya dengan mangkuk bubur jagung hangat. "Kamu sudah memutuskan, kan?" ujarnya dengan lembut, seolah telah membaca pikiran anaknya jauh sebelum ia berkata apa-apa. Khem mengangguk, air matanya yang telah menahan lama pun mulai mengalir, mencuci debu besi dan baja yang masih menempel di wajahnya. Ia tahu bahwa jalan yang ia pilih adalah jalan yang panjang dan penuh tantangan, jauh dari dunia besi yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun. Tetapi hati itu telah memilih, seperti aliran sungai yang tak pernah bisa berbalik arah setelah menemukan jalan menuju lautan.

Di kota, Murni terus menyapu lantai pabrik dengan hati-hati, kadang-kadang berhenti untuk melihat arah pintu masuk tempat Khem biasanya muncul setiap pagi. Ia menyimpan sepotong kue yang dibelinya kemarin, berharap bisa berbaginya dengan Khem ketika ia kembali. Lilu melihatnya dari kejauhan, dan hatinya semakin terasa berat. Ia bertanya pada diri sendiri, berapa lama lagi ia bisa menyembunyikan kebenaran ini? Apakah suatu hari nanti kebenaran itu akan muncul dengan sendirinya, seperti bunga yang tak bisa terus tersembunyi di balik tanah? Atau apakah ia harus tetap menyimpan rahasia itu sampai akhir, bahkan jika itu berarti melihat Murni terus menunggu untuk sesuatu yang tak akan pernah datang?

Malam datang perlahan ke kota , menutupi seluruh pabrik besi dan baja dengan kain gelap yang tebal. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, seperti mata yang sedang merenung. Di kamar kost yang sepi, Lilu duduk di tepi kasur, menatap foto kecil yang ada di mejanya—foto dirinya, Khem, dan Murni yang sedang tertawa bahagia saat makan siang di halaman pabrik. Ia menyimpan foto itu dengan hati-hati ke dalam laci mejanya, bersama dengan rahasia yang semakin terasa menyiksa hatinya. Semoga saja, pikirnya, semoga Murni bisa memaafkannya nanti ketika kebenaran itu akhirnya terungkap.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Di pabrik makanan ringan yang berasap aroma bawang goreng dan tepung terigu, Murni bekerja dengan tangan yang lincah dan wajah yang penuh senyum. Jari-jarinya yang terbiasa menangani bungkusan kemasan dengan kecepatan yang terlatih, seperti burung yang terbang dengan pola yang tak pernah salah arah. Setiap gerakannya mengalir seperti aliran sungai yang damai, tidak ada satu sedikit pun bekas kesedihan atau keraguan yang terlihat—karena dalam hati dia, harapan tentang Khem adalah seperti matahari yang selalu terbit setiap pagi, tak pernah gagal untuk menerangi hari-harinya.

Saat istirahat tiba, teman kerjanya, Tita, datang mendekatinya dengan mangkuk teh hangat di tangan. Rambutnya yang kusut akibat debu pabrik masih terikat rapi dengan jepit rambut plastik berwarna merah. "Eh Murni," ujarnya dengan nada yang penuh rasa ingin tahu, "baru-baru ini jarang banget liat kamu sama Khem ya. Hubungan kalian masih baik-baik saja kan?"

Murni menoleh, matanya langsung bersinar seperti bintang di malam yang cerah. Ia menepuk bahu Tita dengan lembut, suara suaranya penuh kehangatan seperti air hangat yang menghangatkan tubuh di pagi yang dingin. "Tentu saja baik dong, Tita! Kamu aja khawatir tidak jelas." Ia mengambil sendok makan kecil untuk mengambil sedikit kerupuk yang tersisa di bungkusan, lalu melanjutkan dengan wajah yang semakin berseri, "Khem kan pulang kampung sekarang, mengambil cuti satu minggu. Dia bilang nanti balik lagi kesini, pasti langsung menemui aku. Bahkan dia janjian lho, akan mengajak aku pulang kampung bareng nanti—supaya aku bisa kenalan sama orang tuanya!"

Kata-katanya keluar seperti musik yang merdu, setiap suku kata membawa beban harapan yang begitu besar. Tita hanya bisa tersenyum mendengarnya, meskipun hati dia sedikit terasa berat—ia memang tidak tahu rahasia yang disimpan Lilu, tapi ada sesuatu di dalam tatapan Murni yang membuatnya merasa bahwa harapan itu mungkin terlalu indah untuk menjadi kenyataan. "Semoga saja ya, Murni," ujar Tita perlahan, "Semoga apa yang dijanjikan Khem bisa terwujud."

Sementara itu, di pabrik besi dan baja yang hanya berjarak beberapa blok saja, Lilu sedang bersandar pada tiang besi yang dingin, menyaksikan percikan las yang menyala seperti bintang jatuh yang cepat padam. Suara mesin yang berdecak keras seperti guntur yang tak pernah berhenti, membungkus seluruh ruang kerja dengan kebisingan yang membuat telinga terasa berdenging. Tapi di dalam hati dia, suara cerita Murni tentang janji Khem itu terdengar lebih jelas dari semua kebisingan itu—seperti bisikan yang menusuk hati.

Rekan kerja Lilu, Jono, datang menghampirinya dengan botol air mineral di tangan. "Lilu, kamu udah denger belum? Murni dari pabrik makanan bilang Khem bakal bawa dia pulang kampung buat kenalan sama orang tuanya. Beneran gitu?"

Lilu merasa seperti ada batu besar yang tertanam di tenggorokannya. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk dengan wajah yang dibuat-buat tenang. "Ya mungkin aja, Jono. Khem kan orangnya baik, pasti akan memenuhi janjinya." Kata-katanya terdengar hampa seperti genangan air yang telah mengering, tapi Jono tidak menyadari hal itu—dia hanya mengangguk dan kembali ke pekerjaannya.

Setelah jam kerja berakhir, Lilu berjalan ke arah kost mereka dengan langkah yang lambat. Langit sudah mulai berubah warna menjadi ungu tua, seperti kain pemakaman yang menyelimuti kota. Di sepanjang jalan, ia melihat pedagang makanan yang mulai membuka gerainya, aroma sate dan bakso mengundang selera. Tapi perutnya terasa penuh dan mual—semua karena pikiran tentang Murni yang masih penuh keyakinan pada janji yang mungkin tak akan pernah terwujud.

Ketika sampai di depan kamar kost, ia melihat Murni sedang duduk di teras kecil, tangan memegang foto kecil yang berisi dirinya dan Khem saat pergi berlibur ke pantai beberapa bulan lalu. Rambut Murni yang biasanya rapi kini sedikit kusut, tapi wajahnya tetap terpancarkan keceriaan yang tulus. "Lilu!" panggilnya dengan senyum lebar, "Kamu tau nggak? Aku udah nyiapin baju baru lho buat waktu jalan-jalan bareng Khem nanti. Warna biru muda, kayak warna laut yang kita liat dulu di pantai!"

Lilu mendekatinya, ingin berkata sesuatu—ingin mengatakan bahwa mungkin ia harus bersiap menghadapi hal yang tak diinginkan. Tapi ketika melihat mata Murni yang bersinar seperti anak kecil yang sedang menunggu hari ulang tahunnya, kata-katanya macet di tenggorokannya. Ia hanya bisa tersenyum dan menjawab, "Cantik pasti deh, Murni. Khem pasti bakal kagum melihatmu."

Malam semakin larut, dan suara gemericik air hujan mulai terdengar di atap kost. Hujan turun perlahan, menyiram debu kota dan menyegarkan udara yang penuh dengan baunya pabrik. Murni masuk ke kamarnya dengan hati yang penuh harapan, menyimpan baju baru itu dengan hati-hati di dalam lemari. Sedangkan Lilu masih berdiri di teras, melihat hujan yang jatuh seperti air mata langit yang menangis atas sebuah rahasia yang harus tetap tersembunyi.

Di dalam hatinya, Lilu berdoa—berdoa agar hujan bisa membawa kebaikan bagi Murni, agar suatu hari nanti kebenaran yang menyakitkan itu bisa datang dengan lembut, tidak seperti badai yang menghancurkan segalanya. Ia juga berdoa untuk Khem, di kampung halamannya yang jauh, semoga dia menemukan jalan yang benar dan menemukan kebahagiaan yang dia cari. Karena pada akhirnya, semua orang hanya mencari tempat di mana hati mereka bisa merasa tenteram—bahkan jika untuk mencapainya, mereka harus meninggalkan orang-orang yang mereka cintai.

Hujan terus turun, membisukan kota dengan bisikan basahnya. Setiap tetesnya seolah menyimpan cerita sendiri—cerita tentang harapan, cerita tentang perpisahan, dan cerita tentang rahasia yang masih terus terpendam di dalam hati seorang perempuan yang hanya ingin melindungi teman baiknya dari rasa sakit.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Hari itu datang dengan matahari yang menyengat, seperti lidah api yang menjilat setiap sudut kota . Murni memutuskan untuk makan siang di restoran kecil yang terletak di tengah gang sempit, tempat aroma kari kambing dan nasi goreng menggoda dari jauh. Ia memilih meja di sudut yang sepi, mengharapkan bisa menikmati makanan sambil membayangkan bagaimana suasana kampung Khem yang akan dia kunjungi nanti—dengan hamparan sawah yang hijau menyebar dan suara ayam berkokok yang merdu di pagi hari.

Tak lama kemudian, pintu restoran terbuka dengan suara sedikit berisik, dan seorang pria dengan jas hitam yang rapi memasuki ruangan. Rambutnya yang sudah mulai beruban tertata rapi, wajahnya yang keras menyimpan bekas kesibukan yang tak terkira. Murni mengenalnya dengan segera—tak lain adalah Bapak Hilmawan, bos besar pabrik besi dan baja tempat Khem bekerja. Tanpa berpikir dua kali, ia berdiri dengan sopan dan menyapa dengan senyum yang hangat.

"Bapak Hilmawan, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu ya," ujar Murni dengan nada ramah, sambil mengucapkan salam hormat.

Bapak Hilmawan menoleh, matanya sedikit bingung sebelum akhirnya mengenali wajah muda itu. Ia mengangguk dengan senyum hangat, "Ah, kamu anak dari pabrik makanan ringan ya? Maaf ya, nama kamu sedikit terlupakan."

"Murni, Bapak. Saya adalah pacar Khem—anak buah Bapak yang bekerja di bagian las," jelas Murni dengan bangga, seperti seseorang yang dengan bangga memperkenalkan bagian terindah dari dirinya sendiri. Kata "pacar" itu keluar dari bibirnya dengan mudah, membawa rasa bahagia yang meluap-luap seperti air yang melampaui tepi ember.

Namun ekspresi Bapak Hilmawan berubah seketika. Alisnya yang tebal terkunci, mata nya menunjukkan rasa kebingungan yang dalam. "Pacar Khem?" tanyanya dengan nada yang pelan namun jelas, seperti ombak yang perlahan namun pasti menghantam dinding pantai. "Waktu cuti satu minggu yang dia minta sudah habis lebih dari dua minggu lalu. Kenapa dia belum masuk kerja juga ya? Padahal akhir-akhir ini pesanan barang masuk sangat banyak—kami benar-benar kewalahan tanpa keahlian dia di bagian tersebut." Ia menghela napas panjang, suara suaranya penuh kekhawatiran. "Saya bahkan sudah mencoba menghubunginya, tapi nomornya tidak bisa dihubungi. Apakah kamu tahu kabarnya, Murni?"

Kata-kata itu seperti kilat yang menyambar dari langit yang cerah, menusuk langsung ke dalam hati Murni. Dunia di sekelilingnya seolah tiba-tiba berhenti berputar—suara bicara di restoran, aroma makanan yang menggoda, bahkan panas matahari yang menyengat pun lenyap begitu saja. Ia hanya bisa berdiri diam, bibirnya menggigil namun tak bisa mengeluarkan satu kata pun. Lidahnya terasa kering seperti gurun, dan setiap detak jantungnya terdengar seperti guntur yang membanting langit.

Cuti satu minggu sudah habis? Belum masuk kerja?

Kata-kata itu bergema di dalam kepalanya, menghancurkan setiap fondasi harapan yang telah ia bangun dengan susah payah. Semua janji Khem yang dulu terdengar begitu meyakinkan—bahwa dia hanya pulang cuti, bahwa dia akan kembali dan mengajaknya bertemu orang tuanya—sekarang terasa seperti kabut yang menghilang ketika matahari mulai tinggi. Khem ternyata telah memainkan sandiwara yang indah, berkata sesuatu pada atasan dan sesuatu yang lain pada dirinya.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti abad, Murni baru bisa menggerakkan bibirnya dengan susah payah. "Maafkan saya, Bapak. Saya... saya tidak tahu apa-apa. Saya kira dia masih sedang cuti di kosnya," ujarnya dengan suara yang pelan dan menggigil, seperti daun yang bergoyang kencang di bawah hembusan angin topan. Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia membayar tagihan makanannya dengan tergesa-gesa dan segera mengucapkan permisi.

Langkahnya menjadi goyah ketika keluar dari restoran. Matahari yang tadinya terasa hangat kini terasa menyiksa, membakar kulitnya seperti bara yang tak pernah padam. Jantungnya berdebar kencang, sesak dan penuh rasa sakit yang menusuk. Dunia yang dulu tampak penuh warna dan harapan kini runtuh menjadi hamparan abu yang suram dan kosong. Ia berjalan tanpa arah yang jelas, kaki nya seperti membawa beban batu bata yang tak terhitung jumlahnya.

Di jalanan yang ramai, suara klakson mobil dan suara orang berbicara terdengar seperti kebisingan yang tidak berarti. Semua yang pernah ia percayai kini tampak seperti kebohongan yang indah. Bagaimana bisa Khem melakukan ini padanya? Bagaimana bisa dia berdiri di depannya dengan senyum hangat dan mengucapkan janji-janji manis, sementara di balik itu semua dia telah merencanakan untuk resign yang sesungguhnya?

Hatinya terasa seperti kaca yang pecah menjadi ribuan serpihan—setiap serpihan menyakitkan dan menusuk dalam. Ia merasa telah dipermainkan, telah menjadi sandiwara dalam cerita yang tidak pernah dia ketahui akhir nya. Air matanya yang telah menahan lama pun mulai mengalir deras, mencuci wajahnya yang penuh dengan rasa kecewa dan sakit hati. Ia berlari keluar dari jalanan yang ramai, mencari tempat yang sepi untuk menangis dengan lepas—menangis atas harapan yang hancur berkeping-keping, atas cinta yang ternyata hanya sebuah mimpi yang indah namun fana.

Saat itu pula, Lilu yang baru saja keluar dari pabrik sedang berjalan menuju kost. Ia melihat sosok Murni yang sedang berlari dengan wajah berkaca-kaca, dan langsung menyadari bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Ia mengejarnya dengan cepat, menangkap lengan Murni yang gemetar dan menariknya ke arah teras rumah kos yang sepi. "Murni! Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara penuh kekhawatiran.

Murni menatapnya dengan mata yang merah dan bengkak, air mata masih mengalir deras. "Kamu tahu kan?" ujarnya dengan suara yang remuk, seperti kain yang telah lusuh. "Kamu tahu bahwa Khem tidak akan pernah kembali lagi. Kenapa kamu tidak memberitahu saya? Kenapa kamu biarkan saya terus menunggu dan berharap pada sesuatu yang tidak akan pernah datang?"

Lilu merasa seperti ada pedang yang menusuk hatinya. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa memeluk tubuh Murni yang sedang bergoyang-goyang karena menangis. Di sekeliling mereka, langit mulai berkabut gelap, seolah alam juga merasakan kesedihan yang melanda hati dua perempuan itu. Hujan mulai turun lagi, tapi kali ini bukan seperti air mata yang lembut—melainkan seperti tegukan air dingin yang menusuk, membekukan setiap bagian dari dunia yang telah runtuh itu.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!